"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Pengkhianatan di Tengah Gua
Langit-langit gua di Lembah Roh begitu rendah, ditumbuhi lumut berpendar yang membiaskan cahaya kehijauan. Udara di sini tidak lagi membawa aroma segar, melainkan bau tanah dan sisa-sisa bangkai yang membusuk. Di kedalaman gua ini, detak jantung terasa lebih keras daripada suara langkah kaki.
Guiren berjalan di posisi paling belakang. Tongkat bambunya mengetuk lantai batu yang licin oleh lendir alami. Melalui Visi Qi, ia melihat rekan-rekan setimnya bukan sebagai kawan, melainkan sebagai tiga gumpalan energi yang bergejolak tidak stabil. Lu Zhen memimpin di depan, sementara Mei dan seorang murid bernama Han mengapit di tengah.
"Tanaman Lidah Roh ada di ceruk terdalam," bisik Lu Zhen. Suaranya bergema samar, memantul di dinding-dinding basah. "Garis-garis energi di sana sangat kacau. Si buta, kau harus berada di titik paling depan saat kita sampai. Visi Qi milikmu lebih berguna daripada mata kami di kegelapan total."
Guiren tidak menjawab. Ia merasakan perubahan ritme napas Han yang berada tepat di depannya. Han sedikit gemetar.
"Lu Zhen," Han berbisik, langkahnya melambat hingga sejajar dengan pemimpin tim. "Apakah ini benar-benar perlu? Jika Penatua tahu kita membiarkannya di sana—"
"Diamlah, bodoh," desis Mei, suaranya setajam belati. "Dia hanya murid luar. Jika dia hilang di sarang Laba-laba Ying, itu hanya dianggap sebagai kecelakaan misi. Poin kontribusi dari tanaman ini terlalu besar untuk dibagi empat, apalagi dengan seseorang yang bahkan tidak bisa melihat matahari."
"Tapi dia mengalahkan Bai Feng," Han mencoba membela diri, lebih karena rasa takut akan konsekuensi daripada simpati. "Jika dia selamat dan melapor—"
"Dia tidak akan selamat," sela Lu Zhen bernada dingin. Langkahnya berhenti di depan sebuah celah sempit yang mengarah ke bagian gua yang lebih gelap dan berbau tajam. "Tanpa tongkat dan panduan kita, dia akan berputar-putar di labirin ini sampai paru-parunya dipenuhi spora beracun. Ini demi masa depan kita di sekte. Pilihannya sederhana, tetap menjadi murid biasa, atau naik tingkat dengan poin ini."
Han terdiam. Iri hati yang selama ini terpendam setelah melihat seorang pendatang baru yang cacat mendapat perhatian lebih dari para Penatua akhirnya mengalahkan nuraninya yang setipis daun. Ia mengangguk pelan.
Guiren tetap diam sepuluh langkah di belakang mereka. Ia mendengar setiap kata, setiap tarikan napas ragu, dan setiap detak jantung yang penuh pengkhianatan. Di balik kain penutup matanya, wajah Xiaolian melintas. Adiknya sedang menunggu di kediaman Yue Chuntao, berharap kakaknya pulang dengan selamat. Pikiran itu tidak membuatnya marah, itu membuatnya waspada.
Di dunia ini, kepercayaan adalah kemewahan yang tidak mampu ia beli.
"Guiren, masuklah lebih dulu," perintah Lu Zhen sambil menepi, memberi jalan menuju ceruk gelap yang tertutup kabut hitam pekat. "Kami akan menjagamu dari belakang."
Guiren melangkah maju. Saat ia melewati Lu Zhen, ia merasakan niat membunuh yang ditekan dengan sangat kasar. Ia terus berjalan masuk ke dalam ceruk. Bau busuk di sini menyengat, menandakan keberadaan predator yang sedang tidur.
Begitu Guiren berada lima langkah di dalam kegelapan, suara gesekan batu terdengar.
Blamm!
Lu Zhen dan Han mendorong sebuah bongkahan batu besar yang memang sudah rapuh di langit-langit ceruk, menutup satu-satunya jalan keluar. Getarannya meruntuhkan kerikil dan debu, menciptakan dinding pemisah yang tebal.
"Maafkan kami, 'Pelukis Buta'," suara Lu Zhen terdengar samar dari balik reruntuhan, tidak lagi menyembunyikan kebenciannya. "Tapi tinta di dunia ini terlalu mahal untuk dibuang-buang pada orang sepertimu."
Suara langkah kaki mereka menjauh dengan terburu-buru, meninggalkan Guiren dalam keheningan yang menyesakkan.
Guiren berdiri mematung. Kegelapan di dalam ceruk ini mutlak, namun baginya, dunia tetaplah rangkaian garis energi. Ia melihat ribuan benang Qi berwarna ungu tua bergelantungan di langit-langit, jaring laba-laba yang mulai bereaksi terhadap getaran reruntuhan tadi. Di sudut ceruk, sebuah massa energi besar mulai menggeliat bangun.
Ia tidak mencoba menggedor batu atau berteriak. Itu hanya akan membuang tenaga. Guiren meraba kuas di balik jubahnya, jemarinya membelai bulu serigala roh yang halus.
"Seperti biasa," gumamnya. Suaranya tidak mengandung amarah, hanya sebuah konfirmasi dingin atas realitas yang sudah ia duga.
Ia berbalik menghadap kegelapan yang lebih dalam, tempat predator itu mulai merayap turun. Tongkat bambunya ia simpan, dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan Niat Tinta merembes keluar dari pori-pori kulitnya, menciptakan lapisan pelindung tipis yang tidak kasat mata.
Lu Zhen dan yang lainnya mengira mereka telah menutup jalan keluarnya. Mereka tidak menyadari bahwa dengan memisahkan diri, mereka baru saja membebaskan seorang pelukis untuk menggambar mautnya sendiri tanpa saksi.
Guiren menarik napas dalam, memfokuskan seluruh Qi ke ujung jarinya. Perburuan yang sebenarnya baru saja dimulai, dan ia tidak berniat menjadi mangsa.