NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TANTE ELVIRA DI ACARA SEMINAR

Pagi harinya, matahari terbit memancarkan pendar keemasan di atas langit kota. Cahaya cerah itu menyapu aula megah sebuah gedung konvensi internasional yang terletak di pusat kawasan bisnis. Di dalam aula berpendingin udara yang sejuk itu, deretan kursi berlapisan beludru merah tertata rapi menyongsong gelaran seminar kewirausahaan nasional yang bakal dihadiri oleh ratusan pengusaha dan pejabat daerah.

Enzo berdiri di sudut aula, mengenakan seragam petugas kebersihan lepas berupa kemeja berkerah biru tua yang agak longgar dan celana kain hitam polos. Di tangan kanannya, ia memegang sekeranjang alat pembersih serta kain lap mikrofiber.

Usai berhasil melunasi sisa tagihan kontrakan Bu Salmah tadi pagi dari uang hasil lembur memanggul semen dan sisa upahnya kemarin, Enzo langsung mengambil pekerjaan harian sebagai tenaga kebersihan lepas di gedung ini. Tubuhnya memang masih menyimpang rasa pegal yang pekat, tetapi matanya memancarkan ketenangan seorang pria yang sanggup berdiri tegap di atas kakinya sendiri.

"Mas, tolong area podium utama diusap sekali lagi, ya! Jangan sampai ada debu pas narasumber naik!" seru pengawas acara seraya menunjuk ke arah panggung tinggi di depan aula.

"Siap, Pak," sahut Enzo ramah seraya mengangguk sopan.

Pemuda itu melangkah mendekati podium kayu jati berukir yang berdiri anggun di atas panggung. Dengan telaten, jemari Enzo mengusap permukaan kayu yang mengilap itu menggunakan kain lap basah.

Saat Enzo sedang membungkuk membersihkan celah bawah podium, derap langkah kaki teratur beradu nyaring dengan lantai marmer. Suara ketukan sepatu hak tinggi itu memancarkan aura ketegasan dan wibawa yang amat dominan.

Enzo memiringkan kepalanya dan melihat serombongan panitia seminar berjalan mengawal seorang wanita paruh baya yang melangkah di tengah koridor utama.

Wanita itu—Tante Elvira—tampak sangat anggun dan memesona di usianya yang telah memasuki kepala empat. Ia mengenakan setelan jas wanita berwarna abu-abu gelap buatan penjahit kelas atas yang membingkus tubuh proporsionalnya dengan sangat sempurna. Rambut hitamnya yang sebahu ditata rapi menyamping, dan wajah cantiknya dipoles riasan tipis yang elegan. Sepasang mata tajam berhiaskan kacamata berbingkai tipis keemasan itu memancarkan wibawa seorang pimpinan eksekutif yang biasa mengendalikan ratusan karyawan di perusahaan korporasi besar.

"Pastikan pengeras suara di panggung sudah dites dua kali," ucap Tante Elvira dengan suara alto yang tenang namun bernada komando yang tak bisa dibantah.

"Sudah, Bu Elvira. Seluruh perlengkapan teknis sudah siap seratus persen," jawab ketua panitia acara seraya membungkuk hormat dan mencatat instruksi wanita itu.

Tante Elvira mengangguk pelan, matanya menyapu sekeliling aula megah itu dengan pandangan analitis yang sangat teliti. Sebagai salah satu narasumber utama dalam seminar hari ini sekaligus pemilik perusahaan konsultan manajemen ternama, Elvira adalah sosok wanita mandiri yang sangat menuntut kesempurnaan dan disiplin tinggi dalam setiap detail acara.

Enzo memperhatikan pergerakan wanita anggun itu dari atas panggung. Di dalam benaknya, Enzo tidak bisa tidak merasa kagum. Karisma dan wibawa yang dipancarkan Tante Elvira sangat bertolak belakang dengan kepolosan Nadira, keangkuhan Clarissa, atau rasa kesepian Tante Rika. Elvira adalah gambaran utuh dari seorang wanita dewasa yang berdiri mantap di puncak kariernya.

Saat Tante Elvira melangkah naik menuju panggung utama untuk memeriksa susunan tempat duduk narasumber, pandangan mata tajam di balik kacamatanya mendadak tertuju ke arah Enzo yang sedang membungkuk di dekat podium.

Enzo yang menyadari kehadiran pimpinan acara tersebut langsung melangkah mundur dua tapak, menundukkan kepalanya secara profesional seraya memegang keranjang pembersihnya.

"Pembersihan area podium sudah selesai, Bu," kata Enzo ramah dan jujur, suaranya tetap tenang tanpa ada nada gugup atau membungkuk berlebihan.

Tante Elvira menghentikan langkah kakinya persis tiga tapak di hadapan Enzo. Ia tidak langsung menjawab, melainkan berdiri tegap seraya menatap Enzo dari balik kaca matanya. Tatapan mata wanita paruh baya itu sangat mengintimidasi—sebuah tatapan menilai yang tajam, dingin, dan sanggup membuat pekerja biasa merasa ciut dan salah tingkah.

