Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.
Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kekalahan dan Bayangan Masa Lalu
Heras berniat melangkah, ingin segera bergegas pergi dan memastikan tidak ada lagi sisa kuda laut yang menyebar dan mengancam pemukiman. Namun, apa daya, tubuhnya terasa berat seperti dipenuhi timah. Energi yang tadi meluap-luap kini telah habis tak bersisa.
Cahaya yang menyelimuti tubuhnya perlahan memudar, dan wujud Fisik Luminar yang gagah itu lenyap, kembali menyisakan sosok seorang laki-laki biasa—berambut coklat tebal dan bermata hitam dengan sorot yang biasanya tajam, namun kini terlihat redup. Nafasnya terengah-engah, berat dan tak beraturan. Saat kilau cahaya terakhir menghilang dari kulitnya, kakinya yang tegap tadi tak lagi sanggup menopang beban tubuhnya.
Bruk!
Tubuh Heras jatuh terduduk lalu terbaring di tanah yang berlumpur. Ia tak sanggup menggerakkan satu jari pun. Kesadarannya mulai kabur, dan matanya yang berat perlahan tertutup, menyerah pada kelelahan yang mendalam.
Di sudut gang yang gelap, tersembunyi di balik bayang-bayang tembok rumah, seorang pria berdiri diam. Ia adalah orang yang sebelumnya pernah menolong Heras. Matanya menyipit tajam, alisnya mengerut dalam, menatap pemuda yang kini terbaring tak berdaya itu. Pikirannya berkecamuk, bercampur antara rasa percaya dan ketidakpercayaan yang mendalam.
"Manusia yang menjadi monster? Atau monster yang menjadi manusia?" batinnya bergumam penuh curiga, matanya tak lepas dari sosok Heras sebelum akhirnya ia perlahan menghilang kembali ke dalam kegelapan gang.
Di alam bawah sadarnya, Heras terhanyut dalam sebuah mimpi. Namun, itu bukan mimpi indah. Itu adalah potongan masa lalu yang kelam, kenangan tentang kejadian kebakaran yang tak pernah bisa ia lupakan.
Dalam mimpinya, ia sedang berjoging keliling perumahan, menjalani latihan larinya seperti biasa. Namun, suasana yang tenang itu tiba-tiba terganggu saat ia melihat kerumunan orang yang sangat besar berkumpul di depan salah satu rumah. Hatinya berdebar, rasa was-was menyelinap masuk. Ia mempercepat langkah kakinya, mendekat ke arah keributan itu.
Saat ia sampai, pemandangan yang menyambutnya membuat darahnya berdesir. Sebuah rumah tiga tingkat terbakar hebat. Api merah menyala telah melahap lantai satu dan dua, kini menjilat-jilat menuju lantai paling atas, yang masih tersisa sedikit belum terjamah api.
Fokus Heras tiba-tiba teralihkan pada seorang wanita yang terkulai lemas bersandar di pagar rumah tetangga di depan bangunan yang terbakar itu. Tatapannya kosong, seolah melihat sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain. Kedua tangannya menggenggam kepalanya erat-erat, dan ia terus bergumam dengan suara parau, "Salahku... Cila, di atas... Cila, di atas... sela... selamatkan... Salahku... Cila..."
Heras terkejut saat menengok ke ujung jalan—mobil pemadam kebakaran masih jauh, baru saja bergerak mendekat dan belum sampai. Waktu sangat berharga. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil keputusan secepat kilat. Ia merebut satu ember berisi air dari tangan salah satu warga yang sedang membantu memadamkan api. Warga itu terkejut dan membentak, namun Heras tak peduli. Matanya hanya terpaku pada lantai tiga rumah yang terbakar itu.
Ia melesat masuk ke dalam mulut neraka itu. Asap tebal menyengat hidung, api menghalangi jalan, namun ia terus maju, mencari tangga untuk naik ke atas. Tangga itu sudah terbakar, kayunya menghitam dan rapuh, membuatnya kesulitan untuk menerjang. Ia terus memanjat, melawan rasa sakit yang menyengat saat kulit kakinya tersentuh api dan besi panas. Kakinya melepuh, perihnya luar biasa, namun ia mengabaikannya. Ia harus naik.
Akhirnya, ia sampai di lantai tiga. Area ini memang belum tersentuh api, namun asap hitam pekat telah berkumpul di sana, membuat ruangan itu gelap gulita, tak ada secercah cahaya pun yang bisa masuk. Heras bergegas masuk ke satu-satunya ruangan yang pintunya terbuka—tempat di mana anak kecil itu berada.
Ia mencari-cari di tengah kegelapan dan asap yang membuatnya sulit bernapas. Saat ia menemukan gadis kecil itu, ia langsung melihat jendela kaca tertutup di sisi ruangan. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorong dan melempar sebuah meja besar yang ada di dekatnya ke arah jendela itu.
BRAKK!
Kaca jendela pecah berantakan, dan meja itu jatuh terlempar ke bawah. Suara pecahan kaca itu terdengar jelas oleh semua orang di bawah, termasuk para petugas pemadam kebakaran yang baru saja tiba. Mereka mendongak dan melihat gadis kecil itu berdiri di ambang jendela, kedua tangannya memegang erat pinggang Heras.
Para petugas dengan sigap mengambil trampolin penyelamat dan memposisikannya tepat di bawah jendela. Heras dengan hati-hati menurunkan dan menjatuhkan gadis kecil itu. Ia memantul dengan aman di atas trampolin dan langsung ditangkap oleh petugas yang sudah bersiap.
Selamat. Gadis itu selamat.
Namun, saat giliran Heras yang hendak melompat menyusul, malapetaka terjadi. Asap yang terkumpul pekat di ruangan itu seketika meledak karena aliran udara baru yang masuk dari jendela yang pecah. Ledakan itu menghantam tubuh Heras dengan keras, melemparnya jauh dari area trampolin.
Ia terlempar melintasi udara, menabrak dinding rumah tetangga di sebelahnya dengan bunyi yang memekakkan telinga, lalu jatuh bebas ke tanah. Kakinya mendarat pertama kali, menahan seluruh beban tubuhnya dan hantaman gravitasi.
"AAAAAAHHHH!!!"
Heras berteriak sekuat tenaga, kesakitan luar biasa meledak di kakinya. Ia bisa merasakan tulang-tulang di kakinya hampir remuk total.
Dan seketika... Heras terbangun.
Ia mendapati dirinya berbaring di ruangan rumah sakit yang sama persis dengan ruangan di mana ia dirawat dulu. Hari sudah malam, dan lampu di ruangan itu mati, membuat ruangan itu remang-remang gelap. Keringat dingin membasahi dahi dan punggungnya, napasnya tersengal-sengal saat bayangan kejadian mengerikan itu masih begitu jelas di depan matanya.