Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #14: Silvercrane Merchant
Di distrik gudang Kota Jeokha, jauh dari keramaian pasar dan lampu merah distrik hiburan, berdiri sebuah bangunan batu kelabu tanpa jendela.
Ini adalah kantor cabang Grup Dagang Silvercrane.
Di permukaan, mereka adalah pedagang sutra dan rempah-rempah yang sukses di Provinsi Cheonghae, dan memiliki banyak cabang yang tersebar diberbagai provinsi. Namun di balik layar, mereka adalah nadi utama bagi Jaringan Penyelundup yang mengirimkan barang-barang haram melintasi perbatasan provinsi.
Di dalam ruangan bawah tanah yang diterangi obor redup, atmosfer terasa begitu berat hingga sulit bernapas.
PLAK!
Suara tamparan keras menggema.
Si Botak, pemimpin pengawal bayaran yang ditakuti di jalanan, terpelanting ke lantai. Sudut bibirnya pecah, darah segar menetes ke lantai batu yang dingin.
Dia tidak berani menataap. Dia segera berlutut kembali, menempelkan dahinya ke lantai.
"Ampun, Tuan Manajer Cabang! Ampun!"
Di hadapannya, duduk seorang pria paruh baya dengan jubah sutra hijau. Wajahnya kurus, matanya sipit seperti ular, dan jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja mahoni dengan irama yang membuat jantung berdebar.
Dia adalah Jo Chil-sung, Kepala Cabang Silvercrane di kota ini. Seorang praktisi First Rate yang pensiun dari dunia bela diri untuk menjadi pedagang.
"Ampun?" suara Jo Chil-sung terdengar halus, tapi mengandung bisa. "Kau bilang ampun?"
Jo Chil-sung berdiri, melempar sebuah gulungan kertas ke wajah Si Botak.
"Wudang sudah bergerak, Bodoh! Paviliun Investigasi Murim sudah mengirim anjing-anjing muda mereka ke kota ini! Dan kau... kau membawa masuk barang itu bersama seorang saksi mata yang masih hidup?!"
Si Botak gemetar. "Tuan... hamba tidak punya pilihan. Bocah itu... dia bukan manusia biasa. Dia membunuh Kapak Besi Gang-dol! Hamba pikir... jika hamba menyerangnya saat itu, kami semua akan mati dan barang itu akan terekspos di tengah lembah."
"Alasan!" bentak Jo Chil-sung.
Dia berjalan memutari meja, tangannya menggaruk-garuk batang hidungnya.
"Kau tahu situasi kita, Botak. Tuan Besar di pusat sedang kalut. Pewaris tunggal Silvercrane hilang diculik entah oleh siapa. Bisnis legal kita sedang diaudit. Satu-satunya pemasukan yang menjaga kepala kita tetap menempel di leher adalah kontrak pengiriman Mayat Hidup ini."
Jo Chil-sung berhenti di depan peta besar yang tergantung di dinding. Peta itu menunjukkan jalur dari Provinsi Guryong menuju pelabuhan Cheonghae.
"Klien kita..." Jo Chil-sung merendahkan suaranya, seolah takut dinding itu bisa mendengar suaranya. "Pemilik barang itu... mereka bukan orang yang bisa kita kecewakan. Jika mereka tahu rute ini bocor karena kecerobohanmu, mereka tidak akan memecat kita. Mereka akan menjadikan kita Jiangshi berikutnya."
Si Botak menelan ludah. Dia tahu rumor tentang Kultus Jiangshi yang bersembunyi di Guryong. Merekalah yang memesan pengiriman ini.
"Tapi Tuan," sela Si Botak memberanikan diri. "Bocah itu... Geun. Dia sudah menerima uang tutup mulut. Dia bilang dia dari Aliran Bertahan Hidup. Dia tidak terlihat peduli dengan urusan Murim."
"Naif!" Jo Chil-sung menendang bahu Si Botak. "Di dunia ini, tidak ada saksi yang bisa dipercaya selain orang mati. Apalagi sekarang Wudang sudah mengendus baunya. Kalau Wudang sudah mendapatkan bukti, sekte Orthodox besar lain tidak akan diam. Bagaimana jika mereka menangkap bocah itu? Bagaimana jika mereka menyiksanya? Dia akan bernyanyi lebih nyaring dan merdu dari burung kenari!"
Jo Chil-sung kembali duduk. Dia memijat pelipisnya yang berdenyut.
Dia harus mengambil keputusan cepat. Wudang tidak bisa disentuh. Menyerang murid Wudang sama saja mengajak perang satu aliansi orthodox.
