Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Adrian berdiri di dekat meja minuman dengan gelas yang sudah dua kali minum wine dengan satu kali tegukan sampai habis.
Ia tidak minum untuk menikmati minumannya. Ia minum untuk melakukan sesuatu dengan tangannya, sesuatu selain mengepalkan jari-jarinya setiap kali matanya kembali ke arah balkon di sisi ballroom itu.
Elena dan Leon. Berdiri bersama. Berbicara. Dengan cara yang terlihat sangat natural untuk dua orang yang katanya baru saling kenal.
Adrian mengambil kembali gelas yang baru dan kembali meneguk minumannya. Kepala nya mulai sedikit berat karena pengaruh wine yang ia minum tanpa takaran.
"Mereka terlihat akrab ya."
Suara Clara di sampingnya, lembut, pelan, dengan nada yang terdengar seperti perhatian tapi Adrian sudah cukup kenal Clara untuk tahu bahwa tidak ada yang keluar dari mulut perempuan itu tanpa tujuan.
"Siapa?" Adrian tidak menoleh.
"Leon Raffael dan Elena tentu saja." Clara berdiri di sampingnya dengan gelas wine di tangannya, menatap ke arah balkon yang sama. "Kamu tahu, Leon Raffael adalah orang paling berpengaruh di ruangan ini malam ini. Raffael Capital Group, investasi, perbankan, properti. Semua orang ingin dekat dengan dia." Ia mengambil seteguk winenya. "Termasuk Elena rupanya."
Adrian tidak menjawab.
"Wajar sih." Clara melanjutkan dengan nada yang sangat ringan. "Elena sekarang sudah berbeda. Sudah kembali ke dunianya yang lama. Orang-orang seperti Leon Raffael itu lingkaran yang memang sudah selalu ada di sekitar keluarga Wirawan." Ia melirik Adrian dari sudut matanya. "Kamu tidak tahu ya waktu dulu? Tentang siapa saja yang ada di lingkaran keluarganya?"
"Clara...."
"Aku tidak bilang apa-apa." Clara mengangkat bahunya sedikit. "Aku hanya bilang mereka terlihat akrab. Mungkin sudah kenal lama. Mungkin...." ia berhenti sebentar, "lebih dari sekedar mitra bisnis."
Adrian meletakkan gelasnya di meja. Terlalu keras hingga sisa wine di dalam nya ikut keluar.
Clara menatap gelasnya yang hampir jatuh. Lalu menatap Adrian dengan ekspresi yang terlihat seperti khawatir. "Adrian, kamu baik-baik saja?"
"Baik-baik saja." Rahangnya mengeras.
Clara menyentuh lengannya pelan. "Jangan lakukan sesuatu yang bodoh."
"Aku tidak akan lakukan apa-apa." Adrian sudah termakan omongan Clara. "Aku hanya akan memberi Elena pelajaran."
Clara mengangguk pelan. Menarik tangannya. Dan menatap ke arah balkon itu lagi dengan senyum yang sangat tipis yang tidak dilihat Adrian karena Adrian sudah melangkah meninggalkan nya.
Elena merasakan sesuatu berubah di ruangan itu sebelum ia melihat Adrian bergerak ke arahnya. langkah kaki yang tergesa-gesa. Tidak terukur.
"Elena."
Ia tidak menoleh dulu. Ia mengambil seteguk air mineralnya dengan tenang sebelum akhirnya berpaling.
Adrian berdiri di depan mereka, wajahnya merah bukan karena minuman saja, tapi karena api cemburu yang membara di dadanya. Matanya pergi dari Elena ke Leon lalu kembali ke Elena dengan cara yang sangat jelas apa artinya.
"Adrian." Elena menjawab dengan nada yang sama seperti ia menyapa tamu bisnis tadi malam. Datar. Profesional.
"Aku perlu bicara sama kamu." Adrian berkata. Matanya tidak lepas dari Leon. "Berdua saja."
"Ini bukan waktu yang tepat, dan lagi tidak ada yang perlu aku bicarakan denganmu."
"Aku bilang kita perlu bicara, Elena." Suaranya naik satu nada.
Beberapa kepala di sekitar mereka menoleh.
Leon berdiri diam di sampingnya, tidak bergerak, tidak bicara, tapi ada sesuatu di cara ia berdiri yang berubah. Seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu tapi belum perlu menunjukkannya.
"Adrian." Elena menatapnya langsung. "Kamu sedang di acara keluargaku . Di hotel keluarga ku. Dengan banyak tamu di sekitar kita." Suaranya pelan tapi sangat jelas. "Jadi aku sarankan kamu turunkan nada suaramu."
"Aku tidak peduli, Elena"
"Aku peduli." Elena memotong. "Karena kamu adalah tamu di sini. Dan aku yang akan memutuskan apakah kamu tetap jadi tamu atau tidak."
Adrian terdiam sebentar. Lalu matanya pergi ke Leon. "Kamu siapa?"
Leon menatapnya. "Leon."
"Leon siapa?"
"Leon Raffael." Leon menjawab dengan nada yang sangat datar, nada orang yang tidak merasa perlu menjelaskan dirinya lebih jauh.
Sesuatu di wajah Adrian bergerak, ia tambah yakin dengan omongan Clara barusan, matanya langsung berubah. Tapi kecemburuannya sudah terlalu besar untuk membuat kalkulasi yang jernih.
"Kamu kenal Elena dari mana?" Adrian bertanya dengan nada yang tidak bisa disembunyikan isinya.
"Urusan bisnis." Leon menjawab singkat.
