NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Kiara dan Darius tiba di ruang rawat inap Papa Kiara. Begitu pintu terbuka, Darius langsung melangkah mendekat ke ranjang.

“Assalamualaikum, Pak Rahmat,” sapanya sopan. Rahmat tersenyum lemah, tapi jelas mengenali wajah itu.

“Waalaikumsalam … Darius, ya? Pemilik perusahaan konstruksi yang kemarin sempat kerja sama sama perusahaan saya.”

Darius mengangguk sambil menjabat tangan pria itu.

“Iya, Pak. Senang akhirnya bisa ketemu lagi, meski di kondisi begini.”

Mama Kiara ikut menyambut dengan ramah, mempersilakan Darius duduk. Suasana di ruangan itu hangat, jauh dari ketegangan yang memenuhi dada Kiara sejak tadi.

“Jadi benar Kiara mau kerja di perusahaan kamu?” tanya Mama Kiara sambil melirik putrinya.

Darius tersenyum santai. “Iya, Tante. Tapi bukan karyawan tetap. Saya cuma butuh beberapa desain dari Kiara untuk proyek baru. Saya lihat dia berbakat.”

Kiara mendengus kecil. “Jangan kebanyakan muji, Mas. Nanti capek sendiri.”

Rahmat tertawa pelan, dadanya naik turun. “Itu betul. Anak saya ini keras kepala dari dulu.”

Mereka tertawa bersama. Untuk sesaat, Kiara hampir lupa pada beban di dadanya. Lalu, di sela percakapan, Rahmat tiba-tiba bertanya,

“Ngomong-ngomong … kenapa Papa nggak lihat Alvar sejak semalam? Dia ke mana?”

Udara seketika berubah, Kiara refleks melirik ibunya. Mama Kiara membalas dengan tatapan khawatir. Kiara menelan ludah, lalu membuka mulut.

“Mas Alvar—”

Pintu ruangan mendadak terbuka semua kepala menoleh bersamaan.

Di ambang pintu berdiri Alvar.

Wajahnya tampak lelah, jaketnya masih melekat di tubuh, rambutnya sedikit berantakan seolah perjalanan jauh belum benar-benar ia selesaikan. Jelas sekali dia baru tiba, atau mungkin sudah lama berdiri di luar.

“Assalamualaikum,” ucap Alvar pelan.

Mama Kiara terkejut, lalu berdiri. “Alvar…”

Alvar melangkah masuk, mendekati ranjang.

“Waalaikumsalam, Var.” jawab Rahmat, Alvar lalu menunduk hormat pada Rahmat. “Gimana kabarnya, Pa? Saya baru sampai.”

Tuan Rahmat menatap menantunya dengan tatapan penuh selidik.

“Alhamdulillah, masih dikasih napas. Kamu dari mana, Var?”

Alvar tersenyum tipis. “Dari desa, Pa.”

Setelah itu, tatapannya bergeser, ke Darius. Tatapan Alvar tertahan cukup lama, dingin dan penuh perhitungan. Darius menangkap itu, tapi hanya membalas dengan senyum sopan.

“Mas Alvar, ya?” sapa Darius santai.

“Saya Darius.”

Alvar mengangguk singkat. “Saya tahu, tadi sempat dengar sebelum masuk," katanya sopan. Lalu, perlahan pandangannya beralih ke Kiara mata mereka bertemu.

Darius melirik arlojinya, lalu berdiri.

“Sepertinya saya harus pamit. Masih ada janji lain,” ucapnya sopan.

Kiara ikut bangkit. “Aku antar sampai luar, Mas.”

Darius berpamitan pada Rahmat dan Mama Kiara, lalu menoleh singkat ke arah Alvar. “Saya duluan.”

Mereka keluar dari ruangan rawat inap, menyusuri lorong rumah sakit yang mulai lengang. Langkah Kiara melambat, kepalanya masih penuh.

Di depan pintu, Darius berhenti.

“Kiara,” panggilnya pelan.

Kiara menoleh.

