“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3
Keesokan paginya, rumah itu kembali terlihat normal. Seolah tidak pernah ada pertengkaran. Seolah semalam Rania tidak menangis diam-diam sampai tertidur dengan dada sesak.
Dan seolah Harsa tidak pulang tengah malam dari rumah perempuan lain.
Pagi itu, Rania berdiri di dapur sejak pukul lima. Rambut panjangnya diikat asal, sementara tangannya sibuk menyiapkan sarapan.
Ia membuat nasi goreng seafood kesukaan Harsa. Telur setengah matang dan kopi hitam tanpa gula. Semua yang dihafalnya di luar kepala selama tiga tahun menjadi istri lelaki itu.
Meski hatinya sakit, tubuhnya tetap otomatis memperlakukan Harsa seperti pusat dunianya.
Ironis. Kadang cinta memang sebodoh itu.
Suara langkah kaki turun dari lantai atas membuat Rania buru-buru mematikan kompor. Ia langsung tersenyum kecil saat melihat Harsa muncul dengan seragam dinas yang belum sepenuhnya rapi.
Pagi ini lelaki itu kembali tampak dingin dan berwibawa. Sulit dipercaya kalau pria yang terlihat sempurna itu mampu membuat hati istrinya remuk perlahan.
“Pagi, Mas,” sapa Rania lembut.
Harsa mengangguk singkat. “Pagi.”
Tidak ada ciuman kening. Tidak ada pelukan pagi seperti dulu. Harsa bahkan langsung duduk sambil membuka ponselnya.
Rania pura-pura tidak kecewa. Ia menuangkan kopi ke cangkir favorit suaminya lalu membawanya ke meja makan.
“Aku bikinin sarapan favorit Mas.”
“Ya.” Jawaban singkat itu kembali menusuk hati Rania, tapi ia tetap tersenyum.
“Makan dulu ya. Nanti masuk angin kalau berangkat kerja belum makan.”
Harsa akhirnya menoleh sebentar. “Aku nggak sarapan di rumah.”
Gerakan tangan Rania langsung berhenti. “Kenapa?”
“Aku mau antar Gavin ke sekolah.”
Deg!
Nama itu lagi. Gavin. Anak Wulan. Keponakan yang sekarang lebih sering bersama Harsa dibanding dirinya sendiri.
“Sekalian sarapan di sana,” lanjut Harsa santai sambil membalas pesan di ponselnya. “Kalau makan di sini nanti telat.”
Rania terdiam. Matanya perlahan beralih ke meja makan yang sudah ia siapkan sejak tadi subuh.
Masih hangat. Masih utuh. Dan lagi-lagi tidak akan disentuh.
“Cuma sebentar kok, Mas,” katanya pelan, nyaris memohon tanpa sadar. “Lima menit aja.”
“Aku buru-buru.”
“Mas belum makan dari tadi malam…”
“Aku bilang aku nggak sempat, Rania.” Nada suara Harsa mulai berubah.
Rania langsung diam. Ia tahu. Kalau Harsa sudah bicara seperti itu, artinya lelaki itu mulai kesal. Dan Rania sudah terlalu lelah untuk bertengkar pagi-pagi.
“Oh… iya.” Ia tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan.
Harsa berdiri sambil merapikan jam tangannya. Rania buru-buru mendekat.
“Dasi Mas miring.” tangannya terangkat pelan membenarkan dasi suaminya. Jemarinya sedikit gemetar saat menyentuh kerah seragam Harsa.
Dulu momen kecil seperti ini selalu membuat Harsa memeluk pinggangnya. Kadang lelaki itu sengaja mengacak dasinya hanya supaya Rania mendekat.
Tapi sekarang, Harsa hanya diam sambil sibuk membaca pesan di ponselnya. Rania tahu siapa pengirimnya bahkan tanpa perlu melihat.
“Mas hati-hati di jalan ya,” katanya lirih.
“Hmm.” Harsa mengambil kunci mobil. Lalu pergi begitu saja.
Pintu rumah tertutup pelan, dan bersamaan dengan itu, sesuatu di dalam dada Rania terasa ikut runtuh.
Rumah besar itu kembali sunyi. Sangat sunyi.
Rania berdiri mematung beberapa detik di depan meja makan sebelum akhirnya perlahan duduk di kursi. Tatapannya jatuh pada dua piring sarapan yang masih mengepulkan sedikit uap. Air matanya langsung menggenang.
Lagi. Selalu begini. Ia memasak dengan penuh hati. Menunggu dengan penuh harap. Dan berakhir makan sendirian.
Rania tertawa kecil. Tawanya terdengar menyedihkan.
“Sebegitu nggak pentingnya aku sekarang buat kamu, ya, Mas…?” bisiknya lirih.
