NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_

Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15.Tatapan Misterius dari Balik Kaca Film

Hari Kamis sore yang cerah bertukar jingga, setelah menyelesaikan seluruh giliran tugas jaga shift paginya yang cukup padat dan menguras energi di UGD sekunder, Tera berniat memberikan sebuah kejutan kecil yang menyenangkan untuk kedua orang tuanya.

Dengan menggunakan sebagian kecil dari uang sisa insentif harian transportasi dan uang saku daruratnya minggu ini, dia mengajak Pak Hasyim yang baru saja selesai membersihkan lapak sayur di pasar induk dan Bu Sulis untuk pergi makan bersama di luar rumah kontrakan.

Tempat yang dipilih oleh Tera bukanlah sebuah restoran mewah berbintang atau kafe modern yang mahal, melainkan sebuah warung makan lesehan sederhana namun legendaris yang terletak di pinggir jalan protokol pusat kota, tidak jauh dari kawasan bisnis utama.

Warung tenda pinggir jalan itu menyajikan menu andalan ayam bakar madu dan bebek goreng krispi dengan harga yang relatif sangat ramah bagi kantong pekerja biasa, namun sangat terkenal dengan cita rasa bumbunya yang lezat dan meresap hingga ke dalam tulang.

Mereka bertiga duduk melingkar dengan santai di atas tikar pandan yang digelar di atas lantai papan kayu area lesehan terbuka warung tersebut.

Suara bising deru lalu lintas kota besar, desau knalpot bus kota, dan klakson kendaraan yang merayap padat di tengah kemacetan gila jam pulang kantor menjadi musik latar alami bagi makan malam keluarga kecil itu.

"Wah, ramai sekali pengunjungnya yang mengantre di depan, Tera. Apa kamu yakin harga makanan di sini tidak terlalu mahal untuk kita?" tanya Bu Sulis dengan nada suara cemas yang khas, matanya berulang kali melirik ke arah daftar menu yang dilaminating plastik di atas meja kayu kecil.

Tera terkekeh geli melihat kecemasan ibunya, lalu meraih dan memegang tangan ibunya dengan lembut untuk menenangkannya. "Tenang saja dan jangan khawatir, Ibu sayang. Harganya sangat terjangkau dan bersahabat kok. Ini semua murni pakai uang insentif transportasi tambahan Tera minggu ini yang baru cair kemarin, jadi legal, berkah, dan sangat aman untuk kondisi dompet kita malam ini. Pesan saja apa yang Ibu dan Bapak suka dari daftar menu itu. Malam ini kita harus makan kenyang dan bahagia bersama-sama sebagai bentuk syukur."

Pak Hasyim tertawa kecil mendengar ucapan putrinya, membenarkan posisi duduk silanya di atas tikar pandan agar terasa lebih nyaman setelah seharian berdiri di pasar.

"Kalau begitu, Bapak mau memesan menu bebek goreng paha bagian atas saja, Tera. Sudah lama sekali rasanya lidah tua Bapak ini tidak mengecap rasa bebek goreng sejak kita terpaksa meninggalkan rumah dan kampung halaman kita di Jawa Timur dulu."

"Siap dilaksanakan, Bapak! Satu porsi bebek goreng paha krispi untuk pahlawan hidup Tera!" seru Tera dengan gaya jenaka yang ceria, menuliskan pesanan tersebut dengan cepat di secarik kertas kecil lalu menyerahkannya kepada pelayan warung tenda yang lewat dengan sebuah senyuman ramah tanpa beban.

Sambil menunggu pesanan makanan mereka disajikan di atas meja, ketiga orang itu mengobrol dengan sangat asyik dan mengalir tanpa sekat.

Tera menceritakan beberapa kejadian lucu dan konyol yang dialaminya di rumah sakit selama beberapa hari ini, termasuk bagaimana seorang pasien anak kecil yang ketakutan melihat jarum suntik mendadak mengira stetoskop perak miliknya adalah mainan ular-ularan sirkus, yang langsung memicu tawa renyah dan lepas dari mulut Pak Hasyim dan Bu Sulis.

Kehangatan, kasih sayang, dan kebahagiaan murni yang sangat padat memancar jelas dari setiap gestur tubuh keluarga kecil itu. Tera berulang kali dengan telaten menyeka tetesan keringat di kening ibunya menggunakan selembar tisu, sementara Pak Hasyim menatap wajah anak gadis tunggalnya dengan binar mata penuh kasih sayang yang tak terbatas dan mendalam.

