NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Aula besar di kompleks asrama kepolisian itu tampak penuh sesak oleh para ibu Bhayangkari yang mengenakan seragam kebesaran mereka—setelan merah muda yang khas. Ziva berdiri di dekat meja prasmanan, sesekali membenarkan letak pin di kerah bajunya. Meskipun ia sudah mulai terbiasa dengan lingkungan ini, berada di tengah kerumunan istri polisi tetap membuatnya merasa sedikit canggung.

"Ziva!" sebuah suara lembut memanggilnya.

Ziva menoleh dan mendapati Nisa sedang berjalan ke arahnya dengan senyum yang sangat lebar, hampir mencapai telinga. Wajah Nisa tampak berseri-seri, seolah ada cahaya yang memancar dari dalam dirinya.

"Eh, Kak Nisa. Baru sampai?" tanya Ziva sambil menyambut jabatan tangan Nisa.

Nisa tidak langsung menjawab. Ia justru menarik Ziva ke sudut ruangan yang lebih sepi, jauh dari denting sendok dan obrolan ibu-ibu lainnya. Tangannya menggenggam jemari Ziva dengan erat, napasnya sedikit memburu karena antusias.

"Ziva... aku punya kabar besar. Aku nggak tahan mau cerita ke siapa-siapa, tapi Mas Arga bilang tunggu waktu yang pas. Tapi buat kamu, kayaknya nggak bisa nunggu," bisik Nisa penuh rahasia.

Ziva mengerutkan kening, ikut penasaran. "Kabar apa sih, Kak? Kok mukanya seneng banget gitu?"

Nisa menarik napas dalam, lalu berbisik tepat di telinga Ziva. "Ziva... aku hamil."

Mata Ziva membelalak seketika. Sebuah senyum spontan merekah di wajahnya. Ia refleks memeluk Nisa dengan hati-hati. "Wahhh! Serius, Kak? Selamat ya! Ya ampun, aku ikut seneng banget dengernya. Mas Arga pasti seneng banget, ya?"

Nisa tertawa kecil, ada rona bahagia di pipinya. "Mas Arga sampai nangis pas liat testpack-nya, Ziva. Kamu tahu kan dia orangnya kaku banget, tapi pas tahu mau jadi Papa, dia langsung sujud syukur di depan kamar mandi."

"Udah berapa minggu, Kak?" tanya Ziva sambil mengelus lengan Nisa dengan lembut.

"Baru empat minggu sih. Masih sangat muda, makanya aku harus jaga banget. Tadi aja Mas Arga wanti-wanti jangan capek-capek di acara ini," jawab Nisa.

"Semoga sehat terus ya, Kak, sampai lahiran nanti. Kalau butuh bantuan apa-apa, atau mau titip beli apa pas aku pulang kantor, bilang aja ya. Jangan sungkan," ucap Ziva tulus. Ia membayangkan betapa lengkapnya kebahagiaan Nisa dan Arga sekarang.

Nisa mengangguk, lalu tatapannya berubah menjadi lebih intens. Ia menatap Ziva dengan tatapan menyelidik yang membuat Ziva merasa sedikit tidak enak hati.

"Makasih ya, Ziv. Tapi... kalau kamu gimana?" tanya Nisa pelan, suaranya mengandung nada menggoda yang sangat kental.

Ziva mengerjap, ia sempat bingung dengan arah pembicaraan ini. "Gimana apanya ya, Kak? Pekerjaan? Lancar kok, aku baru aja selesaiin proyek audit kemarin—"

"Bukan soal kerjaan, Ziva," potong Nisa sambil tertawa kecil. Ia menyenggol bahu Ziva pelan. "Itu... masa masih belum? Kamu sama Mas Baskara kan sudah satu atap cukup lama."

Wajah Ziva seketika berubah menjadi jauh lebih merah daripada seragam pink yang ia kenakan. Ia teringat kejadian beberapa malam terakhir semenjak ia mengizinkan Baskara tidur di kamar utama. Meskipun mereka masih menjaga jarak yang sopan, kehadiran Baskara di sampingnya setiap malam telah mengubah banyak hal dalam perasaannya.

