Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!
Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.
Namur, takdir berkata lain.
saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.
" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "
Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Mahakarya Di Kaleng Sarden
Jika ada buku sejarah yang mencatat momen ini, judulnya pasti: "Jatuhnya Martabat Seorang Legenda."
Bara menyeret kakinya menuju pinggiran Sungai yang airnya berwarna cokelat susu—sebuah warna yang menggugah selera jika itu kopi, tapi mengundang mual jika itu adalah air sungai tempat warga membuang segalanya, mulai dari kasur bekas hingga karet ritual habis tahun baru.
Matahari sudah tergelincir turun. Perut Bara berbunyi, cacing-cacing di perutnya mulai berdemo meminta dana di cairkan segera.
"Dulu..." Bara bergumam pada seekor kucing kudis yang menatapnya curiga di pinggir jalan. "Dulu sarapanku aja nih ya, telur burung Phoenix yang direbus dalam mata air pegunungan Himalaya. Sekarang,lihatlah aku harus bersaing denganmu mencari sisa tulang ayam."
Kucing itu mengeong malas batin nya berbunyi "make kayak nya ni orang", lalu pergi. Bahkan kucing gembel pun tidak mau bergaul dengannya sungguh kasihan sekali.
Bara sampai di bawah jembatan layang yang sepi. Ini adalah 'Penthouse' barunya. Atap beton bocor, lantai tanah becek, dan pemandangan kota yang di hiasi lampu motor lagi macet di kejauhan. Romantis sekali.
Prioritas utama: Obati rusuk retak.
Prioritas kedua: Isi bensin (makan).
Masalahnya, dia tidak punya uang sepeser pun. Harta kekayaannya saat ini hanyalah baju kaos partai yang sudah bolong di ketiak dan celana jeans yang lebih banyak lubangnya.
Tapi, bara sekarang berbeda, dengan kemampuan seorang Alkemis ini cukup gampang-gampang susah. Bagi seorang alkemis sejati, sampah adalah emas yang belum diolah.
Bara mulai memindai area sekitar jembatan dengan mata tajamnya. Orang biasa melihat itu sebagi semak belukar.Tapi Bara melihatnya sebagai apotek gratis.
"Aha. Ini dia, lumayan nih," gumam Bara dramatis saat melihat tanaman pegagan tumbuh liar di sela-sela beton got. "Di klinik kecantikan ibukota, ekstrak ini harganya jutaan. Di sini? Hanya menjadi pijakan orang-orang yang lagi lewat."
Dia mencabut tanaman itu sampai ke akarnya. Lalu matanya menangkap tanaman lain. Sirih Cina. Bagus untuk anti-inflamasi. Lalu ada Putri Malu untuk pereda nyeri alami.
Bara mengumpulkan tanaman-tanaman itu seperti seorang koki restoran bintang lima yang lagi memilih bahan di pasar. Bedanya, koki pakai keranjang rotan, Bara pakai kantong plastik kresek hitam bekas gorengan yang dia temukan nyangkut di ranting pohon.
"Bahan herbal, check," gumamnya. "Sekarang, peralatan lab."
Dia berjalan menuju tumpukan sampah di pojok jembatan. Matanya berbinar saat melihat sebuah kaleng bekas sarden yang sudah penyok dan berkarat.
"Bejana peleburan Titanium? Eh Bukan. Kaleng Sarden Cap Tiga Berlian," Bara mengangkat kaleng itu tinggi-tinggi seolah menemukan cawan suci. "Karatnya menambah cita rasa zat besi. Ini baru yang nama nya Sempurna."
Sekarang dia butuh api.
Bara merogoh saku celananya lagi, berharap keajaiban.... Kosong.....Tentu saja.
Dia menoleh ke kanan dan kiri. Di kejauhan, ada sekelompok remaja tanggung yang sedang nongkrong sambil merokok.
Bara menghela napas panjang. Dia berjalan mendekati mereka. Dengan Jalan, kaki yang diseret-seret, wajahnya dipasang semelas mungkin. Akting Gembel Mode: On.
