Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Sinyal Radio Hitam
Permukaan air setinggi mata kaki di dimensi Void itu tidak mengeluarkan riak, bahkan saat Arlan menyeret langkahnya yang berat. Langit yang retak di atas mereka memancarkan cahaya abu-abu statis, menciptakan bayangan panjang yang tidak wajar pada sosok Dante dan Mira. Arlan menatap telapak tangannya; bekas luka bakar berbentuk kunci itu masih berdenyut, memancarkan rasa hangat yang tumpul, sebuah pengingat fisik dari pintu memori yang baru saja ia jebol untuk melarikan diri dari kepungan Eraser di atap gedung zona netral.
"Tempat ini... terlalu sunyi," bisik Mira. Ia memegang telinganya sendiri, wajahnya menunjukkan ketidaknyamanan yang akut. "Hampa akustik di sini berbeda dengan di kota. Di Lentera Hitam, suara diredam. Di sini, suara seolah-olah memang tidak pernah diciptakan."
Dante tidak menyahut. Ia sedang sibuk dengan radio analog tua yang tersampir di bahunya. Jemarinya yang kasar memutar tuas pencari gelombang dengan sangat hati-hati. Bunyi statik yang pecah mulai mengisi ruang hampa tersebut, terdengar seperti gesekan amplas pada permukaan kaca.
"Apa yang kau cari, Dante? Tidak akan ada siaran di dalam celah dimensi seperti ini," ujar Arlan sambil mendekat.
"Itu kesalahanmu, Arlan," jawab Dante tanpa menoleh. "Para Peniru menguasai frekuensi digital, tapi mereka tidak bisa menyentuh gelombang analog yang membawa emosi murni. Radio ini adalah perangkat peninggalan masa sebelum kota ini mulai disalin. Jika kau adalah 'Wadah', maka radio ini adalah corongnya."
Arlan mengerutkan kening. "Ayah tidak pernah menyebutkan radio ini dalam buku catatannya. Dia hanya menulis tentang pintu di dalam pikiran."
"Karena radio ini hanya berfungsi jika kuncimu aktif," sela Dante. Ia berhenti memutar tuas tepat di angka 20.12 MHz.
Tiba-tiba, suara statik itu berubah. Bunyinya bukan lagi desis hampa, melainkan suara isak tangis yang sangat lirih, diikuti oleh suara parau seorang pria yang terdengar sangat putus asa.
"...tolong... siapa pun yang mendengar... Sektor Tujuh tidak terbakar... kami hanya dipindahkan... jangan biarkan mereka menghapus kami..."
Arlan tersentak. Jantungnya berpacu, mengirimkan gelombang panas ke bekas luka di tangannya. Suara itu. Ia mengenalnya. Itu adalah suara Pak Budi, tetangganya yang ia temui beberapa waktu lalu di ruang tamu, sosok yang saat itu ia curigai sebagai peniru karena lupa aroma kopi favoritnya dan tidak memiliki saraf saat tersiram air panas. Tapi suara di radio ini... suara ini memiliki tekstur ketakutan yang nyata, bukan datar seperti salinan.
"Dante, itu Pak Budi! Dia masih hidup?" suara Arlan bergetar.
"Atau itu adalah memori yang terjebak di frekuensi ini," jawab Dante dingin. "Mira, apa yang kau dengar?"
Mira memejamkan mata, memiringkan kepalanya seolah sedang menyaring setiap partikel suara. "Ada distorsi di latar belakang. Bau ozon yang terbakar... tapi isak tangis itu memiliki resonansi emosional. Mesin tidak bisa menduplikasi getaran duka sedalam ini. Arlan, aku rasa ini asli. Ini adalah jeritan dari orang-orang yang asli sebelum mereka digantikan."
"Kita harus menjawabnya," Arlan meraih mikrofon radio tersebut, namun Dante segera menahan tangannya.
