NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Harapan Muncul

Bab 11: Harapan Muncul

Jam istirahat pertama di SMA 3 Tanjungbalai biasanya adalah waktu yang paling bising. Suara denting sendok beradu dengan piring dari arah kantin, teriakan siswa yang berebut bola di lapangan, hingga tawa keras sekelompok murid di koridor menciptakan orkestra kehidupan yang normal. Namun, bagi Rafi, dunia seolah-olah diredam oleh sekat kaca yang tebal.

Ia duduk di bangku kayu di bawah pohon ketapang yang rindang, jauh dari kerumunan. Di depannya, sebuah kotak makan plastik berisi nasi putih dengan sejumput garam dan sisa sambal teri semalam terlihat tidak menarik. Nafsu makannya telah menguap sejak ia melihat status Online Nisa di angkot tadi pagi.

Secara fisiologis, perutnya lapar. Secara psikologis, ia berada di titik nadir. Ia mengeluarkan ponselnya dengan gerakan ragu.

Baterainya kini tinggal 9 persen—sebuah angka kritis yang memaksa sensor penghemat daya aktif, meredupkan layar hingga ia harus menyipitkan mata.

Ia membuka WhatsApp. Dua centang biru belum juga muncul. Pesannya masih abu-abu, seolah-olah menolak untuk memberi kepastian.

"Mungkin ini akhirnya," gumam Rafi skeptis.

"Secara statistik, jika pesan ajakan tidak dibalas dalam 12 jam pertama, probabilitas jawaban 'Ya' menurun hingga di bawah sepuluh persen."

Ia mulai menyuapkan nasi garam itu ke mulutnya. Rasanya hambar, seasin ekspektasinya yang mulai luruh. Namun, saat ia baru saja akan mengunyah suapan kedua, sebuah getaran panjang terasa di telapak tangannya.

Zzzzzzt... Zzzzzzt...

Rafi tersedak. Ia terbatuk-batuk kecil sambil buru-buru menelan nasinya. Matanya terpaku pada layar. Sebuah bar notifikasi muncul di bagian atas.

Nisa SMK

Jantung Rafi melakukan lompatan kuantum. Ia segera menyentuh notifikasi itu. Masuk ke ruang obrolan. Dan di sana, di bawah nama Nisa, sebuah kata muncul. Kata yang bagi orang lain biasa saja, tapi bagi Rafi adalah sebuah keajaiban digital.

Typing...

Rafi menahan napas. Suhu udara di bawah pohon ketapang yang tadinya panas tiba-tiba terasa sejuk. Tulisan Typing... atau Sedang mengetik... itu muncul dengan ritme yang tidak stabil. Muncul selama tiga detik, hilang selama dua detik, lalu muncul lagi.

Secara analitis, ini adalah fase kritis. Nisa sedang menyusun kata-kata. Rafi bisa membayangkan jempol Nisa bergerak di atas layar, menghapus, mengetik ulang, persis seperti yang ia lakukan semalam. Ini membuktikan satu hal: Nisa tidak mengabaikannya. Nisa sedang memikirkan jawabannya.

"Ayo... ketik 'Boleh'... cuma lima huruf, Nis," bisik Rafi pada layar ponselnya yang mulai berkedip karena lowbat.

Sepuluh detik berlalu. Typing... menghilang.

Dunia Rafi kembali gelap. Ia menatap layar dengan nanar. Satu menit... dua menit... Nisa kembali Online, tapi tidak ada tulisan mengetik.

"Apa dia berubah pikiran?" pikir Rafi, kecemasannya kembali merayap naik. "Apa dia baru saja mengetik penolakan yang panjang, lalu merasa kasihan dan menghapusnya lagi?"

Rigoritas mentalnya kembali diuji. Di Tanjungbalai, harapan sering kali datang seperti pasang air laut; cepat naik, namun bisa surut dalam sekejap meninggalkan sampah dan lumpur. Rafi memperhatikan indikator baterai. 8 persen. Ponselnya seolah-olah sedang sekarat di saat yang paling menentukan.

Tiba-tiba, tulisan Typing... muncul kembali. Kali ini lebih lama. Lima detik... tujuh detik... sepuluh detik...