"Kak... apaan sih. Aku kan..." Ziva menggantung kalimatnya, bingung harus menjawab apa. "Aku sama Kak Baskara kan beda, Kak. Kita... ya tahu sendiri lah mulainya gimana."

"Halah, beda gimana? Aku liat ya cara Mas Baskara natap kamu tadi pas nganter di depan gerbang. Tatapannya itu bukan tatapan kakak ipar ke adeknya lagi, Ziva. Itu tatapan laki-laki yang lagi jatuh cinta berat," goda Nisa lagi.

Ziva membuang muka, mencoba mencari objek apa saja untuk dihindari selain mata Nisa yang penuh selidik. "Nggak mungkin lah, Kak. Dia itu emang protektif aja orangnya. Lagipula, aku baru mulai kerja. Masa langsung... itu."

"Ziva, dengerin ya. Mas Baskara itu orangnya lurus. Dia nggak akan se-perhatian itu kalau hatinya nggak ada di situ. Apalagi aku denger kalian sudah satu kamar sekarang? Mas Arga loh yang cerita, katanya Mas Baskara keliatan jauh lebih seger dan nggak gampang marah-marah lagi di kantor," Nisa menaikkan alisnya, menunggu reaksi Ziva.

Ziva menghela napas panjang, ia merasa terpojok namun tidak merasa marah. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya mendengar perubahan Baskara. "Kita baru mulai mencoba buat saling mengenal lebih jauh, Kak. Pelan-pelan. Aku nggak mau buru-buru karena rasa bersalah atau karena paksaan keluarga."

Nisa merangkul bahu Ziva. "Iya, aku ngerti. Tapi jangan terlalu lama menutup diri, Ziva. Anak itu anugerah, dan kadang dia datang buat nyembuhin luka yang paling dalam sekalipun. Liat aku, setelah penantian ini, rasanya semua beban berat kemarin hilang."

Ziva hanya bisa terdiam, pikirannya melayang pada sosok Baskara. Ia membayangkan bagaimana jadinya jika suatu saat nanti ada sosok kecil yang memiliki mata tegas seperti Baskara namun memiliki sifat keras kepala seperti dirinya. Pikiran itu membuat jantungnya berdegup tak beraturan.

"Udah ah, Kak. Jangan bahas itu terus, malu tau dilihat ibu-ibu yang lain," keluh Ziva sambil mencoba mengalihkan pembicaraan ke soal menu katering hari itu.

Namun, di dalam hati, Ziva mulai bertanya-tanya. Apakah dia sudah benar-benar siap? Apakah Baskara juga mengharapkan hal yang sama?

Sepanjang acara Bhayangkari berlangsung, Ziva tidak bisa fokus sepenuhnya. Ia terus teringat ucapan Nisa. Sambil mencicipi kue lapis di piringnya, ia tanpa sadar menyentuh perutnya sendiri yang masih rata. Ada sebuah perasaan aneh yang bergejolak di sana—bukan rasa lapar, melainkan sebuah harapan kecil yang selama ini ia tekan dalam-dalam karena rasa benci pada masa lalu.

Mungkin benar kata Nisa, sudah saatnya ia berhenti menghukum dirinya sendiri dan mulai membangun masa depan yang nyata bersama Baskara.

***

Suasana di depan aula Bhayangkari perlahan mulai lengang. Deru mesin mobil dan motor para anggota polisi yang menjemput istri mereka menciptakan simfoni sore yang sibuk. Ziva berdiri di dekat pilar besar, memeluk tas kecilnya. Seragam pink yang ia kenakan terasa sedikit gerah setelah dipakai berjam-jam, namun ia tetap berdiri tegak, mencoba mengusir rasa canggung karena berdiri sendirian.