Elvira melirik seragam biru tua kusam yang dikenakan Enzo, melihat bekas gesekan goni di ujung lengannya, lalu kembali menatap raut wajah pemuda di hadapannya.

Meskipun mengenakan pakaian tenaga kebersihan lepas yang sederhana, pemuda di hadapannya ini sama sekali tidak menunjukkan raut wajah minder, ketakutan, atau usaha untuk berpura-pura menjadi orang lain demi menyenangkan hatinya. Enzo berdiri tegap dengan postur tubuh yang stabil, menatapnya lurus dengan sepasang mata yang bersih dan jujur.

Keheningan melingkupi panggung utama selama beberapa detik. Panitia acara yang berdiri di belakang Elvira sempat menahan napas cemas, khawatir pimpinan mereka yang terkenal perfeksionis itu akan menegur kesalahan sekecil apa pun di atas panggung.

"Kain lap yang kamu pakai itu bersih?" tanya Tante Elvira dingin, suaranya lugas menembus keheningan aula.

Enzo mengangkat kain lap di tangannya, menunjukkan serat kain mikrofiber yang telah dicuci bersih tanpa ada noda minyak.

"Bersih, Bu. Saya pakai kain mikrofiber khusus kayu dan baru dibasahi air bersih," jawab Enzo tenang tanpa keraguan.

Tante Elvira melangkah mendekati podium kayu jati, mengulurkan jemarinya yang lentik berhias cat kuku netral, lalu mengusap tepi kayu podium tersebut secara perlahan. Wanita itu memeriksa ujung jarinya di bawah pendar lampu panggung. Tidak ada sebutir debu pun yang menempel.

Sebuah binar ketertarikan samar melintas di balik kacamata Tante Elvira. Pria muda di hadapannya ini mengerjakan tugas sederhananya dengan ketelitian nyata, bukan sekadar asal bersih demi menggugurkan kewajiban harian.

"Siapa nama kamu?" tanya Tante Elvira singkat seraya merapikan letak kacamatanya.

"Enzo, Bu," sahut Enzo lugas.

"Enzo..." ulang Tante Elvira pelan, seolah-olah mengukir nama itu di dalam ingatannya. "Kerja kamu rapi dan kamu tidak berusaha berpura-pura sibuk cuma pas saya lewat."

"Terima kasih, Bu. Ini memang sudah jadi bagian dari tanggung jawab kerja saya hari ini," balas Enzo dengan senyum tipis yang hangat.

Tante Elvira mengangguk pelan satu kali. Tidak ada senyuman yang terumbar di wajah anggunnya, namun nada bicaranya yang semula dingin kini terasa jauh lebih tenang.

"Lanjutkan pekerjaan kamu, Enzo. Pastikan area samping panggung juga sebersih ini sebelum jam sembilan," perintah Tante Elvira seraya berbalik badan dengan keanggunan yang alami.

"Siap, Bu," sahut Enzo mantap.

Enzo memperhatikan punggung Tante Elvira yang melangkah turun dari panggung utama dikawal oleh para panitia yang tampak lega. Di tengah langkahnya yang tegap, Enzo melihat wanita itu sempat berbisik pelan kepada sekretaris pribadinya seraya menunjuk ke arah panggung, seolah memberikan sebuah catatan khusus.

Saat Enzo kembali membungkuk untuk merapikan keranjang alat pembersihnya, ponsel tua di saku celana jins lamanya bergetar halus dua kali secara berurutan.

Enzo merogoh benda itu, membukanya di balik naungan podium kayu. Layar retak itu menampilkan antarmuka Sistem Penakluk Dewi dengan pendar cahaya keemasan yang berkilau terang.

[Deteksi Karakter Baru Terhubung!]

[Target 4: Tante Elvira (41 Tahun)]

[Latar Belakang Singkat: Direktur Utama PT Elvira Nusa Korpora dan konsultan bisnis terkemuka. Seorang wanita mandiri, tegas, dan perfeksionis yang telah bercerai dari mantan suaminya akibat pengkhianatan finansial dan intimidasi.]

[Analisis Kesan Pertama: Target mencatat kejujuran sikap, kepribadian yang membumi, serta ketelitian kerja Anda. Sikap Anda yang tidak minder atau mencari muka di hadapan status sosialnya telah memicu rasa hormat awal.]

[Tingkat Keterikatan Awal Terdeteksi: 8%]

Enzo menatap pendar teks di layarnya dengan kening berkerut tipis, lalu mengantongi kembali ponsel tuanya ke dalam saku. Pemuda itu menghembuskan napas pelan seraya menyapu keringat tipis di pelipisnya.

Perjumpaannya dengan Tante Elvira pagi ini membuka babak baru di dalam perjalanan hidupnya. Enzo menyadari bahwa berhadapan dengan wanita dewasa yang cerdas dan berpengalaman seperti Elvira tidak butuh kata-kata manis atau kepalsuan, melainkan bukti kerja nyata, integritas, dan ketegasan karakter yang sejati.

Sambil memegang keranjang pembersihnya, Enzo melangkah menuju area samping panggung, siap menuntaskan tugas hari ini dengan sebaik-baiknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!