NovelToon NovelToon
The Monster'S Debt

The Monster'S Debt

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mafia / Nikah Kontrak / Berbaikan
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
​Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
​Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Jejak Hitam di Jalan Kenanga

Suasana tenang di Jalan Kenanga pecah bukan oleh bunyi alarm atau sirine, melainkan oleh deru mesin mobil-mobil besar yang terdengar seperti geraman binatang buas. Tiga unit SUV hitam dengan kaca gelap pekat meluncur pelan, membelah genangan air sisa hujan semalam, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pagar kayu rumah nomor 12 yang reyot.

​Aruna, yang sedang mencoba mencuci piring dengan tangan gemetar, membeku saat melihat bayangan besar menutupi jendela dapurnya. Ia melirik Dante yang masih duduk di lantai. Pria itu sudah menghabiskan buburnya, dan meskipun wajahnya masih pucat, tatapan matanya telah kembali setajam silet. Dante tidak terkejut. Ia justru tampak seperti raja yang sedang menunggu pasukannya datang menjemput.

​"Mereka datang," ucap Dante datar.

​Aruna segera berlari ke arah Bumi yang sedang asyik bermain mobil-mobilan di pojok ruangan. Ia mendekap putranya erat-erat. "Paman... orang-orang itu, mereka temanmu?"

​Dante tidak menjawab. Ia berdiri dengan perlahan, menahan ringisan saat otot perutnya tertarik. Dengan satu tangan menekan lukanya, ia berjalan menuju pintu depan. Saat pintu terbuka, dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam yang rapi—kontras dengan lingkungan kumuh itu—segera membungkuk hormat.

​"Tuan Valerius," ucap salah satu dari mereka, seorang pria dengan potongan rambut militer bernama Enzo. "Kami pikir Anda telah..."

​"Aku tidak semudah itu mati, Enzo," potong Dante dingin. Ia melangkah keluar ke teras kecil, berdiri dengan angkuh meski hanya mengenakan celana kain pinjaman yang kedodoran. "Area sudah bersih?"

​"Sektor ini sudah kami tutup secara tidak resmi, Tuan. Marco dan anak buahnya sedang kami lacak. Mereka mengira Anda tewas di pelabuhan," lapor Enzo. Matanya kemudian beralih ke dalam rumah, menatap Aruna yang berdiri di kegelapan ruang tamu dengan wajah ketakutan. "Siapa mereka? Perlu kami 'bereskan'?"

​Jantung Aruna seolah berhenti berdetak saat mendengar kata 'bereskan'. Ia tahu arti kata itu di dunia pria-pria ini. Ia mengeratkan pelukannya pada Bumi, sementara bocah itu hanya menatap bingung ke arah pria-pria asing yang tampak seperti karakter film aksi di depan rumahnya.

​"Jangan sentuh mereka," desis Dante. Suaranya rendah namun mengandung ancaman yang membuat Enzo segera menundukkan kepala. "Wanita itu menyelamatkan nyawaku. Dan bocah itu... dia memberiku plester."

​Enzo melirik kening bosnya. Ia hampir saja kehilangan kendali wajahnya saat melihat plester robot biru menempel miring di dahi sang Vulture yang ditakuti seluruh sindikat. Namun, ia cukup pintar untuk tetap diam jika masih ingin melihat matahari besok pagi.

​Dante berbalik, menatap Aruna yang masih mematung. "Enzo, bawa tim medis ke dalam. Obati lukaku dengan benar. Aku tidak ingin mati karena infeksi di rumah sekecil ini."

​"Baik, Tuan."

​Beberapa pria lain masuk membawa koper peralatan medis yang canggih. Rumah Aruna yang sempit kini terasa semakin sesak. Aroma obat-obatan kimia menyengat, bercampur dengan bau maskulin dari parfum mahal para pria berbaju hitam tersebut. Para tetangga di luar mulai mengintip dari balik gorden mereka. Di Jalan Kenanga, kehadiran mobil mewah biasanya berarti masalah besar.

​Aruna merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Ia dipaksa menyingkir ke dapur sementara Dante dirawat di ruang tengah. Dari balik celah pintu dapur, ia melihat tim medis itu bekerja dengan kecepatan luar biasa. Mereka memberikan suntikan, mengganti jahitan tangan Aruna dengan jahitan medis yang lebih sempurna, dan memasang alat pemantau portabel.

​"Ibu, kenapa Paman banyak temannya?" tanya Bumi berbisik.

​Aruna hanya bisa mengelus rambut Bumi, air matanya hampir jatuh. "Paman itu orang penting, Sayang. Sebentar lagi dia akan pergi."

​Namun, harapan Aruna agar Dante segera pergi pupus saat ia mendengar percakapan di ruang depan.

​"Tuan, kondisi Anda belum stabil untuk perjalanan jauh. Marco memasang mata-mata di setiap pintu masuk mansion Anda. Akan lebih aman jika Anda tetap di sini selama dua puluh empat jam ke depan sampai kami membersihkan jalur," ucap Enzo.

