Xavier Rey Lergan hidup dalam sangkar steril akibat dirinya yang mengidap Myshopobia, hingga orang tuanya nekat menjodohkannya dengan Nara, seorang single mom. Pernikahan ini menjadi medan tempur antara si perfeksionis dan wanita tangguh yang tak mau diatur.
"Nara, sudah kubilang jangan diletakkan di sini!" bentak Xavier saat melihat barang berserakan.
"Diam Tuan Bakteri! Ini kamarku, keluar! Kamu kan belok!" balas Nara sengit.
"Aku hanya anti bakteri, bukan anti wanita!" seru Xavier tak terima.
Di tengah pertikaian, hadir Raya seorang putri kecil Nara yang polos. "Papa Laya balu cekalang! Halusnya dali dulu mama cali Papa balu, kenapa balu cekalang? Papa lama, buang aja ke celokan!" ucapnya menggemaskan.
Akankah kesterilan Xavier runtuh oleh kehangatan keluarga kecil ini, ataukah perbedaan prinsip tentang kebersihan akan memisahkan mereka selamanya?
"Bagaimana bisa aku menikahimu, sementara aku tak suka bekas orang lain?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEO Anti Bakteri
Pagi itu, atmosfer di gedung pencakar langit Lergan Empire terasa lebih mencekam daripada hari-hari biasanya. Di lobi utama yang luasnya hampir setengah lapangan bola, para Office Boy tampak bekerja dengan keringat dingin yang membasahi pelipis. Mereka tidak hanya mengepel lantai hingga mengkilap seperti cermin, tetapi juga menyemprotkan cairan disinfektan ke setiap inci permukaan yang mungkin tersentuh oleh tangan manusia. Lantai marmer itu seolah-olah harus bisa memantulkan wajah siapa pun yang memandangnya tanpa ada satu pun bercak noda yang mengganggu.
Seorang petugas pembersih kaca tampak mengelap gagang pintu lift dengan sangat hati-hati. Ia melakukannya berulang kali, menggunakan kain mikrofiber yang berbeda untuk setiap sentuhan, memastikan tidak ada satu pun bekas sidik jari atau butiran debu mikroskopis yang berani menempel di sana. Baginya, satu noda kecil bukan hanya sekadar kotoran, melainkan tiket satu arah untuk kehilangan pekerjaan di perusahaan paling bergengsi di negara ini. Ia bekerja seolah sedang membersihkan berlian yang sangat rapuh, jangan sampai ada debu sekecil apa pun yang tertinggal.
Di sudut lain, beberapa dari karyawan saling berbisik sambil keluar dari lift. Ketiga karyawan wanita itu tampak berjalan terburu-buru, namun mulut mereka tak henti membicarakan soal CEO baru mereka yang baru saja resmi menjabat.
"Katanya dia putra pertama Tuan Xander, anti bakteri!" bisik wanita pertama dengan nada suara yang tertahan namun penuh kengerian. "Sama sekali tidak mau disentuh orang, bahkan menganggap semuanya bakteri."
"Oh astaga, benarkah?" sahut rekannya, matanya membelalak penasaran sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk utama. "Apa dia tak lemah di sentuh wanita?"
Wanita ketiga mendengus kecil, menata rambutnya yang sedikit berantakan. "Bisa jadi, tapi dia sangat tampan. Wajahnya seperti pahatan dewa, namun auranya sangat dingin. Seperti pangeran yang hidup di dalam kotak kaca steril."
"Hais, apa gunanya kalau tampan tapi tak suka wanita. Jangan-jangan ... dia suka sama yang berbatang lagi?" celetuk wanita kedua yang langsung disambut tatapan horor dari dua rekannya.
"Hust! Kalau ada yang dengar dan melaporkan kita, tamat riwayat kita. Ayo, kita kembali ke ruangan," ajak wanita pertama sambil mempercepat langkahnya.
Bisik-bisik ketiga wanita itu melewati seorang pria yang asyik dengan sebungkus ciki di tangannya. Namanya Atlas, asisten pribadi yang sudah bertahun-tahun melayani keluarga Lergan. Ia berdiri bersandar di pilar, mengunyah keripik kentang dengan santai meskipun sekelilingnya sedang dilanda kepanikan steril.
"Para wanita penggosip," gumamnya pelan sambil membuang bungkus cikunya ke tempat sampah. Ia membersihkan tangannya dengan sangat teliti menggunakan tisu basah dan lekas menuruni lift untuk menyambut orang penting yang baru saja tiba di pelataran gedung.