Namun, tanpa sengaja dan tanpa diketahui oleh siapa pun di warung itu, pada saat yang bersamaan, sebuah mobil sedan mewah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam pekat sedang terjebak kemacetan parah tepat di lajur jalan raya protokol yang berada persis di depan warung lesehan tenda tersebut.

Mobil mewah dengan harga puluhan miliar rupiah itu bergerak merayap sangat lambat bagai siput, hanya beberapa sentimeter setiap menitnya karena volume kendaraan yang mengunci jalan.

Di dalam kabin penumpang bagian belakang mobil mewah yang sangat kedap suara, dingin, dan dilapisi oleh fasilitas premium itu, duduk Sean Eagle Nugraha.

Pria itu baru saja menyelesaikan pertemuan bisnis tingkat tinggi yang sangat melelahkan dengan beberapa investor asing asal Eropa di gedung pencakar langit terdekat dan tampak penat.

Jari-jarinya yang kokoh dan berurat tegas sedang memijat pelipisnya perlahan untuk meredakan rasa pening samar yang sesekali masih muncul akibat sisa gangguan energi internalnya yang belum pulih secara total di jalurnya.

Secara refleks Sean mengalihkan pandangan matanya yang lelah ke luar jendela kaca mobil bagian samping.

Kaca mobil mewah itu dilapisi oleh teknologi kaca film hitam pekat satu arah tingkat tinggi yang sangat mahal—Sean bisa melihat ke luar dengan tingkat kejelasan yang sangat tinggi, tetapi orang-orang di luar jalanan sama sekali tidak akan bisa melihat ke dalam kabin mobilnya yang gelap dan privat.

Pandangan mata tajam bak elang milik Sean menyapu deretan pertokoan, trotoar jalan yang dipadati pejalan kaki, dan warung-warung tenda di pinggir jalan raya protokol tersebut, hingga akhirnya gerakan matanya terkunci sepenuhnya dan berhenti pada satu titik fokus di warung makan lesehan sederhana.

Di sana, di bawah sorotan lampu neon kuning warung tenda yang temaram dan bergoyang ditiup angin malam, Sean melihat sosok Lentera. Gadis itu sedang tertawa lepas tanpa beban, memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan sepasang lesung pipit samar di kedua pipinya yang membuatnya tampak sepuluh kali lipat lebih cantik, manis, dan bersinar daripada saat dia mengenakan jas dokter putih formal dengan ekspresi serius di koridor rumah sakit.

Sean memperhatikan dengan sangat detail bagaimana jari-jari mungil Tera dengan sangat telaten dan sabar memisahkan daging bebek yang lembut dari tulangnya, lalu meletakkan potongan daging pilihan itu ke atas piring nasi milik seorang pria tua berkemeja batik usang yang duduk di sampingnya, dilanjutkan dengan menyuapi ibunya sendiri dengan gerakan yang sangat lembut penuh kasih sayang.

Itu pasti kedua orang tuanya, batin Sean di dalam hatinya yang sunyi, sepasang matanya menyipit memperhatikan setiap interaksi tersebut tanpa berkedip.

Sean tertegun dan terpaku di posisinya selama beberapa menit penuh selama mobilnya tertahan macet.

Apa yang dia lihat secara langsung di seberang jalan raya malam ini—sebuah keluarga kecil yang makan bersama di pinggir jalan yang berdebu, di atas tikar pandan tipis yang usang, berbagi sepotong bebek goreng sederhana di tengah bisingnya suara klakson bus kota—justru memancarkan sebuah aura kebahagiaan yang begitu padat, murni, tegar, dan tidak akan pernah bisa dibeli dengan apapun.

"Tuan Sean? Apakah ada masalah dengan rute jalan kemacetan di depan kita? Apakah Anda ingin saya mencari jalur alternatif memutar?" tanya sang sopir pribadi dari balik kemudi depan dengan nada suara yang sangat berhati-hati, melirik melalui kaca spion tengah setelah menyadari majikannya terus menatap ke luar jendela ke satu arah dalam waktu yang cukup lama tanpa bergerak sedikit pun.

"Tidak perlu. Tetap di jalur ini dan jalan terus mengikuti arus," jawab Sean pendek dengan suara rendah, berat, dan tenangnya yang khas, tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca mobil.

