NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Hasrat Wira di Balik Pagi

Kota pelabuhan Samudera Biru saat malam hari tidaklah seramah suasananya saat siang.

Angin laut yang membawa kristal garam terasa menggigit kulit, sementara lampu-lampu lampion biru yang berayun di depan gedung-kerajaan seolah mengawasi setiap gerak-gerik penduduknya.

Wira dan Sekar berjalan menyusuri lorong-lorong kota yang padat, berharap menemukan tempat untuk merebahkan diri setelah perjalanan laut yang melelahkan.

Namun, keberuntungan seolah sedang bermain petak umpet dengan mereka. Setiap penginapan yang mereka datangi selalu memberikan jawaban yang sama yaitu Penuh.

Sayembara Pendekar Baru telah menarik ribuan orang dari berbagai penjuru benua, membuat setiap jengkal lantai di kota itu menjadi barang berharga.

Hingga akhirnya, di sebuah penginapan kecil yang menjorok ke arah dermaga, seorang pemilik penginapan tua dengan mata yang tinggal sebelah menatap mereka.

"Hanya tersisa satu kamar. Kamar nomor tujuh di ujung lorong atas. Ambil atau silakan pergi," ucap orang tua itu dengan suara serak.

Wira dan Sekar saling berpandangan. Keheningan yang canggung mendadak menyergap.

Sejak meninggalkan Ayodya Pala, ini adalah pertama kalinya mereka harus berbagi ruang yang begitu sempit secara intim.

"Kita... kita ambil saja," gumam Sekar pelan, wajahnya tertunduk menyembunyikan rona merah yang mulai merayap.

Begitu pintu kamar kayu itu terbuka, kenyataan menghantam mereka lebih keras. Kamar itu kecil, hanya berisi satu tempat tidur dengan kasur kapuk yang tipis dan sebuah meja kecil.

Wangi kayu tua dan udara lembap memenuhi ruangan. Mendadak, dua orang yang biasanya bisa berbincang tentang apa saja dari masalah ubi hingga strategi perang ini menjadi seperti orang asing yang baru bertemu.

Wira berdiri mematung di dekat pintu, sementara Sekar duduk di tepi tempat tidur, pura-pura sibuk merapikan pedang pendeknya.

Pikiran Wira mulai berkelana liar. Bayangan wajah Ratnawati yang jelita, lalu keberanian Sekar selama ini, bercampur dengan suasana malam yang sunyi. Ia sempat melirik ke arah Sekar, membayangkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan oleh seorang calon penyeimbang semesta.

Plak!

"Aduh!" Wira memegangi kepalanya yang baru saja dihantam gagang pedang Sekar.

"Jangan pasang wajah mesum itu, Wira Wisanggeni! Aku tahu apa yang ada di kepalamu!" bentak Sekar dengan wajah yang merah padam.

"Kau... kau tidur di bawah! Mengalahlah sedikit pada wanita!" lanjut Sekar dengan tersenyum tipis.

Wira mengeluh pendek, namun senyum bodohnya tetap menghiasi wajahnya.

"Baik, baik... nasib seorang calon pahlawan memang selalu berakhir di atas lantai yang dingin." Ia menggelar kain lusuhnya di samping tempat tidur, mencoba memejamkan mata meskipun jantungnya berdegup tak beraturan.

Keesokan harinya, cahaya matahari pagi yang memantul dari permukaan laut masuk melalui celah jendela, menyentuh kelopak mata Wira.

Pemuda itu mengerang pelan, tubuhnya terasa kaku karena tidur di lantai kayu yang keras.

Saat ia membuka mata dan menatap ke atas tempat tidur, ia terkejut. Tempat tidur itu sudah kosong.

"Sekar? Sudah keluar?" gumamnya serak.

Wira bangkit dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Ia merasa gerah dan ingin membersihkan diri sebelum bergegas ke arena sayembara.

Ia berjalan menuju pojok kamar di mana terdapat bilik mandi kecil yang hanya dibatasi oleh kaca buram yang sudah tua.

Tanpa curiga, ia mendekat. Namun, langkahnya terhenti. Di balik kaca buram yang beruap itu, ia melihat bayangan lekukan tubuh yang sangat ia kenali. Suara gemericik air terdengar pelan.

