Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Tessa masuk ke dalam mobil dan duduk dengan hati-hati.
Beberapa detik kemudian Nick juga masuk dan pintu mobil tertutup pelan.
Mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumah.
Di dalam mobil, suasana kembali tenang.
Nick membuka tabletnya dan mulai membaca beberapa laporan yang sudah menunggu sejak pagi. Jari-jarinya sesekali bergerak cepat di layar, membalas pesan singkat dari asistennya.
Tessa duduk di sampingnya, punggungnya tegak.
Ia masih menyesuaikan diri dengan semuanya.
Beberapa kali tangannya merapikan ujung blazer yang ia kenakan, seolah memastikan pakaiannya terlihat pantas.
Nick sempat berhenti membaca.
Tatapannya beralih pada Tessa.
Ia memperhatikan cara Tessa duduk yang sedikit kaku.
Cara wanita itu sesekali menarik napas kecil, seolah mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Lalu pandangannya turun sedikit.
Pada blazer yang dikenakan Tessa.
Potongannya sederhana, tapi rapi.
Rambut Tessa yang diikat ke belakang membuat garis lehernya terlihat jelas.
Nick menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
Kemudian ia menutup tabletnya.
“Blazer itu.” kata-kata nick membuat tessa spontan menoleh,
“Ya?”
“Pilihan yang tepat.”
Nada suaranya tetap datar.
Seolah hanya komentar biasa.
Namun bagi seseorang seperti Nick, kalimat itu hampir seperti pujian.
Tessa terlihat sedikit terkejut.
“Terima kasih…”
Nick sudah kembali menatap ke depan.
Namun beberapa detik kemudian ia berkata lagi,
“Di kantorku, orang-orang akan melihatmu.”
Tessa menegang sedikit.
Nick melanjutkan tanpa mengubah nada suaranya.
“Jangan terlihat ragu.”
Ia menoleh sebentar padanya.
Tatapannya tajam, tapi stabil.
“Kalau kau ragu, mereka akan melihatnya.”
Tessa menatapnya.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
Nick menjawab singkat.
“Berdiri saja di sampingku, itu sudah cukup.” kalimat nick yang sedikit membuat hati tessa tenang,
Mobil terus melaju menuju pusat kota.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, Tessa merasa sedikit lebih tenang.
Karena meskipun dunia yang akan ia masuki terasa asing, Ia tahu satu hal.
Nick tidak akan membiarkannya berdiri sendirian di dalamnya.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah gedung tinggi berlapis kaca yang menjulang di pusat kota.
Tessa menatap bangunan itu dari balik jendela mobil.
Gedung itu terlihat… besar.
Terlalu besar.
Logo perusahaan terpampang jelas di bagian depan, membuat siapa pun yang datang langsung tahu bahwa tempat ini bukan perusahaan biasa.
Mobil berhenti sempurna.
Sopir segera turun dan membuka pintu.
Nick keluar lebih dulu. Jasnya tetap rapi seperti biasa, sikapnya tenang seolah tempat ini memang berada sepenuhnya dalam kendalinya.
Ia kemudian menoleh sedikit ke arah Tessa.
“Turun.”
Suaranya rendah, tidak memaksa, tapi cukup untuk membuat Tessa langsung mengikutinya.
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam lobi, beberapa kepala langsung menoleh.
Awalnya hanya satu dua orang.
Lalu semakin banyak.
Bisikan pelan mulai terdengar di berbagai sudut.
“Bukankah itu Mr. Adhitama?”
“Iya… tapi wanita itu siapa?”
“Dia datang bersama CEO?”
Tessa bisa merasakan tatapan mereka.
Penasaran.
Menilai.
Mencoba menebak.
Ia menarik napas pelan, mencoba mengingat apa yang Nick katakan di mobil tadi.
Jangan terlihat ragu.
Nick berjalan tanpa memperhatikan siapa pun.
Langkahnya tenang, panjang, dan penuh kendali, seolah seluruh gedung ini bergerak mengikuti ritme langkahnya.
Ketika mereka sampai di meja resepsionis utama, seorang wanita langsung berdiri.
“Selamat pagi, Tuan Nickolas.”
Ia adalah sekretaris utama Nick.
Wanita itu menundukkan kepala dengan sikap profesional.
Namun ketika tatapannya beralih pada Tessa, matanya sempat berhenti beberapa detik.
Menilai cepat.
“Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan senyum sopan.
Tessa belum sempat menjawab.
Nick sudah lebih dulu berbicara.
“Dia datang bersamaku.”
Tiga kata pendek itu cukup untuk membuat suasana di sekitar mereka berubah.
Sekretaris itu terlihat sedikit terkejut.
Nick melanjutkan dengan nada tenang.
“Hari ini dia hanya ikut.”
Tatapannya sempat beralih pada Tessa.
“Aku sedang menunjukkan tempatku bekerja.”
Sekretaris itu mengangguk.
“Baik, Tuan.”
Ia hampir duduk kembali ketika Nick menambahkan satu kalimat lagi.
Nada suaranya tetap datar, tapi jelas.
“Dan satu hal lagi.”
Sekretaris itu kembali menatapnya.
Nick berkata singkat,
“Dia Nyonya Adhitama,"
Hening.
Beberapa staf yang sedang lewat langsung berhenti sejenak.
Tatapan mereka berubah.
Bukan lagi sekadar penasaran.
Tapi benar-benar terkejut.
Sekretaris itu segera menegakkan bahunya.
“Selamat datang, Nyonya.”
Sikapnya kini jauh lebih hormat.
Nick tidak menanggapi lebih jauh.
Ia hanya mulai berjalan menuju lift pribadi di ujung lobi.
Tessa mengikuti di sampingnya.
Begitu pintu lift tertutup, barulah Tessa menghela napas panjang tanpa sadar.
Nick meliriknya sekilas.
“Kau gugup." nick mengamati ekspresi tessa dari tadi,
Tessa tersenyum tipis.
“Sedikit.”
Nick menatap angka lift yang bergerak naik.
Kemudian ia berkata pelan,
“Mulai sekarang kau harus biasakan dirimu.” ucap nick yang dibalas anggukan oleh tessa,
Beberapa detik berlalu sebelum ia menambahkan lagi,
“Orang-orang di sini akan sering melihatmu.”
Tessa menoleh.
Nick masih menatap lurus ke depan.
Nada suaranya tetap tenang, tapi kalimat berikutnya terdengar lebih dalam.
“Istriku tidak perlu berjalan di belakangku, apalagi bersembunyi.”
Lift berbunyi pelan.
Pintu terbuka ke lantai eksekutif.
Nick melangkah keluar lebih dulu.
“Tessa.”
“Ya?”
Ia membuka pintu kantor besar di ujung koridor.
Ruangan luas dengan jendela kaca tinggi langsung memperlihatkan pemandangan seluruh kota dari atas.
Nick berdiri di ambang pintu, lalu menoleh sedikit ke arah Tessa.
Tatapannya tenang.
Namun entah kenapa terasa berbeda.
“Ini dunia yang ingin akan kau lihat.”
Ia berhenti sebentar.
Lalu menambahkan dengan suara lebih rendah,
“Dan mulai sekarang… ini juga bagian dari hidupmu.”
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna