cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 5 - DI BAWAH LANGIT WILWATIKTA
Wilwatikta tidaklah akan terbangun oleh teriakan. Kota raja seolah terjaga dalam diam.
Asap tipis masih menggantung di udara pagi, menyusup ke sela-sela atap genteng dan dinding bata merah. Bau kayu terbakar bercampur dengan wangi bunga pasar yang dipaksakan tetap segar. Dari kejauhan, istana tampak utuh, megah seperti biasa—hanya orang-orang yang hidup di dalam temboknya tahu bahwa sebagian malam tadi telah dilahap api dan darah.
Raka berdiri di balik bangunan kosong dekat tembok luar kraton. Bajunya kusut, kakinya kotor, dan dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tak punya nama. Ia memandangi kota yang dulu dikenalnya dari balik tandu dan pengawalan prajurit.
Kini Wilwatikta terasa asing.
Pasar mulai bergerak pelan. Pedagang membuka lapak tanpa banyak suara. Tangan-tangan sibuk menata barang, tapi mata mereka tidak pernah benar-benar diam. Setiap orang melirik sekeliling terlalu sering, seolah takut tatapan mereka tertangkap oleh mata yang salah.
Tak ada pengumuman. Tak ada titah yang dibacakan lantang.
Justru itulah yang membuat Raka merinding.
Ia melangkah perlahan, menyatu dengan arus kecil orang-orang pagi. Tubuhnya kecil, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berharap tetap begitu—cukup kecil untuk luput dari perhatian.
Di sudut pasar, dua lelaki duduk berhadap-hadapan. Tak ada barang di depan mereka. Mereka tidak bertransaksi, tidak berbincang. Hanya sesekali satu di antara mereka mengangguk pelan kepada orang yang lewat.
Raka mempercepat langkah.
Ia tidak tahu apa yang membuatnya takut pada lelaki-lelaki itu. Nalurinya saja yang berteriak agar menjauh.
Perutnya berkerut.
Rasa lapar datang seperti gelombang panas yang menusuk dari dalam. Bukan sekadar ingin makan—ini rasa perih yang membuat kepalanya ringan. Hidungnya menangkap aroma nasi hangat, ikan asin, kuah panas.
Dulu, jika lapar, ia tinggal menunggu.
Sekarang, ia berdiri mematung di depan warung kecil, menelan ludah berkali-kali. Pedagang perempuan itu menatapnya sebentar—tatapan cepat, menilai—lalu memalingkan wajah.
“ Pergilah” katanya singkat, tanpa nada marah.
Raka mundur.
Ia tidak tahu cara meminta.
Di istana, permintaan adalah perintah yang dibungkus sopan. Di sini, kata-kata itu tidak ada artinya. Ia mengendus sisa nasi yang jatuh di tanah, ragu sejenak, lalu memungutnya dengan tangan gemetar. Debu menempel, tapi ia tetap memasukkannya ke mulut.
Rasanya pahit.
Namun perutnya sedikit tenang.
Di seberang jalan, seorang prajurit berjalan santai, dia mengenakan pakaian rakyat jelata. Tidak membawa tombak, tidak berseragam. Namun cara ia menatap orang-orang—tajam, menembus—membuat Raka spontan menunduk. Menyamar.
Ia belajar satu hal pagi itu:
Tatapan bisa lebih berbahaya daripada senjata.
Raka bergerak tanpa tujuan. Ia mengikuti bayangan bangunan, menghindari tempat terbuka. Ia melihat seorang lelaki berbicara terlalu lama dengan penjaja air. Tak lama kemudian, lelaki itu menghilang di balik gang sempit.
Tak ada teriakan. Tak ada keributan.
Namun penjaja air itu tidak terlihat lagi keesokan harinya.
Anak-anak jalanan berkeliaran, sebagian lebih besar darinya. Mata mereka waspada, tubuh mereka siap lari kapan saja. Seorang bocah kurus menatap Raka terlalu lama, lalu mendekat.
“Kau anak baru, dari mana?” bisiknya.
Raka tidak menjawab.
Bocah itu mengamati pakaiannya, caranya berdiri, caranya menahan lapar. Ia tersenyum kecil—senyum yang lebih mirip peringatan.
“Jangan berdiri di situ lama-lama,” katanya pelan. “Nanti orang-orang suka bertanya karena curiga”
Raka mundur.
Ia tidak tahu bocah itu menolong atau menilai.
Menjelang siang, panas mulai menekan. Kota tampak normal bagi mata yang tidak ingin tahu. Namun bagi Raka, setiap sudut terasa mengintai. Setiap orang dewasa bisa menjadi telik sandi. Setiap sapaan terasa seperti jerat.
Ia mendengar bisik-bisik:
“Kemarin malam… di istana…" "Katanya ada pembersihan…" "Api cuma alasan…"
Kalimat-kalimat itu terdengar samar dan selalu berhenti di tengah.
Tak ada yang berani menyebut nama.
Raka duduk di balik tumpukan karung, menahan gemetar. Ia teringat ibunya, cara sang ibu merapikan rambutnya setiap pagi. Cara ayahnya menegur prajurit dengan suara tenang.
Ingatan itu terasa seperti dunia lain.
Sore hari, ia hampir tertangkap.
Ia terlalu lama berdiri di dekat warung. Seorang lelaki tua mendekat, menawarinya roti kering. Terlalu baik. Terlalu tepat.
“Nak namamu siapa, darimana?” tanya lelaki itu ramah.
Raka mundur selangkah.
Di belakang lelaki itu, dua orang lain berdiri tanpa menatap langsung. Menunggu.
Raka berlari.
Ia menyelip di antara kerumunan, ia lari terburu-buru, tak sengaja menabrak orang, menjatuhkan keranjang. Tak ada yang mengejar dengan teriakan. Justru itulah yang menakutkan.
Ia bersembunyi di kolong bangunan tua hingga malam mulai turun.
Malam di Wilwatikta bukanlah gelap.
Dia penuh dengan bayangan-bayangan.
Pintu-pintu tertutup tanpa suara. Obor jarang dinyalakan. Langkah-langkah bergerak pelan, teratur, seperti denyut nadi kota itu sendiri.
Raka menggigil, dia memeluk lututnya. Ia sadar, selama dia berada di sini dengan posisi yang mudah terlihat, dia tidak bisa dikatakan bersembunyi .
Ia sedang diburu.
Dan Wilwatikta tidak suka buruannya kabur.
Malam itu, Raka memutuskan sesuatu—tanpa sumpah, tanpa air mata.
Ia harus keluar dari kota raja.
Meski dia tak tahu harus kemana, dia sudah berfikir tidak bisa lagi hidup di kotaraja. Rasa ketakutan dengan bayangan kematian orang tuanya dan dia harus hidup menjadikan Raka menetapkan tujuan selanjutnya, meski jalan didepan masih gelap.
Malam semakin larut, bunyi nyamuk di dekat kuping, gigitan gatal, membut Raka sering terbangun, kenyamanan, harga sebuah kenyamanan.
Diujung gang yang gelap sepasang mata dengan lekat mengawasi Raka, dia tidak bergerak, nafas teratur yang mebuat seoalah-oalah dia tidak ada..
Beberapa orang menyiapkan tangan disenjata, setaip waktu siap untuk bertarung.