"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."
Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.
Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.
Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.
Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.
Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.
Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2 Kecelakaan
Sepeninggal mobil Ardy, Kirana masih mematung sambil mendekap kotak tes kehamilan itu. Air matanya belum mengering ketika sebuah suara nyaring nan sumbang tiba-tiba memecah keheningan ruang makan.
“Heh! Mau sampai kapan berdiri di situ kayak patung?!”
Kirana tersentak kaget. Ia menoleh dan mendapati Yati, kepala pelayan di rumah ini, berdiri berkacak pinggang menatapnya dengan raut wajah sangat meremehkan.
“Bereskan meja makan ini! Piring-piring bekas sarapan nyonya besar dan mbak Siska masih berantakan!” titah Yati sembari menunjuk meja makan dengan dagunya secara tak sopan.
Kirana mengusap air matanya dengan punggung tangan, berusaha mempertahankan sisa harga dirinya yang sudah terkoyak.
“Itu kan tugas Bibi dan pelayan lain. Kenapa menyuruhku? Aku ini—”
“Kamu ini apa?!” potong Yati kasar. “Mau bilang kamu istri tuan Ardy? Jangan mimpi! Tuan Ardy saja lebih memilih mengantar mbak Siska ke rumah sakit daripada melirik kamu! Sadar diri dong, nyonya besar saja menganggap kamu di sini cuma parasit pengganggu!”
Mata Kirana membulat sempurna. Jantungnya bergemuruh hebat menahan amarah yang mulai memuncak.
“Bibi, jaga ucapan kamu!” balas Kirana mencoba melawan. “Bagaimanapun juga, aku ini menantu di rumah ini! Aku istri sah mas Ardy! Kamu tidak berhak membentak ku!”
Bukannya takut, Yati malah tertawa sinis. Tawanya terdengar begitu pongah dan mengejek. Pelayan paruh baya itu melangkah maju, menatap Kirana dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan jijik, seolah dirinyalah nyonya besar pemilik rumah ini.
“Istri sah yang nggak dianggap itu sama saja dengan pembantu gratisan! Sudah, jangan banyak mulut! Nyonya besar sudah berpesan sebelum pergi arisan, hari ini kamu harus mengepel seluruh lantai satu! Jangan sampai ada satu pun debu yang tersisa!”
Kirana menatap tak percaya. “Lantai satu ini luas sekali! Dan aku sedang tidak enak badan,” lirih Kirana. Ia refleks memegang perutnya, mengingat ada nyawa kecil yang baru tumbuh di rahimnya. Ia tak boleh melakukan pekerjaan seberat itu hari ini.
“Halah, alasan saja! Nggak usah sok sakit! Setelah ngepel, tumpukan baju kotor di keranjang belakang sudah menunggu. Kamu harus cuci semuanya sampai bersih!” perintah Yati seenaknya.
“Aku akan mencucinya di mesin cuci nanti,” jawab Kirana lemah, benar-benar tak punya tenaga lagi untuk berdebat.
“Enak saja!” Yati membanting serbet kotor ke atas meja hingga menimbulkan suara bantingan keras. “Nyonya besar melarang kamu memakai mesin cuci! Mesin itu cuma buat baju sutra nyonya besar dan kemeja mahal tuan Ardy! Baju-baju kotor yang lain, termasuk lap kotor, harus kamu sikat pakai tangan di lantai kamar mandi! Mengerti?!”
Deg! Napas Kirana tercekat di tenggorokan. Mencuci setumpuk pakaian kotor dengan tangan? Mengucek dan menyikat di lantai berair saat perutnya sedang kram dan tubuhnya mual tak karuan?
“Tapi, aku benar-benar nggak kuat kalau harus mencuci manual. Aku mohon, kali ini saja.” Kirana mulai memohon, suaranya parau menahan isak tangis.
“Itu deritamu! Siapa suruh numpang hidup di sini?!” desis Yati tajam tanpa setitik pun rasa kasihan.
Dengan sangat kasar, Yati menendang ember berisi air pel di dekat kaki Kirana hingga air berbau karbol itu mengenai ujung dasternya.
“Cepat kerjakan! Kalau sampai tuan Ardy pulang rumah ini belum mengkilap, aku yang akan adukan kamu ke nyonya besar biar kamu diusir!” ancam Yati galak.
Pelayan itu melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Kirana yang perlahan merosot jatuh ke atas lantai yang dingin. Pertahanannya runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah ruah dengan derasnya.
Dengan kedua tangan bergetar, Kirana memeluk perutnya sendiri dengan erat. Melindungi janin mungil yang tak tahu apa-apa, sambil menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang bahkan tak lebih berharga dari seorang pelayan di rumah suaminya sendiri.
*
*
Pukul 19.00.
