NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA BELUM MATI

SUAMIKU TERNYATA BELUM MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Selama hampir empat tahun, Puspita Kusumah dikurung di panti perawatan setelah keluarganya merekayasa tuduhan terhadapnya. Dengan bantuan kuasa hukum independen, ia meminta pengadilan membatalkan penetapan yang membatasi kewenangannya mengurus kepentingan perdata dan memperoleh putusan yang memulihkan haknya. Setelah dokter menyatakan rawat inap tak lagi diperlukan, ia dipulangkan secara resmi dan dapat mengurus warisan suaminya, Arya, termasuk saham Keluarga Mahesa. Namun, ada sebuah rahasia. Suaminya yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat ternyata masih hidup dan menyamar sebagai dosen hukum yang dingin di kampus. Kini keluarga Kusumah dan Mahesa berusaha merebut hartanya, sementara orang yang paling ia rindukan berdiri di hadapannya tanpa sudi mengakuinya. Mengapa Arya memalsukan kematian, dan sampai kapan Puspita harus berpura-pura tidak mengenal suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Adik Kecil yang Terlalu Polos

Angka 04.30 berdiri di pojok kiri layar keamanan rumah deret, putih pucat di atas gambar hitam putih, dan tepat di bawah angka itu sebuah tong sampah beroda sedang digeser pelan di sisi luar pagar. Puspita menatapnya dari sofa dengan selimut yang tersingkap di pangkuan, jari-jarinya membeku di atas cangkir teh yang sudah lama dingin.

Tong itu tidak bergerak sendiri. Di baliknya ada bahu kurus seorang anak laki-laki yang menunduk, menepuk-nepuk sisi tong dengan telapak tangan kecil, seakan sedang memarkirkan kendaraan besar sebelum menaikinya.

Ia menekan tombol jeda. Layar membeku pada bahu itu, dan Puspita menatap potongan gambar itu lalu membuang napas panjang melalui hidung.

\=\=\=\=

Beberapa jam sebelumnya, matahari belum terbit ketika pagar besi rumah deret berbunyi pelan oleh dorongan tangan dari luar.

Pelayan bernama Tari baru saja menurunkan sekat jendela dapur ketika melihat sosok yang berdiri di balik pagar membawa sebuah kantong kertas cokelat, jaketnya longgar, rambutnya berantakan, dan sepatunya belum sempat diikat sampai selesai.

"Kak Puspita ada di rumah?" tanya bocah itu.

"Belum bangun, Mas Rendra."

"Aku tunggu di teras saja."

"Jangan." Tari menggeleng. "Nona pasti marah kalau tahu kau datang begini pagi."

Rendra Kusumah tidak menjawab. Ia hanya duduk di anak tangga terakhir dengan kantong kertas yang kini ia letakkan di pangkuan, lalu menatap pintu kayu seolah pintu itu bisa terbuka oleh tatapannya sendiri.

\=\=\=\=

Puspita baru terbangun setelah empat puluh menit berlalu, dan yang pertama kali ia lihat bukan pagi di balik jendela, melainkan bocah yang berdiri tegak di balik pagar dengan tangan yang masih menggenggam kantong itu.

"Apa maumu?" suaranya datar dari balik pintu.

"Sarapan." Rendra menyodorkan kantong itu setengah langkah ke depan. "Bubur dan gorengan dari warung di ujung kompleks, yang pernah kau bilang tidak enak, tetapi selalu kau beli."

"Siapa bilang aku suka?"

"Kau sendiri yang bilang waktu sakit perut bulan lalu."

Puspita menatapnya cukup lama, lalu ia menahan pintu setengah terbuka, hanya menyisakan celah selebar bahu di antara keduanya. "Pulang. Aku tidak butuh sarapan dari adik yang tidak tahu diri."

Wajah Rendra berubah sedikit sebelum ia berhasil menutupinya kembali dengan gerakan bahu yang dibuat-buat. "Aku hanya mau mengantar."

"Kucingmu sudah tidak ada di sini, jadi tidak ada alasan bagimu datang." Puspita menyilangkan kedua lengannya, berdiri menghalangi jalan masuk. "Dengar baik-baik. Lain kali kucing, anjing, atau binatang apa pun yang kau bawa ke halaman ini, aku bunuh di tempat. Pergi sekarang."

