"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Jimmy mencengkeram kemudi dengan kuat, matanya lurus menatap jalanan yang mulai lengang. Sejak meninggalkan hotel, pria itu membisu. Tidak ada bentakan, tidak ada ceramah, bahkan tidak ada lirikan tajam. Hanya keheningan yang menyesakkan.
Leana, yang duduk di kursi belakang mulai kehilangan kesabaran. Ia melipat tangan di dada, kakinya menghentak-hentak karpet mobil dengan gelisah. Leana benci ini, dia lebih suka Jimmy memaki-makinya daripada diperlakukan seolah ia adalah angin lalu.
"Kau mau mendiamkan aku sampai kapan, Jim?" tanya Leana.
Jimmy tidak menjawab. Ia bahkan tidak berkedip. Tangannya dengan tenang memutar kemudi saat mobil berbelok di bundaran.
"Jimmy! Aku sedang bicara padamu!" Leana meninggikan suaranya. "Kau pikir kau siapa, hah? Kau hanya pelayan ayahku! Kau tidak punya hak mendiamkan ku seperti ini!"
Masih hening. Jimmy hanya menambah kecepatan mobilnya, seolah ingin segera sampai ke apartemen dan membuang tanggung jawabnya malam ini.
Kemarahan Leana memuncak. Rasa haus akan perhatian dari pria di sampingnya itu membuatnya kehilangan akal sehat. Dengan gerakan nekad yang bisa mencelakai mereka berdua, Leana melepas sabuk pengamannya. Ia merangkak pindah dari kursinya, melewati pembatas tengah, dan langsung naik ke atas pangkuan Jimmy yang sedang menyetir.
"Leana! Apa yang kau lakukan?! Turun!" bentak Jimmy.
Tindakan Leana itu membuat mobil sempat oleng ke kanan sebelum Jimmy berhasil menyeimbangkannya kembali.
Tubuh mungil Leana kini menghalangi pandangannya, punggung gadis itu menempel pada kemudi sementara wajahnya menghadap langsung ke arah Jimmy.
"Tidak mau! Jawab aku dulu!" Leana berteriak tepat di depan wajah Jimmy. Tangannya mencengkeram bahu pria itu dengan kuat.
"Apa kau sudah gila?! Kita bisa mati!" seru Jimmy dengan nafas memburu. Ia berusaha mendorong Leana agar menjauh, namun gadis itu justru mengunci kakinya di pinggang Jimmy, menempelkan tubuh mereka tanpa celah.
"Biarkan saja kita mati! Setidaknya aku mati bersamamu!" Leana tidak berhenti di situ. Ia memajukan wajahnya, membenamkan hidungnya di ceruk leher Jimmy yang beraroma maskulin dan tembakau.
Leana memberikan kecupan-kecupan basah dan gigitan kecil di sana, di area sensitif yang ia tahu akan memancing reaksi pria itu.
"Leana, hentikan," desis Jimmy. Suaranya yang tadi membentak kasar kini berubah menjadi geraman rendah yang berbahaya.
"Katakan kau menginginkanku! Katakan kalau aku bukan lagi gadis kecil di matamu!" bisik Leana di telinga Jimmy, sembari terus menyesap kulit leher pria itu.
Cengkeraman Jimmy pada kemudi mengerat hingga otot-otot lengannya menonjol keluar. Ia merasakan panas menjalar dari titik di mana bibir Leana menyentuhnya, merambat ke seluruh aliran darahnya.
Kewarasan Jimmy mulai terkikis.
Ckiiiiiitttt!
Jimmy menginjak rem dan membuat mobil itu berhenti mendadak di tepi jalan yang cukup gelap, tepat di bawah bayangan pohon-pohon besar yang rimbun.
Pria itu tak memaki Leana. Ia hanya diam dengan kepala tersandar di jok dan mata tertutup rapat, berusaha menahan monster di dalam dirinya yang hampir lepas kendali.
"Turun, Leana," ucap Jimmy.
"Tidak. Terima cintaku dulu," tantang Leana. Ia masih duduk dengan angkuh di pangkuan Jimmy. "Aku sudah memberikan segalanya. Aku membuat keributan, aku bertingkah nakal, aku mengejar mu seperti orang gila. Apa ini semua belum cukup?"
Jimmy membuka matanya. Kilat di matanya bukan lagi sekadar kemarahan, itu adalah frustrasi yang mendalam.
"Kau tahu kenapa aku tidak bisa, Lea. Ayahmu adalah sahabatku. Dia mempercayakan mu padaku karena dia pikir aku pria terhormat yang bisa menjagamu!"
"Persetan dengan kehormatan!" Leana mencengkeram kerah kemeja Jimmy, menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Aku tidak butuh pengawal! Aku butuh kau, Jimmy!"
"Kau tidak tahu apa yang kau minta, gadis kecil," geram Jimmy.
"Berhenti memanggilku gadis kecil!" Leana kembali menciumi leher Jimmy, kali ini lebih menuntut dan berani.
Tangannya mulai masuk ke sela-sela kancing kemeja Jimmy, menyentuh dada bidang di baliknya.
Jimmy mencengkeram bahu Leana, berniat menjauhkan gadis itu. Tapi, saat matanya bertemu dengan mata Leana yang penuh dengan obsesi dan luka, sesuatu di dalam dirinya patah.
"Kau ingin aku memperlakukanmu sebagai wanita?" Jimmy berbisik tepat di depan bibir Leana dengan nafas memburu.
Leana mengangguk cepat, jantungnya berdebar hingga terasa menyakitkan. "Ya. Lakukan, Jimmy. Lakukan apa saja asal kau berhenti menganggap ku gadis kecil!"
Tanpa peringatan, Jimmy melepas sabuk pengamannya dengan satu sentakan kasar.
"Apa yang—"
Belum sempat Leana menyelesaikan kalimatnya, Jimmy sudah menarik kedua tangan Leana ke depan. Lalu, melilitkan sabuk pengaman yang panjang itu ke pergelangan tangan Leana dan mengikatnya kuat-kuat hingga Leana terkunci dalam posisi duduk di pangkuan Jimmy.
"Jimmy! Apa-apaan ini?! Lepaskan!" teriak Leana panik. Ikatan menekan kulitnya, membuatnya terperangkap tepat di atas ke-jantanan Jimmy yang mulai mengeras.
"Kau bilang ingin aku berhenti jadi penjagamu, kan? Ini caraku, Leana. Jika kau ingin berada di pangkuanku, maka kau harus mengikuti caraku. Tetaplah di sana dan jangan berani bergerak jika kau tidak ingin aku melakukan hal yang lebih kasar di dalam mobil!" bisik Jimmy di telinga Leana.
"Ini sakit, Jim!" Leana menjerit marah. Ia tidak menyangka Jimmy akan bertindak sejauh ini.
Jimmy tidak peduli. Ia mengabaikan teriakan dan makian Leana. Ia kembali memegang kemudi dengan satu tangan yang bebas, sementara tangan lainnya mencengkeram pinggang Leana agar gadis itu tetap stabil di pangkuannya.
"Dasar pak tua menyebalkan!" maki Leana dalam hati.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