Seorang pelayan berseragam rapi menghampiri mejanya dengan senyum ramah, menyodorkan buku menu bersampul kulit tebal.
“Permisi, Nyonya. Apakah Anda ingin memesan makan malam sekarang? Anda sudah menunggu cukup lama,” tawar pelayan itu sopan.
Kirana tersenyum kikuk, menggeleng pelan. “Nanti saja, Mas. Suami saya sepertinya masih di jalan, terjebak macet. Saya pesan air putih hangat saja dulu, ya.”
“Baik, Nyonya."
Waktu terus berlalu. Restoran yang semula ramai berangsur-angsur mulai sepi oleh pengunjung yang pulang.
Hingga pukul sepuluh malam, Kirana masih duduk mematung di kursi yang sama. Perutnya sudah berbunyi meronta karena belum makan sejak siang, kepalanya pening, namun matanya terus tertuju pada layar ponsel yang menyala di atas meja.
Kirana menempelkan ponsel ke telinganya dengan tangan bergetar menahan dinginnya AC ruangan.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...,”
Suara operator otomatis itu bagai kaset rusak yang terus berulang sejak satu jam yang lalu.
“Mas kamu dimana?” bisik Kirana dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu bilang akan usahakan datang. Sebentar saja, Mas. Aku cuma mau kasih tahu kabar ini.”
Pelayan yang tadi kembali mendekat, kali ini dengan raut wajah serba salah.
“Maaf, Nyonya. Kami sudah akan ditutup sebentar lagi. Apakah Nyonya mau memesan makanan yang cepat saji?”
Kirana buru-buru menghapus setitik air mata yang jatuh ke pipinya. Ia mendongak dan memaksakan sebuah senyuman.
“Tidak perlu, Mas. Saya minta tagihan untuk air putihnya saja. Suami saya sepertinya dia lupa dan sudah tertidur di rumah. Maaf sudah menempati meja ini terlalu lama.”
Setelah membayar, Kirana berjalan keluar dari restoran dengan langkah gontai. Udara malam sisa hujan langsung menusuk kulitnya hingga ke tulang.
Rasa kecewa dan ngilu menjalar hebat di relung hatinya, meremas dadanya tanpa ampun. Namun, mau bagaimana lagi?
Kirana mencoba menelan rasa pahit itu bulat-bulat. Ia mengelus perutnya yang tertutup gaun.
“Nggak apa-apa, sayang. Papamu mungkin kelelahan mengurus pekerjaan dan merawat tante Siska. Kita pulang saja, ya? Nanti Mama kasih kejutannya di rumah. Papamu pasti kaget.” Kirana bermonolog menghibur dirinya sendiri, meski suaranya terdengar begitu putus asa dan bergetar menahan tangis.
Kirana berdiri di trotoar, menunggu lampu lalu lintas pejalan kaki berubah hijau. Jalanan tampak sepi malam itu. Begitu tanda menyeberang menyala, ia mulai melangkahkan kakinya ke atas zebra cross. Tangannya mendekap tasnya erat-erat, melindungi hadiah untuk suaminya di dalam sana.
Namun, baru saja ia mencapai tengah jalan, sorot lampu jauh yang sangat menyilaukan tiba-tiba menyorot tajam dari arah kanan. Sebuah mobil sedan hitam melaju dengan kecepatan ugal-ugalan, mengabaikan lampu lalu lintas yang merah.
Mata Kirana membulat sempurna. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Kakinya mendadak kaku, terpaku di atas aspal bagai dipaku bumi. Ia terlampau syok untuk sekadar berlari menghindar.
“Aaaaaaaa!” jerit Kirana sekuat tenaga sembari mengangkat kedua tangannya menutupi wajah.
Brak!
Suara hantaman keras itu memekakkan telinga. Tubuh mungil Kirana terlempar sejauh beberapa meter dan menghantam aspal
Mobil hitam itu sama sekali tidak mengerem. Alih-alih berhenti menolong, pengemudinya malah menginjak pedal gas dalam-dalam dan menghilang ditelan kegelapan malam.
Kirana terkapar tak berdaya. Kepalanya berdenging hebat, pandangannya meremang. Darah segar mengalir deras dari keningnya. Tas yang ia peluk terlepas, membuat kotak biru di dalamnya terlempar dan terbuka. Sepasang kaus kaki bayi mungil dan alat uji kehamilan dengan dua garis merah itu tergeletak berserakan, bersimbah darah di atas dinginnya aspal.
Dalam kesadaran yang kian menipis, tangan Kirana yang bergetar hebat merambat memegangi perutnya yang kini terasa kram luar biasa hebat. Rasa sakit yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya menggerogoti tubuhnya.
“Mas... Ardy.. Tolong... bayi... kita....”
Napas Kirana terputus, dan dunia di sekelilingnya seketika berubah menjadi gelap gulita.
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy