NovelToon NovelToon
CINTA Di BALIK 9 M

CINTA Di BALIK 9 M

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkyra

Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.

Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:

kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 24

Lorong itu sunyi, hanya menyisakan bunyi langkah kaki yang bergema pelan di lantai marmer. Yurie berjalan lebih dulu, Kaiden mengikuti di belakangnya dengan jarak yang tidak terlalu dekat, tapi juga tidak benar-benar jauh. Mereka baru saja meninggalkan teras, dan sisa udara dingin masih menempel di kulit.

Yurie berhenti di depan pintu kamarnya. Tangannya terangkat, ragu untuk membuka, seolah ada sesuatu yang menahannya.

“Kamu mau sendirian?” tanya Kaiden akhirnya.

Yurie menoleh. “Aku cuma… butuh waktu sebentar.”

Kaiden mengangguk. “Aku di ruang kerja. Kalau kamu perlu apa pun.”

Yurie mengiyakan pelan. Pintu kamarnya tertutup perlahan, menyisakan Kaiden di lorong yang kembali sepi. Ia berdiri di sana beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu berbalik arah.

Di dalam kamar, Yurie bersandar di pintu. Napasnya terhembus berat, bukan karena lelah, tapi karena pikirannya terlalu penuh. Ia melangkah menuju meja rias, menatap bayangan dirinya sendiri di cermin.

Wajah itu tampak sama seperti biasanya. Rambut pirang jatuh lurus, mata hijau memantulkan cahaya lampu kamar yang temaram. Namun sesuatu di balik tatapan itu berubah. Ada kehati-hatian yang baru. Ada kesadaran bahwa hidupnya tidak lagi berada di jalur aman.

Tangannya meraih laci paling bawah. Dari sana ia mengeluarkan sebuah kotak kecil—sederhana, kayunya mulai pudar. Di dalamnya tersimpan beberapa benda lama yang selalu ia bawa ke mana pun ia tinggal.

Foto ibunya.

Yurie mengangkat foto itu, jemarinya menyentuh permukaannya dengan hati-hati. Senyum Shella dalam gambar itu hangat, seperti selalu tahu bahwa suatu hari nanti, anaknya akan membutuhkan kekuatan lebih dari sekadar kenangan.

“Ma…” bisik Yurie. “Kalau Mama masih ada… apa Mama akan bilang aku harus terus maju?”

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menekan.

Di sisi lain kediaman, Kaiden duduk di ruang kerja yang lampunya belum sepenuhnya dinyalakan. Satu lampu meja cukup menerangi dokumen-dokumen yang terbuka di depannya. Matanya menyapu lembar demi lembar, berhenti pada catatan kecil yang ditulis tangan.

Ia menghela napas pelan.

Nama itu kembali muncul. Bukan tertulis jelas, tapi tersirat dalam pola, dalam koneksi yang terlalu rapi untuk diabaikan. Kaiden menutup map itu perlahan, lalu bersandar ke kursi.

“Masih bermain dari balik bayangan,” gumamnya.

Pintu diketuk.

Kaiden mendongak. “Masuk.”

Seorang pria paruh baya melangkah masuk—salah satu orang kepercayaan keluarga Reynard. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menyiratkan kegelisahan.

“Ada pergerakan,” katanya singkat.

Kaiden menegakkan tubuh. “Dari mana?”

“Bukan langsung. Tapi jalurnya… lama. Lewat pihak yang seharusnya sudah tidak aktif.”

Kaiden terdiam sejenak. “Mereka mulai gelisah.”

“Sepertinya begitu.”

Kaiden mengangguk. “Teruskan pengawasan. Jangan buat mereka sadar.”

Pria itu mengangguk, lalu keluar tanpa banyak bicara.

Kaiden menatap kembali meja di depannya. Di antara dokumen-dokumen itu, ada satu hal yang tidak tertulis di mana pun—ketakutannya sendiri. Bukan pada ancaman, bukan pada permainan kekuasaan, tapi pada satu kemungkinan: Yurie terseret terlalu dalam.

Sementara itu, di tempat yang sama sekali berbeda, sebuah mobil melaju di jalanan kota yang basah oleh sisa hujan. Lampu-lampu jalan memantul di kaca depan, menciptakan bayangan yang bergerak cepat.

Di kursi belakang, seorang wanita duduk dengan punggung tegak. Tangannya memegang ponsel, layar gelap, seolah ia tidak benar-benar membutuhkannya.

“Dia mulai bergerak,” ujar seseorang di depan.

Wanita itu tersenyum tipis. “Bukan dia yang paling menarik.”

“Lalu siapa?”

“Perempuannya,” jawabnya ringan. “Selalu begitu.”

Mobil melambat, lalu berhenti di depan sebuah bangunan tinggi yang terlihat biasa saja dari luar. Wanita itu turun tanpa terburu-buru, langkahnya mantap, seolah ia sudah hafal tempat itu.

“Kita lanjutkan sesuai rencana,” katanya sebelum pintu tertutup.

Kembali ke kamar, Yurie berbaring di atas ranjang tanpa benar-benar ingin tidur. Matanya menatap langit-langit, pikirannya berputar tanpa arah jelas. Setiap potongan yang ia temukan justru memunculkan pertanyaan baru.

Ia teringat cara Kaiden menatapnya. Tidak seperti orang yang merasa terpaksa. Tidak juga seperti orang yang sekadar menjalankan peran.

“Apa kamu benar-benar di sisiku… atau aku cuma bagian dari sesuatu yang lebih besar?” gumamnya.

Pintu kamarnya diketuk pelan.

Yurie bangkit setengah duduk. “Masuk.”

Kaiden berdiri di sana, ekspresinya lebih lembut dari sebelumnya. “Aku cuma mau memastikan kamu baik-baik saja.”

Yurie mengangguk. “Aku baik.”

Kaiden melangkah masuk, berhenti beberapa langkah dari ranjang. “Kalau kamu mau cerita… aku dengar.”

Yurie terdiam lama. Lalu ia berkata pelan, “Aku takut.”

Kaiden tidak memotong.

“Aku takut, begitu aku tahu semuanya, aku nggak bisa kembali jadi diriku yang sekarang.”

Kaiden mendekat, duduk di tepi ranjang. “Berubah itu nggak selalu berarti kehilangan.”

Yurie menatapnya. “Kamu yakin?”

Kaiden tersenyum kecil. “Aku sudah berubah berkali-kali. Dan aku masih di sini.”

Sunyi menyelimuti mereka. Yurie akhirnya menyandarkan kepalanya ke bahu Kaiden—perlahan, ragu, seolah takut ditolak. Kaiden tidak bergerak menjauh. Ia membiarkan, bahkan sedikit mencondongkan tubuhnya. Untuk sesaat, dunia terasa berhenti. Namun di balik ketenangan itu, sesuatu sedang bergerak. Pelan, nyaris tak terdengar, tapi pasti.

Retakan kecil sudah muncul. Dan cepat atau lambat, ia akan melebar.

1
mus lizar
tokoh utamanya kasian banget, kalau aku jadi dia udh ku cabik cabik ibu tiri yang sok ngatur itu
mus lizar
sangat fantastis, bahasanya dan kata katanya jelas dan bisa dibayangkan apa yang terjadi/Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!