NovelToon NovelToon
Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:587.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.

Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.

Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.

Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zivana 3

Sarapan pagi itu berjalan lebih hening dari biasanya. Amora yang biasa ceriwis pun merasakan perubahan atmosfer di antara kedua orang tuanya.

"Ayah sama Bunda lagi berantem ya?" tanya Amora tiba-tiba, menatap Aidil dan Zivana bergantian dengan polos.

Zivana tersentak. Tangannya yang memegang cangkir kopi Aidil sedikit bergetar.

"Eng... enggak kok, Sayang. Bunda cuma agak mengantuk saja karena hujan semalam."

Aidil menatap Zivana dalam-dalam. "Tidak, Amora. Ayah dan Bunda tidak berantem. Cepat dihabiskan rotinya, nanti terlambat sekolah."

Setelah anak-anak selesai mengganti pakaian dan bersiap di depan pintu depan bersama tas mereka, giliran Aidil yang bersiap untuk berangkat. Zivana berdiri dekat pintu seperti rutinitas pagi mereka selama tiga tahun ini. Ia mengambilkan jas milik Aidil dan membantunya memakaikannya.

Jarak mereka begitu dekat. Zivana bisa merasakan hangat napas Aidil menyapu keningnya. Tangan Zivana yang merapikan kerah jas suaminya bergetar halus.

"Mas, jemput anak-anak nanti sore atau aku yang pakai mobil satu lagi?" tanya Zivana pelan, pandangannya tetap tertuju pada kancing kemeja Aidil.

"Aku yang akan jemput mereka, Ziva. Kamu istirahat saja di rumah, wajahmu pucat," balas Aidil dengan nada khawatir yang tak bisa ia sembunyikan.

"Aku tidak apa-apa, Mas." Zivana memaksakan tersenyum, lalu meraih telapak tangan kanan Aidil untuk membungkuk dan mencium punggung tangannya dengan penuh penghormatan, seperti yang selalu ia lakukan.

Namun, saat Zivana hendak menarik kembali tangannya dan mundur satu langkah, jemari tegap Aidil tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.

Zivana mendongak terkejut. "Mas...?"

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Aidil maju setengah langkah. Tangannya yang satu lagi terangkat perlahan, menyibak helai rambut Zivana ke belakang telinga, lalu merengkuh tengkuk istrinya dengan sangat lembut.

Zivana menahan napas. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.

Aidil menundukkan wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan mereka, Aidil mendaratkan kehangatan bibirnya di kening Zivana. Ciuman itu tidak terburu-buru. Lama, dalam, dan dipenuhi oleh kehangatan yang mendesir hebat. Aidil memejamkan mata, membiarkan aroma wangi vanila dari tubuh Zivana memenuhi inderanya, seolah berusaha menyalurkan rasa penyesalan, rasa terima kasih, dan sesuatu yang baru saja bergetar di dalam dadanya.

Zivana terpaku. Air mata menumpuk di pelupuk matanya. Sentuhan lembut itu begitu asing, namun terasa sangat amat ia rindukan selama seribu hari lebih ia menanti.

Perlahan, Aidil menarik wajahnya kembali. Matanya yang tajam menatap dalam ke dalam iris mata Zivana yang berkaca-kaca. Ibu jarinya terangkat, mengusap sudut mata Zivana yang hampir meneteskan air mata.

"Jangan pernah bicara soal pergi lagi, Ziva," bisik Aidil berat, suaranya bergetar menahan emosi.

"Aku tidak pernah memintamu untuk pergi."

Zivana membeku, bibirnya terkatup rapat tak mampu membalas sepatah kata pun.

"Aku berangkat dulu," lanjut Aidil pelan. Ia mengusap pipi Zivana sekali lagi sebelum akhirnya berbalik, menggandeng tangan Khaisar dan Amora yang sudah menunggu di luar.

"Dah Bunda!" seru kedua anak itu melambaikan tangan dari dalam mobil.

Zivana memegang keningnya dengan jemari yang gemetar. Bekas hangat bibir Aidil masih terasa sangat nyata menempel di kulitnya. Hatinya membuncah oleh sepercik harapan baru yang mulai mekar. Apakah tembok es di hati Aidil akhirnya mulai mencair?

Sore harinya, kejutan kecil menghampiri rumah mereka. Aidil pulang lebih awal dari biasanya. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan senyum tipis, membawa berita yang membuat Khaisar dan Amora bersorak gembira.

