NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Membeli Kebebasan

Malam itu, di dalam mobil Adrian yang melaju tenang membelah kemacetan Jakarta, Hana terus mendekap tas plastik berisi dokumen-dokumennya. Baginya, plastik tipis itu terasa lebih berharga daripada bongkahan emas. Di dalamnya ada ijazah yang dia perjuangkan dengan kuliah malam sambil bekerja, paspor yang belum pernah mendapat cap visa karena Aris selalu menolak menabung untuk liburan, dan yang paling penting: sertifikat tanah peninggalan almarhum ayahnya.

"Kamu ingin makan sesuatu sebelum kita kembali ke apartemen?" tanya Adrian. Suaranya rendah, seolah tidak ingin memecah keheningan reflektif yang sedang menyelimuti Hana.

Hana menggeleng pelan. "Terima kasih, Adrian. Tapi perut saya masih terasa penuh. Bukan karena makanan, tapi karena rasa lega yang menyesakkan."

Adrian mengangguk paham. Dia tidak memaksa. "Besok adalah hari besar. Baskara, pengacara yang saya rekomendasikan, akan mengirimkan draf gugatan cerai ke kantormu untuk kamu tinjau. Setelah kamu tanda tangani, dia akan langsung mendaftarkannya ke Pengadilan Agama."

Hana menoleh, menatap profil samping wajah Adrian yang diterpa lampu jalanan yang berpendar. "Kenapa kamu melakukan ini semua untukku? Ini sudah jauh melampaui tugas seorang atasan kepada bawahannya."

Adrian terdiam sejenak. Tangannya yang kokoh memutar kemudi dengan lihai. "Karena saya benci melihat potensi yang sia-sia, Hana. Kamu adalah salah satu perencana keuangan terbaik yang pernah saya temui. Melihatmu layu karena urusan domestik yang beracun itu seperti melihat aset berharga yang dibiarkan berkarat. Saya hanya membantu membersihkan karatnya. Selebihnya, kamu yang akan bersinar sendiri."

Jawaban itu sangat logis, sangat Adrian. Tidak ada gombalan, tidak ada janji manis. Hanya pengakuan atas kompetensi. Dan bagi Hana, itu jauh lebih menghargai martabatnya daripada rayuan mana pun.

Keesokan paginya, Hana datang ke kantor lebih awal. Dia mengenakan kemeja berwarna emerald yang dipadukan dengan celana kulot putih. Rambutnya yang biasa diikat sembarang, kini ditata rapi. Ada aura berbeda yang terpancar; bukan lagi aura "istri yang tertekan", melainkan "wanita profesional yang berbahaya".

Sekitar pukul sepuluh, seorang pria berpakaian rapi dengan tas jinjing kulit mahal datang mencarinya. Itu adalah Baskara. Mereka duduk di ruang rapat kecil yang tertutup.

"Ini drafnya, Ibu Hana," ujar Baskara sambil menyerahkan map biru. "Saya memasukkan gugatan cerai dengan alasan perselisihan terus-menerus dan penelantaran emosional. Saya juga mencantumkan permohonan agar pengadilan menyatakan harta peninggalan ayah Anda adalah harta bawaan yang tidak boleh diganggu gugat sebagai harta gono-gini."

Hana membaca setiap baris dengan teliti. Dia memastikan tidak ada satu pun kata yang salah, tidak ada satu pun celah yang bisa digunakan Aris untuk menariknya kembali. Saat ujung pulpennya menyentuh kertas dan menorehkan tanda tangan, Hana merasa seolah dia sedang menandatangani surat pembebasannya dari penjara bawah tanah.

"Selesai," bisik Hana.

"Baru dimulai, Bu Hana," koreksi Baskara dengan senyum tipis. "Sore ini, kurir pengadilan akan mengantarkan salinan ini ke rumah suami Anda. Siapkan mental, karena biasanya ini adalah saat di mana pihak lawan akan meledak."

Prediksi Baskara tepat sasaran.

Menjelang jam pulang kantor, telepon meja Hana berdering tanpa henti. Karena sudah memblokir nomor Aris dan ibunya di ponsel pribadi, mereka mulai meneror jalur resmi kantor. Hana tidak mengangkatnya. Namun, dia tahu dia tidak bisa selamanya bersembunyi di kantor Adrian.

"Saya harus mencari tempat tinggal sendiri, Adrian," ujar Hana sore itu saat menghadap di ruang kerja pria itu. "Saya tidak bisa terus-menerus menumpang di tempatmu. Itu tidak baik untuk reputasimu, dan saya ingin belajar berdiri di atas kaki saya sendiri secara harfiah."

