"Kak, hari ini jadikan pulang bareng?"
"Nggak bisa, Viona lagi sakit Gue harus segera bawah dia pulang."
"Kak, boleh nggak kerumah, Aku takut Kak."
"Imlie bisa nggak, nggak usah manja Gue lagi jagain Viona di rumah sakit. Lo sendiri dulu aja ya. Kan ada pembantu Sayang. Ingat! Jangan begadang ya."
"Hiks.. Aku juga sakit Kak. Tapi mengapa dia yang selalu menjadi prioritasmu."
Anak pembawa sial, Saya nyesal udah lahirin Kamu. Kenapa bukan Kamu saja yang mati hah?"
"Ck, anak sialan. Saya muak lihat Kamu."
"Mati aja sana Li, nggak guna juga. Papa sama Mama aja udah nggak anggap Lo anak."
"Mimpi apa Gue. Punya Adik berhati busuk kayak Lo."
"Aku memang gadis pembawa sial. Aku tidak pantas hidup. Tapi, tidak pantaskah Aku mendapatkan pelukan kasih sayang itu? Hahaha siapa juga yang akan memeluk gadis pembawa sial seperti Aku."
kisah ini tentang seorang gadis yang dengan ikhlas menerima segalah kebencian yang di berikan kepadanya. ingin tahu kelanjutannya yang penasaran bisa langsung baca🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Happy reading<<<<<<<
<
"Gue juga perempuan, dan Gue tau tatapan tadi." Tatapan cemburu Kak." lirih Imlie mengingat raut wajah dari Aryan setelah mendengar seorang Pria yang menelfon menggunakan hpnya Viona.
"Aku jadi ragu Kak, apa cinta yang di berikan buat Aku benar benar tulus ataukah hanya sekedar obsesi. Yang akan menghancurkan Aku dan juga Kamu, jangan salahkan Aku jika berfikir seperti ini karena Kakak lah yang memicu praduga ini muncul.."
"Hiks, miris banget ya nggak keluarga nggak Cowok semuanya sama, setidak penting itukah Aku?" batin Imlie menepuk dadanya esak.
Ting
Bunyi pesan masuk ke hpnya dengan cepat Imlie mengambilnya. Dia masuk ke grup yang di buat oleh Yoyo.
GRUP ANJELINA AND GIRL GIRLNYA
Emina>>>>>
"Lili, Are you oke?"
Wardah>>>>>
"Li, udah pulang ya? Lo baik baik aja kan?"
Anjelina>>>>>
"My baby Lili, Kamu di mana? Udah pulang kan? Si cowok tampan itu nggak apa apain Kamu kan, Nak?"
Imlie>>>>>
"Makasih ya, Gue baik baik aja kok. Udah Otw ke rumah nih. Maaf ya gara gara Gue rencana kita buat makan makan bersama gagal."
Imlie sempat tersenyum pesannya Yoyo.
Wardah>>>>>
"Santai aja Lilin."
Emina>>>>>
"Jelasin bedak wardah sama si Lilin, heheheh."
Anjelina>>>>>
"Aduh, aduh, para bedak Merek Emina dan bedak merek Wardah sama Lilin lampu udah pada ribut nih hahhha."
Imlie>>>>>
"Di Ulti Pak Anjelin. Heheheh."
Setelah itu Imlie menaruh krmbali hpnya kemudian memikirkan cara untuk keluar dari apartemen Aryan.
"Aku harus segera pergi tapi gimana ya caranya?" batin Imlie dan pergi ke kamar Aryan kemudian menatap ke bawah yang sangat tinggi.
"Mana tinggi lagi" gumam Imlie. Kemudian memikirkan sesuatu dan dengan cepat pergi menuju dapur.
Imlie mengambil selembar tisyu kemudian membakarnya dan di arahkan ke arah alat heat detector / alat keamanan kebakaran.
Beep beep beep
Tiba tiba suara yang di keluarkan dari alat itu sangat keras. Kemudian bunyi kericuhan dari luar.
Tok tok tok
"Maaf, bisa di buka pintunya." teriak security dari luar.
"Pak, tolong buka Pak di dobrak aja Pak." teriak Imlie. Kemudian seorang security memilih mengambil kartu akses cadangan dari pada mendobraknya.
Brak
"Alhamdulillah, akhirnya." ujar Imlie dan dengan cepat pergi, tanpa menghiraukan kebingungan dan kepanikan dari para security dan tetangga unit apartemen lainnya.
Sedangkan di dalam apartemen milik Aryan para security kembali keluar karena tidak terjadi apapun.
Sebelum itu mereka pergi ke resepsionis untuk menghubungi Aryansyah. Karena memang keluarga Aryan pemilik Apartemen itu.