Air mata akhirnya jatuh satu per satu. Ia cepat mengusapnya, tapi semakin dihapus justru semakin banyak yang keluar.
Dadanya sakit sekali. Bukan karena marah. Tapi karena sadar… Harsa benar-benar berubah. Dan yang paling menyakitkan, perubahan itu terjadi perlahan sampai Rania bahkan tidak sadar kapan tepatnya ia mulai kehilangan suaminya.
Tangannya bergerak pelan mengambil piring di depan Harsa. Nasi goreng itu masih utuh. Belum disentuh sama sekali. Padahal tadi pagi ia memasaknya sambil tersenyum, berharap mereka bisa sarapan bersama seperti dulu.
Rania menunduk. Setetes air mata jatuh tepat di atas nasi goreng itu. Hingga akhirnya ia menangis tanpa suara di meja makan.
Bahu kecilnya bergetar pelan. Sunyi rumah itu terasa semakin menyesakkan. Tak ada yang melihat bagaimana seorang perempuan perlahan hancur karena merasa tidak lagi dicintai suaminya sendiri.
Drrt! Drrt!
Ponsel Rania bergetar di atas meja. Dengan mata masih basah, ia mengambil benda itu pelan.
Nama Jonathan muncul di layar.
Jemari Rania langsung menegang. Jonathan adalah dokter sekaligus sahabat lama yang selama ini menangani penyakitnya.
Dengan napas berat, Rania membuka pesan itu.
[Rania, jangan lupa hari ini jadwal kontrol kamu. Aku harap kamu datang. Kondisimu kemarin nggak bagus]
Rania menatap pesan itu lama sekali. Dadanya kembali terasa sesak. Ia hampir lupa. Hari ini jadwal pemeriksaannya.
Pelan-pelan tangannya menyentuh hidungnya sendiri. Semalam darah itu keluar lagi. Dan akhir-akhir ini kepalanya semakin sering sakit. Tubuhnya juga mulai mudah lelah.
Rania memejamkan mata. Air matanya jatuh. Lucunya, di saat dirinya sedang berjuang mempertahankan hidup, suaminya bahkan terlalu sibuk memperhatikan perempuan lain sampai tidak sadar istrinya perlahan sekarat.
Ponselnya kembali bergetar. Pesan kedua dari Jonathan masuk.
[Apa kamu pergi sendiri lagi? Harsa masih belum tahu soal penyakitmu? Mau sampai kapan kamu menyembunyikan semua ini darinya?]
Rania menggigit bibir kuat-kuat.
Lalu dengan tangan gemetar, ia mengetik balasan singkat.
[Jangan bilang siapa-siapa, Jo. Aku belum siap]
Setelah membalas pesan Jonathan, Rania mematikan layar ponselnya. Ia menatap meja makan beberapa saat lagi sebelum akhirnya berdiri perlahan.
Kakinya terasa lemas. Entah karena semalaman menangis… atau karena tubuhnya memang semakin memburuk.
Begitu masuk kamar, Rania menutup pintu lalu bersandar beberapa detik di sana. Matanya memandang ranjang yang tadi malam terasa begitu dingin.
Biasanya, perempuan lain mungkin akan marah besar jika suaminya diam-diam pergi menemui wanita lain tengah malam.
Tapi Rania justru terlalu lelah untuk marah. Yang ia rasakan sekarang hanya sedih. Sedih karena cintanya perlahan tidak lagi dianggap penting.
Rania membuka lemari lalu mengambil cardigan krem panjang untuk menutupi tubuhnya yang makin kurus. Wajahnya juga terlihat pucat pagi ini, bahkan concealer tipis pun tak mampu menyamarkan lingkar gelap di bawah matanya.
Ia berdiri di depan cermin beberapa saat. Tatapannya kosong.
“Jelek banget…” bisiknya lirih sambil tersenyum kecil.
Pantas saja Harsa mulai bosan.
Pikiran itu langsung membuat matanya panas lagi.
Tok! Tok!
“Non Rania?” suara Pak Darto terdengar dari luar kamar. “Ini hari kamis, biasanya pergi jalan-jalan kan? Mau sekalian diantar?”
Rania cepat mengusap sudut matanya sebelum membuka pintu sedikit.
Supir keluarga itu menatapnya khawatir.
“Nggak usah, Pak,” jawab Rania lembut. “Saya naik taksi aja.”
“Kenapa nggak dianter? Bapak juga kosong hari ini.”
Rania tersenyum kecil. Karena ia tidak mau ada yang tahu dirinya pergi kontrol lagi. Karena bahkan suaminya sendiri pun tidak tahu ia sedang sakit.
“Gapapa, Pak. Saya cuma mau cari angin sebentar,” bohong Rania, lagi dan lagi.
mana ada menejer memecat seorang ceo🤣🤣🤣
gilaaa