"Bang..." suara Bara parau. "Boleh minta apinya dikit, Bang? Buat... uh... bakar nyamuk."
Salah satu remaja yang rambutnya dicat merah norak menoleh. "Buset...., gembel dari mana ini,bau banget lagi. Nih, ambil aja koreknya, pergi yang jauh....hus....husss!"
Remaja itu melempar korek gas bekas yang isinya tinggal seiprit. Bagi Bara, itu adalah tongkat sihir.
"Terima kasih, wahai donatur budiman. Semoga paru-paru kalian tetap tabah," batin Bara sambil menyeringai, lalu pergi meninggalkan mereka.
Kembali ke bawah jembatan.
Bara menyusun batu bata bekas menjadi tungku darurat. Dia mengumpulkan ranting kering dan kertas koran bekas pembungkus nasi uduk... Klik. Api menyala.
Dia berlari ke sungai, mengambil air (yang dia pilih bagian agak bening sedikit) menggunakan kaleng sarden itu, lalu merebusnya sampai mendidih untuk membunuh bakteri. Setidaknya, bakteri yang level kroco. Kalau bakteri level mutan , dia pasrah saja, palingan konsekuensi nya meninggoy.
Saat air mendidih, Bara memasukkan Pegagan, Sirih Cina, dan Putri Malu yang sudah dia cuci (dengan air sungai juga, ironis memang). Dia meremas-remas daun itu dengan tangan kotornya—yang dia yakini daki di tangannya mengandung mineral tambahan...hmmm.. biar ada rasa daki-daki nya gitu.
Aroma jamu mulai tercium. Baunya langur, persis bau rumput yang direbus.
"Kurang protein," analisis Bara. Rusuknya butuh kolagen untuk menyambung.
Matanya melirik ke dinding lembap di bawah jembatan. Seekor Tokek gemuk sedang menatapnya dengan curiga.
Hening sejenak. Saling tatap antara Alkemis vs Reptil.
"Maafkan aku, Sobat," bisik Bara. "Pengabdianmu akan dikenang dalam sistem pencernaanku."
Zlap!
Gerakan tangan Bara secepat kilat. Tokek itu tertangkap sebelum sempat bilang "Tokek".
Tanpa rasa jijik (karena di masa lalu dia pernah makan jantung hewan yang lebih amis), Bara menguliti tokek itu dengan kepingan beling tajam, membersihkannya, dan cemplung! Masuk ke dalam kaleng sarden.
Sup Herbal Tokek a la Gembel siap dimasak.
Bara mengaduk ramuan itu menggunakan ranting pohon. Dia berkonsentrasi penuh. Dalam ilmu alkimia, niat dan timing adalah kunci. Dia harus mengangkat ramuan ini tepat saat lendir tokek menyatu sempurna dengan klorofil daun.
"Tiga... dua... satu. Angkat!"
Cairan di dalam kaleng itu berwarna hijau keruh dengan gumpalan daging putih yang mengambang. Baunya? Seperti kombinasi apotek dan kebun binatang.
Bagi orang awam, ini terlihat seperti,, aduhhh tidak usah di jelas kan.
Tapi bagi Bara, ini adalah Elixir of Vitality (Low Grade).
"Selamat makan," ucapnya pada diri sendiri.
Dia menenggak cairan panas itu langsung dari kalengnya.
Glek. Glek. Glek.
Rasanya? Jangan tanya. Pahit, amis, dan ada tekstur kenyal yang menggelikan. Bara menahan keinginan untuk muntah. Dia memaksanya turun ke lambung.
"Masuk! Jadilah daging! Jadilah otot!" perintahnya pada makanannya.
Dua menit kemudian.
Reaksinya datang. Perut Bara terasa hangat, menjalar ke dada, lalu ke rusuk kirinya yang retak. Rasa sakit yang tajam perlahan berubah menjadi gatal—tanda regenerasi sel sedang dipacu paksa. Keringat dingin mengucur deras, membawa keluar racun-racun tubuh dan daki yang menumpuk.