Wira terpaku, matanya melongo menatap siluet di balik kaca itu. Pikirannya kosong, namun insting lelakinya bekerja jauh lebih cepat dari logika pahlawannya.

Tiba-tiba, suara air berhenti. Sebelum Wira sempat berbalik atau melarikan diri, pintu kayu bilik mandi itu terbuka.

Sekar berdiri di sana. Rambut hitamnya basah kuyup, menempel di bahunya yang putih. Ia hanya mengenakan selembar handuk yang menutupi bagian tengah tubuhnya, meninggalkan bahu dan kaki jenjangnya terekspos udara dingin pagi.

Mata mereka bertemu. Sekar membeku melihat Wira yang menatapnya dengan pandangan nakal yang tak tertahankan.

Pipi Sekar mendadak berubah menjadi merah semerah delima. Ia ingin berteriak, ingin memukul Wira lagi, namun ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya.

Hasrat wanitanya yang telah dewasa, yang selama bertahun-tahun ia tekan demi tugas dan kultivasi, mendadak meledak.

Ia melihat Wira, bukan sebagai bocah pencuri ubi, bukan sebagai murid gurunya, melainkan sebagai pria yang telah mempertaruhkan nyawa untuknya berkali-kali.

Ketakutan terbesar Sekar muncul: ketakutan jika suatu saat Wira akan dimiliki oleh wanita lain, seperti Ratnawati atau dewi-dewi di langit sana.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Sekar perlahan melepaskan simpul handuknya. Kain itu jatuh ke lantai tanpa suara.

Mata Wira membelalak. Pikirannya benar-benar berhenti berfungsi. Hasrat yang selama ini tertahan di dalam batinnya mendidih.

Tanpa kata, ia melangkah maju. Sebelum melakukan langkah selanjutnya, Wira secara sadar memutus koneksi batinnya dengan Siwa, memastikan sang ruh tongkat tidak bisa melihat atau mendengar apa pun yang terjadi di dalam kamar itu.

"Maaf, Siwa. Kali ini kau tidak boleh ikut campur, hihihi...," batin Wira sesaat sebelum kesadarannya tenggelam dalam kehangatan pagi yang mendadak membara.

Waktu seolah berhenti berputar di dalam kamar nomor tujuh tersebut. Kejadian dewasa yang didorong oleh kerinduan dan hasrat yang mendalam itu berlangsung lama, jauh melampaui perhitungan waktu Wira.

Hingga akhirnya, suara terompet kerajaan dari arah alun-alun kota terdengar menggema, menandakan pembukaan sayembara akan segera dimulai.

Wira tersentak. Ia segera bangkit dengan wajah yang sangat merah dan tatapan kosong, seolah jiwanya masih tertinggal di atas kasur kapuk itu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun karena terlalu malu dan bingung harus berkata apa, ia menyambar bajunya, bergegas mandi secepat kilat, dan langsung lari keluar kamar.

Ia begitu gugup hingga ia lupa pada satu hal yang paling penting, tongkat kayunya.

Sekar masih berbaring di bawah selimut, menatap langit-langit kamar dengan napas yang masih belum teratur.

Ia tersenyum kecil, sebuah senyuman penuh kemenangan sekaligus malu yang luar biasa. Saat ia menoleh ke samping, ia melihat Siwa tergeletak begitu saja di lantai, ditinggalkan oleh tuannya yang sedang panik.

"Dasar bodoh..." bisik Sekar pelan. "Bagaimana bisa kau ikut sayembara tanpa senjatamu?"

Sekar segera bangkit, mengabaikan rasa lelah di tubuhnya. Ia mengenakan pakaian pendekarnya dengan cepat, lalu memungut Siwa. Begitu tangannya menyentuh tongkat itu, ia bisa merasakan getaran protes dari dalam kayu tersebut.

"Hei! Apa yang terjadi tadi? Kenapa koneksinya putus? Dan kenapa bau kamar ini seperti..." Siwa mulai mengoceh di dalam benak Sekar karena mereka juga memiliki sisa ikatan energi.

