NovelToon NovelToon
Mencintaimu Jalur Langit

Mencintaimu Jalur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:36
Nilai: 5
Nama Author: Moch Sufyandi

Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
​Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
​Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
​Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
​Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​BAB 15: Aliansi Tak Terduga

​Hari ke-1 Pembekuan Izin.

​Hujan deras mengguyur Bandung sejak subuh, seolah langit ikut menangis melihat ketidakadilan yang sedang terjadi. Di dalam rumah kontrakan petak yang lembap, Fatih duduk bersila di depan laptopnya. Layar menampilkan surat digital dari Dinas Tata Kota: PENANGGUHAN IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN (IMB) - CLUSTER GRIYA HARAPAN.

​Alasannya tertulis formal: "Ditemukan ketidaksesuaian analisis dampak lingkungan (AMDAL) terkait resapan air."

​Tapi Fatih tahu itu bohong. Desainnya sudah menggunakan rasio lahan hijau 40%, jauh di atas standar minimal 30%. Ini bukan soal teknis. Ini soal politis.

​Ponsel Fatih bergetar. Telepon dari Gunawan (Grand Horizon).

​"Fatih," suara Gunawan terdengar lelah dan dingin. "Saya baru rapat dengan investor. Mereka panik. Kalau izin nggak keluar dalam 3 x 24 jam, mereka mau tarik dana. Mereka nggak mau berurusan sama sengketa politik lokal."

​"Pak, beri saya waktu," Fatih memohon, mencengkeram ponselnya erat. "Desain saya benar. AMDAL itu cuma akal-akalan Dinas karena tekanan Handoko. Kita bisa ajukan banding."

​"Banding makan waktu berbulan-bulan, Fatih! Duit operasional jalan terus!" sentak Gunawan. "Saya kasih kamu waktu 3 hari. Kalau sampai Jumat izin belum cair, proyek batal. Kontrak kamu hangus. Dan kamu harus balikin uang muka yang sudah cair."

​Klik. Sambungan terputus.

​Fatih lemas. Mengembalikan uang muka? Uang itu sebagian sudah dipakai untuk membeli laptop kerja, sewa peralatan, dan membayar gaji awal Bang Baron. Jika harus dikembalikan sekarang, Fatih harus menjual ginjalnya.

​"Mas..." Zalina datang membawakan teh hangat. Wajahnya cemas melihat suaminya pucat pasi. "Pak Gunawan bilang apa?"

​"Tiga hari, Zal. Kita punya tiga hari buat ngelawan Handoko dan birokrasi korup ini."

​Fatih mengusap wajahnya kasar. "Aku nggak punya kenalan di Pemda. Aku nggak punya duit buat nyogok pejabat dinas."

​Zalina duduk di samping Fatih, meletakkan tehnya. Ia mengambil tangan Fatih, menggenggamnya erat.

​"Kita nggak butuh duit sogokan, Mas. Kita butuh orang gila."

​Fatih menoleh, bingung. "Orang gila?"

​"Iya. Orang yang cukup gila buat ngelawan sistem. Mas inget Kak Satria? Senior Mas di Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) dulu? Yang pernah Mas ceritain waktu dia demo sendirian di depan rektorat?"

​Mata Fatih membelalak. Satria!

​Bimasatria Perkasa. Mantan Ketua BEM Fakultas Hukum yang legendaris. Senior Fatih yang paling idealis, yang dulu sering mengajak Fatih diskusi soal keadilan sosial di kantin kejujuran. Terakhir Fatih dengar, Satria bekerja di LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Bandung, sering menangani kasus penggusuran lahan rakyat.

​"Satria..." gumam Fatih. "Dia benci banget sama pengembang properti. Apa dia mau bantuin kita yang notabene 'arsitek pengembang'?"

​"Kita coba dulu, Mas. Kasus kita kan pro-rakyat. Kita mau bangun rumah subsidi, tapi dijegal mafia tanah. Satria pasti tertarik."

​Fatih langsung menyambar jaketnya. "Kamu bener. Ayo kita cari dia."

​Kantor LBH Bandung, Jalan Dago Bawah.

​Kantor itu menempati sebuah rumah tua peninggalan Belanda yang catnya sudah mengelupas. Di halaman depan, terparkir motor-motor butut dan spanduk-spanduk protes yang sedang dijemur.

