Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Gesekan Dan Korosi
Hutan jati di selatan Kendal tampak angker di bawah rembulan yang tertutup awan mendung. Di tengah kesunyian itu, terdengar deru napas teratur dari sekelompok pria yang bersembunyi di balik semak belukar. Jatmika berjongkok di barisan paling depan, matanya tajam menatap jalur jalan raya pos yang diperkeras dengan batu-batu kali—jalur utama pengiriman kopi dan nila dari pedalaman menuju gudang-gudang di pelabuhan.
"Jatmika, mereka datang," bisik Darman sambil menunjuk ke arah timur.
Cahaya obor terlihat bergoyang di kejauhan. Tak lama kemudian, suara derit roda kayu yang berat dan ringkikan kuda mulai terdengar. Itu adalah iring-iringan lima kereta kuda besar milik pemerintah kolonial, masing-masing ditarik oleh empat ekor kuda perkasa. Setiap kereta dijaga oleh dua serdadu pribumi bersenjata senapan sundut dan satu opsir Belanda yang menunggang kuda di barisan depan.
"Ingat rencana kita," ucap Jatmika dengan suara rendah yang penuh otoritas. "Jangan ada yang keluar sebelum aku memberi tanda. Kita tidak akan melawan mereka dengan bedil. Kita akan melawan mereka dengan hukum alam."
Suro, yang berada di sisi lain jalan, mengangguk. Di tangannya, ia memegang tali penarik yang terhubung ke sebuah mekanisme sederhana di bawah tumpukan daun kering.
Jatmika telah menghabiskan tiga hari terakhir di laboratorium rawa-rawanya untuk menciptakan dua hal: Pelumas Pasir dan Cairan Korosif Asam Kuat.
Ia tahu bahwa kereta-kereta Belanda itu menggunakan poros roda dari besi cor yang terus-menerus diberi minyak agar putarannya lancar. Jika poros itu macet, kereta seberat dua ton berisi komoditas ekspor itu akan menjadi rongsokan yang diam di tempat.
Saat iring-iringan kereta itu tepat berada di titik yang telah ditentukan, Jatmika mengangkat tangannya. "Sekarang!"
Suro menarik tali. Bukan ledakan yang terjadi, melainkan robohnya sebuah pohon jati kecil yang telah digergaji sebagian, melintang tepat di depan kuda opsir Belanda. Kuda itu terkejut, meringkik keras, dan menciptakan kekacauan seketika.
"Serangan! Pemberontak!" teriak sang opsir sambil mencabut pedangnya.
Para serdadu penjaga segera mengarahkan senapan mereka ke arah hutan, menembak membabi buta ke arah semak-semak yang kosong. Di tengah kepulan asap mesiu hitam yang pekat dan menyesakkan, Jatmika dan tiga orang pemuda yang paling lincah bergerak seperti bayangan. Mereka tidak menyerang manusia. Mereka merayap di bawah badan kereta yang tinggi.
Jatmika memegang sebuah botol bambu berisi campuran bubuk kuarsa (pasir halus) yang telah direndam dalam asam sulfat pekat—hasil penyulingan belerang dan vitriol yang ia lakukan di rawa. Dengan gerakan cepat, ia menyiramkan cairan kental itu tepat ke celah poros roda kereta.
Desisss...
Suara korosi kimiawi itu tertutup oleh teriakan-teriakan panik para serdadu. Asam sulfat itu segera bereaksi dengan besi cor, menciptakan karat instan yang kasar, sementara bubuk kuarsa bertindak sebagai pengelas alami yang akan menghancurkan permukaan halus bantalan poros.
"Mundur!" perintah Jatmika setelah botol ketiganya kosong.
Mereka menghilang kembali ke dalam kegelapan hutan sebelum para serdadu sempat menyadari apa yang terjadi. Opsir Belanda itu berhasil mengendalikan kudanya dan memerintahkan pasukannya untuk maju. "Abaikan pohon itu! Tabrak saja! Kita harus sampai di pelabuhan sebelum fajar!"
Para kusir mencambuk kuda-kuda mereka dengan keras. Kereta-kereta itu mulai bergerak maju, melompati dahan-dahan pohon yang melintang. Namun, baru berjalan sekitar seratus meter, bencana sesungguhnya dimulai.
KRIEEEEEKKKK!
Suara gesekan logam yang memekakkan telinga merobek kesunyian malam. Poros roda kereta pertama tiba-tiba memerah karena panas yang ekstrem akibat gesekan pasir kuarsa yang terperangkap. Dalam hitungan detik, besi yang terkorosi itu memuai dan mengunci mati.
Roda kereta itu berhenti berputar secara mendadak. Karena momentum beban yang sangat berat, as roda itu patah dengan bunyi dentuman keras. Kereta itu miring, terguling, dan menumpahkan puluhan karung kopi ke tanah berlumpur.
Hal yang sama terjadi pada kereta kedua dan ketiga. Suara jeritan besi yang beradu dengan pasir menciptakan simfoni kehancuran bagi logistik Belanda.
"Apa yang terjadi?! Kenapa rodanya bisa patah semua?!" teriak sang opsir Belanda dengan wajah pucat. Ia turun dari kuda, mencoba memeriksa poros roda, namun ia segera menarik tangannya kembali karena panas yang menyengat. Ia melihat cairan kuning kehijauan yang berbuih di sela-sela besi yang hancur. "Ini... ini bukan kerusakan biasa. Ini sabotase kimia!"
Dari kegelapan hutan, Jatmika mengamati pemandangan itu dengan senyum dingin. Ia tidak butuh satu peluru pun untuk menghancurkan pengiriman senilai ribuan gulden itu.
"Darman, ambil karung-karung yang jatuh itu. Tapi jangan semuanya. Sisakan sebagian agar mereka mengira ini hanya perampokan biasa," perintah Jatmika.
Suro dan anak buahnya segera bergerak. Dengan efisiensi yang telah dilatih Jatmika, mereka mengangkut beberapa karung komoditas berharga itu untuk modal perjuangan mereka, lalu menghilang kembali ke jalur rahasia di dalam rawa.
Malam itu, kerugian Hindia Belanda bukan hanya soal materi. Sang opsir, yang belakangan diketahui bernama Letnan De Klerk, gemetar saat melihat pola kerusakan yang begitu sistematis. Ia tahu, para pemberontak yang mereka hadapi kali ini tidak menggunakan keris atau tombak. Mereka menggunakan sesuatu yang jauh lebih menakutkan bagi peradaban Eropa: Sains.
Kembali di markas rawa, Jatmika disambut sebagai pahlawan. Namun, ia segera menenangkan massa.
"Jangan sombong," ucap Jatmika di depan api unggun. "Besok, Belanda akan mengirim teknisi dan intelijen untuk meneliti sisa-sisa kereta itu. Mereka akan tahu bahwa ada 'orang pintar' di balik ini. Kita harus bersiap untuk eskalasi yang lebih besar. Kang Suro, aku butuh kamu mencari tahu siapa perwira Belanda yang paling ahli di wilayah ini. Kita harus tahu siapa otak yang akan mereka kirim untuk memburu kita."
Jatmika duduk sendirian di sudut gubuknya, memandangi tangannya yang sedikit terkena percikan asam. Ia tahu, babak baru telah dimulai. Ia bukan lagi sekadar pelarian yang bertahan hidup. Ia adalah sabotase berjalan.