"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Ampun, Mayor!
Vina meraih wadah bubur hospital yang dibeli Ita di atas nakas. Tanpa rasa canggung atau sedih, ia membuka tutup plastiknya, menyendok bubur tawar itu, lalu memakannya dengan lahap. Sifat barbar, blak-blakan, dan tanpa beban saat ia berusia delapan belas tahun kembali sepenuhnya menguasai jiwa dan raganya.
Ita duduk di tepi ranjang, memperhatikan sahabatnya mengunyah bubur dengan tatapan campur aduk.
"Jadi," Vina menelan buburnya, lalu menudingkan sendok plastik ke arah Ita. "Si Om-om kaku tadi itu beneran suami gue yang sah secara hukum, Ta?"
Ita mengangguk pelan. "Iya. Namanya Mayor Yudhana."
"Trus tadi dia ngelempar amplop cokelat ke dada gue sambil marah-marah nggak jelas," lanjut Vina, mengingat kembali bentakan Yudhana sewaktu ia baru membuka mata. "Dia tuduh gue pura-pura kecelakaan cuma buat cari perhatian dia? Dih, percaya diri banget tuh Om-om! Muka pas-pasan aja gaya bertingkahnya serasa paling tampan se-kompleks!"
Ita meringis pelan mendengarkan umpatan santai Vina. "Dulu ... kamu cinta banget sama dia, Vin. Kamu selalu nungguin dia pulang tiap malam, masakin makanan kesukaannya, sampai-sampai kamu jarang main sama aku lagi."
Vina tersedak pelan, membelalakkan matanya tak percaya. "Gue?! Menggemaskan banget cerita lu, Ta! Gue yang cinta mati sama dia? Mending gue jomblo seumur hidup daripada harus ngurusin cowok kaku berkumis yang sukanya bentak-bentak begitu!"
Vina meletakkan wadah buburnya ke atas nakas, lalu melipat lengan di dada dengan raut wajah mantap. Tidak ada lagi jejak keraguan, tidak ada lagi air mata kesepian yang dulu selalu membasahi bantal rumah dinas.
"Gini aja deh, Ta," cetus Vina enteng. "Karena gue nggak ingat pernah nikah sama dia, dan dia juga kelihatannya benci setengah mati sama gue ... besok kalau dia datang lagi, gue minta surat cerai aja langsung! Beres, kan? Biar gue bisa bebas kuliah atau cari kerjaan lagi kayak rencana awal kita!"
Ita melongo menatap sahabatnya. Keberanian dan sikap tidak peduli yang ditunjukkan Vina saat ini benar-benar membalikkan seluruh dinamika hubungan yang dulu mencekik leher Vina.
Sementara itu, di dalam mobil dinasnya yang terparkir di halaman rumah sakit, Mayor Yudhana masih duduk tertegun di balik kemudi. Cengkramannya pada lingkar kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Kata-kata Vina—Gue nikah sama Om-om kaku? Nggak sudi banget!—terus bergema-gema di dalam kepalanya, membakar harga dirinya sekaligus menyisakan rasa asing yang tak sanggup ia jelaskan.
***
Beberapa saat kemudian...
Cengkraman jemari Mayor Yudhana pada lingkar kemudi mobil dinasnya melonggar perlahan, namun rahang tegasnya masih menegang keras. Di dalam kabin mobil yang ber-AC dingin di pelataran parkir rumah sakit, bayangan tatapan heran Vina dan pengusiran tajam dari Ita masih membakar telinganya.
Seorang perwira menengah berpangkat tiga melati diusir dan diabaikan begitu saja oleh wanita yang selama setahun ini selalu menunduk gemetar di depannya?
"Sial," umpat Yudhana rendah.
Harga diri dan wibawa militernya menolak untuk menerima kekalahan memalukan ini. Bagi Yudhana, Vina hanya sedang melancarkan trik amnesia murahan yang sengaja dirancang untuk membuat posisinya tersudut. Pria itu menyambar kembali baret hijau tuanya, membuka pintu mobil dengan gerakan kasar, lalu melangkah tegap kembali menuju gedung kamar perawatan VIP. Ia harus menuntaskan masalah ini sekarang juga dan menegaskan siapa pemegang kendali.