Adrian meletakkan pulpennya. "Saya sudah menduga kamu akan mengatakan itu. Kamu sudah punya kandidat lokasi?"

"Sebuah apartemen studio kecil di daerah Tebet. Dekat dengan akses kereta, cukup aman, dan yang terpenting, harganya masuk akal untuk kantong saya sekarang," jawab Hana. "Saya sudah janjian dengan agennya malam ini untuk melihat unit."

"Mau saya temani?"

"Tidak," Hana tersenyum, kali ini senyumnya tulus dan penuh kemandirian. "Kali ini, saya ingin memutuskan sendiri di mana saya akan tidur dan bangun setiap pagi. Saya butuh ruang yang benar-benar milik saya, tanpa ada campur tangan siapa pun."

Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Hana dengan tatapan apresiatif. "Baiklah. Tapi pastikan sistem keamanannya bagus. Jika ada apa-apa, jangan ragu menelepon."

Apartemen studio itu mungil, hanya sekitar dua puluh empat meter persegi. Dindingnya berwarna krem pucat, ada dapur kecil di sudut, dan sebuah balkon sempit yang menghadap ke arah rel kereta api. Bagi orang lain, tempat ini mungkin terasa sempit dan berisik. Tapi bagi Hana, ini adalah istana.

Dia berdiri di tengah ruangan yang kosong itu. Suara kereta api yang melintas di kejauhan terdengar seperti musik bagi telinganya. Di sini, tidak akan ada yang membentaknya. Di sini, piring tidak akan terbang jika masakan terasa kurang garam. Di sini, dia adalah ratu.

Hana mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi perbankan. Dia melihat saldo tabungannya. Aris ternyata benar-benar telah mengosongkan rekening bersama mereka semalam—sebuah tindakan picik yang sudah Hana antisipasi. Beruntung, selama ini Hana memiliki rekening rahasia yang dia sisihkan dari bonus kinerjanya di kantor. Jumlahnya tidak banyak, tapi cukup untuk membayar uang muka sewa apartemen ini dan bertahan hidup selama beberapa bulan ke depan.

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

“Hana, ini Aris. Kamu pikir kamu hebat dengan surat cerai ini? Kamu pikir kamu bisa bertahan hidup tanpa aku? Ibu masuk rumah sakit beneran sekarang karena syok. Darah tinggi. Kamu mau jadi pembunuh? Kembali sekarang dan cabut gugatan itu, atau aku akan pastikan namamu hancur di keluarga besar kita!”

Hana menatap pesan itu. Jemarinya tidak gemetar lagi. Dia tidak lagi merasa mual. Dia hanya merasa... lelah pada kebodohan Aris yang terus mengulang metode yang sama.

Hana mengetik balasan singkat, pertama kalinya dia merespons sejak pergi dari rumah:

“Kirimkan tagihan rumah sakit Ibu ke pengacaraku. Saya akan bantu bayar sebagai bentuk bakti terakhir saya sebagai menantu. Selebihnya, bicaralah pada hukum. Jangan hubungi saya lagi.”

Hana menekan tombol kirim, lalu mematikan ponselnya. Dia duduk di lantai apartemennya yang dingin, menyandarkan punggung ke dinding. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Hana menangis. Tapi itu bukan tangis kesedihan. Itu adalah tangis pelepasan, tangis kemenangan yang sunyi.

Dia lelah, tapi dia bebas. Dan kebebasan, ternyata, memiliki rasa yang jauh lebih nikmat daripada kesabaran yang dipaksakan.

1
arniya
Aris bukan d penjara??!
Mom Ilham
anaknya hana apa khabarnya ya
Lia Kiftia Usman
karyamu asyiik dibaca..thor..
Sefna Wati: terima kasih kkk sudah mampir baca novel karyaku ya ...
sehat selalu ya🥰🥰
jangan lupa tinggalkan like nya ya dan mampir di novel lainnya mana tau kakak juga suka dengan cerita yang lain🥰🥰🥰🥰
🥰🥰🥰
total 1 replies
Nor
Kok ceritanya aneh yaa, kenapa tiba² ada surat tanah peninggalan almarhum ayah hana. sebenarnya ayah hana itu masih hidup atau sudah meninggal?
Sefna Wati: kalau mau tau kelanjutannya baca terus ya kak biar gak penasaran 🥰🥰🥰
total 1 replies
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!