NovelToon NovelToon
Vallheart

Vallheart

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Romansa / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Tidak Terbaca

Menara dosen Academy Magica diselimuti cahaya senja pucat.

Di ruang kerja berlapis kayu putih dan kaca kristal, Bellyria Mercyns berdiri di depan jendela tinggi. Jubahnya sederhana namun anggun, rambutnya yang panjang terikat rapi. Segala sesuatu tentang dirinya mencerminkan ketertiban dan penuh kendali.

Namun hari ini, alisnya berkerut tipis.

“Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres,” katanya pelan.

Di seberangnya, Karza duduk dengan tangan terlipat di atas meja. Wajahnya tenang, tetapi matanya waspada.

“Jika ini tentang duel kemarin,” jawab Karza, “dewan sudah memutuskannya.”

“Bukan itu,” potong Bellyria. Ia berbalik. “Ini tentang aliran mana.”

Karza menegakkan punggungnya sedikit.

“Sejak beberapa hari lalu,” lanjut Bellyria, “aku merasakan getaran langka, seperti terasa tua. Bukan liar. Bukan rusak. Tapi seolah berasal dari zaman yang tidak lagi berjalan bersama kita.”

Ia menghela napas pelan. “Mana primordial. Setidaknya, ada bekasnya.”

Karza terdiam.

“Aku tidak bisa memindainya,” lanjut Bellyria. “Setiap metode analisis mentalku terpeleset. Seolah objeknya memilih untuk tidak ada.”

“Apa itu hanya dugaanmu,” kata Karza akhirnya.

“Ya,” Bellyria mengangguk. “Tapi, aku tidak punya bukti.”

Namun dari cara ia mengucapkannya, jelas bahwa ia tidak puas dengan itu.

“Academy ini berdiri di atas lapisan sihir lama,” ujar Karza. “Bukan tidak mungkin itu hanya resonansi bangunan.”

“Tidak,” bantah Bellyria lembut. “Resonansinya tidak bernapas.”

Keheningan jatuh.

Karza mengetukkan jarinya pelan ke meja. “Apakah kau mencurigai seorang murid?”

“Aku harus berhati-hati,” jawab Bellyria. “Itu terlihat berbeda.”

***

Sementara itu, di aula pembelajaran dasar.

Lein duduk di barisan tengah, punggungnya tegak, kedua tangannya terlipat rapi di atas meja.

Ia merasakan tatapan.

Bukan satu.

Beberapa.

Para dosen.

Lein menelan ludah pelan, namun wajahnya tetap tenang.

Tenang, bisik Raksha dari kedalaman.

Biarkan aku diam.

Lein menurunkan aliran mana-nya; bukan mematikannya, melainkan membuatnya dangkal. Seperti danau bening yang tidak memperlihatkan kedalaman.

Sihir Hati Peri Malamnya berdenyut lembut, cukup untuk tampak hidup, tidak cukup untuk terasa tua.

Bellyria mengangkat tangannya.

“Tes sederhana,” katanya pada kelas. “Manifestasi mana pasif. Tidak perlu bentuk.”

Satu per satu, murid melakukannya.

Saat giliran Lein, ia berdiri perlahan.

Ia membiarkan mana mengalir ringan, stabil, dan hampir membosankan.

Cahaya lembut muncul di telapak tangannya. Beberapa dosen mengangguk: tidak terkesan, tidak curiga.

Bellyria menatapnya lama.

Cukup lama.

Namun apa pun yang ia cari, tidak muncul bahkan tidak ada sama sekali.

Lein menurunkan tangannya dan duduk kembali, jantungnya berdetak cepat di balik ketenangan wajahnya.

Aku berhasil, pikirnya.

Setidaknya...

ia berhasil hari ini.

Usai kelas, Bellyria berdiri di koridor atas, memandangi murid-murid yang berlalu-lalang pergi.

“Mana itu sepertinya menyamar,” gumamnya.

Bukan dengan cara kasar.

Bukan dengan penindasan.

Melainkan dengan kerendahan.

Sesuatu yang sangat Primordial memilih menjadi kecil.

***

Ruang kerja Karza diterangi cahaya redup kristal merah.

Ia berdiri di depan lingkaran sihir tipis yang melayang di udara; bukan mantra, melainkan rekaman resonansi mana. Garis-garisnya bergetar pelan, lalu meredup.