Kantong kertas di tangan bocah itu turun perlahan sampai bersentuhan dengan ujung sepatunya yang belum terikat.

"Kak..."

"Keluar."

Rendra tidak mengangkat kantong itu dari lantai. Ia membiarkannya di situ, lalu berbalik tanpa suara.

\=\=\=\=

Tari berdiri di tepi pintu dapur sepanjang percakapan itu tanpa berani mengeluarkan satu suara pun, dan ia hanya sempat melihat punggung Rendra menjauh di balik pagar dengan langkah yang jauh lebih lambat dari biasanya sebelum pagar besi menutup kembali.

Kantong kertas cokelat yang ditinggalkan bocah itu masih ada di sana. Tari memungutnya dan meletakkannya di meja makan, karena tidak satu pun perintah yang melarangnya menyimpan bungkusan itu.

"Nyonya." Ia menahan diri untuk tidak mengejar. "Mungkin ada baiknya..."

"Rekaman keamanan." Puspita memotong kalimat itu tanpa menoleh. "Kumpulkan semua rekaman kamera sejak semalam dan tunjukkan padaku."

\=\=\=\=

Tak lama berselang, layar di ruang tengah menyala, membelah ruangan yang masih gelap dengan cahaya kebiruan, dan Tari memilih sudut kamera gerbang yang paling dekat dengan waktu yang diminta.

Yang muncul pertama bukan Rendra.

Yang muncul pertama adalah sebuah mobil taksi yang berhenti di ujung jalan kompleks tepat pukul empat lewat dua puluh, dan dari pintu belakangnya turun seorang anak laki-laki dengan kantong kertas di tangan.

"Pukul empat lewat dua puluh," gumam Puspita. "Taksi itu datang dari arah Kediaman Kusumah."

Jarak antara kediaman besar itu dan rumah deret memang membutuhkan waktu dua puluh menit perjalanan, yang berarti taksi itu sudah meninggalkan kawasan kediaman tepat pukul empat. Pada jam itu angkutan umum tidak beroperasi, dan bocah seusianya tentu tidak diizinkan keluar rumah oleh siapa pun.

\=\=\=\=

Di layar, Rendra berjalan menyusuri pagar kompleks selama beberapa menit sebelum ia menemukan celah di antara dua tiang yang bisa didorong pelan. Ia menempelkan wajahnya ke besi sebentar, lalu kembali berdiri di depan pintu gerbang.

Angka di pojok layar menunjukkan pukul empat tiga puluh ketika Rendra melakukan hal yang membuat Tari menutup mulutnya dengan tangan.

Ia menyeret tong sampah beroda dari sisi taman tetangga, mendorongnya pelan sampai berhenti di bawah sudut kamera yang paling jauh, lalu menaiki tong itu dengan kaki kanan lebih dulu. Tong itu bergoyang sekali, dan bahu kurusnya menegang sampai kausnya memanjang di kedua sisi.

Ia naik.

Dari atas tembok, ia hanya menunduk, menatap ke dalam halaman yang masih sunyi, dengan wajah yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun di bawah sana.

Lalu ia melompat turun di sisi luar, menepuk debu dari celananya, dan berjalan kembali ke pintu gerbang.

Rendra tetap berdiri di tempat yang sama selama lima belas menit, dua puluh menit, sementara angka di pojok layar bergerak tanpa menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Bocah di balik pagar itu tidak memanggil, tidak menekan bel, tidak menaikkan suara. Ia hanya berdiri, sesekali menggeser kaki dari satu sisi ke sisi lain, bagai menunggu kereta yang tidak pernah datang.

"Sepertinya ia ingin bertemu dengan Nyonya." Tari tidak bisa menahan dirinya sendiri.

Puspita tidak menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada layar, dan seluruh wajahnya tertutup oleh cahaya biru itu sampai tidak ada satu pun ekspresi yang bisa dibaca.

\=\=\=\=

"Boleh aku mematikan rekamannya, Nyonya?" Tari bertanya setelah beberapa lama.

"Jangan." Puspita mengulurkan tangan dan menekan tombol simpan pada panel. "Simpan berkasnya. Beri nama dengan tanggal kejadian, jangan sampai terhapus."

Tari hampir bertanya apa gunanya menyimpan rekaman seorang bocah yang baru saja diusir, tetapi wajah tuannya yang menatap layar dengan lurus membuat pertanyaan itu kembali masuk ke tenggorokan.

