NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 - TERIAKAN DI PARKIRAN

Udara menjelang fajar di sudut Kota Mati terasa begitu menggigit tulang. Kabut tipis bercampur warna kekuningan dari kabut spora menggantung rendah di atas permukaan jalan, menyelimuti deretan pertokoan yang tutup rapat dan tumpukan sampah yang berserakan. Luna melangkah perlahan mendahului Rian, menyusuri bayangan lorong sempit di balik area pemukiman warga. Setiap injakan kakinya di atas semen basah dilakukan dengan perhitungan presisi seorang taruna terlatih, hampir tak menimbulkan getaran suara sama sekali.

Di belakangnya, Rian berjalan dengan tubuh agak membungkuk. Ransel militer berwarna hijau zaitun yang kini sarat berisi makanan kaleng dan botol air bersih terasa kian membebani pundaknya yang kaku. Napasnya teratur namun terdengar berat, sementara matanya yang sangat lelah tak henti-hentinya memindai tiap sudut gelap di antara celah bangunan kayu dan pipa pembuangan.

"Pegang tali ranselmu lebih tinggi agar beban di punggungmu tidak bergoyang." Luna menegur pelan tanpa menghentikan pandangannya ke depan.

"Aku usahakan, Luna. Kakiku rasanya sudah kaku sejak kita keluar tadi." Rian berbisik dengan napas terengah-engah.

"Istirahat dua menit di balik barikade beton itu." Luna menunjuk sudut gang yang terlindung tumpukan karung semen tua.

Mereka berdua merapat ke dinding semen, bersembunyi di balik tumpukan karung yang mulai mengeras terpapar hujan dan udara malam. Luna berjongkok anggun, menarik busur recurve ke dekat dadanya, sementara jemarinya bergerak cekatan memeriksa keutuhan bulu penyeimbang pada anak panah karbon di tabung pinggangnya. Sisa-sisa noda darah hitam dari zombie berkepala jamur yang mereka hadapi di ruko tadi telah mengering sepenuhnya di kain pembersihnya.

Di sekeliling mereka, kota ini benar-benar menghening. Kekacauan luar biasa yang meledak kemarin siang kini mengendap menjadi keheningan yang sangat mencekam. Mobil-mobil yang bertabrakan di jalan utama tampak bagaikan bangkai besi raksasa yang ditinggalkan pemiliknya begitu saja. Sesekali, embusan angin dingin membawa aroma sangit karet terbakar bercampur bau tengik spora yang kian pekat menempel di tenggorokan.

"Kota ini terasa seperti kuburan raksasa." Rian berbisik lirih sambil mengusap wajahnya yang berdebu.

"Kepanikan kemarin sudah mereda karena sebagian besar orang terinfeksi atau terjebak. Tapi jangan terkecoh, di balik pintu-pintu ini masih banyak makhluk itu yang berkeliaran mencari suara." Luna menanggapi datar.

"Menurutmu, berapa lama kita harus jalan kaki untuk bisa keluar dari distrik ini?" Rian bertanya ragu.

"Tergantung berapa banyak hambatan di depan. Tujuan kita sekarang adalah melewati jalan lingkar luar menuju area pemukiman yang lebih terbuka." Luna menjawab seraya berdiri tegak kembali.

Mereka melanjutkan perjalanan, keluar dari lorong pemukiman dan mulai memasuki batas kawasan komersial sekunder. Di kawasan ini, berdiri beberapa bangunan fasilitas umum yang megah, salah satunya adalah Gedung Serbaguna Kota—sebuah kompleks bangunan luas yang terdiri dari aula olahraga indoor, ruang pameran, serta struktur gedung parkir bertingkat yang terbuat dari konstruksi beton tebal bersudut tegas.

Saat mereka menyusuri trotoar di samping pagar besi kompleks gedung tersebut, langit mulai berganti warna menjadi abu-abu kebiruan. Sinar matahari pagi yang redup berusaha keras menembus ketebalan asap kabut spora yang menggantung di udara.

Tiba-tiba, sebuah benturan dahsyat meretakkan keheningan fajar.

DUUMM!

Suara hantaman logam berat yang menghantam bodi mobil terdengar nyaring dari arah area lantai dua gedung parkir bertingkat. Suara benturan itu begitu keras hingga memicu gema beruntun di antara dinding-dinding beton kompleks serbaguna.

"Dengar itu?" Luna mendadak menghentikan langkahnya, mengangkat tangan kanan secara refleks.

"Suara apa itu? Seperti ada mobil jatuh!" Rian bertanya panik dengan mata terbelalak.

"Bukan mobil jatuh. Itu benturan sengaja." Luna berbisik tajam.

PRANG!

Suara kaca mobil pecah berkeping-keping terdengar membahana, disusul oleh deretan geraman parau yang sangat familiar. Belasan zombie terinfeksi melengkingkan suara serak mereka serentak dari atas gedung parkir, membuat bulu kuduk Rian berdiri seketika. Namun, di tengah riuhnya erangan makhluk-makhluk berspora itu, terdengar sebuah teriakan manusia yang sangat lantang, dalam, dan penuh amarah murni.