"Halo selamat siang. Maaf menganggu waktunya Tuan." uar resepsionis setelah telfon itu terhubung.
"Siapa?"
"Saya resepsionis dari Apartemen Alveric 01. Saya mau menginfokan bahwa tadi ada seorang gadis muda melakukan kericuhan di apartemen Tuan, dengan membakar sebuah tisyu dan di dekatkan ke alat heat detector. Sehingga membuat banyak orang yang panik, dan kami terpaksa membuka apartemen Tuan dengan kartu akses cadangan. Karena takut terjadi kebakaran beneran Tuan." jawabnya.
"Terus kemana dia?" tanya Aryan yang sudah mengepalkan tangannya.
"Dia sudah kabur Tuan. Tapi, Kami akan melaporkannya ke polis…….
"Jaga ucapan Lo, jangan coba coba sentuh gadis Gue." tegas Aryan membuat sang resepsionis baru itu kaget.
"Gadis? Jadi, gadis cantik tadi? Pacarnya Tuan? Aduh, gimana nih kalau Saya di pecat." gumamnya.
"Kenapa mbak?" tanya salah satu security.
"Gadis yang buat kebeban di apartemennya Tuan muda itu. Pacarnya Tuan muda?" tanyanya pada security itu.
"Ya, benar. Itu sebabny Kami bingung kenapa Nona Imlie di kurung kemudian kabur." jawabnya santai.
.
.
.
"Mampus Saya." batin sang resepsionis.
"Baby, sangat menarik. Mau coba kabur, hem." batin Aryan tersenyum smirk, Seperti tidak pernah melakukan kesalahan pada Imlie.
"Ar, Kamu nggak bakal pulang kan?" tanya Viona.
"Nggak kok, Aku bakal temani Kamu di sini." jawab Aryan tidak tau saja Viona berbohong jika dirinya sakit. Bahkan dia memohon ke dokter untuk mengatakan bohongan pada Aryan tentang kondisinya yang sebenarnya sedang sehat.
"Imlie." selama menjaga Viona yang Aryan pikirin cuman Imlie dan Imlie. Bukan karena rindu tapi karena gadisnya itu sudah berani kabur.
.
Sedangkan di tempat lain Imlie bisa bernafas lega dia pun mencari taksi dan membawanya pulang.
"Alhamdulillah.. Akhirnya." ujar Imlie yang sekarang menyiapkan hati dan mental untuk menemui keluarganya.
"Assalamualaikum Mang Opit." salam Imlie.
"Eh, Waalaikumsalam Non." jawab Mang Opit kemudian membuka gerbangnya.
"Terimakasih Mang." jawab Mang Opit yang sudah menganggap Imlie seperti Anaknya.
Setelah berbincang sedikit dengan Mang Opit Imlie pun berjalan menyusuri taman rumahnya. Tapi, di jarak 1 meter dari rumahnya dia langsung terdiam melihat amarah yang di tunjukan oleh Pria paru baya yang dia cintai tapi sering menyakitinya.
Imlie langsung berjalan sambil menunduk.
"Dari mana sampai pulang jam segini, Anak sialan." ujar Papanya dingin menepis tangan Imlie yang ingin menyaliminya.
"Mau belajar jadi jalang, hah?" marah Mahen Papanya Imlie.
"Ya Allah.....Astagfirullah..." batin Imlie.
"KENAPA DIAM, HAH? DAN ITU KENAPA ANAK SAYA KAMU LUKAIN IMLIE. MAU BUNUH ANAK SAYA JUGA, HAH?"
PLAK
Pak Mahen pung langsung mendaratkan tamparan yang sangat mulu ke Pipinya Imlie. Sehingga mencetak tanda merah di sana.
"Lukain? Aku tidak melukai Kak Loli Pa." jawab Imlie yang sudah di banjiri air mata dia menatap Papanya dengan tatapan senduh.
"JANGAN BOHONG ANAK
PEMBAWA SIAL. KAMU ITU MEMANG PEMBAWA MARA BA HAYA DI KELUARGA SAYA." teriak Pak Mahen. Imlie hanya menangis dalam diam.
"Terus untuk apa Aku di lahirkan kalau seperti ini." batin Imlie menangis dalam diam.
"JAWAB, HAH? ALASAN APA KAMU MELUKAI ANAK SAYA, HAH?" teriak Pak Mahen lagi.
"Nggak sengaja Pa." jawab Imlie akhirnya, dia ingin membantah tapi percuma dia tidak akan pernah di percaya. Jadi dia mengakui kesalahan yang tidak pernah dia perbuat.
PLAK
"Enteng sekali mulut mu berkata seperti itu, cih.. Sia sia Saya besarin Kamu. Anak pembawa sial." ujar Papanya dan masuk ke dalam dan menemui Putrinya Lolita.
