Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak yang Nyaman
Alvaro tidak membuka galeri foto pada malam itu.
Padahal pada umumnya, setelah selesai memotret, hal pertama yang dilakukannya adalah mengunggah file, memilih foto, kemudian menatap layar hingga matanya lelah. Namun kali ini situasinya berbeda. Kameranya masih tergeletak di atas meja, tasnya belum dibuka, dan jaketnya masih menggantung di kursi.
Dan pikirannya… tidak berada di sana.
Ia duduk di tepi tempat tidurnya, memandang dinding yang kusam dengan bekas paku.
“Goblok,” bisiknya pelan. “Kenapa jadi gugup. ”
Ia kembali mengingat momen di galeri—cara ia hampir salah ucap saat mengajak, cara ia menelan ludah sebelum berbicara, dan cara ia berpura-pura santai walau tangannya merasakan dingin.
Dia tampak bahagia, pikir Alvaro.
Atau mungkin gue cuma merasa terbuai?
Ia mengusap wajahnya, lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri.
Biasanya ia percaya diri. Kamera selalu menjadi pelindung. Dengan adanya lensa, ia tahu harus berada di mana dan apa yang perlu diperhatikan. Namun hari ini, tanpa disadari, ia berdiri tanpa ada apa-apa sebagai pelindung.
Dan anehnya… ia tidak ingin mundur.
Suara ketukan pintu terdengar.
“Var,” panggil Roni, teman sekosnya. “Lo ada di sini? ”
Alvaro bangkit dan membuka pintu. “Ada apa? ”
Roni masuk sambil membawa kopi sachet. “Lo kenapa dari tadi bgelamun? Biasanya udah sibuk sama foto. ”
Alvaro kembali duduk. “Capek gue. ”
“Motret apaan? ”
“Galeri. ”
“Sendirian? ”
Alvaro menggeleng. “Sama… temen. ”
Raka mengangkat alis. “Temen? ”
“Iya. ”
“Cewek? ”
Alvaro terdiam lebih lama dari yang seharusnya.
Roni tertawa. “Nah. ”
Alvaro menghela napas. “Gue nggak ngapa-ngapain. ”
“Justru itu,” kata Roni. “Lo keliatan kayak orang yang lagi nahan sesuatu. ”
Alvaro menatap lantai. “Gue nggak mau merusak apa-apa. ”
“Emangnya apa yang bisa dirusak? ”
“Jarak,” jawab Alvaro pelan. “Sekarang terasa… nyaman. ”
Roni mengangguk perlahan. “Kadang yang nyaman justru yang paling menakutkan. ”
Alvaro tidak memberikan jawaban.
Karena itu memang benar.
Di rumahnya, Aurellia duduk di meja makan sambil melipat serbet.
Semua sudah rapi. Terlalu rapi.
Tangannya bergerak tanpa berpikir, tetapi pikirannya melayang jauh.
Ia mengingat suara Alvaro. Nada suaranya yang rendah. Cara ia terdiam sejenak sebelum berbicara, seolah selalu memilih kata dengan hati-hati.
Dia tidak mengirim pesan, pikir Aurellia.
Dan aku pun tidak.
Dan anehnya, ia merasa tenang.
Nara muncul dari belakang, mengambil minuman. “Kak. ”
“Hm? ”
“Kakak lagi mikirin dia, ya? ”
Aurellia menoleh. “Siapa? ”
“Dia,” ulang Nara. “Yang bikin kakak jadi beda. ”
Aurellia mendesah. “Kenapa sih kamu yakin banget. ”
“Karena kakak diam, tetapi mata kakak nunjukin banyak hal,” jawab Nara cepat.
Aurellia tertawa kecil. “Aku nggak ngapa-ngapain. ”
“Justru itu,” kata Nara. “Biasanya kakak suka mikir terlalu dalam sendirian. Sekarang malah keliatan tenang. ”
Aurellia terdiam.
Tenang.
Iya. Itu kata yang tepat.
