NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Pengejaran yang Tak Berujung

Arkan berdiri di tengah jalan, menatap mobil Yura yang sudah menjauh lampu belakangnya semakin kecil di kejauhan.

Tapi ia tidak panik.

Tidak marah.

Ia hanya… tersenyum.

Senyum yang dingin. Penuh kepastian.

Ia berbalik, berjalan santai kembali ke mobilnya sementara mobil-mobil lain di belakangnya mulai membunyikan klakson karena ia menghalangi jalan.

Begitu masuk ke mobil, ia menutup pintu dengan tenang, lalu menatap Bagas yang sudah duduk siap di kursi depan.

"Lanjutkan," perintah Arkan dengan nada dingin tapi tegas. "Jangan sampai hilang."

Bagas menelan ludah, lalu mengangguk cepat. "Baik, Pak."

Ia menginjak gas mobil melaju dengan kecepatan tinggi, menyusul mobil Yura yang sudah beberapa ratus meter di depan.

Bagas melirik kaca spion dengan ekspresi bingung campur pusing.

"Pak…" ucapnya hati-hati. "Kalau Nona Yura sampai menelepon polisi… atau… melaporkan kita… bagaimana?"

Arkan menatap keluar jendela dengan tatapan kosong tapi bibirnya masih tersenyum tipis.

"Dia tidak akan melaporkan," jawabnya tenang. "Karena dia tahu… aku tidak akan menyakitinya."

Bagas mengerutkan dahi. "Tapi… Nona Yura terlihat sangat ketakutan, Pak. Dia bahkan kabur dari Bapak."

Arkan tidak menjawab langsung.

Ia hanya terus menatap lampu belakang mobil Yura yang mulai terlihat lagi di kejauhan.

"Dia takut," gumam Arkan pelan hampir berbisik. "Tapi bukan karena dia membenciku. Dia takut… karena dia belum siap menerima perasaannya sendiri."

Bagas menatap bosnya melalui kaca spion dengan ekspresi prihatin. Pak Arkan… benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.

Tapi Bagas tidak berani bicara lagi. Ia hanya terus mengemudi mengikuti mobil Yura yang terus melaju kencang.

Di Mobil Yura...

Yura terus menginjak gas mesin mobilnya sudah bergetar karena dipaksa melaju terlalu cepat.

Tangannya gemetar. Air matanya terus mengalir.

Ia melirik kaca spion lagi..

Mobil hitam itu masih di sana.

Masih mengikutinya.

Tidak pernah menjauh.

"Kenapa… kenapa dia tidak berhenti…" bisik Yura dengan suara bergetar.

Ponselnya tiba-tiba bergetar keras notifikasi pesan masuk.

Dari Adrian. Yura dengan cepat melirik layar ponsel yang tergeletak di dashboard.

Adrian:

📍 Lokasi Dibagikan

Yura, ke sini. Ini kantor polisi cabang Timur. Aku sudah kasih tahu rekan-rekanku. Kau akan aman di sini. Aku tunggu di depan. Jangan berhenti di tempat lain.

Yura menarik napas gemetar lalu segera mengikuti arahan GPS yang muncul di layar ponselnya.

12 menit lagi.

Aku harus bertahan 12 menit lagi.

Ia menekan gas lebih dalam mesin mobilnya meraung.

Tapi mobil hitam itu… tetap mengikutinya.

Di Mobil Arkan...

Bagas menatap GPS di dashboard mobilnya, lalu mengerutkan dahi.

"Pak… sepertinya Nona Yura… menuju ke arah kantor polisi."

Arkan terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis dingin.

"Tentu saja," gumamnya. "Adrian menyuruhnya ke sana."

Bagas melirik kaca spion dengan ekspresi khawatir. "Pak… kalau Nona Yura sampai di kantor polisi… kita tidak bisa masuk. Kita bisa dilaporkan."

Arkan menatap keluar jendela dengan tatapan tenang terlalu tenang.

"Aku tahu."

Bagas bingung. "Lalu… kenapa kita masih mengikutinya?"

Arkan tidak menjawab langsung.

Ia hanya terus menatap mobil Yura yang mulai berbelok ke arah timur menuju kantor polisi.

"Karena aku ingin dia tahu," jawab Arkan akhirnya suaranya pelan, tapi penuh tekad. "Aku ingin dia tahu… bahwa kemana pun dia lari… aku akan selalu ada di sana."

Bagas menatap bosnya dengan ekspresi tidak percaya. "Pak… ini… ini bukan cinta lagi. Ini "

"Ini Cinta, jika bukan untuk apa aku melakukan semua ini? ," potong Arkan tenang. "

Ia menatap Bagas melalui kaca spion tatapannya gelap, penuh kepastian. "Kau jangan banyak bicara, lakukan saja tugasmu."

Bagas terdiam.

Ia tidak tahu harus bilang apa lagi.

Di Kantor Polisi Cabang Timur...

Adrian berdiri di depan pintu gerbang kantor polisi dengan napas yang masih memburu.

Ia sudah memberitahu rekan-rekannya di kantor polisi cabang ini mereka sudah siap jaga-jaga.

Ponselnya di tangan, terus memantau lokasi Yura melalui GPS.

8 menit lagi.

Adrian mengepalkan tangannya tangannya masih menyentuh senjata di pinggangnya, siap untuk apapun.