"Pikirkan baik-baik, Arlan. Begitu kau menekan tombol transmisi, kau memberikan koordinat eksistensimu kepada dunia luar. Void ini terlindung, tapi sinyal radio adalah benang merah yang bisa ditarik oleh para Eraser untuk menemukan kita. Apakah kau siap mempertaruhkan keamanan kita demi suara yang mungkin sudah menjadi hantu?"
Arlan menatap Dante tajam. "Jika aku adalah 'Wadah' seperti yang dikatakan ayah, apa gunanya aku menyimpan memori jika aku membiarkan pemiliknya lenyap tanpa jawaban? Martabat kita sebagai manusia bukan terletak pada seberapa lama kita bisa bersembunyi, tapi pada kesediaan kita untuk saling mendengar di tengah kegelapan."
Dante menatap Arlan lama, lalu perlahan melepaskan cengkeramannya. "Kau mulai bicara seperti seorang pemimpin, bukan lagi kurir paranoid yang ketakutan."
Arlan mengambil napas manual, memastikan dadanya naik turun dengan teratur untuk menenangkan gemetar di tangannya. Ia menekan tombol hitam di samping mikrofon. Bau ozon tiba-tiba menusuk indra penciumannya, dan panas dari kuncinya merambat ke perangkat radio.
"Halo? Pak Budi? Ini Arlan... Arlan dari lantai empat," suara Arlan terdengar pecah di udara dimensi Void.
Hening sejenak. Suara statik di radio seolah-olah menahan napas.
"Arlan? Kau... kau masih nyata? Arlan, jangan kembali ke apartemen! Gedung itu... dia mulai berubah! Dia bukan lagi beton, dia bernapas! Kami terjebak di ruang bawah tanah yang terus menyempit!"
"Di mana kalian? Berikan aku lokasi yang spesifik!" Arlan berteriak ke arah mikrofon.
"Cari... sinyal... dua puluh... dua belas... markas... pohon perak..."
Suara itu tiba-tiba terputus oleh jeritan melengking yang terdengar seperti suara logam yang digunting. Radio di tangan Dante mengeluarkan asap tipis. Arlan terhuyung mundur, merasakan hampa akustik di sekelilingnya mendadak menjadi sangat padat, seolah-olah dimensi Void ini sedang mencoba menelan suara tersebut.
"Mereka menyerang transmisi itu," ujar Mira pelan. Wajahnya pucat pasi. "Bukan Pak Budi yang mereka serang, tapi sinyalnya. Eraser baru saja menyadari ada kebocoran frekuensi."
"Kita harus melakukan triangulasi sekarang," Dante kembali bekerja dengan cepat. "Arlan, gunakan koin perakmu. Letakkan di atas antena. Aku butuh kau menjadi penguat sinyal manual. Kita harus tahu dari mana jeritan itu berasal sebelum mereka benar-benar terhapus."
Arlan merogoh sakunya, mengeluarkan koin perak yang ia temukan dari baju satpam asli yang telah hilang. Ia meletakkan koin itu pada antena radio yang mulai panas. Seketika, getaran frekuensi itu berpindah ke tulang-tulangnya. Di dalam benaknya, sebuah peta kota Lentera Hitam mulai terbentuk—bukan peta digital yang menyesatkan, melainkan peta titik-titik panas emosi yang berkedip di kegelapan.
Beban Suara yang Hilang
Arlan memejamkan mata, membiarkan koin itu menyedot energi duka dari ingatannya tentang Sektor Tujuh. Ia bisa merasakan tarikan gravitasi dari arah timur laut kota.
"Aku mendapatkannya," bisik Arlan. "Koordinatnya tidak di pusat kota. Mereka dipindahkan ke sebuah bunker di bawah gudang logistik lama. Itu adalah titik aman yang pernah disebut Ayah dalam catatannya sebagai 'Markas Pohon Perak'."
"Itu wilayah berbahaya, Arlan," Dante memperingatkan sambil mengemas radionya. "Itu adalah zona transisi di mana realitas mulai memudar menjadi logam hutan. Jika kita ke sana, kita tidak bisa kembali ke keamanan Void ini untuk waktu yang lama."
