NovelToon NovelToon
38.000 Langkah Ke Hatimu

38.000 Langkah Ke Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Time Travel
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.

Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.

Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 — Di Antara Jalan Pulang dan Pergi

Beberapa bulan berlalu dan aku mulai terbiasa dengan ritme hidup yang baru. Nggak ada lagi rasa hampa yang datang tiba-tiba kayak dulu. Pagi aku bangun, bersiap, terus jalani hari dengan tenang. Kadang aku ke kampus, kadang ke kedai kopi buat nulis, kadang cuma jalan kaki keliling kota sambil perhatiin hal-hal kecil yang dulu sering aku lewati begitu aja. Rasanya hidupku nggak berubah drastis, tapi ada sesuatu yang lebih tenang di dalam diriku. Kayak ombak yang dulu bergemuruh kencang banget, sekarang pelan-pelan jadi tenang dan jernih di permukaannya.

Suatu sore aku dapat pesan dari seorang gadis yang tinggal di kota lain. Dia bilang dia baru saja kehilangan sahabatnya karena sakit, dan dia merasa dunianya udah berhenti berputar. Dia nggak mau keluar rumah, nggak mau ngomong sama siapa pun, merasa nggak ada yang ngerti gimana sakitnya kehilangan orang yang paling dekat. Aku baca pesannya berkali-kali, teringat diriku beberapa bulan yang lalu. Rasanya kayak melihat bayanganku sendiri di tulisan orang lain. Aku balas pesannya malam itu, nggak pakai kata-kata bijak yang rumit, cuma cerita jujur soal apa yang kurasakan, soal bagaimana hari-hariku terasa berat di awal, soal bagaimana aku kadang masih nangis tiba-tiba sampai sekarang. Aku bilang nggak apa-apa kalau kamu belum kuat. Nggak apa-apa kalau hari ini kamu cuma mau diam di kasur seharian. Nggak perlu buru-buru sembuh. Luka butuh waktu, dan sedih itu bukan tanda kamu lemah, tapi tanda kamu pernah mencintai dengan sangat dalam.

Kita mulai ngobrol hampir setiap hari. Awalnya dia cuma bales singkat, lama-lama dia mulai cerita lebih banyak. Tentang sahabatnya yang suka ketawa terlalu keras, tentang kebiasaan mereka jajan di warung depan kampus, tentang rencana perjalanan yang belum sempat mereka lakukan bareng. Aku dengerin aja, nggak banyak kasih nasihat. Kadang dia butuh orang yang cuma mau denger cerita dia tanpa buru-buru bilang semuanya bakal baik-baik aja. Semuanya bakal baik-baik aja memang benar, tapi proses menuju ke sana nggak selalu lurus kan? Kadang kita perlu berbelok dulu, berhenti sebentar, baru lanjut jalan lagi.

Beberapa minggu kemudian dia kirim pesan yang bikin aku senyum sampai mataku menyipit. Dia bilang dia baru saja pergi ke danau yang dulu sering mereka rencanakan bareng sahabatnya. Dia duduk di sana sendirian, makan dua porsi bakso seperti yang biasa mereka lakukan berdua. Dia nangis lama banget di sana, tapi di akhir tangisannya dia merasa lega. Dia bilang sahabatnya pasti mau dia ke sana, menikmati angin dan pemandangan, bukan mengurung diri di kamar. Saat membaca itu, air mataku menetes pelan. Bima, lihat kan? Satu cerita yang kamu mulai, sekarang menolong orang lain yang sedang berjalan di jalan yang sama. Kamu nggak pernah tahu seberapa jauh dampak kebaikanmu sampai kamu membiarkannya mengalir.

Minggu berikutnya aku pergi ke sebuah desa kecil di kaki gunung. Tempat itu ada di halaman terakhir buku sketsa Bima, gambarnya sederhana banget: rumah-rumah kecil di antara kebun teh, jalan setapak yang berkelok, dan sungai kecil yang airnya jernih banget. Dia tulis di bawahnya: "Di sini suaranya hening. Cuma ada suara air dan angin. Tempat terbaik buat berbicara dengan diri sendiri." Perjalanan ke sana lumayan jauh. Aku naik bus dulu berjam-jam, terus jalan kaki menanjak sekitar setengah jam. Sampai di sana udara terasa dingin dan segar banget, langsung menyentuh paru-paru dan bikin napas terasa lebih dalam.

Aku cari penginapan kecil yang dikelola oleh sepasang suami istri yang ramah banget. Mereka heran pas tahu aku datang sendirian. Biasanya tamu ke sini datang rombongan atau bareng keluarga. Aku cuma senyum dan bilang aku lagi menyelesaikan perjalanan teman saya yang nggak sempat datang. Mereka nggak tanya lebih banyak, cuma angguk dan sajikan teh hangat dengan senyum tulus.