"Bertahanlah, Yura," bisiknya pelan. "Aku akan melindungimu."

Salah satu rekannya Inspektur Reza mendekat dengan ekspresi serius.

"Adrian, apa yang sebenarnya terjadi? Kau bilang ada wanita yang dikejar?"

Adrian mengangguk cepat. "Iya. Temanku. Dia dikejar oleh pria bernama Arkan Mahendradatta. CEO Arkan Tech Solutions. Dia… obsesif. Berbahaya. Aku sudah punya rekaman ancamannya."

Reza mengerutkan dahi. "Arkan Mahendradatta? CEO besar itu?"

"Iya," jawab Adrian tegas. "Dan aku tidak peduli seberapa kaya atau berkuasa dia. Kalau dia berani ganggu Yura lagi, aku akan tangkap dia."

Reza menatap Adrian lama, lalu mengangguk. "Oke. Tapi dia kebal hukum, kau tau itu kan Adrian?

Adrian mengangguk lalu kembali menatap jalan raya."Aku akan melawannya jika perlu." gumamnya.

6 menit lagi.

Di Jalan Menuju Kantor Polisi...

Yura sudah bisa melihat gedung kantor polisi di kejauhan lampunya terang, terlihat aman.

4 menit lagi.

Ia melirik kaca spion

Mobil hitam itu masih di sana.

Tapi kali ini… jaraknya semakin dekat.

Terlalu dekat.

Yura panik ia menekan gas lebih dalam, tapi mobilnya sudah mencapai batas maksimal.

Dan kemudian... Mobil hitam itu menyalip...

Lalu berhenti mendadak tepat di depan mobilnya.

MENGHALANGI JALAN.

"TIDAK!" teriak Yura sambil menginjak rem keras.

Mobilnya berhenti mendadak ban-bannya berbunyi nyaring.

Yura napasnya memburu jantungnya hampir copot. Mobil hitam itu berhenti tepat 2 meter di depannya.

Pintu belakang terbuka. Dan Arkan… turun. Perlahan.

Menatapnya dengan tatapan yang gelap penuh obsesi, penuh kepemilikan.

Yura gemetar tangannya mencoba meraih ponsel untuk menelepon Adrian..

Tapi sebelum ia sempat..

Arkan sudah berjalan mendekat.

Mengetuk kaca jendela mobilnya pelan.

"Yura," suaranya terdengar jelas meski tertutup kaca. "Kita harus bicara."

Yura menggelengkan kepala cepat air matanya mengalir deras. "PERGI! JANGAN DEKATI AKU!"

Arkan tersenyum tipis dingin. "Aku tidak akan menyakitimu," katanya pelan. "Aku hanya ingin bicara. Buka pintunya."

"TIDAK!" teriak Yura. "AKU TIDAK MAU! PERGI!"

Arkan terdiam tatapannya semakin gelap. "Kalau kau tidak mau buka pintu…" ucapnya pelan, "…aku akan tunggu di sini sampai kau mau keluar."

Yura menatapnya dengan mata melebar ketakutan.

Dia… gila.

Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar, lalu menelepon Adrian.

"ADI! DIA MENGHALANGI JALANKU! AKU TIDAK BISA JALAN! DIA DI DEPAN MOBILKU!"

Suara Adrian terdengar panik. "DIMANA?! AKU KE SANA SEKARANG!"

"Aku… aku di Jalan Raya Timur sebelum kantor polisi dia......"

Tiba-tiba, Arkan mengetuk kaca lagi lebih keras. "Yura," suaranya lebih rendah lebih mengancam. "Tutup teleponnya. Sekarang."

Yura menggelengkan kepala tangannya gemetar. "TIDAK! ADRIAN, TOLONG! AKU "

Arkan menatapnya lama lalu tersenyum lagi.

Senyum yang mengerikan. "Baiklah," gumamnya pelan. "Kalau kau tidak mau keluar… aku yang akan masuk."

Dan kemudian Ia berjalan ke pintu belakang mobil Yura. Mencoba membukanya.Terkunci.

Ia mencoba pintu depan.Terkunci juga.

Yura menangis napasnya tersengal-sengal.

Arkan berhenti lalu menatap Yura melalui kaca.

"Kau tidak bisa lari selamanya, Yura," bisiknya pelan tapi terdengar jelas. "Cepat atau lambat… kau akan kembali padaku."

Dan kemudian. Suara sirene polisi terdengar dari kejauhan.

Adrian datang.

Arkan menoleh melihat mobil patroli melaju cepat ke arah mereka.

Ia tersenyum lagi lalu berbalik, berjalan santai kembali ke mobilnya.

"Sampai jumpa, Yura," bisiknya pelan sebelum masuk ke mobil.

Mobil hitam itu melaju menghilang ke kegelapan.

Meninggalkan Yura yang menangis di dalam mobilnya gemetar, ketakutan, dan… hancur.

1
Nur Halida
ngeri ngeri sedep nih si arkan🙀
Bunga
suka
NR: Makasih banyak ya sudah baca dan suka sama ceritanya 🥺✨
Seneng banget tau kalian menikmati perjalanan Yura & Arkan.
Doain aku bisa konsisten update dan kasih cerita yang makin berasa 🤍
total 1 replies
Bunga
cerita yang menàrik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!