Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singa di Parkiran Kampus
Siang itu, udara di parkiran University of Makati terasa sangat menyengat. Sheena berjalan terburu-buru menuju gerbang, berharap bisa segera menemukan taksi. Namun, sebuah tangan kasar tiba-tiba mencekal bahunya dari belakang dan menyeretnya ke celah di antara dua mobil yang terparkir sunyi.
"Sheena! Tunggu! Kenapa kau tidak membalas suratku?"
Itu Martin. Wajahnya tampak kusut, matanya merah, dan napasnya berbau rokok murah. Ia tampak putus asa.
"Lepaskan, Martin! Sudah kubilang jangan pernah muncul di hadapanku lagi!" bentak Sheena, mencoba meronta.
"Kau sombong sekali sekarang ya? Ingat Sheena, dulu kau yang mengejar-ngejarku seperti pengemis! Aku butuh uang, Sheena. Hanya sedikit. Ayahku bisa dibunuh kalau—"
"Aku tidak peduli!" Potong Sheena tajam. "Pergi atau aku teriak!"
Martin tertawa sinis, cengkeramannya di lengan Sheena mengerat hingga gadis itu meringis. "Teriaklah! Biar semua orang tahu kalau mahasiswi teladan ini punya masa lalu yang memalukan denganku!"
Tepat saat Martin hendak menarik Sheena lebih dekat, sebuah bayangan besar menyelimuti mereka berdua. Suasana parkiran yang tadinya bising oleh suara mesin mendadak senyap mencekam.
KREK.
Sebuah tangan besar dengan urat-urat yang menonjol mencengkeram pergelangan tangan Martin yang sedang memegang Sheena. Bunyi tulang yang bergeser membuat Martin memekik kesakitan.
"Lepaskan. Tangan. Kotor. Itu."
Suara itu rendah, berat, dan mengandung ancaman kematian yang nyata. Sheena mendongak dan menemukan Matthias berdiri di sana. Pria itu masih mengenakan setelan jas kantornya, namun auranya saat ini lebih mirip pemangsa daripada seorang CEO.
Matthias menyentakkan tangan Martin hingga pria itu jatuh tersungkur ke aspal yang panas. Matthias melangkah maju, berdiri tepat di depan Martin yang kini tampak seperti serangga kecil di bawah kakinya yang jenjang.
"Kau... siapa kau?!" Rintih Martin sambil memegangi tangannya yang mati rasa.
Matthias tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru menunduk, menatap Martin dengan tatapan paling menghina yang pernah Sheena lihat.
"Jadi ini 'monyet' yang berani mengirim sampah ke rumahku?" Matthias mendengus dingin. Ia menarik kerah baju Martin, mengangkat pria itu hingga ujung kakinya nyaris tidak menyentuh tanah.
"Dengar baik-baik, parasit," desis Matthias tepat di depan wajah Martin. "Wanita yang kau sentuh tadi adalah milikku. Setiap inci tubuhnya, setiap helai rambutnya, bahkan napasnya adalah propertiku. Jika aku melihatmu berada dalam radius satu kilometer darinya lagi, aku tidak akan mematahkan tanganmu. Aku akan mematahkan seluruh hidupmu."
Martin gemetar hebat, wajahnya pucat pasi melihat tatapan mata Matthias yang kelam.
"Dia tidak butuh pria sampah sepertimu untuk mengingat masa lalu. Masa depannya sudah kubeli, dan tidak ada tempat untuk pengemis sepertimu di sana," lanjut Matthias. Ia menghempaskan Martin ke tanah dengan kasar.
Matthias merogoh saku jasnya, mengeluarkan selembar cek yang sudah ia tulis sebelumnya, lalu melemparnya ke wajah Martin. "Ambil ini untuk membayar hutang ayahmu, dan anggap ini sebagai biaya tutup mulutmu selamanya. Jika kau muncul lagi, aku akan memastikan kau membusuk di penjara paling gelap di Manila."
Matthias berbalik, sama sekali tidak menoleh lagi pada Martin yang memungut cek itu dengan gemetar. Ia menghampiri Sheena yang masih terpaku, lalu tanpa kata, ia melingkarkan lengannya di pinggang Sheena, menariknya rapat ke tubuhnya yang tinggi.
"Masuk ke mobil," perintah Matthias dingin namun protektif.
Di dalam mobil, suasana sunyi. Sheena melirik Matthias yang sedang fokus mengemudi dengan rahang yang masih mengeras.
"Matthias, kenapa kau memberinya uang?" Tanya Sheena pelan.
Matthias meliriknya sekilas, matanya masih menyorotkan api cemburu yang belum padam. "Karena aku ingin dia tahu bahwa dia bisa dibeli dengan recehanku, sementara kau adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa dia jangkau lagi seumur hidupnya. Kau milikku, Sheena. Dan aku tidak suka barang milikku diganggu oleh sampah."
Sheena terdiam, merasakan debaran jantung yang aneh. Kata-kata Matthias memang pedas dan sangat posesif, tapi entah kenapa, itu adalah kata-kata paling manis yang pernah ia dengar setelah dihina oleh Martin bertahun-tahun lalu.