Di pintu utama perusahaan, terlihat para karyawan tengah berbaris rapi. Mereka menahan napas saat sebuah sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti tepat di depan karpet merah. Terlihat, seorang pria berjas abu-abu turun dari mobilnya. Sepatu mewah yang berkilat dan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, menambah kesan angkuh yang begitu kental. Rahangnya yang terlihat tegas dan ketampanannya begitu menguar, membuat beberapa karyawan wanita harus bersusah payah menahan jeritan kagum mereka.
Xavier Rey Lergan, putra pertama Xander Rey Lergan. Pria yang berusia 26 tahun itu mengidap mysophobia, sebuah kondisi psikologis di mana ia memiliki ketakutan yang luar biasa terhadap bakteri dan noda. Bagi Xavier, dunia luar adalah medan perang yang penuh dengan kontaminasi. Kedua tangannya selama ini selalu memakai sarung tangan hitam, kehadirannya harus sangat bersih seolah tak boleh ada noda yang membandel yang berani mendekatinya.
"Tuan," Atlas menyapa dengan hormat, berdiri di depan pintu lift pribadi. Ia menyapa putra dari atasannya sebelumnya, karena kini kursi CEO secara resmi telah diduduki oleh putra pertama Xander tersebut.
Xavier tidak langsung menjawab. Ia berdiri mematung sejenak, matanya yang tajam menyisir lobi. Ia bisa melihat partikel debu yang menari di bawah sorot lampu lobi dengan ketajaman yang tidak dimiliki orang normal. "Sudah kukatakan, harus bersih bukan?" tanya Xavier dengan suara rendah namun penuh tekanan sambil membenarkan letak sarung tangan hitamnya.
"Iya Tuan, semuanya sudah dikerjakan sesuai dengan keinginan Anda," ucap Atlas yang mendapat anggukan dingin dari Xavier.
"Baiklah," Xavier melangkah maju. Sepatunya mengetuk lantai marmer dengan irama yang teratur. Para karyawannya pun menyapanya dengan hormat, sedikit membungkuk tanpa berani menatap matanya secara langsung. Xavier melangkah memasuki lift pribadinya dan bergerak naik ke lantai di mana ruangannya berada.
Sesampainya di lantai atas, pintu lift terbuka. Xavier melangkah keluar menuju ruang kerjanya yang luas. Namun, ia tidak langsung masuk. Matanya menatap ke arah Atlas yang sempat terlihat bingung sesaat. Namun, sedetik kemudian Atlas mengerti. Asistennya itu lekas mengambil botol semprotan dan menyemprotkan disinfektan ke udara serta gagang pintu sebelum Xavier melangkah masuk ke dalam zona pribadinya.
"Ya, kerja bagus. Sesuai yang saya mau," gumam Xavier saat ia akhirnya duduk di kursi kebesarannya. Baginya, kebersihan adalah harga m4ti, dan kesterilan adalah segalanya. Ia tidak akan bisa berpikir jernih jika ada sedikit saja noda di atas meja kerjanya.
"Kalau begitu saya minta OB siapkan kopi untuk Anda," ucap Atlas dan akan melangkah pergi. Namun, Xavier malah menghentikannya dengan suara dingin.
"Jangan pakai gelas dapur kantor," tegur Xavier sambil membuka berkas yang ada di hadapannya. Ia membuka kertas-kertas itu dengan sangat hati-hati, seolah kertas itu sendiri membawa kuman. Atlas yang mendengar itu menghela napas pelan, ia tersenyum paksa dan melangkah pergi keluar ruangan.
"Bos yang sekarang agak aneh ya, dia kira dalam tubuhnya tidak ada kuman? Ck, apa dia kira dia adalah tisu bersih yang turun dari langit?" gerutu Atlas sepanjang koridor menuju dapur khusus.
Sementara Xavier membaca berkas yang ada di mejanya sejenak. Ia terpaksa menuruti kemauan sang ayah untuk menggantikan pria itu memimpin perusahaan besar ini. Bisa dikatakan, saat ini dirinya adalah seorang CEO magang di bawah pengawasan ketat ayahnya. Namun, sejak remaja Xander memang sudah mengajari Xavier ajaran dasar perusahaan. Apalagi, Xavier adalah tipe orang yang sangat cepat tanggap dan perfeksionis. Tentunya, kecerdasan itu tak disia-siakan oleh Xander.
"Vier."
Vier mengangkat pandangannya. Ia melihat Xander, masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu. Yang lebih mengerikan lagi bagi Xavier, sang ayah membawa sebuah paper bag berminyak dan langsung meletakkannya di atas meja kerja Xavier yang suci. Sontak, Xavier langsung berdiri dari kursinya dan menatap sang ayah dengan tatapan tak percaya dan penuh kengerian.
