Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arsip yang Berpindah
Wijaya menyadari ada yang berubah bukan dari pengumuman, melainkan dari cara orang-orang berhenti menyebut namanya.
Pagi itu ia datang ke perpustakaan seperti biasa. Jam tangannya menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh. Terlambat sedikit, tapi tidak cukup untuk dianggap melanggar. Satpam di pintu depan tetap mengangguk sopan, namun tidak lagi menyapanya dengan nama. Gestur kecil, nyaris tak terlihat, tapi Wijaya menangkapnya dengan ketelitian yang sama ketika ia membaca catatan kaki di arsip lama.
Ia berjalan melewati lobi, menaiki tangga, lalu berhenti sejenak di depan pintu ruang arsip. Kartu akses di tangannya terasa sama… plastik tipis, warna kusam… tapi ketika ia menempelkannya ke pemindai, lampu hijau menyala lebih lama dari biasanya sebelum pintu terbuka.
Detail seperti itu tidak pernah ia abaikan.
Di dalam, ruang arsip masih rapi. Rak-rak tinggi berdiri tegak, map-map tersusun dengan ketelitian yang nyaris obsesif. Pendingin ruangan berdengung pelan. Tidak ada yang berubah secara fisik. Dan justru itu yang membuat Wijaya tidak tenang.
Ia meletakkan tas di meja kerjanya, menyalakan komputer, lalu membuka sistem katalog internal. Proses masuk berjalan lancar. Username diterima. Kata sandi benar. Tidak ada peringatan.
Namun ketika ia membuka daftar recent activity, ia melihat sesuatu yang membuat jarinya berhenti di atas mouse.
Beberapa arsip yang ia akses minggu lalu kini tercatat sebagai “dipindahkan untuk penyesuaian klasifikasi.”
Bukan dihapus.
Bukan dikunci.
Dipindahkan.
Wijaya menghela napas pelan. Ia tahu betul bahasa itu. Penyesuaian klasifikasi adalah istilah yang terdengar administratif, bahkan profesional. Tidak ada konotasi negatif. Tidak ada kesan pembatasan. Tapi dalam praktiknya, istilah itu sering berarti satu hal sederhana: akses diperketat tanpa perlu menjelaskan alasannya.
Ia mengklik salah satu entri. Sistem memintanya mengajukan permohonan akses tambahan. Formulir digital muncul, lengkap dengan kolom alasan dan durasi kebutuhan.
Wijaya menutup jendela itu tanpa mengisi apa pun.
Ia berdiri, berjalan menyusuri lorong arsip fisik, dan berhenti di rak yang sama seperti beberapa hari lalu… rak yang ia tunjukkan pada Ari. Map-map masih ada di sana. Tidak dipindahkan. Tidak disegel.
Untuk saat ini.
Wijaya menarik satu map, membukanya di meja baca. Tangannya menyentuh kertas yang mulai rapuh di tepinya. Bau khas arsip lama menguar… campuran debu, tinta tua, dan waktu. Ia membaca ulang dokumen itu, meski sudah hafal isinya di luar kepala.
Ia tidak mencari informasi baru.
Ia memastikan keberadaan.
Di sudut ruangan, suara langkah terdengar. Seorang staf muda masuk, membawa tablet. Ia berhenti sejenak ketika melihat Wijaya.
“Oh, Mas Wijaya,” katanya ragu. “Saya kira… eh… nggak apa-apa.”
Wijaya mengangguk. “Ada yang bisa saya bantu?”
Staf itu menggeleng cepat. “Nggak. Cuma… mau ngecek rak B-17. Katanya ada penyesuaian.”
Rak B-17.
Wijaya menoleh ke arah rak itu, rak yang sama yang sedang ia buka.
“Penyesuaian apa?” tanyanya.
Staf itu menelan ludah. “Belum dijelasin detailnya. Katanya nanti ada instruksi tertulis.”
Wijaya mengangguk pelan. Ia menutup map, memasukkannya kembali ke rak dengan hati-hati yang nyaris ritualistik.
“Terima kasih sudah kasih tahu,” katanya.
Staf itu pergi, langkahnya sedikit lebih cepat daripada saat masuk.
Wijaya kembali ke mejanya, duduk, dan menatap layar komputer yang kini terasa lebih dingin dari biasanya. Ia teringat percakapannya dengan Ari di warung kopi… tentang arsip yang dipinggirkan, bukan dihapus. Tentang keteraturan yang terlalu rapi.
Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari grup Random.
Ia tidak langsung membukanya.
Ada satu hal yang lebih mendesak di kepalanya: waktu.
Wijaya membuka laci mejanya, mengeluarkan flashdisk kecil tanpa label. Benda itu sudah beberapa hari berada di sana, tapi baru hari ini terasa seperti keputusan. Ia menatapnya lama, seolah flashdisk itu bisa berbicara dan menegaskan konsekuensinya.
