Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Luka yang Berdarah di Dua Tubuh
Kesadaran Valerie perlahan kembali di tengah rasa dingin yang menyengat dan denyut perih yang membakar punggungnya. Ia tidak lagi berada di ruang kerja Ayah Jerome yang mencekam. Bau cerutu dan atmosfer intimidasi itu telah berganti dengan aroma kayu cendana dan peppermint yang sangat ia kenali.
Ia berada di kamar Jerome.
Valerie mencoba menggerakkan bahunya, namun rasa sakit langsung menghujam sarafnya. "Akh..." rintihnya tertahan.
"Jangan bergerak, Valerie. Tetaplah pada posisi tengkurap."
Suara itu rendah, serak, dan penuh dengan kesedihan yang tertahan. Valerie merasakan tangan besar yang biasanya kaku dan tegas itu kini menyentuh helai rambutnya dengan sangat lembut, menyingkirkannya dari leher yang berkeringat dingin. Jerome duduk di tepi tempat tidur, mengenakan kaus hitam santai, namun wajahnya tampak hancur. Matanya merah, dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya yang tegas. Di sampingnya, sebuah kotak P3K terbuka lebar.
Tangan Jerome gemetar saat ia perlahan menggunting bagian belakang gaun malam Valerie yang telah ternoda darah kering. Setiap inci kain yang ia tarik dari kulit yang melepuh itu membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
Dan yang lebih mengerikan... rasa sakit itu benar-benar berpindah padanya.
Punggung Jerome terasa seperti sedang disulut api. Setiap kali kapas beralkohol menyentuh luka Valerie, Jerome meringis dengan gigi bergemeletak, menahan perih yang sinkron secara ajaib. Namun, rasa sakit fisik ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sesak di dadanya melihat garis merah panjang yang merusak kulit putih mulus wanita itu.
"Maafkan aku..." bisik Jerome, suaranya pecah berkeping-keping.
Ia menatap luka cambuk itu dengan tatapan kosong. Begitu dalam. Begitu nyata. Ini adalah luka yang seharusnya mendarat di punggungnya, namun gadis yang sepuluh tahun lebih muda darinya ini justru menjadi tameng nyawanya.
"Kenapa kau lakukan itu, Valerie? Kau bisa saja mati..."
Jerome tidak bisa menahannya lagi. Air mata yang selama bertahun-tahun ia pendam jatuh begitu saja. Ia, Jerome Renfred yang dikenal sebagai iblis tanpa perasaan di dunia bisnis, kini menangis tersedu-sedu di depan wanita yang hampir ia hancurkan dengan egonya. Ia menundukkan kepala, menciumi bahu Valerie yang tidak terluka dengan penuh penyesalan.
"Aku gagal... Aku bilang aku akan melindungimu, tapi aku justru membuatmu berdarah di depan mataku sendiri."
Bayangan mimpi buruk itu kembali menghantui—api yang melahap Valerie di gudang tua. Di kehidupan itu ia gagal, dan sekarang, di kehidupan ini pun ia hampir membiarkan Valerie hancur lagi. Rasa gagal itu mencekik Jerome lebih hebat dari cambukan mana pun.
Valerie merasakan tetesan air hangat jatuh di punggungnya. Ia tersentak pelan. Jerome... dia menangis?
Pria yang ditakuti seluruh kota ini sedang menangis tersedu-sedu sambil mengobati lukanya. Valerie bisa merasakan getaran di tubuh Jerome setiap kali pria itu mengoleskan salep. Jerome tidak hanya sedang mengobatinya, ia sedang ikut menderita bersamanya secara fisik dan batin.
"Om Jerome..." panggil Valerie lirih, mencoba menoleh sedikit.
"Diamlah, Val. Biarkan aku menyelesaikan ini," ucap Jerome sambil terisak pelan. Ia mengusap air matanya dengan kasar menggunakan lengan baju, lalu kembali fokus membalut luka Valerie dengan kain kasa putih yang bersih.
Setelah selesai, Jerome menyelimuti Valerie dengan sangat hati-hati. Ia tidak beranjak pergi, melainkan berlutut di samping tempat tidur, menggenggam tangan Valerie dan menciuminya berulang kali.
"Mulai detik ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu, bahkan Ayahku sekalipun," Jerome bersumpah dengan mata yang memancarkan obsesi dan perlindungan mutlak. "Siapa pun yang membuatmu berdarah, akan kupastikan mereka membayar dengan nyawa. Dan satu lagi... jangan panggil aku paman kecil, atau om. Aku akan menjadi suamimu, Val."
Valerie menatapnya dengan haru. Ikatan rasa sakit ini mungkin bukan kutukan, mungkin ini adalah cara semesta agar Jerome benar-benar tahu seberapa besar Valerie menghargai nyawanya di kehidupan ini.
"Jerome," bisik Valerie pelan. "Rasa sakitnya sudah berkurang. Jangan menangis lagi."
Jerome menatapnya dalam-dalam, lalu mengecup kening Valerie dengan lama. "Tidurlah. Aku akan menjagamu di sini. Aku tidak akan membiarkan api atau cambuk mana pun mendekatimu lagi."
...****************...