"Hah..." Bara mendesah lega, menyandarkan punggungnya ke tiang beton.
Efek sampingnya mulai terasa. Wajahnya merah padam dan telinganya berdenging. Ramuannya terlalu keras untuk tubuh kerempeng ini.
"Catatan: Kurangi dosis tokek lain kali. Terlalu joss," gumamnya, matanya setengah terpejam.
Malam semakin larut. Suara nyamuk mulai terdengar seperti orkestra. Tapi Bara tidak peduli. Dia merasa lebih kuat. Rusuknya belum sembuh total, tapi setidaknya dia bisa bernapas tanpa rasa sakit yang menusuk.
Sekarang masalahnya: Dia masih miskin.
Kekuatan sudah pulih 15%. Dia butuh modal. Di kehidupan ini, uang adalah segalanya. Tanpa uang, dia tidak bisa beli bahan ramuan yang layak.
Masak dia harus makan tokek tiap hari? Bisa-bisa dia jadi tokek nanti.
Bara merogoh saku celananya yang bolong lagi, berharap ada uang koin yang nyangkut di jahitan. Jarinya menyentuh sesuatu. Bukan uang. Tapi sebuah kartu nama lecek yang basah kena keringat.
Dia menariknya keluar. Dia ingat ini kartu nama yang dia copet—eh, maksudnya di amankan—dari dompet salah satu preman yang dia hajar tadi.
Ternyata kebawa.
Klub Malam "Black Mamba"
Butuh Bouncer/Tukang Pukul. Gaji Harian. Datang jam 10 malam.
Bara menatap kartu nama itu, lalu menatap bayangannya di genangan air. Kurus, dekil, bau jamu tokek.
"Tukang pukul?" Bara tertawa kecil, tawa yang terdengar jahat. "baiklah, tunggu aku baby."
Tapi dia tidak bisa datang dengan tampang gembel begini. Dia butuh makeover.
Bara berdiri, meregangkan tubuhnya.
Sendi-sendinya berbunyi krek krek. Dia berjalan keluar dari bawah jembatan, menuju pemukiman warga terdekat.
Target: Jemuran warga yang lupa diangkat.
Ya, dia akan mencuri lagi. Tapi kali ini dia berjanji, ini pinjaman. Nanti kalau dia sudah jadi Dewa Ramuan, dia akan ganti dengan baju sutra.
Di sebuah rumah yang pagarnya rendah, dia melihat ada kemeja flanel kotak-kotak dan celana kargo yang tergantung. Ukurannya pas.
Dengan gerakan senyap seperti ninja (ninja yang kelaparan), Bara melompati pagar, menyambar pakaian itu, dan meninggalkan celana bututnya yang penuh noda lumpur sebagai ganti rugi.
"Barter yang adil," gumamnya tak tahu malu.
Setelah berganti pakaian di balik pohon pisang, Bara merapikan rambutnya yang berantakan menggunakan air liur (gel rambut alami).
Sekarang sudah nampak Peningkatan drastis pada bara, setidaknya gembel nya berkurang 20 persen lah.
Bara berjalan mantap menembus malam, menuju alamat di kartu nama itu.
Klub Malam Black Mamba.
Tempat itu ternyata ruko empat lantai dengan lampu neon ungu yang menyakitkan mata. Musik jedag-jedug murahan terdengar sampai ke parkiran. Di depan pintu masuk, berdiri dua orang berbadan besar—gorila berjas—yang sedang memeriksa KTP tamu.
Bara melangkah maju dengan percaya diri, seolah dia pemilik tempat itu.
"Woy! Bocah!" salah satu gorila menahannya dengan tangan sebesar paha Bara.
"Mau ngapain lo? Ini bukan tempat main Tamiya. Pulang sana, nenek lo nyariin."
Bara tersenyum ramah. Sangat ramah. "Saya mau melamar kerja, Bang. Katanya ada lowongan jadi tukang pukul, benar kan?"