Ia tahu apa artinya jika ia melangkah lebih jauh.
Bukan penangkapan.
Bukan ancaman langsung.
Yang paling mungkin justru:
…rotasi permanen, evaluasi kinerja, penghilangan peran secara perlahan.
Semua sah. Semua legal. Semua rapi.
Wijaya menancapkan flashdisk ke port USB, membuka folder arsip fisik yang tadi ia baca, lalu mulai memindai ulang beberapa dokumen kunci. Ia memilih dengan sangat selektif. Tidak banyak. Tidak mencolok. Cukup untuk menjaga kontinuitas ingatan.
Setiap dokumen yang ia simpan terasa seperti menambah beban di dadanya… bukan karena takut, tapi karena kesadaran bahwa ia sedang melintasi garis yang selama ini ia jaga dengan disiplin akademik.
Ini bukan lagi kerja pustakawan.
Ini sudah menjadi kerja penjaga jejak.
Menjelang siang, pengumuman internal masuk ke email institusi. Subjeknya netral: Pembaruan Struktur Akses dan Penugasan.
Wijaya membukanya dengan tenang.
Isinya singkat. Tidak menyebut nama. Tidak menyebut arsip tertentu. Hanya penjelasan umum tentang “optimalisasi peran” dan “penyesuaian tanggung jawab.” Di paragraf terakhir, ada satu kalimat yang membuatnya berhenti membaca:
Beberapa staf akan dialihkan sementara ke unit lain untuk mendukung pelayanan publik.
Sementara.
Kata itu kembali muncul, seperti gema yang mengikuti langkahnya ke mana pun.
Wijaya menutup email, mematikan layar, lalu duduk diam. Ia tidak marah. Ia juga tidak terkejut. Yang ia rasakan justru kejernihan dingin: arsip-arsip itu tidak lagi aman hanya dengan disimpan di rak.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini ia membukanya.
Pesan dari Ari, singkat.
Ari:
Jay,
gue ngerasa apa yang lo bilang soal arsip itu bener.
Ada yang lagi dipindahin pelan-pelan.
Wijaya menatap pesan itu lama sebelum membalas.
Wijaya:
Bukan dipindahin.
Sedang disiapkan untuk dilupakan.
Ia mengirim pesan itu, lalu menyimpan ponsel. Di sekelilingnya, perpustakaan tetap sunyi, teratur, dan tampak tidak bermasalah. Tidak ada alarm. Tidak ada kekacauan.
Namun Wijaya tahu, ketika arsip mulai berpindah, yang berubah bukan ruang, melainkan masa depan.
Dan ia sudah berdiri terlalu dekat untuk berpura-pura tidak melihatnya.
Wijaya tidak langsung pulang setelah jam kerja berakhir.
Ia duduk sendirian di ruang arsip yang mulai sepi. Lampu-lampu masih menyala, pendingin udara tetap bekerja, dan rak-rak berdiri seperti biasa… setia, diam, dan tidak memihak. Di luar jam sibuk, perpustakaan selalu terasa seperti bangunan yang kehilangan suara, hanya menyisakan dengung mesin dan langkah sesekali petugas kebersihan.
Ia membuka kembali komputer, menyalakan layar, dan masuk ke sistem katalog sekali lagi. Kali ini bukan untuk mencari arsip tertentu, melainkan untuk memastikan apa saja yang tidak lagi muncul.
Daftar itu bertambah.
Beberapa entri kini hanya menyisakan judul tanpa tautan. Beberapa lainnya masih bisa dibuka, tapi dengan catatan akses terbatas. Tidak ada pola yang mencolok jika dilihat sepintas. Namun bagi Wijaya, itu cukup untuk menyimpulkan satu hal: perubahan ini disengaja untuk tidak terlihat sebagai perubahan.
Ia memejamkan mata sejenak, lalu membuka laci mejanya lagi. Flashdisk kecil itu masih di sana. Ia memutarnya di antara jari-jarinya, merasakan permukaan plastik yang mulai aus. Benda sekecil itu kini terasa lebih berat daripada tumpukan map di rak.
Ia teringat awal mula ia memilih menjadi pustakawan. Bukan karena cinta pada institusi, melainkan karena keyakinan sederhana: bahwa pengetahuan yang disimpan dengan rapi akan selalu menemukan jalannya kembali. Ia percaya pada waktu. Ia percaya pada keterlambatan sejarah.
Namun sore itu, keyakinan itu terasa rapuh.
Pintu ruang arsip terbuka. Seorang pejabat struktural masuk, atasannya langsung. Wajahnya ramah, suaranya tenang, dan senyumnya seperti selalu, sulit ditafsirkan.
“Mas Wijaya,” katanya. “Masih di sini?”
“Sedang menyelesaikan beberapa hal,” jawab Wijaya singkat.
