“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
"Kau tidak perlu melihatnya terus seperti itu, matamu bisa lepas," sindir Cahaya saat menyadari Jeremy masih menatap tajam ke arah gerbang kampus melalui spion.
"Keluar. Kau sudah sampai," balas Jeremy dengan suara sedingin es di puncak Alpen.
Begitu kaki Cahaya menginjak aspal, seorang pria jangkung langsung berlari menghampirinya. Tanpa aba-aba, pria itu merengkuh Cahaya dan memeluknya erat.
Jeremy, yang masih berada di dalam mobil, mencengkeram setir begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol keluar.
"Berani-beraninya dia menyentuh pengasuh anakku di depan umum," desis Jeremy.
Matanya berkedut saat melihat pria yang ia yakini bernama Alvino mengeluarkan sebatang cokelat dari sakunya dan memberikannya pada Cahaya.
Cahaya tertawa riang, matanya berbinar menerima cokelat itu. Reaksi yang jauh lebih manis daripada saat Jeremy memberinya sarapan mewah tadi pagi.
"Cih! Hanya sebatang cokelat? Aku pun bisa membeli pabriknya kalau aku mau! Apa dia pikir Cahaya itu anak kecil yang bisa disuap dengan makanan seperti itu? Dasar pria miskin tak bermodal," umpat Jeremy pedas.
Jeremy langsung menginjak pedal gas, membuat mesin mobilnya meraung keras dan meninggalkan kepulan asap tipis di depan gerbang kampus.
Jeremy melaju menuju kantor dengan perasaan yang ia definisikan sebagai marah karena disiplin kerja. Padahal di dalam hatinya, ada rasa panas yang bernama cemburu sedang membakar logikanya.
Hanya saja, Jeremy belum mau mengakuinya. Mungkin untuk saat ini.
*
*
Alvino merangkul bahu Cahaya sambil berjalan. Mereka adalah pasangan yang sudah bersama sejak SMA di Indonesia hingga akhirnya sama-sama berjuang mengejar gelar di Milan.
"Kamu kenapa sih, Vin? Tiba-tiba peluk kencang banget, malu dilihat orang," protes Cahaya sambil mulai membuka bungkus cokelatnya.
"Aku kangen, Ay. Seharian kemarin kamu susah dihubungi. Katanya lagi sibuk banget," sahut Alvino sambil menatap kekasihnya dengan tatapan khawatir. "Terus tadi itu mobil siapa? Mewah banget. Kamu diantar siapa?"
Cahaya menghela napas, ia menggigit cokelatnya sebelum menjawab. "Itu mobil majikanku, Vin. Aku sekarang kerja jadi pengasuh anak di sebuah mansion. Namanya Elio, anaknya manis sekali. Aku butuh uang tambahan, kamu tahu kan tabunganku mulai tipis?"
Langkah Alvino terhenti. Wajahnya berubah serius.
"Kerja? Ay, kamu gila? Kita ke sini buat kuliah, bukan jadi pembantu orang. Kalau kamu butuh uang, bilang sama aku. Aku bisa kasih berapa pun yang kamu mau. Kamu tahu kan papa bisa kirim tambahan kalau aku minta?"
"Vin, aku tidak mau terus-menerus bergantung sama kamu," sahut Cahaya dengan tenang. "Aku mau mandiri. Lagipula, mengasuh Elio itu menyenangkan. Dia penurut, tidak nakal sama sekali. Malah aku merasa dia sudah seperti adikku sendiri."
Mendengar itu, ada rasa sesak yang merayap di dada Alvino. Sebagai putra dari keluarga ningrat yang terbiasa hidup berkecukupan, ia merasa harga dirinya sedikit terusik saat kekasihnya lebih memilih bekerja pada orang asing daripada menerima bantuannya.
"Tapi tetap saja, Ay. Aku tidak suka kamu melayani orang lain," gumam Alvino kesal. Ia terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada penuh selidik, "Ngomong-ngomong, apa dia duda?"
Cahaya mengernyitkan dahi, bingung dengan arah pembicaraan kekasihnya. "Dia siapa maksud kamu, Vin?"