Tak lama kemudian, sebuah mobil putih berhenti tepat di depan anak tangga. Arga turun dari kursi kemudi dengan wajah yang—meskipun tetap terlihat kaku dan tegas—langsung melembut begitu melihat Nisa. Ia menghampiri istrinya dengan langkah lebar, seolah tidak sabar untuk melindungi wanita yang kini tengah mengandung buah hatinya itu.

"Sudah selesai?" tanya Arga pelan pada Nisa, sambil secara alami mengambil alih tas jinjing istrinya.

Nisa mengangguk manis, lalu menoleh ke arah Ziva yang masih berdiri di sana. "Ziv, nggak mau bareng kita aja? Mas Arga bisa antar kamu dulu ke rumah. Ya kan, Mas?"

Arga menatap Ziva, memberikan anggukan hormat yang singkat namun sopan. "Iya, Ziva. Ayo naik saja, searah juga kan."

Ziva tersenyum tipis, menghargai tawaran tulus dari pasangan di depannya. Namun, ia teringat pesan singkat yang masuk ke ponselnya sekitar lima belas menit yang lalu. Sebuah pesan singkat dari Baskara yang memintanya untuk menunggu.

"Eh, nggak usah Kak, duluan aja nggak apa-apa," tolak Ziva halus. "Kak Baskara tadi bilang katanya mau jemput sebentar lagi. Dia lagi ada urusan sedikit di kantor, mungkin sebentar lagi sampai."

Nisa tampak ragu sejenak, ia melirik jam tangannya lalu kembali menatap Ziva. "Beneran nggak apa-apa? Ini sudah mulai sore, lho. Nanti kamu sendirian di sini."

"Beneran, Kak. Santai aja, aku juga sekalian mau cari angin di sini," jawab Ziva meyakinkan.

Nisa akhirnya menyerah, ia memberikan pelukan singkat pada Ziva. "Oke deh, hati-hati ya, adek kecil... Kabari kalau Mas Baskara sudah sampai, ya!"

"Siap, Bumil!" canda Ziva sambil melambaikan tangan.

Arga membukakan pintu untuk Nisa dengan sangat hati-hati, memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum ia kembali ke kursi kemudi. Mobil putih itu perlahan bergerak meninggalkan halaman aula, menyisakan Ziva yang kini benar-benar berdiri sendirian di bawah bayang-bayang pilar.

Ziva mengembuskan napas panjang. Ia duduk di bangku kayu panjang yang disediakan di teras aula. Sore di asrama polisi memiliki aura yang unik; ada suara anak-anak anggota yang bermain bola di kejauhan, suara peluit latihan yang sayup-sayup terdengar, dan aroma aspal hangat yang mulai mendingin.

Ia teringat panggilan "adek kecil" dari Nisa tadi. Sebutan itu biasanya membuat Ziva kesal karena ia merasa sudah dewasa, apalagi sekarang ia sudah bekerja. Namun, hari ini, sebutan itu terasa berbeda. Di mata Nisa dan orang-orang di sekitarnya, ia memang masih dianggap sebagai sosok yang perlu dilindungi—mungkin karena mereka tahu beban berat yang ia pikul setelah kepergian Kirana.

Ziva merogoh ponselnya, membuka kembali obrolan dengan Baskara.

Baskara: Tunggu di teras depan. Aku sedang urus berkas terakhir. Jangan pulang sendiri.

Ziva tersenyum kecil membaca kalimat yang sangat "Baskara banget" itu—singkat, padat, dan penuh nada perintah. Namun, di balik otoritas itu, Ziva merasakan kehangatan. Pria itu tidak lagi membiarkannya pulang naik taksi online jika ia bisa menjemputnya.

Pikiran Ziva kembali melayang pada berita kehamilan Nisa. Ia membayangkan bagaimana reaksi Baskara jika suatu saat nanti berada di posisi Arga. Apakah pria kaku itu akan menangis juga? Ataukah ia akan tetap memasang wajah "robot" namun tangannya bergetar karena bahagia?