"Kita tidak punya pilihan," balas Arlan sambil menatap tanda kunci di tangannya yang kini berwarna hitam legam. "Suara itu minta tolong. Jika kita diam, maka kita sama saja dengan para Peniru itu—dingin dan hampa."
Mira berdiri, menggenggam belatinya. "Aku ikut. Pendengaranku bisa membantu kita menghindari patroli Eraser yang pasti sudah menuju ke sana."
Arlan menatap kedua rekannya. Ia merasakan sebuah pergeseran di dalam dirinya. Ketakutan itu masih ada, namun kini terbungkus oleh amarah yang terukur. Ia bukan lagi sekadar kurir yang mengantar barang milik orang lain; ia sedang bersiap untuk menjemput kembali nyawa yang dicuri.
"Dante, siapkan senjatamu," perintah Arlan pelan namun tegas. "Kita akan keluar dari dimensi ini sekarang."
Gema dari Dunia yang Terkikis
Dante menarik tuas terakhir pada perangkat radio sebelum menyandarkannya di bahu. Udara di dalam dimensi Void mendadak bergejolak, menciptakan pusaran kecil pada permukaan air yang semula tenang. Arlan merasakan tekanan udara yang menghimpit paru-parunya, sebuah pertanda bahwa stabilitas ruang hampa ini mulai retak akibat transmisi radio yang baru saja ia lakukan.
"Pegang bahuku, Mira. Arlan, jangan lepaskan koin itu dari antena," perintah Dante. Suaranya terdengar berat, tertutup oleh dengung frekuensi yang semakin memekakkan telinga.
Arlan mencengkeram koin perak itu dengan ujung jarinya yang gemetar. Panas yang menjalar dari antena radio kini terasa menyengat, namun ia tidak peduli. Dalam pandangan batinnya, koordinat Markas Pohon Perak semakin jelas—sebuah titik cahaya redup yang berkedip di tengah kegelapan kota Lentera Hitam yang luas.
"Kita keluar sekarang!" seru Dante.
Dunia seolah terbalik. Cahaya abu-abu statis dari langit Void meledak menjadi kegelapan noir yang pekat. Arlan merasakan kakinya menghantam aspal yang dingin dan keras. Bau ozon berganti dengan aroma karat yang lembap dan sisa hujan perak yang menggenang di parit. Mereka telah kembali ke realitas sekunder, tepat di sebuah gang sempit di perbatasan zona netral dan distrik logistik.
"Napas manual, Arlan! Jangan biarkan frekuensi kota mengunci detak jantungmu!" Mira berbisik mendesak.
Arlan segera mengatur ritme dadanya. Ia bisa merasakan penurunan suhu drastis di sekitar mereka. Endotermik lokal di area ini sangat kuat; uap napas mereka membeku menjadi kristal halus sebelum sempat menyentuh tanah. Di ujung gang, cahaya lampu jalan yang hijau-kebiruan berkedip-kedip tidak stabil, menciptakan aberasi kromatik pada dinding-dinding bata yang mulai ditumbuhi oleh lumut logam.
"Mereka di sini," bisik Mira tiba-tiba. Ia menempelkan telinganya ke dinding sebuah gudang tua. "Suara mesin... tapi sangat halus. Hampa akustik mulai terbentuk di sekitar kita."
Dante mencabut pistol analognya, memeriksa slot peluru yang terbuat dari tembaga murni. "Unit pelacak Eraser. Mereka menggunakan sinyal radio tadi sebagai umpan balik untuk memetakan kepulangan kita. Arlan, kita harus bergerak menuju gudang di sektor utara. Markas Pohon Perak ada di balik tembok penyimpanan besi tua."
"Bagaimana dengan Pak Budi dan yang lainnya?" Arlan bertanya sambil mengawasi ujung jalan.
"Jika kita tidak sampai ke sana dalam sepuluh menit, frekuensi mereka akan diputus secara permanen oleh pusat penyalinan," jawab Dante tegas.
