Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 26
Dadanya terasa sesak, tangis tak lagi bisa ditahan. Pertahanan diri Janti seketika runtuh, upaya menjadi wanita tegar ternyata sia-sia bila dihadapkan dengan wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.
Arjanti berlari, lalu menabrakkan diri masuk ke dalam pelukan ibunya.
Tyo menjadi penopang, mendekap ibu dan kakaknya sekaligus dari belakang.
“Bu’e … hiks hiks,” suaranya tersangkut di tenggorokan, dan hanya isak tangis setengah raungan yang terdengar memilukan.
Bu Ratri mengusap, menekan punggung kurus yang terasa ruas-ruas tulang rusuk belakang. Pelukan itu bukan sekedar dekapan, tapi pukulan lembut menyalahkan diri sendiri, kenapa sampai sekurus ini putrinya, dia tak tahu.
“Ya Allah, Nduk! Ini to alasanmu gak pernah mau video call?! Sakit hati Ibu, Janti! Sakit sekali, Nak!” ucapnya tersendat-sendat.
Air mata kedua wanita itu terus bercucuran. Menumpahkan tangis berselimut kerinduan dan kesedihan.
Arjanti sudah tidak mampu mengucapkan barang sekata pun, ia terisak-isak dalam dekapan ibunya. Menyembunyikan wajah pada hijab besar. Meluapkan segala rasa yang di tanggungnya seorang diri.
Pak Sutris menabahkan hati. Berbicara dengan suara sedikit bergetar tanpa mau menatap siapapun. Pandangannya lurus pada baju berserak di lantai. “Apa kesalahan putri saya sehingga dia diperlakukan bak seorang penjahat?”
Darti mendengkus, memandang remeh pria berpakaian lusuh. Menurut standarnya. “Putrimu maling uang putraku!”
Masih dengan memandangi barang-barang putrinya, pak Sutris pun menanggapi. “Pria yang kamu akui anak itu, bukan orang lain untuk putri saya, mereka suami istri.”
“Tetap saja memberikan uang berlebih, terlebih ke perempuan gak bisa ngasih keturunan, sia-sia namanya! Janti juga sudah gak mau lagi mengurus aku. Sekarang sikapnya tambah kurang ajar, semaunya sendiri!” ia membeberkan fakta menurut versinya sendiri dengan suara menggebu-gebu.
Bu Ratri tak terima anaknya dihina habis-habisan. “Bukan putriku yang —”
“Bu’e, jangan!” cegah suaminya, dan sang istri langsung terdiam. Menelan lagi kalimat sudah diujung ludah.
“Merawat mertua terlebih dia masih memiliki anak kandung, maka tugas itu bukan dibebankan ke menantu,” sanggah pak Sutris. “Keluarga kalian bukan dari kalangan bawah, mampu membayar jasa asisten rumah tangga, tapi kalau mengharuskan Janti mengurus Anda, berarti itu bukan dikarenakan keadaan, namun memanfaatkan tenaga gratisan!”
Sekejap Darti terdiam, tertohok oleh ucapan tajam pria yang memiliki ketenangan level tinggi.
“Terus, apa gunanya dia jadi istri kalau apa-apa gak mau dikerjakan? Bantu meringankan beban suami pun enggan,” egonya menolak disalahkan, apalagi kalah dalam perdebatan.
“Konsep meringankan beban menurut Anda, dengan menjadi pelayan kalian kah? Kalau iya, saya bersyukur pada akhirnya Janti sadar, kehadirannya bukan dipandang sebagai menantu, tapi tak lebih dianggap pembantu,” bu Ratri yang menjawab tegas. Ia masih memeluk putrinya.
“Itu namanya bakti! Jangan cuma mau sama anaknya, tapi enggan merawat keluarganya! Hamil gak bisa, tapi morotin uang nomor satu!” sergah Darti, bertambah arogan saja dia.
Janti melepaskan pelukan dari ibunya, berdiri berhadapan dengan ibu mertua. “Dua juta sebulan Ibu bilang morotin? Sedangkan pendapatan mas Herlan perbulan bisa mencapai 20 juta. Apa itu sepadan?”
Meski dia tidak tahu menahu keuntungan toko bangunan usaha keluarga Doko, namun pernah beberapa kali mencuri dengar, pas awal bulan, Herlan menerima gaji di ambil dari keuntungan bersih, bernilai fantastis.