"Diamlah, Siwa," ucap Sekar sambil menyampirkan tongkat itu di punggungnya. "Aku akan membawamu padanya."

Sementara itu, di alun-alun besar Kerajaan Samudera Biru, ribuan penonton sudah bersorak sorai.

Di atas panggung utama yang dibangun di atas air, berdiri Kaisar Baruna yang mengenakan jubah biru bersisik emas.

Aura kekuatannya, Ranah Kedalaman Abadi, memancar keluar, membuat udara di sekitar panggung terasa sangat berat, seolah setiap orang sedang memikul beban satu ton air di pundak mereka.

"Hari ini, kita akan menyaring siapa yang layak menjadi abdi kerajaan!" seru sang Kaisar dengan suara yang menggelegar.

Wira tiba di pinggir arena dengan napas tersengal-sengal. Ia berada di barisan pendekar rendahan. Saat ia meraba punggungnya, jantungnya seolah berhenti berdetak.

"Tongkatku... Siwa tertinggal!, hisshhh.." gumamnya panik.

Tanpa Siwa, Wira kehilangan setengah dari kemampuannya untuk memanipulasi energi alam secara sempurna tanpa merusak tubuhnya sendiri.

Terlebih lagi, ia melihat lawan pertamanya melangkah ke arena: seorang pria raksasa dengan tato ombak di sekujur tubuhnya, seorang pendekar Ranah Gelombang Karang tahap puncak yang membawa sebuah jangkar besi raksasa sebagai senjata.

"Mana senjatamu, Bocah Ubi?" ejek si raksasa itu sambil menghantamkan jangkarnya ke lantai panggung hingga retak.

"Apa kau mau bertarung dengan tangan kosong melawanku?" lanjut ejeknya.

Ia tahu Wira sebagai bocah ubi itu karena di papan pengumuman tertulis nama Wira dengan ranah kultivasi ubi sama seperti saat ia mendaftar kemarin.

Wira menelan ludah. Ia melirik ke arah tribun penonton, berharap melihat sosok yang ia kenal.

Tepat saat wasit akan memulai pertandingan, sebuah bayangan perak melesat dari arah penonton.

Dengan gerakan anggun, Sekar mendarat di pinggir panggung. Ia melemparkan sebuah benda kayu yang berputar di udara ke arah Wira.

"Wira! Jangan jadi pahlawan konyol tanpa ini!" teriak Sekar dengan wajah yang masih menyisakan rona merah dari kejadian tadi pagi.

Wira melompat, menangkap Siwa dengan satu tangan. Begitu telapak tangannya menyentuh permukaan kayu itu, koneksi energi mereka kembali tersambung dengan ledakan kecil.

"Bocah! Kau hampir saja membuatku mati bosan di kamar pengap itu! Apa yang kau lakukan sampai melupakan aku?!" teriak Siwa di dalam kepala Wira dengan kesal.

Wira tidak menjawab secara batin, ia hanya tersenyum tipis ke arah Sekar yang kini berdiri di antara penonton.

Ia menggenggam Siwa lebih erat, lalu menatap lawan raksasanya dengan pandangan yang telah berubah. Tidak ada lagi ketakutan, hanya ada ketenangan yang dingin.

"Terima kasih, Sekar," gumam Wira.

"Sekarang, mari kita tunjukkan pada Kaisar ini, bahwa kedalaman samudera pun tidak bisa menenggelamkan cahaya langit." lanjut gumamnya dengan tatapan yang berbeda menuju kearah lawannya.

Pertandingan pertama pun dimulai.

Jangkar raksasa melesat menuju kepala Wira, namun dengan satu gerakan santai, Wira memutar Siwa, menciptakan pusaran angin kecil yang mengalihkan arah serangan berat itu seolah-olah jangkar itu hanyalah bulu burung yang ringan.

Seluruh penonton terdiam, termasuk Kaisar Baruna yang kini menyipitkan matanya, menyadari bahwa ada ikan besar yang sedang berenang di kolamnya ini.

Kaisar Baruna pun menyunggingkan senyuman aneh di wajahnya sembari menatap Wira di arena pertarungan.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!