Bu Dewi lewat, membawa cucian. “Aurel. ”
“Iya, Mah? ”
“Kamu besok kerja jam berapa? ”
“Siang. ”
Bu Dewi mengangguk. “Istirahat yang cukup. ”
“Iya. ”
Bu Dewi menatapnya sejenak, lalu tersenyum. “Kamu keliatan lebih santai. ”
Aurellia menundukkan kepala, memberikan senyum kecil. “Mungkin karena sekarang nggak banyak pikiran. ”
Dan itu setengah bohong.
Karena pikirannya penuh—tetapi tidak terasa berat.
Keesokan harinya, jam menunjukkan pukul empat kurang lima menit.
Alvaro berdiri di depan kafe.
Ia tidak masuk.
Ia berdiri sejenak, memandangi pintu kaca, melihat bayangannya bersatu dengan pantulan lampu dan meja kayu.
"Gue ke sini buat ngopi, " pikirnya dalam hati.
Bukan untuk yang lain.
Ia pun melangkah masuk.
Bel kecil berbunyi.
Aurellia sedang menyusun cangkir. Ia menoleh—senyum muncul dari refleksnya, sebelum sempat disaring.
“Americano? ” tanyanya.
Alvaro tersenyum. “Iya. ”
Ia duduk di tempat yang biasa.
Tidak ada percakapan yang panjang.
Tidak ada yang bertanya mengapa kemarin tidak berkomunikasi.
Tidak ada pembicaraan yang tidak perlu.
Dan sebenarnya, di sana terdapat rasa nyaman yang aneh.
Dimas mendekati Aurellia. “Itu dia. ”
Aurellia mendengus. “Kerja. ”
“Ya, ya,” balas Dimas. “Tapi lo nggak merasa, kalo antara lo dan dia itu kayak…”
“Kayak apa? ”
“Seolah-olah ngobrol tanpa suara. ”
Aurellia menoleh kepada Alvaro.
Ia sedang memandang keluar dari jendela, memegang cangkir americano dengan kedua tangan.
Benar, pikirnya.
Seperti itu.
Alvaro mengangkat wajahnya, tatapan mereka saling bertemu.
Tidak terlalu lama.
Namun cukup.
Sore itu berlalu dengan perlahan.
Tidak ada janji.
Tidak ada rencana.
Hanya waktu yang sama, lokasi yang sama, dan dua individu yang tidak memaksakan diri.
Ketika Alvaro berdiri untuk pergi, ia mendekati kasir.
“Makasih,” ujarnya.
“Sama-sama. ”
Ia ragu sejenak. “Galeri kemarin…”
Aurellia menatapnya. “Kenapa? ”
“Seru banget. ”
Aurellia tersenyum. “Iya. ”
Hening kembali.
Alvaro mengangguk kecil. “Aku pulang dulu. ”
“Hati-hati. ”
Pintu tertutup.
Dan jarak antara mereka—tanpa pesan yang menghubungkan, tanpa kata yang merusak—tetap terjaga.
Nyaman.
Di malam hari, Alvaro akhirnya membuka galeri foto.
Ia berhenti pada satu gambar.
Aurellia. Tidak melihat ke arah kamera. Cahaya lembut jatuh di pipinya.
Alvaro tersenyum dengan lembut.
“Pelan-pelan aja,” ucapnya pada diri sendiri.
Di tempat lain, Aurellia mematikan lampu kamarnya.
Ia memandang langit-langit, sambil tersenyum kecil.
“Pelan-pelan aja,” kata gumamnya juga.
Dan tanpa saling mengetahui, mereka sepakat dalam satu hal:
Beberapa perasaan tidak perlu dikejar.
Cukup jaga jaraknya—sampai siap untuk melangkah lebih dekat.
Nara tidak bergerak malam itu.
Dia hanya mengamati.
Cara Aurellia pulang dari pekerjaan tanpa mengeluh. Cara dia menghabiskan waktu lebih lama di meja makan, bukan untuk bermain ponsel, tetapi hanya menatap kosong sambil tersenyum kecil. Cara dia tidak menarik napas berat sebelum tidur.
Sebagai seorang adik dan sebagai orang yang paling sering ditegur oleh kakaknya—Nara sangat paham: ini bukan kebahagiaan yang dipaksakan.