Puspita sendiri tidak bisa menjelaskannya. Yang ia tahu, bocah itu datang sebelum fajar, memanjat tembok hanya untuk melihat ke dalam halaman yang sama sekali tidak ingin ia injak, lalu menunggu tanpa suara sampai matahari terbit.

\=\=\=\=

Kemudian, seperti biasa, ingatan yang tidak ia undang datang tanpa permisi.

Paviliun belakang di Kediaman Kusumah tempo dulu beratap genting yang bocor di dua sisi, dan hujan masuk ke dalam ember yang diletakkan di bawahnya. Di paviliun itu pula ayah mereka menarik cambuk tali rami dari pinggangnya sendiri setiap kali laporan tentang anak-anak kembar itu sampai ke mejanya.

Puspita berusia delapan tahun ketika Retno datang menjemput mereka ke Kota Wirasaba, menggandeng dua anak yang bahkan belum tahu cara memakai dasi, lalu membawa keduanya ke Kediaman Kusumah.

\=\=\=\=

Damar, kakak kembarnya, berdiri lebih dulu di barisan depan ketika mereka tiba, dan untuk beberapa minggu pertama ia tidak bicara sedikit pun pada siapa pun kecuali adiknya sendiri.

Anak-anak di kampung menyebut mereka dengan sebutan yang tidak pantas diulang, melempari Damar dengan kerikil dari balik pagar setiap kali ia keluar membeli gula, dan Puspita yang bertubuh lebih kecil selalu berlari mengambil ranting patah untuk membalasnya.

"Kak, tidak usah." Damar selalu menarik lengannya pulang dengan baju yang sobek di bagian bahu.

"Kalau aku diam, mereka akan melakukannya lagi besok," jawabnya selalu.

\=\=\=\=

Galuh menyindir mereka berdua dengan kalimat yang lebih tajam daripada kerikil mana pun, dan sindiran itu selalu ia ucapkan di depan tamu supaya terdengar seperti lelucon.

"Perusak rumah tangga melahirkan anak-anak yang sama." Galuh tersenyum manis sambil memegang gelasnya. "Bukankah begitu?"

Retno, ibu kandung mereka, hanya berdiri di sisi meja dengan tangan yang tidak tahu harus diletakkan di mana, dan tidak satu pun kalimat pembelaan yang keluar dari mulutnya seumur hidupnya.

\=\=\=\=

Sementara itu, di sayap lain kediaman itu, Wibisono menggendong Rendra yang baru lahir dengan kedua tangan yang sama kasarnya seperti tangan yang memegang cambuk, dan wajahnya berubah lembut dalam seketika.

Ketika pikirannya jatuh pada dua anak kembar yang tinggal jauh di kampung, kelembutan itu lenyap seketika seperti nyala lilin yang ditiup.

pesta syukuran kelahiran Rendra yang paling megah diadakan di aula utama dengan lampion yang digantung dari langit-langit sampai ke pelataran, dan seluruh bangsawan kota datang membawa kado yang nilainya melebihi pendapatan satu desa selama setahun.

Pada malam yang sama, dua anak kembar tidur di gubuk jerami jauh di sana, bergantian memeluk satu bantal karena tidak ada bantal kedua.

\=\=\=\=

Setelah mereka pulang ke Kediaman Kusumah, kebencian itu menemukan wajahnya.

Suatu sore di taman Kediaman Kusumah, saat kedua anak kembar sedang bermain di dekatnya, bocah itu berlari menghampiri mereka, tersandung, lalu jatuh dengan kepala membentur tepian batu. Galuh, yang melihat dari balik semak, langsung berteriak bahwa si kembar sengaja menjatuhkan adiknya.

Wibisono datang membawa cambuk tali. Damar menangkis pukulan pertama dengan lengannya sampai darah menetes ke ujung jari, dan Puspita berdiri di depan kakaknya tanpa bergeser satu langkah pun.

"Sudah seharusnya kami mencekik kalian berdua, nasib sial," kata Wibisono sambil menunjuk mereka dengan ujung cambuk.

Sejak malam itu, ketika Rendra berlari menghampiri mereka dengan tangan terentang, Puspita hanya melempar batu kecil ke kakinya dan memanggilnya bodoh tanpa akal. Rendra menangis setiap kali, tetapi besoknya ia datang lagi, dan lusa, dan seterusnya. Semakin sering ia dimarahi, semakin gemar ia mengikuti Puspita, seperti ekor kecil yang tidak tahu kapan harus berhenti.

