Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32: Jalan yang Bercabang
Tembok hitam raksasa setinggi tiga puluh tombak menjulang di depan mata, seolah memisahkan langit dan bumi.
Kota Batu Hitam.
Ini adalah benteng netral terbesar di wilayah perbatasan. Berbeda dengan sekte yang anggun dan tertutup, kota ini memancarkan aura kasar, bising, dan penuh nafsu duniawi. Ribuan orang berlalu-lalang di gerbang: pedagang dengan kereta kuda, tentara bayaran dengan senjata terhunus, hingga pengemis yang memancarkan aura Qi samar.
Di pinggiran hutan, sekitar satu li dari gerbang kota, rombongan pengungsi Lembah Abu berhenti.
Suasana hening dan canggung.
Zhao Feng, mantan murid elit Puncak Pengobatan yang sempat bersitegang dengan Li Wei, melangkah maju. Wajahnya yang dulu arogan kini tampak dewasa dan lelah.
"Saudara Li," kata Zhao Feng, kali ini dengan nada hormat yang tulus. "Kami sudah berdiskusi sepanjang jalan."
Ia menunjuk ke arah ratusan murid di belakangnya.
"Kami tidak bisa terus bersamamu."
Li Wei mengangkat alisnya sedikit, tapi tidak terkejut. "Alasannya?"
"Kita terlalu mencolok," jelas Zhao Feng. "Ratusan kultivator berjalan bersama akan menarik perhatian mata-mata Sekte Darah. Selain itu... tidak semua dari kami ingin hidup di jalan pedang sepertimu. Banyak murid yang hanya ingin pulang ke kampung halaman, menyembunyikan identitas, dan hidup sebagai manusia biasa."
Li Wei menatap wajah-wajah lelah itu. Mereka benar. Membawa pasukan besar berarti beban logistik dan target raksasa.
"Aku mengerti," kata Li Wei tenang. "Setiap orang punya Dao nya sendiri."
Lalu, Tie Shan raksasa dari Puncak Besi juga melangkah maju. Ia meletakkan peti peralatan tempanya di tanah.
"Saudara Li," suara Tie Shan berat. "Aku pun harus berpisah."
Xiao Lan terkejut. "Kakak Tie? Kau juga? Tapi kita tim yang bagus!"
Tie Shan tersenyum sedih. Ia menepuk Meriam Auman Naga yang kini terbungkus kain di punggungnya.
"Meriam ini... retak setelah satu tembakan. Kemampuanku saat ini tidak cukup untuk memperbaikinya," Tie Shan mengepalkan tangannya yang kasar. "Aku mendengar rumor tentang Sekte Penempaan Api Dewa di wilayah Timur. Aku harus ke sana. Aku harus belajar teknik tempa tingkat tinggi agar suatu hari nanti... senjata ini bisa mengaum lagi tanpa hancur."
Tie Shan menatap Li Wei tajam. "Aku tidak meninggalkanmu, Saudara. Aku pergi untuk menajamkan diri. Saat aku kembali nanti, aku akan memberimu senjata yang bisa membelah langit sungguhan."
Li Wei mengangguk. Ia tahu perasaan itu. Keinginan untuk menjadi lebih kuat.
"Pergilah, Saudara Tie. Kami akan menunggumu di puncak dunia."
Perpisahan itu berlangsung singkat dan penuh emosi. Li Wei membagikan sebagian emas rampasan dari bandit kepada mereka sebagai bekal perjalanan.
Satu per satu, kelompok itu memisahkan diri. Ada yang menyamar menjadi rombongan dagang, ada yang menjadi petani. Tie Shan berjalan sendirian ke arah Timur, bayangannya yang besar perlahan menghilang di cakrawala.
Akhirnya, hanya tersisa dua orang di pinggir hutan.
Li Wei dan Xiao Lan.
Angin sore menerbangkan rambut Xiao Lan. Ia merasa sepi, tapi saat melihat punggung tegap Li Wei, rasa takutnya hilang.
"Hanya kita berdua sekarang," kata Xiao Lan pelan.
"Lebih mudah bergerak, lebih sudah bersembunyi," jawab Li Wei pragmatis, meski dalam hatinya ia juga merasakan kehilangan. "Ayo masuk. Kita butuh uang dan tempat tinggal."
Mereka memasuki Kota Batu Hitam dengan menyamar. Li Wei mengenakan caping bambu lebar, dan Xiao Lan mengenakan cadar.
Kota itu sangat padat. Kios-kios menjajakan segala hal mulai dari kulit binatang, jimat, hingga budak.
Li Wei membawa Xiao Lan menuju sebuah bangunan megah bertingkat tiga dengan papan nama emas: Paviliun Seribu Harta.
Ini adalah cabang rumah dagang terbesar di benua ini. Konon, reputasi mereka lebih penting daripada nyawa, sehingga aman untuk transaksi barang sensitif.
Di dalam, seorang pelayan tua menyambut mereka. Awalnya ia meremehkan penampilan Li Wei yang seperti pengembara miskin.
