Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
.
Dua hari kemudian
Tuan Aksara, Bu Soraya, Alvino dan Rania menghadiri acara keluarga besar yang memang sudah dijadwalkan jauh sebelum hari pernikahan.
"Anggap saja ini perkenalan resmi," ujar Bu Soraya sambil merapikan gaun Rania. "Hari ini semua kerabat akan bertemu dengan menantu baru kami."
Rania mengangguk pelan. Meski berusaha tersenyum, telapak tangannya mulai berkeringat dingin. Pengalaman tiga tahun menjadi menantu keluarga Pratama masih membekas, dan luka itu belum sempat mengering. Tuan Aksara dan Bu Soraya memang menerima dirinya dengan baik. Tapi bagaimana dengan keluarga besar lainnya?
Alvino yang berdiri di sampingnya menyadari kegelisahan itu. Tanpa banyak bicara, ia menggenggam tangan Rania erat.
"Tenang saja. Kali ini tidak akan ada yang berani menindasmu!"
Ucapan suaminya itu cukup membuat napas Rania terasa lebih lega. "Iya, Bang,” jawab wanita itu mencoba menghilangkan kegelisahan nya.
Satu jam kemudian, mereka tiba di sebuah rumah megah bergaya klasik milik sesepuh keluarga Mahendra. Halaman dan ruangan utama sudah dipenuhi tamu, saling bercengkrama sambil menikmati hidangan. Saat Tuan Aksara dan Bu Soraya masuk, beberapa orang segera menyambut mereka.
"Aksara! Maaf kemarin aku tidak sempat pulang. Jadi tidak bisa menghadiri pernikahan putramu." Seorang saudara laki-laki mendekat dan mereka berpelukan sesaat.
"Tidak apa-apa,” jawab tuan Aksara santai. “Yang penting sekarang jangan lupa hadiah pengantinnya,”sambungnya.
“Kamu itu sudah lebih kaya dariku. Untuk apa minta hadiah?”
"Itu kan beda cerita?”
Seorang wanita paruh baya mendekati Bu Soraya yang berjalan bersama Alvino dan Rania.
"Ini menantu kalian?" tanyanya dengan kening berkerut. "Ini Rania, bukan? Bukannya dia menantu Pratama?"
Bu Soraya tersenyum tenang sambil merangkul bahu Rania. "Iya, perkenalkan, ini Rania."
Rania segera menangkupkan kedua tangan di depan dada. "Senang sekali bisa bertemu dengan semuanya."
Sebagian menjawab dengan ramah, namun tidak semuanya tulus. Di sudut ruangan, Bu Ratih yang sudah mengamati sejak tadi, sengaja melangkah mendekati sekelompok kerabat wanita begitu Bu Soraya dan Rania menjauh. Senyumnya terlihat manis, tapi tidak dengan hatinya.
"Kalian sudah melihat menantunya Soraya, kan?" tanyanya seolah hanya ingin mengobrol santai.
"Sudah. Dia menantumu dulu kan?" jawab salah seorang bibi.
“Aku kaget tadi. Kapan dia bercerai dari putramu?” sahut yang lain.
Bu Ratih menggeleng memasang wajah sedih. Tidak semua orang tau perceraian Arga dan Rania. Itulah yang membuat Bu Ratih merasa diuntungkan. “Padahal kami berusaha bersabar walaupun dia mandul. Tapi malah meninggalkan Arga dan mendekati Alvino."
Beberapa orang langsung saling berpandangan penasaran. "Maksudmu apa, Ratih?"
"Ah, sebenarnya aku tak enak bicara," katanya pura-pura ragu, menundukkan wajah seolah prihatin. "Tapi kan kita keluarga sendiri. Sebenarnya Rania itu hanya baik di luar. Aslinya dia itu perempuan matre."
"Apa? Benar begitu?"
"Iya," lanjut Bu Ratih dengan nada dibuat-buat khawatir. "Aku cuma takut saja, keluarga Mahendra yang terhormat ini malah dimanfaatkan. Sepertinya memang itu tujuan utamanya sejak awal? Arga itu cuma dia jadikan batu loncatan."
Benih prasangka itu langsung tumbuh subur. Bisik-bisik makin terdengar jelas.
"Wah, kalau dipikir-pikir benar juga. Dulu dia istri Arga, sekarang jadi istri Alvino. Apakah…?
"Pasti dia yang menggoda Alvino duluan!"
"Siapa yang tidak tergoda hidup mewah? Menjadi nyonya Mahendra itu keinginan semua wanita."