Rafi meletakkan kotak makannya di samping. Ia memegang ponsel dengan kedua tangan, seolah sedang memegang barang pecah belah yang sangat mahal. Ia tidak berani berkedip. Ia mengabaikan keringat yang mengalir dari pelipisnya. Fokusnya hanya pada garis hijau di bawah nama itu.

Bagi Rafi, setiap detik typing adalah representasi dari setiap rupiah yang ia tabung. Itu adalah harga dari nasi garam, harga dari lem sepatu, dan harga dari begadang mengetik tugas Doni.

Lalu, tulisan itu hilang lagi. Digantikan oleh status Online.

Rafi merasa ingin berteriak frustrasi. "Nis, kalau nggak mau bilang aja, jangan digantung begini!" batinnya berteriak. Secara logis, ketidakpastian adalah pemborosan energi emosional yang tidak efisien.

Namun, tepat saat ia akan mematikan layar karena putus asa, sebuah suara denting notifikasi yang nyaring memecah kesunyian di bawah pohon ketapang.

Ping!

Sebuah gelembung pesan muncul di sisi kiri layar. Hanya satu kalimat. Pendek. Tanpa emotikon. Tanpa basa-basi.

Nisa SMK: "Boleh, jam berapa?"

Rafi membeku. Ia membaca kalimat itu berulang-ulang, memastikan matanya tidak salah lihat karena layar yang redup. Boleh, jam berapa? Empat kata. Satu tanda tanya. Tapi dampaknya bagi Rafi lebih besar daripada ledakan petasan di malam tahun baru.

Harapan yang tadinya hampir mati kini meledak menjadi sukacita yang meluap. Secara emosional, ia merasa baru saja memenangkan lotre kelas kakap. Nisa setuju. Nisa mau menemaninya ke Kisaran. Perjuangan mengumpulkan 315 ribu rupiah itu kini memiliki tujuan yang valid.

"Ya! Dia mau!" seru Rafi spontan, membuat seorang adik kelas yang lewat menoleh dengan tatapan heran.

Rafi tidak peduli. Ia segera menyentuh kolom balas. Ia ingin membalas secepat kilat, tapi ia teringat aturan main digital: jangan terlihat terlalu bersemangat. Ia harus menjaga sisa-sisa martabatnya. Secara analitis, ia harus memberikan jawaban yang menunjukkan bahwa dia adalah pria yang terorganisir.

Ia mulai mengetik: "Jam 9 pagi di Terminal ya? Biar nggak terlalu panas."

Lalu ia melihat angka baterainya. 7 persen. Layarnya berkedip merah.

"Jangan mati dulu! Kumohon, jangan mati sekarang!" pintanya pada ponsel Android-nya.

Ia menekan tombol kirim secepat kilat. Pesan terkirim. Centang dua abu-abu langsung muncul. Rafi mematikan layar ponselnya untuk menghemat daya yang tersisa. Ia menyandarkan punggungnya ke batang pohon ketapang, mengembuskan napas panjang yang terasa sangat melegakan.

Langit Tanjungbalai yang tadinya tampak kusam kini terlihat sedikit lebih cerah. Aroma nasi garam yang tadinya hambar kini terasa lebih lumayan.

Harapan bukan lagi sekadar abstrak; harapan itu kini memiliki jadwal. Sabtu. Jam 9 pagi.

Rafi mengambil sisa nasinya dan mengunyahnya dengan semangat baru. Secara ekonomi, defisit emosionalnya telah tertutupi oleh laba kebahagiaan yang besar. Namun, ia menyadari satu hal: ini baru permulaan. Masih ada sisa blok persiapan yang harus ia selesaikan sebelum benar-benar berdiri di depan Nisa.

Ia harus memastikan kemeja flanelnya rapi. Ia harus memastikan lem sepatunya tidak retak saat berjalan ke terminal. Dan yang paling penting, ia harus menjaga agar sisa 315 ribu itu tidak terpakai untuk keperluan mendadak lainnya.

"Permainan belum selesai, Rafi," katanya pada diri sendiri dengan senyum tipis. "Tapi setidaknya, hari ini aku menang."

Notifikasi terakhir muncul di layar yang hampir mati, memberitahukan bahwa pesan telah dibaca (centang biru). Nisa tidak membalas lagi, tapi bagi Rafi, persetujuan itu sudah cukup untuk menerangi sisa harinya di sekolah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!