NovelToon NovelToon
Benih Titipan Sang Milyarder

Benih Titipan Sang Milyarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Slice of Life / Single Mom / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Komedi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?

Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.

Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.

Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selamat Datang di Dunia, Nak!

“Aku di sini,” kata Kael. “Kamu bakal baik-baik aja.”

Maggie mengangguk.

Jennie terlihat kelelahan, dengan lingkar hitam di bawah mata dan noda keringat di kausnya.

“Duduklah,” kata Kael padanya. “Biar aku yang di sini.”

“Geser dia sedikit. Biar lebih nyaman,” kata perawat itu.

Maggie mencoba mundur, tapi tubuhnya sudah terlalu lelah. Kael mengangkatnya dan memposisikan ulang sampai ia duduk dengan lutut terangkat.

Wajah perawat itu kini juga tidak semerah sebelumnya. “Tarik napas, Maggie. Kita lihat, apakah kita bisa bikin kepala bayi ini mulai ngintip.”

Maggie menarik napas dalam, lalu mengeluarkan erangan panjang dengan mata terpejam rapat.

Perawat itu benar-benar tersenyum. “Bagus, bagus. Papa, mau pegang kepala bayinya?”

“Enggak!” kata Maggie cepat sambil mencengkeram tangan Kael lebih erat. Ia tidak perlu mengulanginya dua kali.

“Nah, itu baru bicara,” kata si perawat. Ia mengambil HP dan mengetik cepat. “Saya panggilin dokternya.”

“Kayaknya aku datang pas banget,” bisik Kael di telinga Maggie.

Maggie terkekeh. “Kita sebut ini kencan kedua?”

“Hey-hey ... kepalanya udah kelihatan,” kata perawat itu. “Pelan-pelan. Slow. Jangan mengejan dulu!”

Maggie menatap Kael. Kael menjulurkan lidah dan terengah seperti anjing kecil.

Maggie tertawa lagi, lalu menirunya. Mereka terengah bersama. Ini jelas momen paling liar yang pernah dialami Kael bersama seorang perempuan.

Seorang pria tinggi berambut pirang dengan seragam biru masuk ke ruangan sambil mengenakan sarung tangan. Begitu melihatnya, Maggie langsung rileks. “Dr. Boike.”

“Kabarnya kita akan menyambut bayi ini,” kata Dr. Boike. “Terima kasih sudah menunggu sampai saya tiba.”

Kelegaan jelas terlihat di wajah Maggie.

Dokter itu melirik Kael dengan alis terangkat. Kael sempat berpikir kalau dokter itu pasti juga mengira dirinya adalah ayah dari anak ini. Tapi pria itu tidak berkomentar. Ia menarik bangku kecil dan duduk di kaki ranjang Maggie. “Saya yakin kamu siap. Siap mengejan?”

“Aku capek sekali,” kata Maggie. “Gimana orang-orang bisa melakukan ini?”

“Supaya penderitaannya berakhir,” jawabnya sambil tersenyum. “Mari kita fokus untuk tahap akhir ini.”

Kael memeluk lengan Maggie ke dadanya. Mereka tidak punya banyak cerita bersama, tapi ia akan memanfaatkan apa yang ada.

“Bayangin ada semangka di bawah sana,” kata Kael. “Bayangin kamu mengeluarkannya dan menghantam perawat galak itu.”

Maggie tertawa.

“Dia bakal jatuh kayak pin bowling,” lanjut Kael.

Perawat itu mengangkat alis, tapi kemungkinan ia sudah mendengar yang lebih parah. Cengkeraman Maggie di tangan Kael menguat. Wajahnya kembali memerah.

“Awasi tekanan darahnya,” kata perawat itu. “Sepuluh menit lalu hampir masuk zona bahaya.”

“Saya lihat,” kata dokter. “Maggie, kita keluarkan bayi ini sekarang. Hitung bersama saya sampai sepuluh. Satu ... dua ... tiga ... empat .…”

Kael memusatkan perhatian pada wajah Maggie saat Maggie memusatkan seluruh tenaganya untuk mengejan.

“Saya pegang kepalanya,” kata dokter. “Sekarang bahunya.”

Mereka mengulang proses mengejan. Maggie tampak terlalu lelah untuk berteriak. Atau mungkin ia lebih tenang karena dokter ada itu. Iya hanya mengeluarkan desisan rendah dan serak.

“Sembilan ... sepuluh,” kata dokter menutup hitungan.

Sejenak, ruangan itu hening total.

Lalu terdengar tangisan.

OOOWWWWWEEEEEEEE

“Saya dapat,” kata Dr. Boike. “Anak laki-laki yang sempurna.”

Dokter menyedot hidung bayi itu, dan seluruh tubuh Kael merinding. Ia tidak melakukan apa pun dalam proses ini, selain muncul di detik-detik akhir.

Tapi melihat bayi itu, merah, menangis, masih terhubung ke Maggie oleh tali pusar, rasanya luar biasa.

Dr. Boike meletakkannya di dada Maggie. Maggie melepaskan tangan Kael dan memeluk bayi itu sampai ke leher.

“Dia sudah di sini,” bisiknya. “Mama? Kalian boleh masuk.”

Feronica langsung bergerak dari sudut ruangan. Ia mencium kening putrinya. “Kamu berhasil.”

Dr. Boike membungkuk. “Biar saya cek sebentar.” Ia menempelkan stetoskop ke bayi itu, lalu mengangguk. “Semuanya baik.”

Perawat itu memasangkan topi rajut kecil di kepala bayi dan menyelimuti mereka berdua. “Jaga agar dia tetap hangat. Kami akan melakukan pemeriksaan sebentar lagi.”

