Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
Sentuhan tiba-tiba itu menyengat kulitku, seketika meruntuhkan dinding amarah yang sejak tadi kubangun kokoh. Kelembutan tatapannya terasa begitu asing, kontras dengan perdebatan sengit yang baru saja memanas di antara kami. Ada rasa aneh yang berdesir menggelitik dada ketika ia menyadari dinginnya tanganku—sesuatu yang bahkan luput dari perhatianku sendiri saat membelah angin senja demi mengejarnya.
Ego laki-lakiku mendadak kelabakan mencari perlindungan. Aku buru-buru menyamarkan kegugupan itu dengan decihan pelan, sengaja melempar pandangan mencemooh ke arah pria medis di seberang meja yang kini tampak tersisih.
"Siapa yang capek? Lebay lo,"
gumamku serak, berusaha menarik jemariku walau pada akhirnya cengkeraman halus itu kubiarkan bertahan di sela buku jariku. Rasa panas menjalar samar ke daun telingaku.
"Gue cuma nggak mau lo pingsan di jalan terus bikin repot orang lain lagi."
Aku bangkit berdiri, menendang pelan kaki kursi agar kembali merapat, lalu menarik tas merah muda itu dengan tangan bebas sebelum melangkah keluar kafe bersamanya.
"Ayo. Jangan banyak omong lagi sebelum gue berubah pikiran."
Sembari berjalan meninggalkan meja kafe eca yang sudah sangan kesal dengan tingkah theo membuatnya semakin ingin mengenalnya. Eca tau sekeras apapun dia menghindar maka semakin dekat juga lelaki ini mengejanya.
"Hiiiss...lo bisa gak sih lembut dikit kalau ngomong sama gue?"
"Tau nggak, lo kalau ngomong kasar gini gue kagetan tau"
"Sekarang lo mau anterin gue pulang atau bantuin cari apartemen buat gue?"
Komentar bernada protes itu membuatku refleks mendecakkan lidah, meski degup di balik tulang rusukku masih berantakan karena sisa sentuhannya tadi. Angin malam yang mulai bertiup menusuk jaket kulitku sedikit membantu mendinginkan telinga yang terasa memanas tanpa alasan jelas.
"Bawel,"
gumamku serak, sengaja membuang muka ke arah deretan ruko yang mulai menyalakan lampu neon temaram. Egonya yang sempat tersulut bara kini perlahan melunak, menyisakan desakan aneh untuk tetap menahan figur mungil itu di dekatku.
"Suara gue emang begini, lo aja yang kelewat manja."
Aku mengibaskan tas jinjingnya yang sudah kotor ke jok belakang, lalu mengambil helm cadangan dari spion. Dengan gerakan tangkas namun tanpa kelembutan berlebih, kupasangkan benda pelindung kepala itu tepat di atas rambutnya yang sedikit berantakan, menekan kancing penguncinya sampai berbunyi klik tegas.
"Pulang,"
putusku datar, mengunci kedua manik matanya yang tampak kelelahan.
"Nggak ada urusan cari hunian baru malam-malam begini. Kondisi lo udah mirip mayat hidup, lagipula gue nggak bakal ngebiarin lo pindah ke tempat antah berantah sendirian tanpa pengawasan gue. Buruan naik sebelum angin bikin lo tumbang lagi."
Hawa dingin dan hembusan angin di malam hari membuat eca kedinginan ia kelupaan membawa jaketnya karena terburu-buru, pada akhirnya tubuh eca sedikit mengigil kedinginan terkena angin malam, sambil melipat tangannya ia naik ke atas motor theo.
"Iya..iya, tapi kan gue ngerasa di bentak debt collector...hehe"
"Trus lo mau nempatin gue kemana? Segala bilang antah berantah"
"Nggak mungkin kan lo suruh gue tinggal di rumah lo?huh"
Melihat bahunya yang sedikit bergetar dihantam angin malam membuat lidahku urung melontarkan sindiran pedas berikutnya. Gadis ini selalu saja ceroboh, keluar tanpa persiapan dan seenaknya membiarkan tubuh ringkihnya kembali disiksa hawa dingin. Rasa jengkel seketika berserak di benakku, bercampur desakan aneh yang menolak melihatnya kembali terkapar sakit.
Tanpa banyak bicara, kulepas jaket kulit beraroma tembakau dan maskulin yang kukenakan, lalu kusampirkan paksa ke pundak kecilnya. Aroma khas tubuhku seketika membungkusnya rapat.
Aku hanya mengenakan kaus hitam lengan pendek, namun gengsi sialan ini melarangku memperlihatkan rasa menggigil di hadapannya.
"Berisik. Pakai itu sebelum lo beneran tepar di jalan,"
gumamku datar, mengabaikan debar tak wajar yang bergolak di balik dada.
Aku naik ke atas jok, menyalakan mesin yang meraung di keheningan trotoar, lalu menarik kedua tangannya agar melingkar di pinggangku tanpa memberinya ruang protes.
"Lagian siapa juga yang mau nampung lo di rumah gue? Geer banget lo. Pegangan yang erat kalau nggak mau gue lempar ke aspal."
...****************...
hadir kak, mampir juga ya😊