"Bisnis." Adrian tertawa kecil, tawa yang tidak ada lucunya. "Kalian berdiri di pojok sini dari tadi bukan seperti urusan bisnis."
"Adrian." Elena menyela dengan nada yang sangat tenang. "Cukup."
"Tidak, Elena." Adrian berpaling ke Elena. "Kamu istriku, Elena. Kamu masih istriku. Dan aku punya hak untuk...."
"Hak?" Elena memiringkan kepalanya sedikit. "Kamu datang ke acara ini sebagai tamu PT. Claresta. Bukan sebagai suamiku. Karena suamiku sudah lama tidak menjalankan fungsinya sebagai suami." Ia menatap Adrian langsung. "Jadi tidak ada hak yang perlu kamu klaim di sini."
Beberapa tamu di sekitar mereka sudah tidak berpura-pura melanjutkan percakapan mereka.
"Aku tidak akan tanda tangan surat cerai itu." Adrian menurunkan suaranya tapi tidak kehilangan panasnya. "Tidak peduli kamu mau bawa siapapun ke sini. Tidak peduli nama Wirawan atau Raffael atau siapapun. Kita masih menikah dan aku tidak akan... "
"Pak Adrian." Leon terpaksa berbicara
Leon berbicara dengan nada yang rendah dan sangat terukur. Tidak keras. Tidak mengancam. Tapi ada sesuatu di baliknya yang membuat Adrian berhenti bicara sebelum menyadari mengapa ia berhenti.
"Ini bukan tempat untuk percakapan seperti ini." Leon menatap Adrian dengan cara yang sangat tenang. "Kamu sedang mempermalukan diri sendiri di depan banyak orang. Aku sarankan kamu berhenti sekarang."
Adrian menatapnya sebentar.
"Kamu tidak ada urusan dengan ini." Adrian menatap penuh kebencian pada Leon.
"Benar." Leon mengangguk. "Aku tidak ada urusan." Ia kembali berkata, "tapi semua orang di ruangan ini punya urusan sekarang. Karena mereka semua melihat."
Adrian melihat sekeliling dan baru sekarang ia benar-benar melihat. para tamu yang berada dlaam jarak yang dekat dengan balkon mulai memperhatikan. Bisikan-bisikan kecil yang sudah mulai bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain.
Dan di sudut ruangan Hendra Wirawan berdiri dengan tangan di saku celananya, menatap ke arah mereka dengan ekspresi yang tidak perlu diterjemahkan.
Di sampingnya dua orang satpam hotel sudah bergerak pelan ke arah yang sama.
Adrian melihat itu. Rahangnya mengeras.
Ia melihat Elena satu kali lagi, Elena yang berdiri dengan postur yang tidak berubah satu milimeter pun sejak Adrian datang, dengan ekspresi yang tidak menunjukkan marah, tidak menunjukkan takut, tidak menunjukkan apapun kecuali kesabaran yang sangat lelah.
Adrian mengambil napas panjang. Lalu ia berbalik dan berjalan pergi melewati tamu-tamu yang menepi sedikit saat ia lewat, melewati meja minuman yang sudah tidak ia sentuh lagi, menuju pintu keluar dengan langkah yang tergesa-gesa.
Clara sudah tidak ada di dekat meja minuman. Ia sudah berdiri di kelompok tamu yang lain sejak tadi, tertawa kecil atas sesuatu yang seseorang katakan, wajahnya tenang, senyumnya sempurna.
Seperti tidak tahu apa-apa. Seperti tidak ada hubungannya dengan apapun yang baru saja terjadi.
Hendra Wirawan berjalan ke arah Elena setelah Adrian pergi. Ia berdiri di samping anaknya sebentar, menatap pintu keluar yang masih bergoyang pelan.
"Kamu baik-baik saja?" Ia bertanya pelan.
"Baik-baik saja, Yah."
Ayahnya menatapnya sebentar. Lalu menatap Leon dengan cara yang singkat, cara seorang ayah yang sedang menilai sesuatu tanpa perlu mengatakannya.
Leon mengangguk sedikit ke arahnya. Hendra Wirawan mengangguk balik.
Lalu ia berbalik dan kembali ke tamunya dengan langkah yang tenang, dengan wajah yang tidak menunjukkan apapun yang tidak perlu ditunjukkan.
Ruangan itu kembali ke ritmenya sendiri, musik mengalun lagi, percakapan kembali mengalir, gelas-gelas kembali beradu pelan.
Elena menatap pintu keluar yang sudah tidak bergoyang lagi.
"Maaf." Ia berkata ke Leon. "Harusnya tidak terjadi di sini."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan." Leon menjawab singkat, "ini bukan salahmu."
Elena menatapnya sebentar. Lelaki yang dua kali ada di tempat yang tepat di waktu yang tidak ia rencanakan, di parkiran basement, dan sekarang di sini. Ia tidak tahu harus memikirkan apa tentang itu.
"Aku harus kembali ke tamu." Elena berkata.
Leon mengangguk. "Selamat malam, Elena."
"Selamat malam juga, Leon."
Elena berjalan kembali ke tengah ruangan dengan langkah yang sama terukurnya seperti saat ia masuk tadi, dengan wajah yang sama tenangnya, seperti tidak ada yang terjadi.
Di sudut ruangan Clara menatap punggung Elena yang menjauh. Senyumnya tidak berubah. Tapi matanya, matanya menyimpan sesuatu yang sangat berbeda dari senyum itu.
Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang sedang merencanakan sesuatu yang baru.
Elena Wirawan. Clara mengambil seteguk winenya, lalu bergumam dalam hati. Ini baru permulaan.