​Di dalam ruangan yang penuh tumpukan berkas setinggi gunung, seorang pria berambut gondrong yang diikat asal-asalan sedang mengetik dengan mesin tik tua (ya, mesin tik, karena dia bilang suaranya menenangkan).

​Dia mengenakan kaos hitam bertuliskan: "Hukum Tumpul ke Atas, Kita Asah Bareng-Bareng".

​"Assalamualaikum, Bang Satria," sapa Fatih dari ambang pintu.

​Pria itu berhenti mengetik. Ia membetulkan letak kacamata minusnya yang retak, lalu menyipitkan mata.

​"Walaikumussalam... Eh? Fatih?" Satria berdiri, wajah garangnya berubah sumringah. Ia melompati tumpukan berkas untuk memeluk juniornya itu. "Si 'Arsitek Langit'! Gila, lama banget nggak ketemu! Udah sukses lu sekarang? Baju lu rapi bener."

​"Belum sukses, Bang. Masih berjuang," Fatih tersenyum kecut. "Ini istri saya, Zalina."

​Satria mengangguk sopan pada Zalina. "Wah, dapet bidadari dari mana lu? Silakan duduk. Sori berantakan, ini lagi ngurus kasus buruh pabrik yang di-PHK sepihak."

​Fatih dan Zalina duduk di kursi plastik. Tanpa basa-basi, Fatih menceritakan semuanya. Mulai dari proyek rumah subsidi, ancaman Handoko, tawaran suap 1 Milyar, hingga pembekuan IMB yang janggal.

​Satria mendengarkan sambil merokok kretek (ia membuka jendela agar asapnya keluar). Awalnya dia santai, tapi begitu mendengar nama "Handoko" dan "PT. Bumi Sentosa", ekspresinya berubah serius. Rokoknya dimatikan.

​"Handoko lagi..." desis Satria, matanya berkilat marah. "Gue udah lama ngincer tuh orang. Dia itu licin kayak belut oli. Banyak kasus sengketa tanah warga yang ujung-ujungnya lari ke perusahaan dia, tapi gue belum pernah dapet bukti kuat buat nyeret dia."

​"Bang, kami butuh bantuan," kata Fatih. "Dinas Tata Kota nahan izin kami. Kalau dalam 3 hari nggak keluar, proyek batal, lahan itu bakal jatuh ke tangan Handoko, dan ratusan warga gagal dapet rumah murah."

​Satria menyisir rambut gondrongnya ke belakang, berpikir keras.

​"Masalahnya, Tih... kalau kita lawan lewat jalur hukum biasa (PTUN), bakal makan waktu tahunan. Proyek lu keburu mati. Kita harus pake cara out of the box."

​"Gimana caranya, Bang?"

​Satria menatap Fatih dan Zalina bergantian.

​"Kalian punya bukti nggak? Bukti kalau Handoko itu main kotor? Kalau cuma omongan 'katanya-katanya', kita bakal dituntut balik pencemaran nama baik. Handoko punya tim pengacara elit."

​Fatih dan Zalina saling pandang. Zalina tersenyum misterius. Ia membuka tasnya, mengeluarkan ponselnya.

​"Bang Satria," kata Zalina tenang. "Waktu kami makan malam sama Handoko di The Peak... saya merekam semuanya."

​Mata Satria membelalak lebar. "Serius lu?"

​Zalina memutar rekaman itu.

​Suara Handoko terdengar jernih di ruangan LBH yang sunyi:

"...Satu Milyar Rupiah. Tunai. Kamu serahkan blue print... pastikan ada sedikit kesalahan hitung di desain drainase..."

"...Jangan harap proyekmu lancar. Saya akan pastikan kamu hancur..."

​Satria mendengarkan rekaman itu dengan mulut terbuka. Ia menepuk meja keras sekali. BRAK!

​"GOKIL!" teriak Satria girang. "Ini dia! Ini smoking gun (bukti tak terbantahkan)! Lu berdua gila, berani banget ngerekam mafia di kandangnya!"

​"Jadi ini bisa dipake buat lapor polisi, Bang?" tanya Fatih penuh harap.

​"Polisi? Jangan dulu," Satria menyeringai licik. "Kalau lapor polisi, bukti ini bisa 'hilang' atau kasusnya dipetieskan kalau ada amplop di bawah meja. Kita harus mainkan Pengadilan Publik dulu."

​Satria mengambil ponselnya, menelepon seseorang.

