Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertempuran Di Domain Salju
Mendengar perkataan Xu semua orang merasa kesal. Merasa Xu Hao terlalu melebih lebihkan kekuatan nya.
"Tidak tahu diri!"
Wanita di pihak Raja Dewa itu berteriak dengan wajah merah padam. Amarahnya memuncak setelah dihina Xu Hao. Ia bersiap menyerang.
Namun Mei Mei lebih cepat. Tubuhnya melesat seperti anak panah biru, langsung menuju wanita itu. Pedang pendek di tangannya berkilat.
"Kau yang tidak tahu diri!" balas Mei Mei dengan kesal. "Berani menghina orang lain, tapi tidak terima dihina balik? Dasar munafik!"
Kedua wanita itu bentrok di udara. Pedang bertemu pedang, energi biru bertabrakan dengan energi merah. Percikan api berhamburan di mana-mana.
Sementara itu, Xu Hao tidak membuang waktu. Ia langsung muncul di depan Raja Dewa. Tinjunya melesat, penuh dengan kekuatan Dao Pemberontakan. Energi ungu pekat membungkus kepalan tangannya, meninggalkan jejak cahaya di udara.
"Heepp!"
Xu Hao menggeram. Pukulan itu menghantam telapak tangan Raja Dewa yang terangkat untuk menahan.
Dess!
Suara benturan keras terdengar. Dan yang terjadi selanjutnya membuat semua orang terkejut.
Raja Dewa itu terpental. Tubuhnya melesat ke belakang seperti bola meriam, melewati sungai lebar, hingga mencapai seberang. Ia jatuh di pasir seberang, terguling beberapa kali sebelum berhenti.
Semua orang yang berniat menyerang Xu Hao langsung ragu. Langkah mereka terhenti. Mata mereka membelalak tidak percaya.
"Dewa Langit bintang satu bisa memukul mundur Raja Dewa bintang dua? Ini mustahil!"
Namun pria tua dari kelompok kedua, pemimpin dua puluh orang itu, berteriak lantang, "Jangan takut! Dia hanya satu! Kita serang bersama! Jangan beri dia kesempatan!"
Seruan itu membangkitkan semangat mereka. Dua puluh enam Dewa Langit bintang sembilan dan sepuluh mulai bergerak. Energi ilahi berkumpul di tangan mereka, berbagai teknik siap dilancarkan.
Jin Bao dan Jin Yuji pun beraksi.
Jin Bao melompat ke tengah kerumunan. Tinjunya menghantam ke kiri dan kanan. Setiap pukulan menghancurkan pertahanan lawan. Seorang Dewa Langit bintang sembilan mencoba menangkis, tapi tinju Jin Bao langsung meremukkan lengannya. Tulang-tulang hancur, daging tercabik. Lawan itu terpental dan mati seketika.
Jin Yuji tidak kalah mengerikan. Patung giok di tangannya menjadi senjata pamungkas. Dari bagian belakang patung itu, cahaya ilahi menyembur tanpa henti. Cahaya itu mampu menembus pertahanan lawan dengan mudah. Dua orang yang terkena semburan itu langsung roboh, tubuh mereka berlubang.
Mereka(Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji) bertempur dengan kekuatan tidak wajar. Meskipun kultivasi mereka hanya bintang tiga dan empat, mereka mampu membunuh lawan yang levelnya jauh di atas mereka.
Xu Hao sendiri mulai bergerak. Ia melesat di antara lawan-lawannya, tinjunya menghantam ke segala arah. Setiap pukulan Dao Pemberontakan merenggut nyawa. Kepala hancur, dada tembus, tubuh terbelah.
Dan setiap kali seorang lawan tewas, Xu Hao meraih jiwanya. Bola cahaya redup itu ia tekan ke telapak tangan, lalu menyimpannya di dimensi ruang khusus yang ia ciptakan. Ia tidak punya waktu untuk menyerapnya sekarang. Tapi nanti, jiwa-jiwa ini akan menjadi makanannya.
Kultivasinya mulai bergerak. Meskipun belum naik ke bintang dua, ada peningkatan. Energi di dalam Dantiannya semakin padat, semakin kuat.
Pertempuran semakin mengerikan. Area sekitar hancur seluas berkilo-kilometer. Pasir putih terbang ke mana-mana. Air sungai tersedot ke udara membentuk pusaran raksasa. Tebing-tebing di sekitar runtuh. Pepohonan tercabut dari akarnya.
Serangan-serangan besar terjadi silih berganti. Ledakan energi memenuhi langit.