Sean kembali memfokuskan pandangan matanya ke arah Lentera yang saat itu sedang mengusap sudut bibir ibunya yang terkena sisa sambal menggunakan selembar tisu sambil tersenyum jenaka.

Tepat pada detik itu, dari bagian terdalam rongga dada Sean, seolah ada sebuah getaran hangat yang sangat halus, asing, dan aneh yang kembali muncul memicu detak jantungnya bergerak sedikit lebih cepat dari ritme biasanya.

Itu sama sekali bukan aliran energi supranatural yang bergejolak merusak pembuluh darahnya seperti yang biasa terjadi saat dia kelelahan, melainkan sebuah getaran emosi kemanusiaan murni yang sudah sangat lama beku dan mati di dalam hatinya yang sedingin es batu akibat kerasnya persaingan dunia luar.

Pria berusia tiga puluh lima tahun itu akhirnya menyadari satu hal baru yang sangat krusial malam ini di tengah kemacetan kota.

Lentera bukan sekadar kunci penyeimbang energi supranatural yang dikirim oleh takdir garis keturunan, atau sebuah tabung obat medis darurat berjalan yang dibutuhkan untuk memulihkan kesehatan fisik dan organ dalamnya dari cacat energi.

Kehadiran gadis itu di dunianya, dengan seluruh kesederhanaan hidupnya, kecerdasan otaknya yang memukau, dan ketegaran serta ketulusan keluarganya menghadapi badai kemiskinan, adalah sebuah oase spiritual yang entah bagaimana mulai menarik ketertarikan jiwanya secara personal dan mendalam sebagai seorang pria dewasa biasa yang mendambakan kehangatan sejati.

Mobil Rolls-Royce Phantom hitam mewah itu perlahan-lahan bergerak maju beberapa meter seiring mulai terurainya kemacetan di lajur kanan, meninggalkan area warung lesehan tenda pinggir jalan tersebut di belakangnya.

Sean bersandar kembali sepenuhnya pada jok kulit premium mewahnya, memejamkan kedua matanya perlahan di bawah temaram lampu kabin yang redup, sambil membayangkan kembali senyuman lepas tanpa beban milik Lentera di bawah sorotan lampu neon kuning tadi yang seolah terus membekas di pelupuk matanya.

"Dokter Tera" gumam Sean dengan suara yang sangat lirih dan dalam di dalam kabin mobil yang sunyi senyap, menyebut nama itu dengan sebuah getaran makna yang kini mulai terukir jauh lebih dalam.

Yuk komen gaes.

1
Siti Aisah
tera terenyuh oleh ketulusan sean, jadi tera kamu bukan alat untuk menyempurnakan kekuatan sean...tpi sudah takdir ya thor🤗
Siti Aisah
ci muka retak jgan menyakiti tera.. sean akan murka 🤭
Siti Aisah
tera tenang sean sedang memantau keadaan..
Siti Aisah
tenang sera sean ikut dalam rombongan jdi pasti di lindungi ..
Kaa
semoga sampai ke jenjang pernikahan tera sean lanjut thor👍
Kaa
kekuatan Sean mungkin campuran kekutan mominya ya driyana
Kaa
apa ada kekuatan lain dari tera selain aliran penenang tuan Sean lawan Sera gunakan kekuatan mu lanjut thor
Nurul Ambar
semoga hidup bahagia
Nurul Ambar
akhirx....
Nurul Ambar
sean datang
Nurul Ambar
deg deg an smga baik2 saja
Mety Haula
kayanya nanti muksnya buksn retak lahi malah berbalik kebelskang tenang tera tuan sean psdti datang apa yg nyusup ke rs dr klan hitam blm ketahusn ya
Mety Haula
alhamdullilah akhirnya yera luluh juga hatinya semoga kedepannya berjalan mulus langsung tancap mks
Novita Sari
Alhamdulillah tera menerima sean.....
Endang Hidayanti
so sweet bgt Sean, 😍
Novita Sari
si muka retak salah pilih lawan
Novita Sari
tenang tera kekuatan sean udah sempurna..
Novita Sari
si muka retak gak kapok kapok muka udah jelek masih sok sokan
Tri Hastuti
baru bab awal udh tegang
sean anaknya siapa ini?
Rita Susanti
sedikit banget sih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!