Kedua penjaga itu saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak. Tawa yang meremehkan, tawa yang mengundang bencana.
"Lu? Tukang pukul?" Si Gorila 1 menepuk-nepuk kepala Bara seolah dia anak TK. "Badan kayak lidi gini mau mukul apa? Mukul nyamuk aja meleset."
"Pulang aja dek, minum susu, terus tidur," ejek Gorila 2.
Bara tidak marah. Dia justru senang. Orang yang meremehkan adalah subjek eksperimen yang paling mudah.
"Begini saja, Bang," kata Bara tenang, menepis tangan besar itu dari kepalanya pelan tapi tegas. "Abang tes saya. Kalau saya bisa bikin Abang... tidur dalam hitungan tiga detik tanpa menyentuh, saya boleh masuk. Gimana?"
Gorila 1 berhenti tertawa. "Tanpa nyentuh? Lo dukun begitu?, udah gak jaman dek..dek.. main begituan"
"Bukan... Gw Cuma hobi kimia," jawab Bara polos.
"Oke, coba kalau bisa!" tantang Gorila 1, melipat tangan di dada yang bidang. "Kalau gagal, gue jadiin lo keset kaki di sini."
Bara mengangguk. Dia diam-diam menggeser kakinya, mendekati sebuah pot bunga besar di dekat pintu masuk. Di sana tumbuh tanaman hias yang cantik: (Bunga Bahagia). Cantik, tapi getahnya mengandung kristal kalsium oksalat yang menyebabkan pembengkakan tenggorokan instan dan bisu sementara jika kena selaput lendir.
Bara memetik selembar daun itu dengan gerakan cepat, meremasnya di telapak tangan sampai getahnya keluar, lalu—dengan gerakan pura-pura bersin—mengibaskan tangannya ke udara tepat di depan wajah si Gorila.
"Hacih!"
Partikel getah mikroskopis terbang terbawa angin malam, terhirup oleh si Gorila yang sedang menarik napas untuk mengejek lagi.
Satu detik.
Si Gorila berkedip.
Dua detik.
Si Gorila memegang tenggorokannya. Matanya melotot.
Wajahnya memerah. Dia mencoba bicara, tapi yang keluar hanya suara: "Hkkk... khhh... gghhh!"
Tenggorokannya bengkak seketika. Pita suaranya terkunci.
Tiga detik.
Si Gorila panik karena tidak bisa bernapas lega, kakinya lemas, lalu bruk! Dia jatuh berlutut, megap-megap seperti ikan koi di daratan.
Gorila 2 panik. "Woy! Diapain temen gue?!"
Bara mengangkat bahu, wajahnya sok polos. "Kan udah dibilang, saya cuma hobi kimia. Dia cuma tidur sebentar kok, alergi oksigen kayaknya."
Bara melangkahi tubuh besar yang sedang menggelepar itu, menatap Gorila 2 dengan tatapan dingin yang kontras dengan senyumnya.
"Jadi... wawancaranya di lantai berapa?"
Gorila 2, melihat temannya tumbang tanpa disentuh, langsung keder. Ototnya besar, tapi nyalinya ciut menghadapi hal gaib (padahal sains). Dia menunjuk ke dalam dengan jari gemetar.
"Lantai... lantai dua. Ruang Bos."
"Terima kasih. Oh ya, tolong temannya dikasih minum air kelapa, nanti juga sembuh. Jangan dikasih napas buatan, percuma, nanti lu ketularan begonya tu orang."
Bara melenggang masuk ke dalam klub malam yang bising, meninggalkan kekacauan di pintu depan.
Di dalam, aroma alkohol dan parfum murah menusuk hidung. Bara menarik napas dalam-dalam.
Ah, aroma dosa dan peluang bisnis.
Malam ini, Bara bukan hanya akan melamar kerja. Dia akan mengambil alih rantai makanan disini alias jadi pemulung makanan gratis.