Klek.
Pintu kamar rawat inap nomor 304 yang tadinya tertutup rapi terdorong kencang saat langkah sepatu lars Yudhana kembali membentur lantai keramik dingin.
"Cukup, Vina! Berhenti berakting dan mainkan sandiwara kekanak-kanakan ini!"
Suara bariton yang berat dan menggelegar itu memotong obrolan Vina dan Ita yang tengah menyelesaikan wadah bubur hospital tawar.
Ita melompat berdiri secara refleks, memasang posisi pasang badan di samping ranjang dengan mata melotot tajam. "Mau apa lagi Anda kembali ke sini?! Saya kan sudah suruh Anda pergi!"
Namun, Yudhana mengabaikan Ita sepenuhnya. Pandangan matanya yang kaku, pekat, dan dominan tertuju lurus pada Vina yang duduk bersandar di tumpukan bantal. Dengan langkah-langkah tegap yang teratur, sepatu larsnya berderak keras menghantam keramik, menyebarkan aura intimidasi yang biasa ia gunakan untuk menundukkan prajurit di lapangan apel.
"Kamu pikir dengan pura-pura tidak kenal dan lari ke dalam drama amnesia begini, posisi kamu bakal aman?" tegur Yudhana, menahan baret hijau tuanya di genggaman tangan kiri. Suaranya kaku, bernada otoriter tanpa celah. "Saya sudah bicara dengan dokter, Vina. Amnesia atau tidak, itu tidak mengubah kewajiban kamu sebagai istri dan tidak akan menggoyahkan keputusan saya. Hentikan sikap konyol ini!"
Keheningan mendadak menyergap kamar rawat inap yang berbau cairan antiseptik itu.
Ita menahan napas, matanya melotot lebar ketakutan bercampur amarah. Ia tahu betul betapa dulu Vina akan langsung ciut, menundukkan kepala dalam-dalam, dan jemarinya bergetar gemetar setiap kali nada suara berat suaminya meluncur tegas seperti itu.
Namun, di atas peraduan besi, Vina tidak sedikit pun menunduk.
Ia meletakkan wadah plastik buburnya yang sudah kosong ke atas meja nakas dengan bunyi plak pelan. Dengan perlahan, Vina memiringkan kepalanya. Manik mata cokelat beningnya menyapu sosok pria tinggi besar berseragam dinas harian di depannya dari ujung kepala sampai ujung kaki—menilai potongan rambut perwira yang klimis kaku, kumis tipis yang tercukur rapi, papan nama logam bertuliskan YUDHANA di dada kanan, hingga lipatan celana dinasnya yang terlalu mulus.
Tatapan itu blak-blakan, polos, dan penuh cemoohan yang telanjang. Tidak ada lagi binar pengabdian. Tidak ada lagi raut manis tertekan yang mengemis perhatian.
"Dih," letus Vina santai, memecah ketegangan kaku di ruangan itu. "Si Om ini beneran agak kurang beres ya pikirannya?"
Langkah kaku Yudhana yang tadinya mau maju satu tapak lagi mendadak tertahan di tengah jalan. Rahang tegas sang Mayor membeku seketika.
"Apa kamu bilang?" bisik Yudhana, suaranya melowos rendah akibat rasa terkejut yang melilit tenggorokannya.
Vina melipat kedua tangannya di depan dada, menyenderkan punggungnya dengan gaya santai khas anak nongkrong panti asuhan yang tidak punya beban hidup. Jiwa barbarnya usia delapan belas tahun meluap tanpa benteng penderitaan masa lalu.
"Gue bilang, Om ini kurang beres!" sahut Vina lantang, sama sekali tidak gentar pada pangkat tiga melati yang nangkring di pundak Yudhana. "Muka bola balik masuk kamar orang, bentak-bentak orang sakit. Nyuruh-nyuruh berhenti akting lah, nyebut gue drama lah. Om kira gue lagi syuting sinetron Hidayah jam sepuluh malam apa?"
bersambung...
Alhamdulillah 🤲