Hari pertama aku jalan menyusuri sungai kecil yang airnya bening banget sampai batu-batu di dasarnya kelihatan jelas. Suara air mengalir lembut, burung-burung berkicau di kejauhan, dan di kejauhan terlihat gunung yang puncaknya tertutup awan tipis. Aku duduk di batu besar di pinggir sungai, membuka buku catatanku, dan mulai menulis. Bukan soal kesedihan kali ini, tapi soal bagaimana setiap orang punya waktunya masing-masing. Matahari terbit dan terbenam pada jamnya, hujan turun dan berhenti pada waktunya, bunga mekar dan layar pada musimnya. Manusia juga begitu kan? Ada yang datang pagi hari, ada yang pergi sore hari. Nggak ada yang terlambat, nggak ada yang terlalu cepat. Semuanya terjadi pada waktu yang tepat, walau kita sering nggak mengerti alasannya sampai waktu itu berlalu.

Malamnya langit di desa itu jernih banget, bintang-bintang terlihat jelas tanpa terhalang cahaya lampu kota. Aku duduk di teras penginapan, melingkarkan selimut di tubuhku karena udara semakin dingin. Tiba-tiba aku teringat sore pertama kali kita ngobrol di taman itu. Waktu itu hujan baru reda, udara juga sejuk kayak gini, dan dia cerita soal bintang-bintang yang sebenarnya sudah lama padam, tapi cahayanya masih sampai ke kita. "Kita juga begitu kan Aurora," katanya sore itu dengan suara pelan. "Walau kita nggak ada lagi, kebaikan yang kita tinggalkan tetap akan bersinar sampai ke orang-orang yang kita cintai."

Saat itu aku cuma senyum mendengarnya, belum benar-benar paham seberapa dalam maknanya. Sekarang di sini, di bawah langit yang penuh bintang terang, aku mengerti sepenuhnya. Cahayanya masih bersinar. Ceritanya masih hidup. Kebaikannya masih menyentuh hati orang-orang yang belum pernah dia temui. Dia bukan bintang yang padam. Dia cuma berubah jadi cahaya yang selalu ada di atas sana, menuntunku saat aku berjalan dalam gelap.

Aku kembali ke rumah beberapa hari kemudian dengan hati yang penuh dan pikiran yang tenang. Aku mulai menyadari satu hal penting: aku nggak lagi mencari Bima di tempat-tempat yang pernah kita kunjungi. Aku menemukannya di dalam diriku sendiri. Di kebaikan yang aku sebarkan, di keberanianku melangkah, di tulusnya caraku mencintai orang-orang di sekitarku. Dia bukan kenangan yang harus dicari. Dia bagian dari siapa aku sekarang.

Beberapa bulan berlalu dan aku selesaikan buku keduaku. Bukan soal perpisahan lagi. Kali ini soal bagaimana kita melanjutkan hidup setelah kehilangan. Tentang langkah-langkah kecil yang terasa berat tapi tetap kita ambil. Tentang pertemuan-pertemuan baru yang menyembuhkan luka tanpa kita sadari. Tentang harapan yang tumbuh di tempat yang paling tak terduga. Judulnya: Langkah yang Meneruskan. Saat aku tulis nama penulisnya, aku menambah satu baris kecil di bawah namaku: terinspirasi dari seseorang yang mengajarkanku arti ketulusan. Bima pasti tahu itu untuknya.

Hari peluncurannya sederhana banget. Cuma di kedai kopi kecil tempat aku biasa duduk. Ada teman-teman, ada ibunya Bima, ada Rian, dan beberapa orang yang aku kenal dari pesan-pesan yang mereka kirim duluan. Nggak banyak orang, tapi semua yang hadir ada di dalam hatiku. Aku berdiri sebentar, melihat wajah-wajah yang ada di depanku, lalu bicara dengan suara yang tenang dan mantap.

"Kadang kita pikir perpisahan itu akhir dari segalanya. Tapi ternyata perpisahan cuma mengubah bentuk kebersamaan kita. Orang yang kita cintai nggak lagi ada di depan mata kita, tapi dia hidup di setiap kebaikan yang kita lakukan, di setiap keberanian yang kita miliki, di setiap langkah yang kita ambil dengan tulus. Bima mengajarkan itu ke aku. Dia berjalan 38.000 langkahnya supaya aku merasa berharga. Sekarang langkahku bukan lagi milikku saja. Itu kelanjutan dari perjalanannya juga. Dan aku akan terus berjalan, selama kakiku masih bisa melangkah, selama hatiku masih bisa mencintai. Terima kasih sudah ikut berjalan sejauh ini."

Selesai bicara, aku menyentuh liontin di dadaku, tersenyum ke luar jendela tempat matahari sedang terbenam dengan cahaya keemasan yang hangat. Di mana pun kamu sekarang Bima, lihat kan? Aku udah sampai di tempat yang lebih baik. Bukan karena aku sempurna, tapi karena kamu percaya padaku. Terima kasih udah mempercayakan ceritamu ke tanganku. Aku jaga dengan baik. Selamat jalan, langkahku yang terindah. Sampai kita bertemu lagi di pertemuan yang tak ada perpisahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!