​"Halo, Raka? Siap-siap. Gue punya bahan berita headline buat koran lu besok. Judulnya: 'Anggota DPRD Terekam Mencoba Menyuap Arsitek Muda untuk Sabotase Proyek Rumah Rakyat'. Iya, eksklusif. Bawa tim lu ke sini sekarang."

​Satria menutup telepon, menatap Fatih dan Zalina dengan mata berapi-api.

​"Kalian siap perang terbuka? Begitu berita ini naik, hidup kalian nggak akan tenang. Handoko bakal ngamuk."

​Fatih menggenggam tangan Zalina. Zalina mengangguk mantap.

​"Kami sudah nggak tenang sejak kemarin, Bang. Sekalian aja basah kuyup," jawab Fatih.

​Hari ke-2. Pagi Hari.

​Bandung gempar.

​Koran lokal terbesar memuat headline bombastis di halaman depan. Tidak menyebut nama terang Handoko (inisial H), tapi deskripsinya sangat jelas mengarah padanya. Link rekaman suara (yang disamarkan sedikit) diunggah di situs berita online dan langsung viral di media sosial.

​NETIZEN BANDUNG NGAMUK: PEJABAT MAU ROBOHKAN RUMAH SUBSIDI DEMI APARTEMEN MEWAH?

​Tagar #SaveRumahRakyat dan #TangkapMafiaTanah menjadi trending topic lokal.

​Di kantor Grand Horizon, Gunawan membaca berita itu sambil memijat pelipisnya. Ia kaget, tapi juga takjub. Fatih benar-benar melakukannya. Dia tidak menunggu birokrasi, dia membakar lumbungnya.

​Telepon di meja Gunawan berbunyi. Dari Walikota.

​"Halo, Pak Wali... Iya, Pak. Betul, itu proyek kami... Kami sudah sesuai prosedur, tapi dipersulit oknum... Oh, Bapak mau turun tangan langsung? Baik, Pak. Kami tunggu inspeksi mendadaknya."

​Gunawan menutup telepon dengan senyum lebar. Fatih, you crazy bastard. You did it.

​Sementara itu, di Kantor Dinas Tata Kota.

​Kepala Dinas sedang berkeringat dingin. Teleponnya berdering terus-menerus. Dari wartawan, dari ajudan Walikota, dari LSM.

​Massa mulai berkumpul di depan kantor dinas. Bukan massa bayaran, tapi massa gabungan: Mahasiswa (digerakkan oleh jaringan Satria), Preman Bang Baron (yang sudah pakai seragam satpam), dan warga calon pembeli rumah subsidi.

​Mereka membawa spanduk: "KELUARKAN IZIN KAMI ATAU KAMI BONGKAR KORUPSI KALIAN!"

​Di tengah kerumunan itu, Fatih berdiri memegang megaphone. Di sebelahnya, Zalina membagikan air mineral kepada para pendemo.

​"Bapak Kepala Dinas!" teriak Fatih lantang. "Kami tahu Bapak ditekan! Tapi Bapak disumpah untuk melayani rakyat, bukan melayani mafia! Tanda tangani IMB kami hari ini, dan bersihkan nama Bapak! Atau Bapak mau kami putar rekaman lanjutannya di sini?" (Bluffing/Gertakan sedikit, padahal rekamannya cuma satu, tapi efektif).

​Pintu gerbang kantor dinas terbuka. Kepala Dinas keluar dengan wajah pucat, didampingi stafnya.

​"Saudara-saudara... harap tenang," suaranya gemetar. "Kami... kami sudah meninjau ulang berkas Grand Horizon. Ternyata... ada kesalahpahaman administrasi. AMDAL-nya sudah sesuai."

​"Jadi izinnya mana?!" teriak Bang Baron dengan suara menggelegar.

​"S-sudah kami tanda tangani barusan. Silakan diambil."

​Sorak-sorai meledak. Fatih sujud syukur di aspal jalanan. Zalina memeluk Nisa yang ikut demo. Bang Baron dan Satria ber-tos ria.

​Kemenangan rakyat. Kemenangan Jalur Langit yang bermanifestasi lewat keberanian bersuara.

​Hari ke-3. Lokasi Proyek.

​Fatih berdiri di atas bukit kecil, melihat alat berat excavator milik Grand Horizon mulai mengeruk tanah. Suara deru mesin itu adalah musik terindah baginya. Izin sudah keluar. Proyek resmi berjalan.

​Pak Gunawan datang menghampiri Fatih, menepuk punggungnya keras-keras.