“Apa benar kamu mau mengetes suami kamu?” tanya Darius tanpa basa-basi.

“Dari yang saya lihat, dia orang baik. Nggak mungkin dia nggak mencintai kamu.”

Kiara terdiam, jari-jarinya saling menggenggam.

"Tapi saya nggak yakin, Mas."

“Itulah alasan Delia minta bantuan saya,” lanjut Darius, suaranya lembut.

“Baiklah, Kiara. Saya bantu sebisanya saja. Anggap saja kamu keponakan saya sendiri. Kamu dan Delia seumuran.”

Ia tersenyum hangat. “Tapi jangan terlalu lama menyiksa diri kamu sendiri.”

Kiara membalas senyum itu, tipis. “Terima kasih, Mas.”

Darius mengangguk, lalu melangkah pergi, meninggalkan Kiara sendirian di lorong.

Kiara menarik napas dalam-dalam dan berbalik, hendak kembali ke ruangan papanya. Namun langkahnya terhenti di depan pintu Alvar sudah berdiri di sana.

Alvar melangkah satu langkah mendekat.

“Kiara…”

Kiara tak mundur, tapi juga tak menyambut. Tatapannya tetap dingin, tembok yang ia bangun berdiri kokoh.

Alvar memanggil namanya sekali lagi, lebih pelan.

“Kiara…”

Kiara akhirnya mengalihkan pandangannya, hendak melewati Alvar begitu saja. Namun, pergelangan tangannya lebih dulu ditahan tidak kasar, justru gemetar.

“Jangan sentuh aku,” ucap Kiara lirih, tapi tegas.

Alvar refleks melepaskan tangannya. Wajahnya menegang, ada penyesalan yang telanjang di sana.

“Aku cuma mau bicara. Lima menit saja.”

Kiara berhenti melangkah. Dadanya naik turun, jelas ia sedang menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar amarah.

“Kalau kamu mau bicara,” katanya tanpa menoleh, “bukan di sini. Papa aku masih sakit.”

Tidak ada panggilan Mas yang biasa dia panggil untuk Alvar.

Alvar mengangguk cepat. “Aku mengerti.”

Kiara menatapnya sekilas. “Aku ke kantin rumah sakit. Kalau lima menit itu berubah jadi drama, aku pergi.”

Tanpa menunggu jawaban, Kiara melangkah lebih dulu. Alvar mengikutinya dari belakang, menjaga jarak, seperti orang yang sadar dirinya sedang berdiri di ujung jurang.

Di kantin rumah sakit terasa pengap. Kiara duduk menatap meja, sementara Alvar berdiri setengah ragu di hadapannya, seolah satu kata salah bisa membuat segalanya runtuh.

“Kiara…” Alvar menarik napas panjang. “Aku nggak datang ke sini buat memaksa kamu balik. Aku juga nggak mau mempermainkan perasaanmu.”

Kiara mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya dingin, tapi matanya lelah.

“Aku cuma mau minta satu hal,” lanjut Alvar, suaranya bergetar tapi tegas.

“Kasih aku kesempatan … satu kali lagi. Biar aku yang mengejar kamu. Dengan caraku sendiri.”

Kiara terdiam.

“Aku ingin mempertahankan pernikahan ini,” ujar Alvar jujur.

“Aku ingin mempertahankan kamu. Tapi kalau nanti, setelah aku melakukan semuanya, kamu tetap memilih menyerah dan nggak mau kembali … aku janji, Kiara. Aku akan melepaskanmu dengan ikhlas.”

Kata-kata itu membuat dada Kiara mengencang.

“Untuk beberapa hari ke depan,” Alvar melanjutkan, “biarkan aku membuktikan kalau cintaku ke kamu itu benar-benar tulus. Aku nggak akan mengusik hidupmu. Di depan orang tua kamu, aku akan bersikap selayaknya suami yang baik. Nggak akan ada drama. Nggak akan ada tekanan.”

Alvar menatap Kiara tanpa berkedip.

“Aku juga akan sewa tempat tinggal sendiri selama di Jakarta. Aku nggak akan melibatkan orang tuaku. Semuanya akan aku rahasiakan. Kita akan terlihat baik-baik saja di depan Papa dan Mama kamu.”

Ia menelan ludah.

“Aku cuma minta waktu. Bukan untuk memaksamu mencintaiku … tapi untuk menunjukkan kalau aku mencintaimu.”

Kiara menatap kedua mata Alvar lama sekali. Tak ada pembelaan berlebihan. Tak ada rayuan murahan. Hanya kejujuran yang telanjang, rapuh, tapi nyata.

“Aku nggak janji apa-apa,” ucap Kiara pelan.

Alvar mengangguk cepat. “Aku nggak butuh janji. Aku cuma butuh izin.”

Hening menyelimuti mereka beberapa detik. Akhirnya, Kiara mengangguk kecil.

“Beberapa hari,” katanya. “Hanya itu.”

Wajah Alvar langsung berubah, bukan senyum kemenangan, melainkan kelegaan yang hampir membuatnya roboh.

“Terima kasih, Kiara,” bisiknya tulus.

Kiara bangkit dari kursinya.

“Jangan buat aku menyesal sudah mengangguk,” ucapnya datar sebelum melangkah pergi.

Alvar menatap punggung Kiara menjauh, lalu melihat Kiara berbalik.

"Malam ini tinggal di rumah sakit saja dulu, mungkin papa masih mau bicara sama kamu, Mas." Mendengar itu Alvar langsung tersenyum dan menyusul Kiara yang lebih dulu keluar dari kantin.

1
Rehaan Aamir
Apakah Dokter Hesty?????????
Yanrina Savitri
Anakku namanya Umar. Satu lg Hamzah
Yanrina Savitri
Makanya dokter tidak boleh menangani keluarga dekatnya.
Yanrina Savitri
Bayi dr dalam kandungan memang sdh bisa mendengar. Dia sdh bisa mengenal suara orang2 diskitarnya terutama suara ayah dan ibunya. Makanya ada pepatah yg mengatakan " didiklah anakmu semasa masih didalam rahim. Terutama putarkan murottal Al Quran sebelum ibunya tidur
Yanrina Savitri
Banyak novel2 yg ditulis sebagian berdasarkan kisah nyata dan sebagiannya fiktif hasil halu authornya. 😁😁
Yanrina Savitri
Kiara bandel
Yanrina Savitri
Kecuali si Alvar mau menjebak tkius
Yanrina Savitri
Ah.... lalai x si Alvar ni. Masak kamar kerja ga dikinci padahal sdh ada kejadian kek gitu. Bodoh
Yanrina Savitri: Kecuali si Alvar menjebal
total 1 replies
Yanrina Savitri
Kl ga mau pegang itu kenapa dulu ambil sepsialis obgyn. Knp ga ambil jantung Urologi dll yg ga berhubungan dgn itu.
Yanrina Savitri
Anaknya sendiri aja dibunuh...
Alya Alya
halo kak aku sampun mampir profil Kaka bagus semua ceritanya boleh bagi tutor gak kak?
Alya Alya: biar tulisan kita bisa lebih menghasilkan cuan?🙏
total 2 replies
@Al**
/Good/
Gintania nia
seperti biasa, selalu menarik sampai titik terakhir
Lilis Lilis
aku suka
Suyatno Galih
martabak telor ayam, bebek kali
Suyatno Galih
jgn byk mikir p kades lngsng tlp pak Rahmat
Suyatno Galih
pak kades Yono tunjukan power mu dan kades yg bijaksana
Suyatno Galih
knp dellia jd botol, bodoh n tolol. gak tau kl lg ngedepin maut eee mlh ngobrol bukannya cepet ngindar
Suyatno Galih
iya itu pak kades Yono hrs keluarkan powernya, apaan jgn lembek hanya seorg bahlul sm . hrsnya koneksi kades Yono byk
Suyatno Galih
Delia pengacara pintar mancing musuh tanpa kata
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!