Jennie melangkah ke pintu. “Aku panggil Papa. Dia udah enggak dilarang masuk, kan?”

Maggie mengangguk. “Enggak apa-apa. Kalian berdua aja.”

Feronica menatap Kael, lalu Maggie. “Syukurlah.”

Dokter masih mengerjakan sesuatu di sekitar lutut Maggie. Mata Maggie hanya tertuju pada wajah bayinya.

“Lihat dia,” kata Maggie ke Kael yang mencoba melirik kegiatan si Dokter. “Lihat aja bayinya.”

Kael menyentuh kepala kecil itu. Mereka berdiam diri cukup lama.

“Enggak perlu jahitan,” kata dokter sambil berdiri. “Kami akan kembali sebentar lagi untuk memeriksa dan membersihkan bayi. Kalian nikmati momen ini dulu.”

Perawat itu mengikutinya keluar.

Tinggal mereka berdua.

“Apa aku seharusnya ada di sini?” tanya Kael.

Maggie menatapnya. “Aku enggak tahu.”

“Apa aku harus meninggalkan kalian berdua?”

Maggie menggeleng. “Aku tahu kita cuma pernah satu kali kencan. Dan mungkin kita enggak akan ketemu lagi. Tapi aku suka kamu ada di sini.” Ia tertawa kecil, gemetar. “Lagipula, aku menyuruh yang lain keluar dan sekarang aku takut sendirian di sini.”

Lengannya mulai bergetar, jadi Kael memindahkan bayi itu ke tengah dadanya agar bebannya berkurang. “Kamu mau foto?”

Maggie mengangguk.

Kael mengambil HPnya.

“Nanti aku kirim. HPmu ada di tas. Aku bawa. Sepatumu juga.”

Maggie melirik tumpukan di dekat dinding. “Makasih buat hadiahnya.” Ia melambaikan tangan ke arah ruangan. “Dasi kamu … entah di mana.”

“Aku enggak butuh itu.”

Kael menyibakkan rambut Maggie ke belakang lalu mundur selangkah untuk memotret. Maggie tampak lembut dan cantik, cahaya jendela menerpa rambut pirangnya, pipinya memerah karena lelah.

Wajah bayi itu tepat di bawah lehernya. Kael mengambil beberapa foto lagi dan mengirimkannya ke HP Maggie. “Udah kukirim.”

“Makasih.”

Kael menyimpan HPnya. “Aku sama sekali enggak menyangka pagi ini bakal jadi seperti ini.”

“Pasti,” kata Maggie. “Kupikir kamu udah di London siang ini.”

Kael memasukkan tangan ke saku. “Rapatku sejam yang lalu.”

“Omagaaaaad!”

“Enggak apa-apa. Semuanya udah di reschedule. Tapi aku harus pergi malam ini. Aku enggak bisa meninggalkan Jakarta tanpa tahu kamu baik-baik aja.”

Tatapan Maggie tertuju pada wajah Kael. “Makasih. Aku enggak tahu kapan bisa ketemu lagi.”

Pandangannya turun ke bayinya. Mata kecil itu berkedip-kedip, seakan belum paham apa yang baru saja terjadi.

“Kirim pesan. Kita bisa FaceTime. Kamu bisa nunjukkin si kecil ini saat dia sudah agak terbiasa dengan dunia luar.”

Maggie mengangguk. “Oke. Kita lakukan itu.”

Pintu terbuka dan tiba-tiba ruangan penuh dengan orang. Jennie. Feronica. Darwin Prakasa. Bahkan neneknya juga ikut datang.

Ini saatnya Kael pergi.

Ia membungkuk, mengecup kepala Maggie, lalu menyentuh pipi bayi itu. “Semoga beruntung.”

Kehadiran dan kepergiannya nyaris tak disadari, ketika keluarga mengerumuni ranjang untuk menyambut anggota baru mereka.

Kael keluar ke koridor. Rasa euforia karena ikut menyaksikan kelahiran bayi itu, perlahan berubah menjadi kehampaan.

Dalam beberapa jam lagi, ia akan kembali ke rutinitasnya.

Perjalanan.

Rapat.

Urusan bisnis.

Dunia di mana hanya ada angka dan wajah-wajah di sekitar meja rapat. Tapi untuk sementara waktu, ia telah melihat kehidupan yang benar-benar berbeda.

...𓂃✍︎...

...Nyatanya, apa yang sudah dipisahkan oleh Tuhannya, tidak akan bisa disatukan oleh umatnya....

...────୨ৎ────...

1
Cindy
lanjut
Nar Sih
asyikk ahir nya recana kael berhasil meggie ikut 👍
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Rainn Ziella
😭🤣
Karunia Disha
ehh,, aq ikut ngos"an🤣
Karunia Disha
maggie yg mau melahirkan tp aq yg deg"an😆
DityaR 🌾: 🤭🤭🤭🤭 wkwkwk
total 1 replies
Rainn Ziella
Cieeee
Rainn Ziella
Wkwkwk totalitas bngt 😭
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Rainn Ziella
Bahlil aja 😭🗿
Rainn Ziella
Langka ni orang
Rainn Ziella
Dikata bom apa 🗿
Rainn Ziella
Banyak nanya ihh kesel ya meg 😭🤣
Adellia❤
om ganteng udah nandain seseorang🥰🥰
Afrilho
Mampir👍
Rainn Ziella
Ga expect bgt meg 😭🤣
Azarah Jaimani Azarah
untung gk lahiran di mobil kayak aku .
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .
Rainn Ziella: Serius kak? Terus lahirannya sama siapa kak pas di mobil itu
total 1 replies
Adellia❤
untung enggak pake boxer rainbow🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!