NovelToon NovelToon
Pengawal Yang Tak Terkalahkan

Pengawal Yang Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Lin Muchen, seorang pengawal tangguh yang tak pernah kalah, dipaksa menerima tugas melindungi Gu Shiyu — seorang CEO muda yang cantik namun tegas. Di tengah tugas itu, ia terkejut menyadari bahwa wanita yang dijaganya adalah cinta pertamanya di masa kecil. Saat rahasia kelam keluarganya perlahan terbongkar dan dendam lama yang terpendam terungkap, Lin Muchen yang dulu tak terkalahkan kini jatuh hancur. Dari keterpurukan itu, ia bangkit bukan lagi untuk melindungi, melainkan untuk menuntut keadilan dan membalas dendam yang lama dinanti

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 Bayang di Balik Pintu Kaca

Angin sore menyapu pelataran gedung pencakar langit di pusat kota, membawa aroma aspal basah dan keringat kesibukan yang tak pernah berhenti. Di lantai teratas, di balik dinding kaca tebal yang memantulkan cahaya matahari yang mulai turun, suasana justru sepi dan dingin. Hanya suara ketikan pena di atas kertas tebal dan detak jam dinding yang terdengar jelas, menandakan bahwa waktu tidak pernah berhenti, bahkan bagi mereka yang berdiri di puncak kesuksesan.

Lin Muchen berdiri di sudut ruangan, tempat yang paling gelap sekaligus paling strategis. Tubuhnya tegak, bahu lebarnya tak sedikit membungkuk meski ia sudah berdiri diam lebih dari dua jam. Matanya yang tajam, berwarna cokelat gelap, tak pernah berhenti bergerak — memindai setiap sudut ruangan, memeriksa setiap orang yang masuk dan keluar, menilai setiap gerak-gerik dengan ketelitian yang nyaris berlebihan. Bagi orang lain, ia hanyalah bayangan, sosok yang tak terlihat namun selalu ada. Bagi dirinya sendiri, ia adalah perisai. Dan perisai tidak boleh lelah, tidak boleh lemah, dan tidak boleh kalah.

Ia dikenal sebagai yang tak terkalahkan. Dalam dunia pengawal pribadi yang penuh bahaya dan persaingan ketat, nama Lin Muchen sudah menjadi jaminan. Belum pernah ada klien yang terluka di bawah jagaannya, belum pernah ada misi yang gagal, belum pernah ada lawan yang membuatnya mundur selangkah pun. Ia kuat, cepat, cerdas, dan yang terpenting — ia dingin. Tidak ada perasaan yang terlibat, tidak ada emosi yang mengaburkan pandangan. Tugas adalah segalanya, dan ia hidup hanya untuk menyelesaikan tugas itu dengan sempurna.

Namun tugas kali ini berbeda.

Lin Muchen menatap sosok wanita yang duduk di balik meja kerja besar itu. Ia mengenakan setelan jas berwarna krem yang pas di tubuhnya, rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan wajah cantik yang berwibawa namun juga tampak lelah. Alisnya sesekali mengernyit saat membaca dokumen, bibirnya terkatup rapat, seolah menahan ribuan kata yang tak sempat diucapkan. Cahaya matahari sore menyinari sisi wajahnya, menciptakan bayangan lembut di sana, dan pemandangan itu membuat jantung Lin Muchen berdegup tidak teratur — sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.

Gu Shiyu.

Nama itu terngiang di kepalanya, berulang-ulang, seperti lonceng tua yang tak pernah berhenti berbunyi. Ia sudah mendengar nama itu disebut berkali-kali saat diberi tugas ini, namun sampai melihatnya secara langsung, ia tak pernah menyangka. Tugas ini awalnya hanyalah pekerjaan lain, satu lagi nama dalam daftar panjang orang yang harus ia lindungi. Namun kini, berdiri di sini, napasnya terasa berat seolah ada batu yang menindih dadanya.

Bagaimana mungkin? batinnya. Bagaimana bisa wanita yang kini menjadi pemimpin perusahaan raksasa ini adalah gadis kecil yang dulu ia kenal?

Memori bertahun silam kembali menyeruak, seakan tidak peduli seberapa keras ia berusaha menguburnya. Ia melihat kembali halaman rumah yang sederhana, pohon mangga yang rindang, dan seorang gadis kecil dengan rambut berantakan yang berlari menyapanya sambil tertawa. “Muchen! Tunggu aku!” suaranya terdengar jernih, penuh kehangatan yang belum pernah ia temukan di tempat lain. Mereka tumbuh bersama, bermain bersama, berbagi mimpi di hari-hari yang terasa begitu sederhana namun begitu berharga. Ia adalah teman pertamanya, orang yang paling ia percaya, dan tanpa ia sadari — cinta pertamanya.

Namun semuanya berakhir tiba-tiba. Keluarga Gu pindah tanpa pemberitahuan, tanpa kesempatan untuk berpamitan. Ia masih ingat berdiri di depan pintu rumah mereka yang sudah kosong, memegang mainan kayu yang ia buat khusus untuknya, menunggu sampai matahari terbenam, namun ia tidak pernah datang. Sejak saat itu, ia berjanji tidak akan membiarkan dirinya terluka lagi. Ia menutup hatinya, menjadi kuat, menjadi tak terkalahkan, agar tidak ada yang bisa pergi meninggalkannya lagi.