Tiba-tiba, dari seberang sungai, Raja Dewa itu bangkit. Ia tidak terluka parah, hanya sedikit berdebu. Matanya menyala marah. Ia membentuk segel tangan dengan cepat.
Seketika, area sekitar berubah.
Tanah di bawah mereka berubah menjadi rawa berlumpur. Lumpur hitam pekat mendidih, mengeluarkan gelembung-gelembung beracun. Dari dalam lumpur, ular-ular raksasa muncul. Puluhan, mungkin ratusan. Tubuh mereka sebesar naga, dengan sisik hitam dan mata merah menyala. Mereka melesat ke arah Xu Hao dan kelompoknya.
Xu Hao tetap tenang. Ia baru saja meraih jiwa seorang Dewa Langit bintang sembilan. Ia menekan jiwa itu ke telapak tangannya, menyimpannya di dimensi ruang.
"Hanya segitu?"
Ia tersenyum tipis. Jari-jari tangannya mulai bergerak. Gerakannya lembut, seperti sedang memainkan alat musik. Setiap jari bergerak dengan ritme tertentu, menciptakan harmoni yang aneh.
Dari ujung jarinya, pedang-pedang spiritual kecil muncul. Sepuluh buah. Masing-masing hanya sebesar jari, tapi memancarkan cahaya ungu yang tajam.
Xu Hao mengarahkan jarinya ke ular-ular raksasa itu.
Sepuluh pedang kecil melesat. Mereka melesat di antara ular-ular itu, menusuk, memotong, menghancurkan. Satu pedang mampu membunuh puluhan ular dalam hitungan detik. Ular-ular itu roboh, tubuh mereka hancur menjadi lumpur hitam.
Namun serangan belum berakhir. Dari segala arah, puluhan serangan melesat menuju Xu Hao. Pedang terbang, segel api, tinju energi, semuanya datang bersamaan.
Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji yang melihat itu langsung bereaksi. Mereka meninggalkan lawan mereka dan melesat ke arah Xu Hao. Di udara, mereka menghancurkan serangan-serangan itu satu per satu. Pedang terbang patah, segel api padam, tinju energi hancur. Setelah itu mereka kembali menuju lawan lawannya lagi, bertarung dengan kekuatan mengerikan.
Xu Hao tersenyum melihat itu. "Bagus."
Matanya beralih ke Raja Dewa yang kini membentuk segel tangan lagi. Kali ini lebih rumit, lebih lambat, tapi lebih berbahaya.
Pemandangan di sekitar berubah lagi.
Mereka kini berada di pegunungan bersalju. Salju turun lebat, angin dingin menderu. Di kejauhan, puncak-puncak gunung menjulang tertutup es. Udara dingin menusuk tulang.
Xu Hao bergumam, "Raja Dewa sangat mudah membuat Domainnya sendiri. Bahkan jika serangannya dihancurkan, dampaknya tidak besar. Berbeda dengan Domainnya kultivator Soul Formation di dunia fana. Secara tampilan mirip, tapi secara kualitas dan kuantitas sangat berbeda. Tentu saja serangan balik tidak seburuk Domain milik kultivator dunia fana. Ini sangat menarik."
Raja Dewa tidak membuang waktu. Di Domainnya, kekuatannya berlipat ganda. Tangannya membentuk segel, dan ribuan es muncul dalam sekejap. Es itu tajam, sebesar tombak, memancarkan cahaya dingin yang membekukan. Dalam sekejap, ribuan es itu meluncur ke arah Xu Hao.
Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji kini berbalik dan bergerak cepat. Mereka meleset ke arah Xu Hao, berusaha melindunginya. Tapi jarak terlalu jauh. Serangan terlalu cepat.
Dess! Dess! Dess!
Ribuan es itu menembus tubuh Xu Hao. Mereka menusuk dari segala arah, menembus dada, perut, lengan, kaki. Darah muncrat, lalu membeku. Dalam hitungan detik, tubuh Xu Hao tertutup es. Ia menjadi patung es berwarna merah, darah membeku di sekelilingnya.
"TIDAAAAK!!!"
Jerit Mei Mei memecah kesunyian. Matanya merah, air mata hampir jatuh.
"Senior!!" teriak Jin Bao.
Jin Yuji hanya terpaku, patung di tangannya hampir jatuh.
Mereka berbalik, menatap Raja Dewa dengan kebencian membara. Tanpa komando, mereka melesat ke arahnya, siap membunuh atau mati.
"Akan ku bunuh kau!" teriak mereka.
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"