Atasannya mengangguk, lalu duduk di kursi seberang meja tanpa diminta. “Saya mau menyampaikan secara informal dulu,” katanya. “Besok akan ada rotasi kecil. Sementara.”
Wijaya mengangguk. “Unit mana?”
“Pelayanan umum,” jawabnya cepat. “Hanya beberapa bulan. Penyegaran.”
Penyegaran.
Wijaya menahan diri untuk tidak tersenyum. Kata itu terlalu sering dipakai untuk hal-hal yang justru menguras.
“Saya masih bisa mengakses arsip?” tanyanya.
Atasannya berhenti sejenak. “Tergantung kebutuhan. Kita sekarang sedang menata ulang prioritas.”
Wijaya mengangguk lagi. Ia tidak membantah. Tidak bertanya lebih jauh. Dalam sistem seperti ini, pertanyaan tambahan sering dianggap sebagai ketidaksiapan beradaptasi.
“Mas Wijaya tetap aset penting,” lanjut atasannya, berdiri. “Kita hanya ingin memastikan semua berjalan optimal.”
Optimal untuk siapa, pikir Wijaya, tapi tidak mengucapkannya.
Setelah atasannya pergi, Wijaya duduk lama tanpa bergerak. Ia menatap rak-rak arsip itu seperti seseorang menatap rumah yang akan segera ditinggalkan. Tidak ada rasa sentimental berlebihan. Hanya kesadaran dingin bahwa ruang ini tidak lagi menjadi tempat ia bisa berdiri tanpa syarat.
Ia membuka laptop, menghubungkan flashdisk, lalu menyalin satu folder terakhir… bukan arsip sensitif, bukan dokumen rahasia, melainkan indeks silang yang menjelaskan hubungan antararsip. Tanpa indeks itu, banyak dokumen akan kehilangan konteks.
Ia berhenti sejenak, ragu.
Jika ia mengambil ini, ia tahu risikonya. Bukan hukuman langsung, tapi label: tidak kooperatif. Dan label itu sering lebih berbahaya daripada pelanggaran.
Namun jika ia tidak mengambilnya, arsip-arsip itu akan tetap ada… tapi tanpa ingatan tentang bagaimana membacanya.
Wijaya menekan copy.
Proses berjalan lambat. Setiap detik terasa panjang. Ia mendengarkan suara mesin, langkah petugas di kejauhan, dan denyut halus di pelipisnya sendiri. Ketika proses selesai, ia mengeluarkan flashdisk, mematikannya, lalu memasukkannya ke saku jaket.
Ia berdiri, merapikan meja, memastikan tidak ada yang tampak janggal. Semua kembali terlihat rapi. Terlalu rapi.
Di luar gedung, langit Surabaya sudah gelap. Lampu jalan menyala terang, kendaraan mengalir tanpa jeda. Kota ini tidak pernah bertanya siapa yang datang dan siapa yang pergi. Ia hanya memastikan arus tetap berjalan.
Wijaya berjalan menyusuri trotoar, merasakan panas yang masih tertinggal di aspal. Ia berhenti sejenak di bawah lampu jalan, mengeluarkan ponsel, lalu membuka grup Random. Pesan-pesan lama terbaca ulang dengan makna baru.
Ia mengetik pelan.
Wijaya:
Besok gue dipindah sementara.
Akses arsip mulai disaring.
Bukan dihapus, dibikin capek buat dicari.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada balasan langsung. Wijaya tidak keberatan. Ia tahu pesan itu bukan untuk ditanggapi cepat.
Ia memasukkan ponsel kembali ke saku, melanjutkan langkah. Di kepalanya, satu kesimpulan mengeras, sederhana tapi tidak nyaman: selama ini ia menjaga arsip dari kerusakan fisik, tapi lupa bahwa musuh terbesarnya adalah pengelolaan yang terlalu rapi.
Malam itu, di kamar, Wijaya membuka flashdisk sekali lagi. Ia tidak membaca ulang isinya. Ia hanya memastikan semuanya ada. Lalu ia menyimpannya di tempat yang tidak biasa… bukan di tas kerja, bukan di laci, melainkan di antara buku-buku lama yang jarang ia sentuh.
Ia berbaring, memandang langit-langit, membiarkan pikirannya berjalan tanpa diarahkan. Ia tidak merasa sebagai pahlawan. Ia juga tidak merasa memberontak. Yang ia lakukan terasa lebih sederhana dan lebih berat: ia menolak lupa ketika lupa sedang disiapkan.
Besok, ia akan duduk di meja lain, melayani publik, menjawab pertanyaan umum. Arsip akan tetap ada, tapi tidak lagi di tangannya. Dan ia tahu, sejak hari ini, posisinya telah berubah… dari penjaga resmi menjadi saksi yang harus berhati-hati.
Di luar, Surabaya tetap bergerak.
Di dalam, Wijaya telah mengambil satu langkah kecil yang tidak bisa diulang.