\=\=\=\=

Selama bertahun-tahun di Wirasaba, Retno menjenguk mereka dua kali setahun, sedangkan Wibisono tidak pernah datang sekali pun.

Hanya Bu Ratmi, nenek tua yang menitipkan mereka, yang mengganti lampu paviliun setiap kali putus dan memasak dua porsi bubur dengan takaran yang sama besar untuk dua anak yang tidak pernah diakui.

Dan ketika Rendra lahir, kunjungan Retno menjadi lebih jarang lagi, seolah kehadiran bocah baru itu menutup satu tugas yang sejak lama ia anggap selesai.

\=\=\=\=

Ingatan itu berhenti sendiri di tempat yang paling ia benci.

Puspita menatap layar yang sudah membeku pada bingkai Rendra di atas tembok, lalu ia menekan tombol ulang sekali lagi dan membiarkan gambar itu berjalan dari awal sampai bocah itu menghilang di tikungan jalan.

"Bodoh sekali," katanya pada ruangan yang kosong. Suaranya bahkan tidak berubah dingin, hanya datar, seolah sedang mengomentari arah angin.

Tari yang berdiri di dekat pintu tidak menjawab. Ia sudah bekerja cukup lama untuk tahu kapan seseorang sebaiknya berpura-pura tidak mendengar.

\=\=\=\=

Puspita mengangkat ponselnya dan mengirim satu pesan pada nomor yang tidak ia simpan dengan nama apa pun.

[Puspita]: Ke depannya jangan berangkat sepagi itu. Aku tidak butuh sarapan, dan aku tidak butuh kau memanjat tembok rumahku.

Balasan datang beberapa saat kemudian, dan yang tertera di layar hanya dua baris pendek.

[Rendra]: Kau tahu dari mana aku dapat warung itu?

[Rendra]: Warung itu buka jam empat pagi, Kak. Aku sudah menunggu di depannya sejak jam tiga.

Puspita menatap dua baris itu sampai huruf-hurufnya terasa mengambang di atas layar, lalu ia menutup aplikasi pesan dengan gerakan ibu jari yang terlalu cepat.

\=\=\=\=

Ia kembali menatap monitor keamanan, menekan tombol simpan untuk kedua kalinya, dan memilih map berkas tersembunyi yang tidak pernah ia izinkan siapa pun membukanya.

Berkas itu hanya diberi tanggal kejadian, tanpa kalimat, tanpa keterangan tambahan.

Suatu hari nanti, kalau bocah itu sudah cukup besar untuk mengerti bahwa kasih sayang tidak selalu datang dalam bentuk pelukan, rekaman hitam putih itu mungkin berguna.

"Atau setidaknya," gumam Puspita sambil mematikan layar, "bukti bahwa ada satu orang di keluarga ini yang pernah berusaha sekuat tenaga menemuiku."

\=\=\=\=

Ruangan itu kembali gelap begitu monitor kecil di sudutnya mati, dan untuk sesaat wajah Puspita hanya terlihat dari cahaya ponselnya yang memantul di kaca jendela.

Ia menatap pantulan itu beberapa detik, lalu membuang pandangannya ke arah taman yang masih basah oleh embun.

Di kejauhan, suara burung pagi mulai terdengar, dan hari itu dimulai seperti hari-hari lainnya, tanpa seorang pun di rumah itu tahu bahwa jauh sebelum fajar, seorang bocah sudah menunggu di balik pagar tanpa suara.

Puspita menurunkan ponselnya, berdiri, dan berjalan menuju kamar dengan selimut yang masih tergenggam di tangan kirinya.

Di belakangnya, layar yang sudah mati memantulkan ruang tengah yang kosong, dan kantong kertas cokelat di meja makan masih menunggu seseorang yang belum tentu mau membukanya.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
singgah dimari nanti bacanya ya kaCan
☠ Novita ☘𝓡𝓳『⃟𝐉 zc❖ 🍒⃞⃟🦅
mampir kak, semangat yah
Aska
semangat kk ceritanya bagus , gak bisa komen cepet-cepet tapi tenang dibaca semua kok.
Aska
halo apa kabar , aku mampir lagi nih
Aska: udah..
total 13 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!