"Ya siapa lagi? Ayahnya bocah yang kamu asuh itu! Pria yang tadi mengantarmu dengan mobil Lamborghini itu!" sahut Alvino dengan nada yang mulai panik. "Dia duda, kan? Aku lihat caranya menatapmu dari dalam mobil tadi. Itu bukan tatapan seorang majikan kepada bawahannya."
Cahaya tertawa renyah, meski ada sedikit rasa gugup yang ia sembunyikan.
"Jangan konyol, Vin! Jeremy, em maksudku tuan sebastian, orangnya dingin sekali. Dia itu monster es, kanebo kering! Jangankan melirikku, bicara saja isinya cuma makian dan perintah. Dia masih sangat mencintai mendiang istrinya. Mana mungkin dia tertarik pada mahasiswi sepertiku?"
"Tapi dia muda dan kaya, Ay. Pria seperti itu berbahaya." Alvino menarik tangan Cahaya, memaksa gadis itu menatapnya. "Berjanjilah padaku, kalau dia mulai macam-macam, kamu langsung keluar dari sana. Aku tidak mau kamu terjebak dengan pria seperti dia."
Cahaya mengangguk pelan, mencoba menenangkan Alvino. "Iya, Vin. Janji. Lagipula, tipeku itu kamu, yang sabar dan baik. Bukan pria sombong yang hobi mukul samsak tinju setiap malam."
Meskipun Cahaya berkata demikian, bayangan Jeremy yang tadi malam mengoleskan balsem di pinggangnya mendadak terlintas di benaknya.
Sentuhan tangan Jeremy yang besar namun lembut itu terasa berbanding terbalik dengan semua kata-kata pedas yang pernah pria itu ucapkan.
Cahaya buru-buru menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan itu jauh-jauh.
"Ayo masuk kelas, sebentar lagi dosen datang," ajak Cahaya, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Ay, iya. Tunggu dong!" teriak Alvino sembari mengejar Cahaya.
*
*
Sementara itu, di kantornya, Jeremy sama sekali tidak menyentuh tumpukan berkas di mejanya. Ia terus-menerus teringat adegan pelukan di depan gerbang kampus tadi.
"Alvino, berani sekali dia," gumam Jeremy sambil melempar pena nya ke atas meja. "Kita lihat saja, berapa lama cokelat murahanmu itu bisa membuat Cahaya bertahan, sementara aku bisa memberinya dunia."
Jeremy tertegun dengan ucapannya sendiri.
"Memberinya dunia? Apa aku sudah gila? Untuk apa aku berpikir sampai sana. Jangankan dunia, hatiku juga tidak akan pernah aku berikan padanya." Jeremy memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri.
Jeremy menghela napas berat sambil mengusap bingkai foto Stella di tangannya. Ia bersandar di kursi kebesarannya, menatap wajah mendiang istrinya seolah sedang mengadu.
"Stella, lihatlah. Gadis itu benar-benar tidak punya selera, kan? Dia lebih memilih pria kerempeng yang memberinya cokelat batangan daripada aku yang punya semuanya! Kau lihat tadi? Dia dipeluk di depan umum seperti tidak punya harga diri saja. Haruskah aku pecat dia?Tapi kalau dia dipecat, siapa yang mau mengurus Elio?"
Jeremy mendengus, lalu meletakkan foto itu kembali ke laci seolah takut fotonya akan membalas ucapannya.
"Lagipula, kenapa aku harus peduli? Dia cuma pengasuh! Mau dia pacaran dengan tukang kebun atau penjual es krim pun, itu bukan urusanku!" Jeremy bicara sendiri sambil menunjuk-nunjuk udara kosong dengan pulpennya.
"Tapi, sebutan sayang itu benar-benar menggelikan dan merusak pendengaranku. Stella, kau tahu sendiri kan aku paling benci orang yang tidak profesional di jam kerja?"
Jeremy mengangguk-angguk, mencoba meyakinkan logikanya yang mulai miring.
"Ya, ini murni masalah kedisiplinan. Bukan cemburu. Sama sekali bukan!"
Namun, sedetik kemudian, ia kembali membuka laci dan mengintip foto Stella lagi.
"Dia memang mirip denganmu kalau sedang marah dan mengoceh," gumam Jeremy. "Argh, sial! Sepertinya aku benar-benar butuh dokter saraf."
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