​Dante terdiam sejenak. Ia melirik ke arah dapur, tempat Aruna bersembunyi. "Siapkan pengamanan perimeter. Pastikan tidak ada satu pun warga sipil yang keluar masuk gang ini tanpa izin. Dan satu lagi..." Dante menjeda kalimatnya. "Cari tahu siapa yang membocorkan lokasi transaksi di pelabuhan. Aku ingin kepalanya di mejaku besok pagi."

​Aruna menutup telinga Bumi saat mendengar kalimat terakhir itu. Kekejaman Dante kini terpampang nyata. Pria ini bukan hanya pengusaha kaya yang terluka; dia adalah pusat dari badai kehancuran.

​Satu jam kemudian, Dante sudah mengenakan kemeja hitam bersih yang dibawakan anak buahnya, meski kancing bawahnya dibiarkan terbuka untuk memberi ruang pada perban baru. Ia melangkah menuju dapur. Aruna sedang mencoba membuat teh untuk menenangkan sarafnya yang tegang.

​"Aku akan tinggal di sini malam ini," ucap Dante tanpa nada bertanya. Itu adalah perintah.

​Aruna berbalik, tangannya gemetar memegang cangkir. "Anda tidak bisa melakukan itu. Ini rumah saya. Tetangga akan mulai bicara, dan... Anda berbahaya bagi anak saya!"

​Dante melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Aroma tembakau dan antiseptik menyelimuti Aruna. Dante meletakkan satu tangannya di meja, tepat di samping tangan Aruna, mengurung wanita itu dalam bayangannya.

​"Dengarkan aku, Aruna," suara Dante kini lebih lembut namun tetap berwibawa. "Di luar sana, ada orang-orang yang ingin melihatku menjadi mayat. Jika aku keluar sekarang dan mereka melihatku, rumah ini akan menjadi sasaran pertama. Tetap di sini adalah satu-satunya cara agar aku bisa melindungimu dan anakmu secara langsung."

​"Saya tidak butuh perlindungan Anda! Saya aman sebelum Anda datang!" bantah Aruna dengan suara tertahan agar tidak membangunkan Bumi yang mulai tertidur di kursi makan.

​Dante tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat dingin. "Kau tidak aman sejak kau menyentuh lukaku semalam. Kau sudah masuk ke duniaku, Aruna. Dan duniaku tidak mengenal jalan keluar."

​Dante merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan selembar kartu hitam tanpa nama, hanya ada deretan nomor telepon di sana. "Anak buahku sudah menyimpan stok makanan di depan pintu. Jangan keluar rumah. Apapun yang kau dengar di luar, jangan buka jendela."

​Aruna menatap kartu itu dengan getir. Hidupnya yang sederhana, yang hanya berisi jahitan dan tawa Bumi, kini telah hancur dalam semalam. Ia menatap Dante, mencari celah kemanusiaan di balik mata gelap itu.

​"Kenapa harus saya?" tanya Aruna lirih. "Anda punya uang, punya pasukan. Kenapa Anda tidak pergi saja ke rumah sakit mewah atau tempat persembunyian rahasia?"

​Dante terdiam. Ia teringat saat ia pingsan semalam. Di antara rasa sakit yang luar biasa, ia merasakan sentuhan tangan yang tidak mencari keuntungan darinya. Ia merasakan plester robot yang ditempelkan dengan penuh kasih sayang. Di dunianya, semua orang menginginkan sesuatu darinya. Kekuasaan, uang, atau nyawanya. Tapi Aruna dan Bumi... mereka memberinya sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan miliaran dolar.

​"Karena di sini," Dante berbisik tepat di telinga Aruna, membuat bulu kuduk wanita itu meremang, "adalah satu-satunya tempat di mana tidak ada yang mencoba membunuhku saat aku memejamkan mata."

​Dante berbalik dan meninggalkan dapur, menuju ruang tamu yang kini dijaga oleh dua pria bersenjata di balik pintu. Aruna terduduk lemas di lantai dapur. Ia menatap cangkir tehnya yang mendingin. Di luar, suara hujan kembali turun, seolah ingin menyembunyikan jejak-jejak hitam yang ditinggalkan oleh mobil-mobil besar itu di Jalan Kenanga.

​Malam itu, Jalan Kenanga yang biasanya sepi menjadi tempat paling berbahaya di kota. Dan di dalam rumah nomor 12, seorang janda dan seorang mafia terikat oleh takdir yang tak kasat mata. Aruna tidak tahu bahwa ini hanyalah awal dari labirin panjang yang akan membawanya jauh ke dalam kegelapan, demi menyelamatkan cahaya kecilnya: Bumi.

​Sementara itu, di sebuah gudang tua di pinggiran kota, seorang pria bernama Marco menatap layar ponselnya dengan geram. "Cari dia. Aku tahu dia tidak mati. Cari setiap rumah di sekitar sektor itu. Jika ada yang menyembunyikannya, bakar rumah itu bersama isinya."

​Badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!