Mereka mulai berlari dengan langkah yang diredam oleh teknik pergerakan kurir. Di depan mereka, sebuah unit pelacak Eraser muncul dari balik kabut. Sosok-sosok bermantel kelabu itu tidak memiliki wajah yang jelas; fitur mereka tampak rata dan hanya memiliki lubang hitam sebagai sensor audio.
"Arlan, jangan gunakan kuncimu kecuali terdesak! Panasnya akan membuat kita terlihat seperti obar di tengah salju bagi sensor mereka!" Dante memberi peringatan sambil menarik Mira ke balik tumpukan palet kayu.
"Aku punya cara lain," Arlan menatap koin perak di tangannya. "Dante, kau bilang mereka tidak bisa menyentuh gelombang analog. Berikan aku radionya."
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Strategi ketiga," Arlan menyeringai tipis, meski wajahnya pucat karena kelelahan. "Aku tidak akan lari dari sensor mereka. Aku akan memberikan mereka terlalu banyak informasi untuk diproses."
Arlan mengambil radio, memutar volumenya hingga maksimal, dan mengganti frekuensinya ke gelombang statis murni yang paling bising. Ia kemudian melempar koin peraknya ke dalam celah speaker radio tersebut. Resonansi antara memori koin dan gelombang statis menciptakan ledakan audio analog yang tak terdengar oleh telinga manusia, namun sangat menghancurkan bagi sensor sensitif para Peniru.
Seketika, unit pelacak di depan mereka terhuyung. Tubuh-tubuh perak itu mengejang, mengeluarkan cairan kental dari lubang sensor mereka. Mereka tampak bingung, kehilangan koordinasi ruang karena radar mereka dipenuhi oleh 'hantu' audio dari memori koin Arlan.
"Sekarang! Lari!" Arlan berseru.
Mereka melesat melewati para Peniru yang sedang mengalami malfungsi seluler. Perjalanan menuju gudang logistik terasa seperti menembus labirin mimpi buruk. Pohon-pohon di pinggir jalan tidak lagi memiliki daun organik; dahan-dahannya terbuat dari kawat baja yang saling melilit, representasi dari 'Pohon Perak' yang mulai menginvasi alam.
Sesampainya di depan pintu besi raksasa bertanda Sektor Logistik 04, Arlan berhenti. Ia merasakan getaran yang sangat kuat dari balik tanah. Bukan getaran mesin, melainkan sesuatu yang lebih biologis.
"Kau mendengarnya, Dante?" Arlan menempelkan tangannya ke pintu besi.
"Detak jantung," gumam Dante dengan wajah tegang. "Bukan satu, tapi ribuan. Sektor ini sedang berubah menjadi organisme hidup."
"Pak Budi... mereka di dalam sana. Terjebak di dalam 'daging' beton ini," Arlan mengepalkan tangannya. "Aku harus membuka pintu ini."
Arlan kembali merogoh kunci tua di lehernya. Ia tahu, setiap kali ia menggunakan kunci ini, ia mengorbankan sebagian dari integritas fisiknya. Namun, saat ia membayangkan suara isak tangis di radio tadi, martabatnya sebagai manusia yang masih memiliki rasa sakit menolak untuk mundur.
"Arlan, tunggu! Lihat ke arah langit!" Mira menunjuk ke atas.
Di atas mereka, pusaran awan kelabu mulai berputar, membentuk sebuah mata raksasa dari frekuensi yang terdistorsi. Eraser level tinggi sedang melakukan penguncian area. Sektor Logistik 04 akan segera dihapus dari peta realitas dalam hitungan menit.
"Kita masuk sekarang, atau kita hilang selamanya bersama mereka," tegas Arlan.
Ia memasukkan kunci itu ke lubang pintu besi yang berkarat. Suara klik mekanik bergema di tengah hampa akustik, memecah kesunyian malam dengan janji sebuah kebenaran yang mengerikan.