​"Saya nggak pernah liat arsitek senekat kamu, Fatih. Kamu bikin perusahaan saya jantungan, tapi hasilnya... luar biasa. Marketing saya bilang, gara-gara berita viral kemarin, 500 unit rumah langsung sold out dipesan orang karena mereka simpati sama perjuangan kita."

​Fatih tersenyum lega. "Alhamdulillah, Pak. Berkah keributan."

​"Handoko gimana?" tanya Gunawan.

​"Dia tiarap, Pak. Badan Kehormatan DPRD lagi sidang kode etik. Dia sibuk nyelamatin jabatannya. Kayaknya dia nggak bakal ganggu kita dalam waktu dekat."

​"Bagus. Sekarang fokus kerja. Saya mau liat 'Pasar Rakyat' itu jadi dalam 3 bulan."

​"Siap, Pak!"

​Malam harinya. Di Kontrakan Fatih.

​Kelelahan fisik dan mental selama tiga hari ini akhirnya runtuh. Fatih dan Zalina duduk di lantai ruang tamu, menyantap martabak manis sebagai perayaan kecil.

​"Kita menang lagi ya, Mas?" tanya Zalina sambil mengunyah martabak cokelat keju.

​"Iya, Dek. Alhamdulillah. Allah kirim Bang Satria, kirim wartawan, kirim Bang Baron. Jalur Langit itu jaringannya luas banget ya," Fatih terkekeh.

​Tiba-tiba, Zalina meletakkan martabaknya. Wajahnya berubah serius, sedikit ragu.

​"Mas..."

​"Kenapa? Kurang manis martabaknya?"

​"Bukan. Mas... aku telat."

​Fatih berhenti mengunyah. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. "Telat apa? Bayar listrik?"

​Zalina mencubit lengan suaminya. "Bukan ih! Telat dapet bulan. Udah dua minggu."

​Mata Fatih membelalak. Sendok di tangannya jatuh.

​"Maksud kamu... kamu..."

​Zalina merogoh saku gamisnya. Mengeluarkan sebuah benda plastik kecil panjang berwarna putih.

​Testpack.

​Ada dua garis merah yang sangat jelas di sana.

​"Tadi pagi aku iseng cek sebelum berangkat demo. Ternyata..." Zalina tersenyum dengan air mata menggenang. "Kita bakal jadi Ayah sama Ibu, Mas."

​Fatih ternganga. Dunianya berhenti berputar.

​Kemenangan melawan Handoko rasanya tidak ada apa-apanya dibanding berita ini.

​"Ya Allah..." bisik Fatih. Ia meraih testpack itu dengan tangan gemetar, menatapnya seperti menatap berlian termahal di dunia. "Ini beneran? Alatnya nggak rusak kan?"

​"Beneran, Mas. Aku udah coba dua kali."

​Fatih langsung memeluk Zalina erat-erat, sangat erat, lalu menciumi seluruh wajah istrinya. "Alhamdulillah! Alhamdulillah! Terima kasih, Sayang! Terima kasih!"

​Fatih sujud syukur lagi di lantai kontrakan itu, menangis sejadi-jadinya.

​Di tengah gempuran musuh, di tengah ancaman mafia, Allah menitipkan amanah baru. Sebuah nyawa kecil yang akan tumbuh di rahim Zalina. Seorang penerus perjuangan.

​"Mas..." bisik Zalina saat Fatih kembali memeluknya.

​"Ya, Sayang?"

​"Berarti kita harus kerja lebih keras lagi. Bayi butuh susu, popok, vaksin... dan kamar yang nggak bocor."

​Fatih tertawa di sela tangis bahagianya. Ia mengusap perut rata Zalina.

​"Tenang, Nak. Ayah bakal bangunin istana buat kamu. Ayah bakal lawan seribu Handoko kalau perlu, demi kamu."

​Malam itu, di kontrakan sempit itu, kebahagiaan mereka sempurna. Perang bisnis dimenangkan, dan babak baru sebagai orang tua dimulai.

​Namun, Fatih belum tahu. Kehamilan Zalina ini akan membawa tantangan baru. Morning sickness yang parah, ngidam yang aneh-aneh di tengah malam, dan... emosi bumil yang mood swing-nya lebih mengerikan daripada preman Bang Baron.

​Selamat datang di Arc Kehamilan, Fatih!

​(Bersambung ke Bab 16...)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!