Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 03
Bianca Gia Conti kini resmi menjadi istri Adam Lorenzo Maxnore, pria yang bahkan tidak pernah memberinya kesempatan untuk membela diri.
Suasana di dalam aula megah kediaman Maxnore dipenuhi keheningan yang mencekam. Di satu sisi ruangan, peti mati Veronika, calon istri Adam yang meninggal akibat kecelakaan, masih terbuka. Sementara di sisi lain, Gia berdiri dengan gaun pengantin putih yang seharusnya dia kenakan untuk pernikahan bahagianya bersama Ricardo. Namun, takdir justru membawanya ke dalam neraka yang diciptakan oleh pria lain.
"Pengantin pria dipersilakan mencium pengantin wanita." Ucapan penghulu membuat Gia tersentak.
Dia harus mencium pria yang baru saja mengancam akan menghancurkan keluarganya. Pria yang menamparnya di hadapan banyak orang dan menuduhnya sebagai pembunuh, dengan gugup, Gia menoleh ke arah Adam.
Pria itu berdiri tegak di sampingnya, mengenakan setelan hitam yang membuat penampilannya semakin berwibawa. Wajahnya tampan, tetapi tidak ada sedikit pun kehangatan di sana.
Tatapan mereka bertemu. Gia langsung menunduk ketakutan. Adam mengangkat sebelah tangannya, membuat Gia refleks memejamkan mata. Namun, bukannya memukul, pria itu justru melangkah mendekat. Jantung Gia berdegup semakin kencang.
Adam membungkukkan tubuhnya. Wajah mereka semakin dekat, membuat Gia menahan napas. Kedua tangannya yang berada di depan tubuh gemetar hebat. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan pria itu. Apakah Adam benar-benar akan menciumnya, atau justru mempermalukannya dengan cara lain?
Tiba-tiba, tangan besar Adam mencengkeram sanggul rambut Gia dengan kasar.
"Akh!" Gia meringis, kepalanya tertarik ke belakang hingga matanya berkaca-kaca. Rasa sakit menjalar dari kulit kepalanya, membuatnya kesulitan bergerak.
Adam mendekatkan wajahnya ke telinga Gia.
"Berlutut dan cium kedua kaki Veronika. Minta maaf kepadanya!"
Gia membelalakkan mata, "Apa?"
Adam menarik sanggulnya semakin kuat.
"Kau dengar apa yang ku katakan?"
"T-tapi, aku—"
"Berlutut!" Teriakan Adam menggema di seluruh aula.
Semua orang tersentak. Beberapa tamu saling bertukar pandang, sementara yang lainnya memilih diam. Tidak ada seorang pun yang berani menengahi kemarahan sang penguasa mafia. Gia menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis.
"Tolong ... rambut ku sakit."
Adam sama sekali tidak melonggarkan cengkeramannya.
"Rambutmu sakit?" Dia tertawa dingin. "Lalu bagaimana dengan Veronika? Dia kehilangan nyawanya karena kebodohanmu!"
"Aku tidak pernah membunuhnya!" Gia akhirnya memberanikan diri membalas. Air matanya mengalir deras. "Aku sudah mengatakan bahwa aku bukan orang yang menyetir mobil itu!"
Mata Adam menyipit, "Kau masih berani membela diri di hadapanku?"
"Aku mengatakan yang sebenarnya!"
"Kalau begitu, buktikan dengan meminta maaf kepadanya!" Adam menarik kepala Gia ke bawah.
"Berlutut di depannya!"
Kali ini, Gia tidak sanggup lagi mempertahankan tubuhnya. Kedua lututnya jatuh menghantam lantai marmer dengan kasar.
Akh!"
Rasa sakit menjalar hingga ke kakinya. Gaun pengantinnya mengembang di sekeliling tubuhnya, sementara sanggulnya masih berada dalam cengkeraman Adam, tangis Gia pecah.
Di hadapan ratusan orang, wanita itu dipaksa berlutut di depan peti mati wanita yang bahkan tidak pernah dikenalnya.
"Tuan Adam, ku mohon ..." suaranya bergetar. "Jangan lakukan ini kepadaku."
Adam melepaskan cengkeramannya, lalu berdiri tegak sambil menatapnya penuh kebencian.
"Jangan panggil namaku seolah-olah kita memiliki hubungan yang baik."
Gia mengangkat wajahnya dengan susah payah.
"Tapi sekarang kita sudah menikah."
