Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.
Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Pantai Terlarang
Matahari baru saja naik ketika Ling'er mulai mengerjapkan matanya di dalam kabin kapal yang kini berbau garam dan uap panas.
Ingatannya kabur, seperti tertutup kabut tebal, namun perlahan-lahan... fragmen-fragmen kejadian semalam mulai berputar di kepalanya seperti film horor yang sangat memalukan.
Ingatan: Dia mencium leher Jian Yi. Ingatan: Dia menyebut Jian Yi "enak dicubit". Ingatan: Dia berbisik mengancam Jian Yi jika pria itu berani ketiduran lagi.
"T-tidak mungkin..." gumam Ling'er, suaranya kembali cempreng dan imut.
Ia segera menarik selimut menutupi seluruh wajahnya yang kini merah padam, bahkan telinganya sampai mengeluarkan uap kecil.
Rasa malu itu lebih menyakitkan daripada terbakar api naga.
Bagaimana bisa dia, seorang pusaka kuno yang agung, berperilaku seperti kucing betina yang sedang musim kawin?
Tepat saat itu, pintu kabin terbuka. Jian Yi masuk membawa semangkuk bubur ikan hangat.
Penampilannya berantakan; jubahnya sobek di bagian bahu (bekas tarikan Ling'er semalam) dan ada lingkaran hitam di bawah matanya karena tidak tidur menjaga Ling'er.
"Sudah bangun, Bakpao?" tanya Jian Yi datar, meski ada nada canggung yang tidak bisa ia sembunyikan.
Ling'er tidak bergerak dari balik selimut. "Pergi. Mati saja kau, Jian Yi."
"Hei, aku yang menjagamu semalam agar kau tidak terjun ke laut untuk mengejar Kraken itu," balas Jian Yi sambil meletakkan bubur di meja. "Dan kau berhutang jubah baru padaku. Kau merobeknya seolah-olah kau ingin mengulitiku."
Ling'er menyembul sedikit dari balik selimut, matanya yang besar menatap tajam ke arah bahu Jian Yi yang terekspos.
Wajahnya semakin merah. "Itu... itu pengaruh racun! Aku tidak sadar! Jangan berani-berani kau membahasnya lagi, atau aku akan meledakkan kepalamu!"
Jian Yi menghela napas, duduk di pinggir ranjang. "Aku tahu itu racun. Tapi wujud dewasamu itu... jujur saja, sedikit menakutkan. Kau membantai Kraken itu seperti sedang memotong sayuran di dapur."
"Hanya sedikit menakutkan?" batin Ling'er kesal. "Padahal semalam kau menatapku tanpa berkedip!"
Di luar, Lu Feng berteriak dari dek yang hancur. "Oi! Pasangan Drama! Kita sudah sampai! Berhenti bermesraan di dalam sana, atau aku akan membakar kapal ini agar kalian keluar!"
Jian Yi dan Ling'er keluar ke dek. Di hadapan mereka, sebuah pulau yang diselimuti kabut perak yang tebal muncul dari balik cakrawala. Itulah Pulau Kabut Abadi, tempat di mana Mutiara Laut Abadi konon disembunyikan.
Namun, kapal mereka tidak bisa mendekat lebih jauh.
Ratusan sirip punggung berwarna biru metalik terlihat mengelilingi kapal. Bukan hiu, melainkan Suku Duyung Pejuang.
"Manusia..." sebuah suara bergema dari bawah air, berat dan penuh kebencian. "Kalian telah membawa kehancuran pada pelaut kami dengan bau darah Kraken itu. Berbaliklah, atau dasar laut akan menjadi makam kalian."
Seorang pria duyung dengan tubuh kekar tertutup sisik biru tua melompat ke atas bongkahan kayu sisa kapal.
Di tangannya, ia memegang trisula perak yang memancarkan energi air yang sangat murni.
"Kami tidak mencari masalah," Jian Yi maju ke depan, auranya sebagai Grand Master terpancar tipis untuk memberi peringatan. "Kami hanya mencari Mutiara Laut Abadi untuk memperbaiki teman saya."
Pria duyung itu tertawa dingin, matanya beralih ke Ling'er. "Mutiara itu adalah jantung dari laut kami. Kalian manusia hanya tahu cara mengambil dan merusak. Lihatlah gadis kecil itu... ia memancarkan aroma api naga yang menjijikkan. Dia adalah musuh alami laut!"
Ling'er yang tadinya malu, kini merasa harga dirinya tersinggung.
Ia maju di samping Jian Yi, tangannya berkacak pinggang. "Hei, Ikan Bersisik! Aku adalah pusaka surgawi! Aku bukan musuh laut, aku adalah penguasa dari segala yang tajam! Berikan mutiara itu secara baik-baik, atau aku akan membuat sup ikan massal di sini!"
"Berani sekali kau!" Duyung itu mengangkat trisulanya.
"Tunggu!" Lu Feng menyela sambil mengembuskan asap rokoknya ke arah duyung itu. "Dengar, kawan. Kami punya tawaran. Kami tahu laut kalian sedang sakit karena polusi energi dari Naga Hitam yang baru saja dibunuh teman saya ini. Jika kami bisa membersihkan sumber polusi di dasar laut, apakah kalian akan mengizinkan kami meminjam mutiara itu?"
Pria duyung itu ragu sejenak. Matanya menatap Jian Yi dengan lebih teliti. "Jika kalian gagal, kalian akan menjadi budak abadi di istana karang kami."
Jian Yi melirik Ling'er yang masih tampak emosian, lalu tersenyum tipis. "Kesepakatan tercapai. Tapi satu syarat... jangan biarkan prajuritmu menatap 'bakpao' ini terlalu lama, atau aku akan melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan pada Kraken semalam."
Ling'er mencubit pinggang Jian Yi keras-keras. "Berhenti memanggilku Bakpao di depan orang asing!"