“Tidak ada metode konvensional yang bisa membacanya sama sekali,” gumam Karza.

Di belakangnya, Jizz berdiri dengan tangan terlipat. Wajah murid senior itu datar, namun matanya waspada.

“Kau memanggilku, Dosen, selaku Profesor Academy?”

Karza berbalik. “Aku butuh kepastian lebih.”

“Apa dalam bentuk?”

“Tekanan,” jawab Karza tanpa ragu. “Buat dia terpojok.”

Jizz mengerutkan kening. “Tanpa duel resmi?”

“Tidak perlu,” Karza menggeleng. “Insiden. Kecil. Tidak mematikan. Cukup untuk memancing reaksi spontannya.”

Ia melangkah dan menatap jendela. “Aku ingin tahu apakah gadis itu menyimpan lapisan mana lain. Sesuatu yang lebih tua dari yang ia perlihatkan.”

Jizz terdiam sejenak.

“Jika dugaanku benar,” lanjut Karza, “ia tidak akan bisa menahannya saat naluri bertahan hidup mengambil alih dirinya.”

“Dan jika dugaanmu salah?”

“Dia hanya murid yang ketakutan,” jawab Karza dingin. “Academy tidak akan rugi memilikinya.”

Jizz menurunkan pandangannya. “Dimengerti.”

***

Sore itu, Lein berjalan sendirian menuju jalur taman belakang Academy.

Jalur itu sepi, dibatasi semak sihir rendah dan pilar batu tua. Biasanya aman.

Namun.

Langkah kaki terdengar di belakangnya.

Lein menegang, namun tidak menoleh.

“Aku ingin bicara denganmu,” kata suara itu.

Jizz.

Lein berhenti. “Jizz? Itu kau? Bicara tentang apa?”

“Kesalahpahaman,” jawabnya sambil melangkah lebih dekat. “Kau terlihat tertekan akhir-akhir ini.”

Lein berbalik perlahan. Wajahnya tenang, hampir polos.

“Aku baik-baik saja.”

“Benarkah?”

Tekanan mana muncul.

Bukan serangan langsung, melainkan zona penekanan. Udara terasa berat, membuat langkah Lein tertahan.

Jizz mengangkat satu tangan. “Hanya tes kecil”

Jantung Lein berdegup keras.

Perpancing, bisik Raksha.

Dia ingin melihatmu meledak.

Lein mundur satu langkah, kakinya hampir goyah.

“Kenapa kau melakukan ini?” tanyanya, suaranya bergetar pas.

“Aku hanya ingin memastikan,” jawab Jizz. “Apa kau benar-benar lemah atau hanya berpura-pura lemah”

Tekanan meningkat.

Tanah di sekitar Lein bergetar ringan.

Di dalam dirinya, sesuatu bangkit.

Bukan Hati Peri Malam.

Bukan sihir akademis.

Sesuatu yang jauh lebih kuat.

Waktu terasa melambat.

Raksha, jangan...

Lein menekan dadanya, memaksa napasnya tetap teratur.

Ia membiarkan rasa takut muncul.

Membiarkan tubuhnya gemetar.

Membiarkan dirinya jatuh berlutut.

Tekanan berhenti mendadak.

Jizz terkejut. “Kau…?”

Lein menutup wajahnya, bahunya bergetar. Air matanya mengalir nyata, bukan sihir.

“Aku tidak tahu apa yang kau inginkan,” isaknya. “Aku tidak kuat lagi. Tolong hentikan.”

Keheningan menyelimuti taman.

Jizz menurunkan tangannya perlahan.

Mana primordial itu... tidak ada.

Yang tersisa hanyalah gadis polos yang ketakutan.

Jizz menghela napas pelan. “Maaf.”

Ia mundur selangkah. “Aku salah menilaimu.”

Tanpa menoleh lagi, ia pergi.

Lein terduduk lama setelah itu.

Tubuhnya masih gemetar, kali ini bukan sandiwara.

“Ini terlalu cepat,” bisiknya.

Raksha menjawab pelan, suaranya penuh ketegangan yang jarang muncul:

Jika kau menjawabnya, mereka akan tahu.

Lein mengepalkan tangannya.

Ia telah lolos dari satu perangkap.

1
Namida Leda
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!