"Dan itu adalah kesalahan yang akan kau sesali seumur hidupmu." Kalimat itu membuat dada Gia terasa sesak. Adam menunjuk ke arah peti mati di hadapan mereka.
"Cium kedua kakinya dan minta maaf. Meskipun permintaan maafmu tidak akan pernah bisa menghidupkannya kembali."
Gia menoleh ke arah Veronika. Wajah wanita itu terlihat tenang, seolah sedang tertidur. Namun, Gia tahu bahwa wanita tersebut telah meninggal. Dia tidak akan pernah bangun lagi, tidak akan pernah membuka mata, dan tidak akan pernah menjalani kehidupan yang seharusnya menjadi miliknya, Gia menangis semakin keras.
Dia tidak mengenal Veronika. Dia tidak pernah menginginkan kematian wanita itu. Bahkan, dirinya sendiri masih belum memahami bagaimana kecelakaan tersebut bisa terjadi. Namun, di hadapan Adam, semua penjelasannya tidak berarti apa-apa.
"Aku turut berduka atas kematian Anda," bisik Gia dengan suara patah-patah, menatap jasad Veronika. "Aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi. Tapi aku bersumpah, aku tidak pernah berniat menyakiti Anda. Aku bersumpah di depan mayat Anda, bukan aku yang membunuh Anda!"
Jedddar!
Suara petir menggelegar di siang bolong, yang membuat seluruh tamu sontak terkejut, begitu juga Adam.
"Siapa yang menyuruhmu berbicara?" Suara Adam kembali terdengar.
Gia terdiam sejenak dalam isak tangisnya.
"Cium kakinya!"
Dengan tubuh gemetar, Gia perlahan mengulurkan tangannya untuk menopang tubuhnya. Air matanya jatuh ke lantai marmer, membasahi ujung gaun pengantinnya. Dia menundukkan kepala di hadapan Veronika. Penghinaan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tamparan yang diterimanya sebelumnya. Sebab, hari ini bukan hanya kebebasannya yang direnggut. Harga dirinya pun dihancurkan di hadapan ratusan orang. Bisikan-bisikan mulai terdengar dari berbagai sudut aula.
"Kasihan sekali wanita itu."
"Dia benar-benar pembunuh yang tidak tahu malu."
"Berani sekali dia menikahi Tuan Adam setelah membunuh calon istrinya."
Gia mendengar semuanya. Dia ingin berteriak bahwa dirinya tidak bersalah. Ingin berdiri dan menjelaskan bahwa ada orang lain yang seharusnya berada di tempatnya. Namun, wajah Amerda dan ancaman Adam kembali terlintas di benaknya. Jika dia melawan, keluarganya akan menjadi korban. Akhirnya, dengan tangan gemetar dan air mata yang tidak berhenti mengalir, Gia menundukkan kepalanya lebih dalam.
"Maafkan aku, Nona Veronika," bisiknya lirih.
Di belakangnya, Adam berdiri dengan tatapan dingin. Baginya, hukuman itu masih belum cukup.
Dia ingin wanita yang dianggapnya telah merenggut kebahagiaannya merasakan penderitaan yang sama. Adam tidak menyadari bahwa perempuan yang sedang berlutut di hadapannya itu juga telah kehilangan segalanya pada hari yang sama.
Adam menatap Gia yang menangis di lantai, lalu berkata dengan suara rendah yang hanya terdengar oleh orang-orang terdekatnya.
"Mulai hari ini, kau akan belajar bagaimana rasanya hidup di bawah kekuasaanku, Giana Bianca Conti."
Dia berbalik dan berjalan meninggalkan aula, membiarkan istrinya tetap berlutut di hadapan jasad Veronika.
"Jangan biarkan dia bangun sebelum aku mengizinkannya."
"Baik, Bos."
Gia memejamkan mata ketika mendengar perintah itu. Air matanya terus mengalir. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi hukuman seumur hidup.
berharap Adam membuka jati diri siapa amerda siih ,,
ayahmu saja menginginkan kematianmu,, tak usah lah jadi orang yang terlalu baik,, karna pada akhirnya hanya akan d injak2 saja .
lngsung ilang ingatan Dy kaki ny kebentur meja ,,
otak ny di kaki sih jdi bgtu sikap ny,, 😒😒😒😒😒😒
Apapun kalian berdua itu,, yg pastinya kalian berdua itu jahat sama Gia.