“Hmm,” bisik Nara pelan di dalam kamar. “Menarik. ”
Dia berbaring, membuka ponselnya, lalu menutupnya kembali. Tidak ada nama. Tidak ada pesan. Tidak ada petunjuk yang jelas. Kakaknya sangat pandai menyembunyikan semua itu.
“Okeeeii,” kata Nara pada dirinya sendiri. “Mari kita ambil pendekatan yang lembut. ”
Keesokan harinya, Nara bangun lebih awal dengan sengaja.
Aurellia sedang di dapur, sedang membuat teh.
“Kak,” seru Nara dengan santai. “Kapan pulang nanti? ”
“Nggam tau,” jawab Aurellia. “Tergantung rame apa enggak. ”
“Biasanya rame jam berapa? ”
Aurellia menatapnya dengan curiga. “Kenapa? ”
“Cuma tanya,” jawab Nara cepat. “Aku mau jajan. ”
Aurellia mengangkat alisnya. “Jajan kan bisa kapan aja. ”
Nara tersenyum manis. “Aku lagi pengen ngopi di tempat kakak. ”
Aurellia mendecak dan kembali fokus pada tehnya. “Jam empat sore biasanya mulai ramai. ”
Nara mengingatnya dalam pikirannya.
Jam empat.
Sore itu, Nara berada di seberang jalan kafe.
Dia tidak masuk.
Dia juga tidak mencolok perhatian.
Dia duduk di bangku halte, berpura-pura menggunakan ponsel, tetapi matanya tetap waspada.
Tak lama kemudian, dia melihatnya.
Seorang pria masuk ke kafe. Mengenakan jaket gelap. Memiliki kamera di bahunya. Langkahnya santai, namun tatapannya penuh kewaspadaan—seperti seseorang yang terbiasa mengamati.
“Ah,” gumam Nara. “Ini dia. ”
Dia mengamati dari kejauhan.
Pria itu duduk di dekat jendela. Aurellia menyapanya. Senyum kakaknya muncul—yang cukup langka—yang jarang terlihat untuk orang yang tidak dikenal.
Nara menyipitkan matanya.
Bukan senyum berlebihan.
Bukan senyum yang dipaksakan.
Tapi senyum yang tulus.
“Oke,” kata Nara pelan. “Valid. ”
Dia tidak ingin berlama-lama. Takut ketahuan. Tak ingin mengganggu. Dia bangkit, pergi sebelum terlalu jauh ikut campur.
Tetapi di pikirannya, satu kesimpulan sudah ada:
Pria itu tampaknya tidak berbahaya.
Dan yang lebih penting, kakaknya tampak aman.
Malam harinya, Nara duduk di ruang tamu, berpura-pura menonton televisi.
Aurellia muncul dari kamar, mengambil segelas air.
Nara melirik sekilas. “Kak. ”
“Hm? ”
“Kalo kakak bawa temen ke rumah… aku harap orangnya bersikap sopan. ”
Aurellia berhenti sejenak. “Kamu ngomong apa sih? ”
“Hanya kepikiran itu aja,” jawab Nara cepat.
Aurellia menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. “Kepo banget. ”
“Peduli,” balas Nara, menirukan Bu Dewi.
Aurellia menggeleng dengan lembut, namun senyumnya tetap ada. “Kakak gapapa. ”
Nara mengangguk. “Aku tau. ”
Dan itu bukan sekadar basa-basi.
Di kamar, Nara menatap langit-langit.
Dia tidak tahu nama pria itu.
Tidak tahu pekerjaannya.
Tidak tahu kisahnya.
Tetapi dia tahu satu hal: kakaknya tidak lagi sendirian dalam pikirannya.
Dan sebagai seorang adik, itu lebih dari cukup.
“Pelan-pelan aja, Kak,” bisik Nara. “Aku di sini. ”
Lampu dimatikan.
Dan dalam rumah kecil itu, terdapat tiga orang—dengan cara masing-masing yang saling menjaga satu kebahagiaan yang baru mulai tumbuh.