Tapi bocah gembel tanpa latar belakang itu? Dia adalah mata rantai terlemah yang harus diputus.
"Kau bilang dia kuat?" tanya Jo Chil-sung.
"Sangat kuat, Tuan. Teknik tulangnya mengerikan. Dia mematahkan sendinya sendiri untuk menyerang dari sudut mati," lapor Si Botak cepat.
Jo Chil-sung mendengus meremehkan. "Kuat? Kalau dia benar-benar Master, dia tidak akan menjadi pengawal bayaran demi tujuh tael perak. Dia hanyalah praktisi liar yang punya satu atau dua trik kotor. Keberuntungan pemula."
Jo Chil-sung menarik laci mejanya. Dia mengambil sebuah peluit kecil terbuat dari tulang hitam.
"Kita tidak bisa mengambil risiko. Dia harus hilang malam ini. Sebelum Wudang berhasil mengamankannya."
"Hamba akan kumpulkan pasukan..." Si Botak hendak berdiri.
"Duduk!" bentak Jo Chil-sung. "Jangan pakai pengawal biasa. Kalau dia bisa membunuh Gang-dol, pengawal kroco-mu hanya akan jadi mainannya. Kita butuh profesional. Kita butuh pembunuh yang tahu cara mematikan lilin tanpa membuat angin."
Jo Chil-sung meniup peluit tulang itu. Tidak ada suara yang terdengar oleh telinga manusia, tapi gelombang energi Qi frekuensi tinggi menyebar ke seluruh gedung.
Sesaat kemudian, pintu ruangan terbuka tanpa suara.
Dua sosok masuk.
Mereka mengenakan pakaian hitam ketat tanpa lencana. Wajah mereka ditutupi kain hitam, hanya menyisakan mata yang tampak agak memutih.
Postur mereka bungkuk, langkah kaki mereka tidak bersuara sama sekali di lantai batu.
"Si Kembar Ular Besi," bisik Si Botak ngeri.
Mereka adalah pembunuh bayaran dari Guild Pembunuh tingkat dua. Secara ranah energi bela diri, mereka hanyalah Third-Rate, ranah paling bawah. Qi mereka sangat tipis.
Tapi dalam hal membunuh orang tidur, mereka lebih efektif daripada Peak First-Rate sekalipun. Mereka menggunakan racun, jerat kawat, dan belati beracun. Teknik mereka tidak diciptakan untuk bertarung dengan hormat, tapi untuk membunuh target dengan efektif.
"Ada pekerjaan," kata Jo Chil-sung dingin.
Salah satu dari pembunuh itu mengangguk. "Target?" Suaranya serak, seperti gesekan kertas pasir, namun terasa seperti suara wanita.
"Seorang remaja sekitar 16 tahun. Menginap di Paviliun Heavenly Scents. Namanya Geun. Ciri-cirinya kurus, mata merah, membawa tongkat sepanjang satu meter yang dibaluti kain goni."
Jo Chil-sung melempar kantong berisi 50 tael perak ke meja.
"Aku tidak mau ada keributan. Aku tidak mau ada duel. Masuk ke kamarnya saat dia tidur, gorok lehernya, dan pastikan dia tidak bangun lagi. Buat seolah-olah itu perampokan biasa."
"Bagaimana dengan Wudang?" tanya pembunuh itu. "Kabarnya mereka mengawasi bocah itu."
"Wudang adalah pendekar orthodox. Mereka tidur di malam hari," cibir Jo Chil-sung. "Dan kalaupun mereka bangun, kalian berdua ahli dalam meloloskan diri. Lakukan tugas kalian. Bersihkan jejak Silvercrane dari muka bumi."
Kedua pembunuh itu mengambil uangnya, membungkuk sekilas, lalu menghilang ke dalam bayang-bayang lorong secepat mereka datang.
Si Botak masih berlutut, keringat dingin membasahi punggungnya.
"Tuan... apa itu cukup? Bocah itu..."
"Cukup," potong Jo Chil-sung. Dia menuang arak ke cawannya dengan tangan yang kini lebih stabil.
"Bocah itu mungkin bisa mematahkan tulangnya sendiri. Tapi manusia tetaplah manusia. Jika lehernya digorok saat tidur, dia akan mati sama seperti anjing."
Jo Chil-sung menatap peta di dinding, matanya tertuju pada jalur merah yang menuju ke pelabuhan.
"Malam ini, masalah kita selesai. Besok, barang itu akan dikirim ke kapal, dan kita akan cuci tangan dari urusan terkutuk ini selamanya."