"Maju kalian semua, bangsat!" sebuah suara pria menggelegar dari lantai dua gedung parkir.

Suara pria itu diikuti oleh benturan besi beruntun yang amat keras. BUK! BUK! BRAM! Suara hantaman itu begitu bertenaga, disusul oleh bunyi tubuh-tubuh berat yang terlempar menghantam dinding beton atau kap mesin mobil.

"Ada orang yang bertarung di atas sana!" Rian berteriak pelan dalam bisikan tegang.

"Merayap ke balik pos penjaga itu, cepat!" Luna memberi komando seraya menarik lengan Rian.

Mereka berdua melompati fondasi taman yang hancur, merayap cepat ke balik bangunan pos penjaga pintu masuk utama kompleks parkir. Dari balik celah jendela pos yang kacanya telah pecah berantakan, Luna mengangkat matanya, mengamati lantai dua gedung parkir terbuka yang berada sekitar tiga puluh meter di hadapan mereka.

Pemandangan di atas sana sangat luar biasa sekaligus menegangkan.

Di antara deretan mobil yang saling berdesakan, seorang pria bertubuh kekar dengan kaos hitam robek-robek sedang dikepung oleh tak kurang dari lima belas zombie terinfeksi. Pria itu mengayunkan sebatang pipa besi tebal berukuran satu meter dengan presisi dan kekuatan brutal. Setiap ayunannya dihantamkan tepat ke arah kepala atau leher monster yang mendekat, menciptakan benturan keras yang melempar makhluk-makhluk itu hingga tersungkur di atas lantai semen.

"Dia bertarung sendirian?" Rian berbisik kaget dari balik bahu Luna.

"Fisiknya sangat kuat, tapi posisinya terdesak. Dia terkunci di sudut ramp jalan turun." Luna mengamati pertempuran itu dengan mata taktisnya.

Pria kekar itu—Steve—tampak bersimbah darah hitam bercampur peluh yang membasahi wajah dan otot lengannya yang kekar. Meski napasnya memburu berat, matanya menyalakan keputusasaan bercampur keberanian murni. Ia menggunakan kap mobil sedan yang sudah penyok sebagai barikade darurat, menahan gempuran zombie berkepala jamur yang mencoba merangkak naik dari segala sisi.

"Mati kamu!" teriakan Steve menggema saat ia mengayunkan pipa besinya, menghancurkan kerak jamur salah satu zombie hingga makhluk itu roboh tak berkutik.

Namun, jumlah zombie di lantai dua itu terus bertambah dari arah dalam gedung. Bau darah segar dan teriakan amarah Steve menjadi pancingan yang terlalu kuat bagi gerombolan terinfeksi. Dari tangga darurat gedung, empat zombie jenis pelari cepat melompat keluar, langsung meluncur deras menuruni ramp menuju posisi Steve yang mulai tampak kelelahan.

"Dia tidak bakal bertahan lama kalau dikepung dari dua arah." Luna bergumam, matanya menyipit menilai jarak, sudut tembak, dan arah embusan angin.

"Luna... kita tidak usah ikut campur, kan? Lebih baik kita lari sebelum makhluk-makhluk itu melihat kita!" Rian memohon dengan wajah pucat pasi, menarik-narik celana taktis Luna.

Luna menoleh sejenak menatap Rian, lalu kembali memandangi pria di gedung parkir yang masih bertarung mati-matian tanpa sedikit pun niat untuk menyerah. Di dunia yang runtuh ini, menemukan manusia yang memiliki kekuatan fisik dan dorongan survival sekuat itu adalah hal yang sangat langka dan berharga.

Naluri taruna militer di dalam diri Luna berkecamuk tajam. Ia tahu, membiarkan pria itu tewas di tangan gerombolan zombie adalah sebuah kerugian besar bagi peluang bertahan hidup mereka di kota ini.

"Tetap bersembunyi di sini dan jangan keluar apa pun yang terjadi." Luna memberikan instruksi dingin.

"Kamu mau ke mana, Luna?!" Rian bertanya histeris dalam bisikannya.

Tanpa menjawab lagi, Luna menggeser posisi berdirinya dari balik tembok pos penjaga. Ia mencabut satu anak panah karbon berujung broadhead yang sangat tajam dari tabung pinggangnya, memasangnya pada busur recurve dengan satu gerakan yang sangat mulus, cepat, dan teratur.

Dari atas gedung parkir, teriakan Steve kembali terdengar saat pipa besinya tersangkut di antara bumper mobil, sementara dua zombie pelari siap menerkam lehernya dari samping.

Luna menarik tali busur hingga menempel rapat di sudut bibirnya, mengarahkan mata panahnya tepat ke arah area lantai dua gedung parkir. Pertarungan hidup dan mati di parkiran itu baru saja memasuki detik-detik paling kritis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!