Dan sekarang, setelah bertahun-tahun, wanita itu ada di hadapannya — bukan lagi gadis kecil yang ceria, melainkan seorang wanita yang dewasa, cantik, dan jauh di atas jangkauannya.

Gu Shiyu tiba-tiba mengangkat wajahnya. Tatapan mata mereka bertemu.

Lin Muchen menegakkan tubuh lebih tegak, berusaha menyembunyikan gejolak yang mengamuk di dadanya. Ia harus tetap profesional. Ia hanyalah pengawal, dan ia sedang bertugas. Namun ketika mata Gu Shiyu menatapnya lebih lama, ia melihat keraguan muncul di sana, seolah ada sesuatu yang samar-samar ia kenali namun tidak dapat ia pastikan.

“Kau…” suara Gu Shiyu terdengar lembut namun penuh tanya, “kita pernah bertemu sebelumnya?”

Lin Muchen menelan ludah. Ia harus menjawab apa? Mengatakan yang sebenarnya berarti membuka pintu yang sudah lama ia kunci rapat-rapat. Namun berbohong terasa berat di lidahnya, seolah ia mengkhianati masa lalunya sendiri.

“Tidak, Nona Gu,” jawabnya akhirnya, suaranya terdengar tenang meski hatinya bergetar hebat. “Saya baru saja ditugaskan untuk melindungi Anda mulai hari ini.”

Gu Shiyu menatapnya sejenak lagi, lalu mengangguk perlahan, meski keraguan belum sepenuhnya hilang dari wajahnya. “Begitu ya. Baiklah. Aku menerima keputusan itu. Tapi ingat, aku tidak suka diikuti ke mana-mana. Berada di dekatku hanya saat aku benar-benar membutuhkanmu.”

“Siap, Nona,” jawab Lin Muchen singkat.

Gu Shiyu kembali menunduk menatap dokumen, namun suasananya tidak lagi sama. Kehadiran pria itu entah bagaimana membuatnya tidak tenang. Ada sesuatu di tatapan matanya — keakraban yang tak dapat dijelaskan, kesedihan yang tersembunyi, dan perasaan rindu yang begitu dalam hingga terasa menyakitkan. Ia tidak dapat menempatkannya, namun ia tahu satu hal: pria ini bukan sekadar pengawal biasa.

Sore itu berlalu dengan lambat. Setiap gerakan Gu Shiyu diamati oleh Lin Muchen, dan setiap kali ia melihatnya, kenangan lama kembali muncul. Ia melihat senyum tipis yang sama, cara memiringkan kepala yang sama, bahkan kebiasaan menggigit bibir bawah saat sedang berpikir keras pun tidak berubah. Semuanya sama, namun semuanya sudah berbeda. Ia bukan lagi anak-anak, dan dunia yang mereka tinggali kini terpisah jauh oleh tembok kasta dan kekuasaan.

Saat hari mulai gelap dan Gu Shiyu bersiap pulang, ia berhenti sejenak di depan pintu, menoleh ke arah Lin Muchen yang berdiri tegak di tempatnya.

“Kau ikut denganku,” ucapnya singkat, lalu melangkah keluar.

Lin Muchen mengikuti dari belakang, langkahnya senyap, namun di dalam hatinya badai baru saja dimulai. Ia pikir ia sudah siap menghadapi apa pun dalam tugas ini. Ia pikir tidak ada yang dapat mengejutkannya lagi. Namun takdir ternyata memiliki rencana lain. Ia tidak hanya melindungi seorang klien. Ia melindungi wanita yang pernah mengisi seluruh hatinya, wanita yang kepergiannya mengubah seluruh hidupnya. Dan entah mengapa, ia merasa ini hanyalah permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar dan jauh lebih menyakitkan daripada yang dapat ia bayangkan.

Mobil meluncur membelah jalanan kota yang diterangi lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Di kursi belakang, Gu Shiyu menatap ke luar jendela, sementara Lin Muchen duduk di sebelah pengemudi, namun pikirannya entah di mana. Di luar, dunia tampak tenang, namun di dalam dirinya, reruntuhan masa lalu mulai bergeser, dan di antara debu-debu kenangan itu, sesuatu yang gelap perlahan mulai terlihat. Sesuatu yang selama ini tersembunyi, menunggu waktu yang tepat untuk muncul ke permukaan.

Ia belum tahu bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan. Ia belum tahu bahwa rahasia yang selama ini dirahasiakan akan segera terungkap, dan bahwa perlindungan yang ia berikan akan berubah menjadi pedang yang menebas seluruh kehidupan yang ia bangun.

Namun untuk saat ini, ia hanya tahu satu hal: ia tidak bisa lagi berpura-pura. Bayangan di balik pintu kaca itu kini memiliki wajah, dan wajah itu adalah satu-satunya yang tidak dapat ia lindungi dari dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!