"Kami ingin menjual barang," kata Li Wei, meletakkan karung besar di atas meja kayu cendana.
"Maaf, Tuan Muda," pelayan tua itu tersenyum sopan namun merendahkan. "Kami hanya menerima barang Tingkat Menengah ke atas. Barang rongsokan hutan bisa dijual di pasar di..."
Li Wei tidak menjawab. Ia membalikkan karung itu.
Klotak! Klotak!
Puluhan senjata milik murid Sekte Darah (Tingkat Menengah), beberapa Inti Monster Lapis 5, dan tumpukan herbal langka dari Lembah Abu tumpah ke meja.
Mata pelayan tua itu membelalak. Aura Qi yang memancar dari tumpukan itu cukup kuat. Terutama senjata-senjata Sekte Darah yang memancarkan aura jahat barang selundupan yang sangat dicari kolektor hitam.
"I-ini..." pelayan itu tergagap, keringat dingin muncul. "Mohon tunggu sebentar! Saya panggilkan Manajer!"
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya yang anggun dengan kipas bulu merak keluar. Aura kultivasinya berada di Qi Condensation Lapis 8.
Wanita itu, Nyonya Yu, memeriksa barang-barang itu dengan teliti.
"Barang bagus. Meski asal-usulnya... berdarah," Nyonya Yu tersenyum penuh arti pada Li Wei. "Kami tidak bertanya asal barang. Total nilai taksiran 3.000 Batu Roh."
Xiao Lan menahan napas. 3.000?! Itu kekayaan yang tidak pernah ia bayangkan. Gaji murid sekte hanya 5 batu sebulan.
"Aku tidak butuh Batu Roh sebanyak itu," potong Li Wei. "Aku ingin menukar sebagian dengan barang."
"Oh? Apa yang Tuan Muda cari?"
"Pertama," Li Wei mengangkat satu jari. "Aku butuh Cincin Penyimpanan (Spatial Ring)."
Nyonya Yu tertawa kecil, suara yang renyah. "Tentu. Kami punya Cincin Roh Kosong Harga: 1.000 Batu Roh."
Li Wei mengangguk setuju. Mahal, tapi sepadan. Akhirnya, dia bisa menyimpan Tongkat Penembus Langit (jika sedang tidak dipakai), herbal, dan uang dengan praktis.
Nyonya Yu mengeluarkan sebuah cincin perak sederhana dengan ukiran awan. Li Wei segera meneteskan darah untuk mengikatnya. Seketika, ia merasakan koneksi mental dengan sebuah ruang hampa di dalam cincin itu. Dengan satu pikiran, karung di meja dan tongkat besinya tersedot masuk.
"Kedua," lanjut Li Wei. "Aku butuh sumber daya untuk menembus hambatan kultivasi. Pil atau Herbal untuk transisi ke Lapis 7."
Mata Nyonya Yu berkilat. "Kebetulan sekali. Kami baru saja mendapatkan kiriman Buah Jantung Bumi (Earth Heart Fruit). Buah ini tumbuh di kedalaman gua vulkanik. Sangat cocok untuk kultivator yang melatih teknik fisik atau elemen tanah/api. Harganya 1.500 Batu Roh."
Giok Dao Abadi di dada Li Wei bergetar panas.
"Aku ambil," kata Li Wei tanpa ragu.
"Sisa 500 Batu Roh," Nyonya Yu menyerahkan kantong uang dan kotak berisi buah yang memancarkan hawa panas, serta Cincin Penyimpanan di jari Li Wei. "Senang berbisnis dengan Anda, Tuan Muda...?"
"Besi Hitam," jawab Li Wei singkat, menggunakan nama samaran.
Keluar dari paviliun, Li Wei merasa jauh lebih ringan. Secara harfiah dan kiasan.
"Kita kaya, Li Wei!" bisik Xiao Lan antusias.
"Ini modal perang kita," koreksi Li Wei. "Sekarang, kita cari penginapan tertutup. Aku akan melakukan isolasi tertutup malam ini."
Mereka menyewa sebuah halaman kecil yang tenang di distrik barat kota, yang dilindungi formasi kedap suara.
Malam itu, Li Wei duduk bersila di kamarnya. Di depannya, Buah Jantung Bumi yang merah membara melayang.
"Lapis 6 hanyalah permulaan," gumam Li Wei. "Untuk bertahan di dunia luar ini, aku harus mencapai Lapis 7 Tahap Akhir Qi Condensation."
Ia menelan buah itu.
BOOM!
Rasa panas meledak di perutnya, menyebar ke seluruh meridian. Tulang-tulangnya yang berwarna emas samar mulai bergemeretak, menyerap esensi bumi itu dengan rakus.
Di luar kamar, Xiao Lan berjaga dengan pedang terhunus, wajahnya serius. Dia tahu ini saat kritis. Jika Li Wei berhasil, kekuatan tempur mereka akan melonjak drastis.
Di dalam dantian Li Wei, lautan Qi bergolak. Kabut Qi mulai memadat menjadi tetesan cair yang lebih murni.