Suara mereka makin keras, seolah sengaja supaya terdengar. Rania yang baru saja ingin mengambil minuman di meja tak jauh dari mereka hanya menunduk dalam, menggigit bibir menahan perih. Ia ingin membela diri, tapi ia tahu tak mungkin bisa melawan mantan ibu mertuanya. Akhirnya ia memilih diam.
Baru saja dia hendak pergi dari tempat itu, suara langkah kaki terdengar mendekat. Bu Soraya menggebrak meja hingga membuat semua orang tersentak menoleh. Senyum yang selalu menghiasi bibirnya menghilang. Sorot matanya menyapu seluruh ruangan yang mendadak hening.
"Apa sudah selesai?" tanyanya tenang tapi menusuk.
Beberapa orang saling pandang bingung. "Maksudmu apa, Soraya?"
"Sudah selesai menghakimi menantu saya?"
Semua orang terdiam, tidak ada yang berani menjawab.
"Saya mendengar semuanya sejak tadi," lanjut Bu Soraya dengan suara tetap tenang menatap satu per satu wajah mereka, lalu berhenti tepat pada Bu Ratih.
"Siapa di antara kalian yang benar-benar mengenal Rania sebelum dia masuk ke keluarga ini? Siapa yang pernah mengobrol dengannya lebih dari lima menit?"
Tidak ada jawaban.
"Kalau begitu, atas dasar apa kalian memberi penilaian sembarangan?"
Salah seorang kerabat berusaha membela diri. "Kami cuma khawatir saja, Soraya. Takut keluarga ini dimanfaatkan."
"Khawatir?" Bu Soraya tersenyum sinis. "Kami yang paling tahu dia memanfaatkan atau tidak. Kalianlah yang mudah terhasut oleh omongan orang tertentu yang sebenarnya hanya sirik!”
Suasana makin hening. Tidak ada yang berani menyela.
"Dengarkan baik-baik," tegas Bu Soraya, suaranya makin mantap. “Rania bukan sekadar menantu. Dia adalah putri saya. Kalau kalian belum bisa menyayanginya, jaga lisan kalian agar tidak menyakiti hati orang lain."
Mereka yang tadi bergosip keras kini menunduk malu. Bahkan Bu Ratih pun hanya bisa diam sambil menahan emosi karena rencananya gagal.
Salah satu bibi akhirnya berdeham pelan. "Kami... tidak bermaksud menyakiti hatinya."
"Baiklah, kalau begitu saya anggap selesai."
Bu Soraya langsung berbalik, lalu menggandeng tangan Rania dengan lembut. "Ayo, Nak."
Rania menghapus matanya yang berkaca-kaca. Seumur hidupnya, belum pernah ada seseorang yang berdiri membela dia sekuat ini.
"Ma..." suaranya bergetar.
"Kenapa menangis?" tanya Bu Soraya lembut.
Rania menggeleng sambil tersenyum di balik tangisnya. "Terima kasih."
Bu Soraya langsung memeluk Rania erat.
"Mulai sekarang lamu tidak sendirian lagi. Kalau ada yang berani menyakitimu, dia harus berhadapan dengan Mama lebih dulu."
Dalam pelukan hangat itu, pikiran Rania melayang jauh ke masa lalu. Kenangan yang sudah lama ia simpan rapat kini muncul kembali dengan jelas, seolah baru saja terjadi kemarin.
Saat masih menjadi istri Arga. Setiap kali ada masalah atau omongan buruk tentang dirinya, Bu Ratih tidak pernah sekalipun berdiri membelanya. Bahkan wanita itu selalu menjadi orang pertama yang menyudutkan dan menuduhnya tanpa bukti.
“Dasar tidak tahu diri. Sudah tidak bisa memberi keturunan, malah bikin masalah terus." Suara Bu Ratih kembali terngiang dalam ingatannya.
Di masa lalu, ia selalu dianggap sebagai orang yang salah, tidak pernah didengar, menelan sendiri semua hinaan. Bahkan setiap kali Arga ingin membela juga selalu kalah dengan suara ibunya.
Namun hari ini...
Wanita yang baru sehari menyandang status sebagai ibu mertuanya, berani berdiri di hadapan puluhan orang, menegur mereka, dan menyatakan dengan lantang bahwa ia adalah putrinya.
Rania mengeratkan pelukannya pada Bu Soraya, bahunya terguncang menahan isak tangis.
Alvino dan tuan Aksara yang berdiri tak jauh dari mereka saling pandang dan tersenyum tipis. Mereka berharap luka di hati Rania akan sembuh seiring berjalannya waktu.
Alvino, hati-hati dengan tuan surya!
hati² alvino ma om mu itu jaga baik² istrimu