Ziva menggelengkan kepala, mencoba mengusir imajinasi yang terlalu jauh itu. "Mikir apa sih gue... fokus, Ziva, fokus," gumamnya pada diri sendiri sambil menepuk-nepuk pipinya yang mendadak panas.

Sinar matahari kini sudah berubah menjadi jingga kemerahan. Bayang-bayang pilar semakin memanjang di lantai teras. Ziva mulai merasa sedikit kedinginan karena angin sore yang berembus kencang. Ia merapatkan blazer seragam pink-nya, mencoba mencari kehangatan.

Tiba-tiba, suara knalpot motor yang berat dan bertenaga memecah kesunyian di depan aula. Sebuah motor gede berwarna hitam metalik berhenti tepat di depan anak tangga. Pengendaranya mengenakan jaket kulit hitam di atas seragam dinasnya, helm full-face menutupi wajahnya, namun Ziva tahu persis siapa itu dari postur tubuhnya yang tegap dan cara ia mematikan mesin motornya.

Baskara melepas helmnya, menyugar rambutnya yang sedikit berantakan karena keringat. Ia menatap ke arah teras dan menemukan Ziva yang sedang duduk sendirian dengan wajah yang tampak lelah namun lega.

Baskara turun dari motor, ia tidak langsung menyuruh Ziva naik. Ia berjalan menghampiri istrinya, meletakkan helmnya di atas kursi kayu di samping Ziva.

"Lama nunggunya?" tanya Baskara. Matanya menyapu wajah Ziva, memastikan istrinya baik-baik saja.

"Dikit. Kak Nisa tadi nawarin bareng Mas Arga, tapi gue bilang lo mau jemput," jawab Ziva sambil berdiri, merapikan roknya yang sedikit kusut.

Baskara mengambil tas kecil Ziva—sebuah gestur yang sekarang mulai sering ia lakukan tanpa diminta. "Maaf, tadi ada laporan mendadak dari tim buser soal kasus yang kemarin. Aku harus tanda tangan dulu."

"Iya, nggak apa-apa. Gue paham kok kerjaan polisi kayak gimana," sahut Ziva. Ia menatap motor besar Baskara. "Tumben bawa motor gede, Kak?"

"Jakarta lagi macet total karena ada perbaikan jalan di depan. Kalau bawa mobil, mungkin jam delapan malam kita baru sampai rumah. Kamu mau pakai jaket aku? Anginnya kencang."

Baskara mulai melepas jaket kulitnya, namun Ziva menahan tangan pria itu. "Enggak usah, gue kuat kok. Lagian seragam ini tebal. Ayo jalan, gue laper banget, belum sempet makan berat di dalem tadi karena asyik ngobrol."

Baskara mengangguk, ia membantu Ziva naik ke atas motor besarnya yang cukup tinggi. Saat Ziva sudah duduk di belakang, Baskara meraih kedua tangan Ziva dan melingkarkannya ke pinggangnya.

"Pegangan yang erat. Aku mau sedikit ngebut supaya kita bisa sampai sebelum magrib," ucap Baskara datar, namun Ziva bisa merasakan otot punggung pria itu yang mengeras.

Ziva menurut. Ia menyandarkan kepalanya di punggung tegap Baskara, menghirup aroma sabun dan parfum maskulin yang kini sudah mulai menjadi aroma favoritnya. Di atas motor itu, di tengah hiruk pikuk jalanan Jakarta yang mulai menyalakan lampu-lampunya, Ziva merasa sangat aman.

Berita kehamilan Nisa tadi memang indah, tapi bagi Ziva, momen-momen kecil seperti dijemput setelah acara Bhayangkari, pelukan singkat di atas motor, dan perhatian tanpa kata-kata dari Baskara adalah kebahagiaan yang sedang ia syukuri saat ini. Ia sadar, langkah mereka memang pelan, tapi mereka sedang menuju ke arah yang benar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!