“Nah, sekarang kelihatan kan kalau dia mata duitan, Jeng? Gak mau lagi diberi nafkah 2 juta setelah tau berapa gajinya Herlan. Dua juta itu udah banyak loh,” sela Tanira ikut nimbrung.
“Anda bisa diam tidak?! Ini masalah keluargaku, orang luar dilarang ikut campur! Wajar istri dinafkahi suaminya, tapi aneh rasanya kalau ibu dari menantu dirumah ini ngotot mau tinggal satu rumah. Daripada Ibu mengomentari aku, lebih baik bercermin sana, biar tuduhan tadi mendapatkan jawaban tepat didepan mata yang memantulkan jati diri sebenarnya.” Janti pun emosi.
“Sudah berapa kali aku tegaskan! Jeng Tanira bukan orang luar, dia besan keluarga Doko!” Darti membela ibunya Saila. “Wajar dia tinggal di sini, karena takut putrinya yang sedang hamil dicelakai kamu!”
Pernyataan barusan menghantarkan arus kejut ke jantung orang tuanya Arjanti. Mereka terbelalak dengan deru napas terdengar memburu.
“Besan, apa maksudnya ini?” gumam bu Ratri, seingatnya, Herlan anak tunggal.
“Lantaran putrimu mandul, gak bisa ngasih keturunan, rahimnya kosong melompong, sebulan yang lalu putraku menikah lagi, dan sekarang istri keduanya sudah hamil!” ungkapnya bangga.
Darti puas sekali menyaksikan wajah-wajah perlahan pucat, air mata berderai kedua besannya.
“Mbak Janti! Jelaskan, kalau apa yang dibilang mertua gilamu itu gak bener, Mbak!” Tyo kehilangan rasa sabar, dia guncang bahu kakaknya dari belakang.
“Kurang ajar! Kamu ngatain aku gila, dasar pemuda ndeso, gak tau sopan-santun!” ia tidak terima dihina.
Namun fokus keluarga Janti terpusat pada wanita yang menangis seraya mengepalkan tangan.
“Mas Herlan berpoligami, Bu, Pak, sebulan lalu dia menikah lagi,” bisiknya nyaris tak terdengar.
Hampir bersamaan, pak Sutris dan istrinya beristighfar sambil memegangi dada.
“Dimana dia sekarang?” tanya suara dingin pria yang menyembunyikan rasa kecewa dan sakit hati.
“Lagi menyenangkan istri suburnya lah, gak seperti putri kalian yang mandul. Empat tahun —”
“Cukup!” gelegar suara pak Sutris menghentikan suara sumbang Darti.
Semua yang ada di sana terhenyak, tak menyangka sosok tenang sedari tadi menahan diri, kini lepas kendali.
“Hubungi Herlan! Pinta dia pulang sekarang juga! Segera!” ujarnya menekankan setiap kata.
“Hentikan! Jangan ganggu menantuku yang lagi memanjakan diri pakai uang suami, supaya anak dalam kandungannya ikutan senang!” teriaknya berusaha mencegah.
Bu Ratri pun menyahut. Hilang sudah rasa hormat, tersisa sesal kenapa gak sedari lama dia bertandang kesini. “Harus Anda ingat! Bukan putriku yang mengemis cinta apalagi memaksa minta dinikahi putramu. Herlan mengejarnya sampai buat malu, dan berakhir Janti jadi bahan gunjingan karena ulah pemuda yang terus-menerus datang ke rumah kami.”
Diingatkan akan perjuangan putranya yang dulu sangat ditentang keluarga besar Doko, ada sejumput rasa malu menyergap hati. Herlan memang pribadi ambisius, apabila menginginkan sesuatu harus segera terwujud, namun sifat jeleknya — mudah bosan.
“Itu dulu disaat dia cuma penasaran, toh lihat sekarang! Putrimu ternyata tak semenarik yang dikhayalkan,” katanya tak berperasaan.
Bukan Janti yang mencoba menghubungi, tetapi Tyo. Dia punya nomor pria itu.
Tyo tak bisa lagi diajak kompromi untuk bersabar. Melihat kakaknya dihina, dituduh, dan dikucilkan di keluarga suaminya sendiri, maka lenyap sudah rasa hormat teruntuk Herlan.
Panggilan pertama diabaikan, lanjut sambungan kedua tetap tidak ditanggapi. Sekali lagi Tyo mencoba, baru direspon.
“Halo ....” sapa suara riang di ujung sana.
“Herlan Doko, pulang kamu sekarang juga, Sialan!”
.
.
Bersambung.