"Malam ini kita keluar, jalan-jalan akhir pekan. Ayo bersiap-siap," ujar Aidil singkat namun memancarkan kehangatan yang tak biasa.

Satu jam kemudian, mobil sedan hitam milik Aidil membelah kemacetan pusat kota Jakarta yang berkilauan oleh lampu-lampu jalanan. Di kursi belakang, Khaisar dan Amora tak henti-hentinya bernyanyi mengikuti lagu dari radio, sementara Zivana duduk di samping Aidil, memilin ujung gaun terracottanya dengan gugup.

"Kamu suka tempatnya, Ziva?" tanya Aidil tanpa memalingkan fokus dari jalanan. Matanya sesekali melirik Zivana melalui kaca spion dalam.

"Suka sekali, Mas. Anak-anak pasti senang," sahut Zivana lembut.

Aidil menyunggingkan senyum tipis. Tanpa diduga, tangan kirinya terlepas dari kemudi saat mobil berhenti di lampu merah. Dengan perlahan, jari-jemari Aidil bergerak menautkan jemarinya pada jemari Zivana yang berada di atas pangkuan.

Zivana tersentak pelan. Kulit mereka bersentuhan, menyalurkan rasa hangat yang belum pernah ada selama tiga tahun pernikahan mereka.

"Mas...?" bisik Zivana kaget, menatap genggaman tangan Aidil.

Aidil menoleh, menatap mata Zivana dengan pendar lembut yang selama ini tersembunyi. "Aku ingin membuat kenangan baru denganmu, Ziva. Hanya kita dan anak-anak."

Jantung Zivana berdegup kencang hingga rasanya sukar bernapas. Kata-kata Aidil seperti penawar racun dari ancaman Stela tadi pagi. Zivana membalas genggaman itu erat, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Aidil sejenak.

Mereka akhirnya tiba di sebuah restoran atap (rooftop) megah yang menawarkan pemandangan gemerlap pemandangan kota dari ketinggian. Angin malam bertiup sepoi-sepoi, membawa aroma hidangan lezat. Tawa renyah Khaisar dan Amora memenuhi meja saat mereka menikmati es krim dan steak daging.

"Bunda, ayo foto bertiga sama Ayah dan Mas!" seru Amora sambil menyodorkan ponsel bermainnya.

"Sini, Ayah saja yang foto," sela Aidil. Pria itu bergeser dari kursinya, mendekat ke arah Zivana.

Ia merangkul bahu Zivana dari samping, tindakan impulsif yang membuat nafas Zivana tertahan. Kamera ponsel mengambil gambar mereka;, senyum bahagia terpancar dari Zivana, sementara Aidil menatap istrinya dalam foto itu dengan binar yang tak lagi dingin.

"Bunda cantik banget ya, Ayah?" puji Khaisar tiba-tiba sambil memakan kentang gorengnya.

Aidil menatap Zivana, ibu jarinya merapikan helai rambut Zivana yang tertiup angin malam.

"Iya, Bunda sangat cantik malam ini."

Tangan Aidil menggenggam erat jemari Zivana saat mereka menyusuri lorong rooftop restaurant yang bernuansa hangat dengan pendar lampu gantung keemasan. Angin malam yang berembus pelan membawa aroma manis kembang gula dan hidangan panggang, menyelimuti malam minggu mereka dengan suasana yang begitu hidup.

"Bunda! Lihat, ada air mancur menari di sana!" seru Amora girang sambil menarik-narik ujung gaun terracotta Zivana. Tangannya yang mungil menunjuk ke arah kolam hias di tengah area terbuka.

Khaisar tak mau kalah. Ia berlari kecil mendekati pagar kaca pembatas, menatap gemerlap lampu gedung-gedung tinggi di bawah mereka.

"Ayah, tinggi banget! Mobil-mobil di bawah kelihatan kayak mainan!"

"Khaisar, jangan terlalu dekat kaca, Sayang," tegur Zivana lembut namun sigap melangkah menghampiri putranya.

Sebelum Zivana sempat meraih Khaisar, Aidil lebih dulu melangkah dan merangkul pinggang Zivana dari samping, menahannya tetap berada di sisinya. Sentuhan mendadak itu membuat Zivana menahan napas. Pria itu menyunggingkan senyum tipis, menatapnya dengan pendar mata yang begitu hangat, tatapan yang belum pernah Zivana lihat dalam tiga tahun pernikahan mereka.

"Biarkan dia melihat sebentar, Ziva. Ada Ayah di sini yang menjaga kalian," bisik Aidil tepat di samping telinganya.

Suaranya bass dan dalam, menyalurkan kehangatan yang membuat dada Zivana bergemuruh hebat. Zivana mendongak, mendapati jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa senti.

"Mas... nanti anak-anak lihat," cicitnya gugup dengan pipi yang perlahan memerah.

Aidil bukannya melepaskan rangkulannya, ia justru terkekeh pelan, suara tawa renyah yang amat jarang terdengar.

"Biar saja. Memangnya tidak boleh merangkul istri sendiri?"

1
Rehaan Aamir
Laaahh Koq Jd Almarhumah Tiba2...Bukanya Siska Ntu Emak Kandungnya Melvin Ya????...Apa Bkln Ada Plot Twist Lagi????...
Katherina Ajawaila
itu sebab akibat gembel sja belagu korupsi uang kantor ngk kira" SMP 500 M, fi mana untung nya. ngj mikir itu keringat orgtua. tau nya enak aja. kalian itu bukan darah Hadinata ada pada kalian, tau diri numpak Merck 😎
Katherina Ajawaila
msk in aja k prodeo, ngk usah malu biar masing" punya rasa tanggung jawab 🤫
Katherina Ajawaila
kel, ngk jelas masing" kesenangan baru katain istri nya Melvin dia, janda rasa gadis kalau kamu Clarisa gadis pasti. rasa janda 🤭
Katherina Ajawaila
Zivana, encee otak nya tau ja sistem yg ada celah biar koruptor merajalela 😳
Katherina Ajawaila
Nunjak Clarisa sm Jason dan Siska, jelas" ngk ikatan darah bukan rendah hati, ini nunjak mau Kuasain, bagus ngk msk prodeo kalau ngk jd gembel 🤑
Rehaan Aamir
Dua2 Nya Pada BEGOOOOOOO...Yg Laki Gk Mau Jujuuuurrr Yg Perempuan Juga Knp Gk Lgsg Nanya Aja K Intinya Biar Gk Ada Salah Faham....
Katherina Ajawaila
telat Aidil bego, ngomong kaya sama org idiot ulang" 😎
Katherina Ajawaila
keren lah rencana nya semoga berjalan lancar biar tau diri Clarissa dan Jason sampah masyarakat yg numpang beken /Gosh/
Katherina Ajawaila
mantap calon suami yg posesif🤭
Katherina Ajawaila
jgn" kira tipe yg seperti Melvin ini yg bahaya, diam" menghanyutkan, senggol bacok ya kan🤫
Katherina Ajawaila
Aidil ko bodok kebanyak kena daging basi sih jd bego masa ngk bisa tuntut balik anak kandung di siksa. jd gemes liat Aidil 🤭
Katherina Ajawaila
kasihan anak ya biar ngk lahir dr rahim bunda tapi merasakan ksh sayang fi urus sm bunda. sedih juga /Puke/
Ds Phone
semua habis kena kaut
Katherina Ajawaila
Khaisar lebih punya prinsip dr pd papa nya yg hanya fi ksh kiss luluh, menjijikan. bekas_:org diluar sana udh mgk kepalai jd artis makanya balik lg, Aidil bego 🤑
Ds Phone
tahu matah masa pakai duit tak ingat duia
Katherina Ajawaila
Sivana hrs berani kalau sayang anak dia jgn liat Aidil., liat aja anak" yg merasa asing dgn ibunya, ngk brani bicara, terus terang sm Aidil, yg jd bodok" di atur Stela 🤑
Katherina Ajawaila
Ziva bego lg du tanya bukan jawab kalau kamu liat smuanya biar tau diri Aidil. ngk usah pakai ngumpat" jd ngk sakit hati sendiri, ngapain di pendem ntar jd penyakit 😎
Katherina Ajawaila
urusan nya buat bsk, lucu Aidil. bicaranya di telp ngj etis bener, toh mah plng kerja bicara lah di rmh. boleh jadi CEO di kantor pimpin perusahan tapi utk atas anin istri yg ngk jelas ngk bisa tegas, pret lah /Toasted/
Katherina Ajawaila
untung " blm di ambil perawan mu Ziva, rugi amat kalau punya suami plin plan, mmg nya bola pimpong🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!