Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. PERMAINAN KECIL DUCHESS
Sejak siang itu, Liora Montclair resmi memulai operasi penyelamatan diri dari suaminya sendiri.
Terdengar aneh tapi itu yang akan ia lakukan mengingat kabar Duke yang tiba-tiba akan datang ke kamar Liora malam ini entah kenapa.
Liora tahu, sangat tahu, bahwa Duke Alaric tidak akan berhenti datang hanya karena ia berharap begitu. Pria itu bukan tipe yang bisa dihindari dengan doa-doa kecil atau pura-pura sibuk. Maka satu-satunya jalan adalah membuat Duke tidak bisa datang.
Dan dari situlah ide-ide kecil Liora mulai bermunculan.
Gadis itu berdiri di tengah kamarnya dengan tangan bersedekap, menatap Sasa yang tampak terlalu bersemangat untuk sebuah 'rencana darurat'.
"Kita mulai dari mana, Nyonya?" tanya Sasa ceria, seperti anak kecil yang hendak bermain petak umpet.
Liora menghela napas panjang.
"Aku ingin Duke tidak datang ke kamar ini malam ini apa pun caranya," kata Liora.
"Baik!" jawab Sasa tanpa ragu. "Cara pertama?"
Liora berpikir cepat. "Buat aku sibuk."
Sasa berkedip. "Sibuk?"
"Ya. Sibuk dengan urusan Duchess. Tamu. Laporan. Apa pun itu," ujar Liora penuh semangat.
Dan begitulah.
Sejak pagi, ruang kerja Liora tidak pernah benar-benar sepi.
Para pelayan keluar-masuk membawa dokumen, kain, perhiasan, daftar jamuan, semuanya atas perintah Duchess yang mendadak 'sangat aktif'.
Sasa berlari ke sana kemari dengan wajah berseri.
"Nyonya ingin memeriksa ulang gudang kain!"
"Nyonya ingin tahu jadwal musim dingin!"
"Nyonya ingin-"
"-bernapas sebentar,"potong Liora sambil duduk lemas di kursinya. Tidak menduga kalau ia akan selelah ini.
Namun entah kenapa, semakin Liora sibuk, semakin ramai pula kediaman Duke.
Para pelayan saling bertukar pandang dengan senyum penuh makna.
Beberapa bahkan tampak menahan tawa.
"Ada apa?" tanya Liora curiga.
Sasa menutup mulutnya. "Nyonya terlihat seperti sedang menghindari Tuan Duke."
Liora menatapnya tajam. "Aku tidak menghindar. Hanya tidak mau bertemu dengannya saat ini."
"Oh," sahut Sasa polos. "Kalau begitu kita lanjut ke rencana berikutnya?"
Liora terdiam sejenak.
Lalu berkata dengan suara lebih pelan, "Aku sakit."
Sasa membelalakkan mata. "Sekarang?"
"Ya. Sekarang," jawab Liora.
Duchess yang jatuh sakit langsung jadi perbincangan di kediaman Duke. Kabar itu menyebar lebih cepat dari yang Liora perkirakan.
"Nyonya Duchess tidak enak badan."
"Nyonya Duchess pucat."
"Nyonya Duchess butuh tabib."
"Dia pasti kelelahan."
Dalam waktu kurang dari satu jam, tabib kediaman Duke sudah berdiri di depan tempat tidur Liora.
Aldren.
Tabib muda itu datang dengan langkah tenang, membawa tas kulit berisi peralatan medis. Rambut cokelatnya rapi, wajahnya bersih, dan sorot matanya lembut, terlalu lembut hingga membuat beberapa pelayan perempuan tersipu.
"Yang Mulia Duchess," ucap sang tabib sopan. "Saya Tabib Aldren."
Liora menelan ludah. Ia menatap Sasa dengan sorot memohon.
Sasa membalas dengan senyum tenang saja, saya di sini.
"Apa keluhan Anda?" tanya Aldren lembut.
Liora meletakkan tangan di dahi. "Pusing, mual, mungkin karena kelelahan."
Tabib Aldren memeriksa denyut nadi, menatap wajah Liora beberapa detik lebih lama dari yang membuatnya nyaman.
"Tidak ada yang serius," gumam sang tabib akhirnya.
Liora hampir bersorak namun tetap pura-pura lemah.
"Namun," lanjut Aldren, "Anda memang perlu istirahat total. Tidak boleh diganggu malam ini."
Sasa langsung mengangguk cepat. "Benar! Nyonya sangat lemah!"
Tabib Aldren menatap mereka berdua, jelas menyadari ada sesuatu yang ... aneh. Namun ia hanya menghela napas kecil. Seolah tahu apa yang terjadi.
"Saya akan katakan demikian kepada Yang Mulia Duke," ujarnya akhirnya. "Tapi jangan bermain-main dengan kesehatan, Yang Mulia."
Liora tersenyum kaku. "Terima kasih, Tabib Aldren."
Begitu tabib itu keluar, Liora menjatuhkan diri ke bantal.
"Berhasil," gumam Liora lega.
Namun kelegaan itu tidak bertahan lama. Karena mabar sakit itu justru membuat Liora kalang kabut sendiri.
Sore menjelang malam.
Pintu kamar Liora kembali diketuk, kali ini dengan lebih tergesa.
Sasa masuk dengan wajah pucat. "Nyonya?!"
"Apa lagi kali ini. Biarkan aku bernapas sebentar," desah Liora.