"Ayaaaah!!" serunya kesal, suaranya hampir mencapai nada tinggi.
Namun, sang ayah justru menyeringai lebar dan duduk dengan santai di hadapannya. Pria paruh baya itu membuka paper bag tersebut dan mengeluarkan kotak makanan yang seketika membuat seluruh isi ruangan berbau tajam makanan berminyak. Xavier mendengus kesal, hidungnya terasa perih menc1um bau itu. Ia pun duduk di kursinya kembali dengan sangat enggan, mencoba menjaga jarak sejauh mungkin dari meja.
Namun sang ayah semakin menjadi. Dengan santainya, Xander melepas kaos kakinya sembarangan dan melemparkannya ke arah sofa kulit yang berada di sudut ruangan. Mata Xavier melotot sempurna melihat benda itu mendarat di atas permukaan sofa yang baru saja disemprot alkohol.
"Aku aduin Bunda ya!" pekik Xavier dengan tatapan marah.
"Adukan saja, Bunda kan lagi marah padamu, hahah," jawab Xander dengan tawa lepas. Ia mulai melahap makanannya dengan penuh selera. Tanpa rasa bersalah, ia mengambil potongan ayamnya langsung dengan tangan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, yang seketika membuat Xavier meringis ngeri dan membuang muka.
"Pantes Ayah gak gemuk, cacingan itu," celetuk Xavier dengan tatapan sinis, melihat minyak yang menempel di ujung jari ayahnya.
Xander terkekeh kecil sambil mengunyah. "Ayah rajin olahraga, mana ada cacingan. Hais lupakan soal itu, lebih baik kamu pikirkan cara bujuk Bundamu," ucap Xander setelah menelan makanannya.
Xavier membuang pandangannya ke jendela besar kantornya, menatap hiruk-pikuk kota di bawah sana. Ia teringat bahwa sejak semalam sang bunda mengabaikannya, tidak membalas pesannya, dan bahkan tidak mau mengangkat teleponnya. Semua itu karena satu persoalan, Xavier menolak keras untuk dijodohkan.
"Kenapa Bunda suka memaksa?" tanya Xavier pelan.
"Bukan memaksa, tapi Bunda takut. Penyakit kamu itu semakin parah, sudah dibawa berobat sana-sini tetap aja. Siapa tahu dengan menikah, kamu sedikit berubah Vier. Setidaknya ada seseorang yang bisa menyentuhmu tanpa kamu merasa kotor," tegur Xander. Ia tahu betul apa yang istrinya maksudkan, tapi ia juga sangat mengerti posisi sulit putranya.
"Kalau boleh pilih, aku juga enggak mau hidup kayak gini Yah," lirih Xavier. Suaranya terdengar sangat rapuh untuk sesaat, menunjukkan bahwa di balik kaku dan dinginnya sarung tangan hitam itu, ada seorang pria yang juga merasa tersiksa oleh kondisinya sendiri.
Xander yang tadinya akan memakan potongan ayam berikutnya pun berhenti sejenak. Ia melihat gurat kesedihan di wajah putranya. Ia menghela napas pelan, berdiri dari kursinya, dan menghampiri putranya lalu merangkulnya lembut. "Kamu hanya anti bakteri kan? Bukan anti perempuan? Maksud ayah ... kamu gak suka pedang kan?" ucap Xander mencoba mencairkan suasana.
Mata Xavier terbelalak lebar mendengar pertanyaan k0ny0l itu. "ENGGAK LAH! AKU NORMAL!" pekiknya kesal sambil mencoba melepaskan diri dari rangkulan ayahnya.
Namun, saat ia menoleh, matanya kembali membulat sempurna karena melihat tangan Xander yang penuh bekas minyak ayam berada tepat di sebelah wajahnya.
"AYAAAAH TANGANNYA CUCI DULU! JANGAN DEKAT-DEKAT!" teriak Xavier dengan panik. Namun, bukan Xander namanya jika tidak jahil. Ia justru sengaja mencolek pipi putranya itu sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan dengan tawa kemenangan, meninggalkan Xavier yang seketika tantrum dan terus menggosok pipinya menggunakan lembaran-lembaran tisu dengan wajah yang hampir menangis.
"AYAAAAH!"
"Hahaha!
_____________________________
Selamat datang ke ceritaku yang ke ... lupa lah keberapa😆 semoga suka dan sesuai ekspetasi kalian.😍
Kita kerja sama lagi yah, jangan lupa dukungannya 😍
Yakin kamu akan bertahan hanya 3 bulan Vier??
mksh kak ditunggu lagi up nya, udah nungguin dr tadi😍