Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 AFF U-16 Thailand - Lawan Vietnam dan Janji Bola Yang Dijual
Stadion Chonburi , Thailand. 32 derajat. Rumputnya hijau seperti karpet , bukan seperti Lapangan Tikala Manado yang botak - botak.
Ini bukan uji coba lawan Papua lagi. Ini Garuda di dada.
Semifinal AFF U-16 : Indonesia vs Vietnam.
Skor 1-1. Di menit ke 88. 15.000 penonton Thailand berteriak untuk Vietnam , karena Indonesia sudah kalahkan Thailand di grup.
Indonesia dapat tendangan bebas. Jarak 26 meter. Posisi tengah , agak kanan. Lebih jauh dari biasanya. Bola agak kempes karena panas.
Semua pemain Indonesia sudah capek. Elkan No 10 sudah ditarik keluar , hamstring. Striker No 9 kram kakinya.
Pelatih Coach Bima Sakti lihat bangku cadangan.
"BIMA! Masuk!"
Bima No 17 sekarang. Bukan 37 lagi. Nomor keramatnya di Manado United dulu.
Dia masuk di menit ke 85. Belum sentuh bola sama sekali. Ini sentuhan pertama.
Pemain Vietnam No 4 yang jaga pagar betis tertawa , bilang sesuatu dalam bahasa Vietnam yang artinya "Anak kecil."
Bima taruh bola di atas tanah. Tidak ada Paman Stenly di pinggir. Tidak ada Bapak dengan kemeja kancing 2. Yang ada cuma 15.000 orang yang membenci dia.
Dia mundur 3 langkah.
Tapi kali ini dia tidak langsung tendang. Dia ingat satu hal.
Sebelum berangkat ke Thailand , dia mampir ke toko olahraga di Megamas , Manado. Toko tempat dia jual bola pertamanya.
Bola itu masih ada. Dipajang di etalase kaca , dengan tulisan karton
"Bola pertama Bima Arka Pradipta - Calon timnas"
Pemilik toko berjanji "Kalau ngana masuk timnas dan cetak gol di AFF , kita kembalikan bola ini secara gratis. Tidak perlu beli."
Janji itu dia simpan di saku celana Timnas.
Sekarang bola di depannya bukan bola itu. Bola ini baru. Bola AFF.
Tapi di kepalanya , ini bola yang sama. Bola lumpur Tuminting.
Wasit tiup peluit.
Bima usap.
Bola melayang. Tinggi. Pelan. Semua pemain dari Vietnam kira akan keluar , akan lewat saja di atas gawang.
Kiper Vietnam loncat. Sudah benar posisinya. Tangan sudah berada di atas.
Lalu bola jatuh. Berbelok. Turun seperti daun pisang jatuh.
Pisang Raja Jatuh. Jurus baru yang dia latih di Senayan diam - diam tiap malam pada jam 10 , waktu semua orang sudah tidur , dia pakai bola bekas.
GOL.
2-1. Di menit ke 89.
Stadion diam. Lalu tribun Indonesia yang cuma 100 orang di pojok , berteriak. Termasuk Paman Stenly yang menonton dari tv layar tancap di Tuminting , yang Paman gadaikan HP untuk sewa layar.
Bima berlari. Tidak ambil bola dan peluk seperti saat dia umur 12 tahun. Tidak buka baju seperti di Jakarta.
Dia berlari ke kamera , angkat kaos timnasnya. Di dalam kaos dalamnya yang putih , tulisan spidol baru , ditulis sendiri sebelum pertandingan
"Bola itu masih saya punya ?"
Untuk pemilik toko di Megamas.
Wasit kartu kuning karena buka baju. Bima tidak peduli.
Pertandingan berakhir dengan skor 2-1. Indonesia melaju ke babak final.
Di ruang ganti , Coach Bima Sakti peluk Bima lama. Coach bilang "Ngana bukan anak yang tidak bisa tendangan lurus. Ngana anak yang memang tidak ditakdirkan untuk lurus."
Malam itu , di Manado , pemilik toko olahraga itu turunkan bola dari etalase. Dia lap , dia simpan di dalam kardus. Dia tulis wa ke nomor Ibu Bima
"Bu , bilang ke Bima , bola itu sudah saya bungkus. Tunggu dia pulang. Gratis."
Di Tuminting , Bapak Yosua yang kakinya sudah agak sembuh , untuk pertama kalinya setelah 2 bulan , turun ke laut. Tidak untuk melaut. Hanya untuk cuci kaki di air asin , sambil lihat perahu Sinar Mira yang masih terikat.
Dia bilang ke perahu itu dengan pelan
"Mira , dia sudah tidak di Tuminting lagi."
#####################################
Sampai di sini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like , dan hadiahnya
Happy reading