"Gideon menghadap Duke," beritahu Sasa.
Liora menegang. "Lalu?"
"Dan Duke terkejut setengah mati mendengar Nyonya sakit," kata Sasa.
Liora duduk tegak. "Apa?"
Duke khawatir? batin Liora.
"Beliau langsung memerintahkan agar tabib dari istana kaisar dipanggil," beritahu Sasa dengan wajah sedikit panik.
Dunia seperti berhenti berputar.
"Apa?" konfirmasi Liora, takut ia salah dengar.
"Tabib istana," ulang Sasa pelan. "Sedang dalam perjalanan."
Liora membeku.
Lalu Liora berseru panik. "Aghh! Kenapa seperti ini?! Tidak. Tidak. Tidak. Ini hanya sakit palsu! Bagaimana bisa Duke memanggil tabib istana!"
Gadis itu bangkit dari tempat tidur, mondar-mandir seperti orang kehilangan akal.
"Kenapa dia harus bereaksi seperti itu?! Kenapa tiba-tiba jadi berurusan dengan istana!" seru Liora yang seperti ingin menelan orang sekarang.
Sasa menelan ludah. "Mungkin karena Anda istrinya, tentu saja Duke jadi khawatir."
"AGH!! SEKETIKA DIA MERASA AKU ISTRINYA SETELAH MENGABAIKANKU SELAMA INI!" raung Liora frustrasi dan sebal dengan situasi yang tidak berjalan sesuai rencananya.
Liora berhenti mendadak.
"Sasa. Cepat. Temui Tabib Aldren," tegas Liora.
Sasa langsung siaga. _Apa yang harus saya katakan?"
"Katakan aku sudah lebih baik. Hanya butuh istirahat. Tidak boleh diganggu siapa pun. Hanya butuh istirahat," kata Liora.
"Termasuk Duke?" tanya Liora.
Liora terdiam. Lalu menjawab, "Terutama Duke."
Sasa mengangguk dan berlari keluar.
Liora menjatuhkan diri kembali ke ranjang, menutup wajah dengan kedua tangan.
"Apa yang kulakukan, seketika jadi seperti medan perang hari ini padahal aku hanya ingin Duke tidak datang malam ini," gumam Liora lelah.
Ia hanya ingin satu malam tenang.
Bukan membuat kekacauan sampai istana kaisar ikut terseret.
Ketukan kecil terdengar di pintu.
Bukan ketukan pelayan dewasa.
Tok. Tok.
"Masuk," ucap Liora lemah. Berharap bukan keributan baru lagi.
Pintu terbuka, menampilkan sosok kecil dengan rambut sedikit berantakan dan mata bulat penuh kekhawatiran.
"Lilola!"
"Rowan?" Liora langsung semangat ketika tahu yang datang bocah kecil kesayangannya.
Bocah itu berlari kecil mendekat, diikuti pelayan penjaga di belakangnya.
"Aku dengal Lilola sakit," kata Rowan cadel. "Lilola sakit apa? Apakah palah? Sudah minum obat?"
"Aku belum minum obat," jawab Liora.
Lalu Rowan mengangkat kotak kecil di tangannya.
"Tapi obat pahit, jadi Lowan bawakan kue," kata sang bocah.
Liora langsung memeluk bocah itu erat.
"Terima kasih," bisik Liora tulus. "Kau manis sekali."
Rowan tersenyum bangga.
Mereka duduk bersama di tepi tempat tidur, membagi kue kecil itu.
"Lilola jangan lupa makan," ujar Rowan serius. "Kalau sakit tidak enak. Tidak bisa lali-lali di taman. Di kamal bosan."
Liora tertawa kecil. "Aku akan makan banyak supaya Rowan tidak khawatir."
Rowan mengangguk puas. Lalu ia mendekat dan berbisik,
"Lowan belitahu lilola sesuatu," kata sang bocah.
Liora ikut mendekat.
"Kalau pelayan kasih obat, nanti Lilola minta ail minum. Telus pas pelayan tidak ada, Lilola sembunyikan obatnya. Bilang sudah minum," bisik Rowan.
Liora terpana. Lalu tersenyum, "Kau pintar sekali."
Rowan tersenyum lebar. "Ini lahacia kita. Jangan bilang siapa-siapa. Janji."
"Aku janji," ucap Liora sambil mengangkat jari kelingkingnya.
Rowan tertawa senang.
Percakapan mereka berlanjut ringan, tanpa beban.
Untuk sesaat, Liora lupa tentang Duke. Tentang rumor. Tentang malam ini.
Hingga senja berubah malam.
Dan langkah kaki berat terdengar di lorong.
Berhenti tepat di depan pintu kamarnya.
Ketukan terdengar.
Bukan pelan.
Bukan ragu.
Liora menoleh.
Pintu terbuka.
Dan di sana ...
Duke Alaric Ravens berdiri di ambang pintu.
Liora tahu ternyata rencananya hari ini gagal total.
btw aku ngebayangin, kalo seandainya di masa Alaric udah ada HP, lagi perang sambi live streaming : hay guys kita lagi siapp² mau perang nih, kita mau musnahin moster, nanti aku kasih tau yaa monster nya itu seperti apa
🤣🤣🤣
hbs nangis ketawa ngakak saat baca
Pipi gembul kesayangan Alaric... menghilang. 🤣🤣🤣
semoga Alaric baik² saja, othor membuyku menangis lagi 😭
ommoooo