"Cih, Mampus Lo Imlie." batin Lolita yang mendengar kemarahan Papanya dari dalam.
"Pa, udah ya.. Aku nggak Papa kok, Imlie nggak sengaja mungkin." ujar Lolita memainkan dramanya lagi.
"Nggak Sayang!! Kamu jadi orang jangan terlalu baik Nak. Jadi, baik itu bagus. Tapi jangan karena kebaikan kita sehingga membuat orang lain dengan gampang melukai kota dan memanfaatkan
kita Nak. Dan Mama ngvak mau itu sampai terjadi sama Putri Mama." ujar Melani mengusap rambut Putrinya ini.
"Nggak Papa Kok. Lagian Pa udah ya, jangan di pukul lagi Imlie-nya. Loli mohon Pa." ujar Lolita, sungguh the power of Ratu drama. Sedangkan Imlie mengepalkan tangannya kuat kuat. Dadanya sungguh sangat sesak.
"Baiklah! Demi Putri Papa. Jadi, Papa maafkan dia." ujar Pak Mahen.
"Terus, terus Aku ini apa Pa? Apa Aku juga bukan Putri Papa dan Mama?" tanya Imlie pelan.
"Sadar diri akhirnya." ujar Melani, sungguh sangat
keterlaluan. Sedangkan Imlie hanya mengelus senyum senduh.
"Li, udah ya.. Sana masuk, nanti Aku tenangin Mama sama Papa kok." ujar Lolita kemudian tersenyum tipis. Dia hendak memegang tangan Imlie untuk membawanya masuk. Tapi....
"Lepasin." Imlie dengat kuat melepaskan cengkraman Lolita yang sengaja.
Bugh
"Akkkh.. Imlie.."
"IMLIE, MAKI HARI KAMU MAKIN JAHAT YA." teriak Melani dan membawa membantu putrinya untuk berdiri kemudian memeluknya.
"Sssh, Ma. Nggak Papa kok, tadi Imlie nggak sengaja." ujar Lolita berbohong, karena tadi dia yang membuang dirinya sendiri.
"Astagfirullah. Kak Loli, drama banget jadi orang." batin Imlie.
Plak
"Sudah Saya bilang kan. Jangan menyentuh Putri Saya, sini Kamu."
"Pa, Aku mau di bawah kemana Pa? Tangan Aku sakit.." rintih Imlie.
"Kamu harus di kasih hukuman, biar nggak ulangin lagi."
"Tapi, Pa. Tadi Kak Loli yang jatuh sendiri."
"Ck, dasar pembohong Kamu
pikir Saya buta, hah?" bentak Pak Mahen kemudian mengambil air dari despenser yang sedang panas. Kemudia......
"Aaakkkh, PAPAAAAAAA." rintih Imlie setelah segelas air panas di siramkan ke telapak tangan kanannya.
"Itu biar Kamu bisa merenungkan kesalahan Mu." ujar Pak Mahen kemudian pergi dari situ.
Imlie langsung terduduk di lantai dapur sambil memegang tangan kanannya.
"Hiks, hiks.. Pa sakiiit.." rintih Imlie kacau.
"Hiks, hiks.. Ya Allah.." Imlie
langsung menekuk kaki dan memeluk lututnya. Kemudian menenggelamkan wajahnya di sela sela pahanya.
"Hiks, hikss...." tangisnya pelan. Bukan dia tidak merasa sakit di tangannya, karena baginya luka fisik nggak seberapa. Tetapi, Taukah sejatinya luka tanpa berdarah itulah luka sejati yang sangat menusuk. Dan susah di sembuhin.
"Ya Allah, Non Imlie." ujar Bik Ajeng yang datang dan mengangkat kepala Imlie kemudian ikut meneteskan air matanya.
Imlie menatap wanita berusia 50 tahun itu dengan tatapan terluka. Wanita itu sudah dia anggap sebagai Ibunya sendiri. Karena selama ini Imlie dapat merasakan kasih Sayang seorang Ibu dari Bik Ajeng.
"Bibi..." panggil Imlie lirih dengan suara paruhnya. Air mata sejak tadi jatuh dan di hapus Bik Ajeng.
"Hiks, hiks.. Bibiii..." tangis Imlie pun semakin pecah saat di bawah masuk ke pelukan Bik Ajeng.
"Hiks, hiks. Sabar Nak...sabar." lirih Bik Ajeng.
"Bibi.. Bibi.. Sakit Bik.... Imlie sakiit." lirih Imlie dalam pelukan Bik Ajeng.
"Iya Nak, menangislah Nak.." lirih Bik Ajeng.
"Yasudah, biar Bibi obati lukanya ya Nak." ujar Bik Ajeng melepaskan pelukan itu kemudian pergi ke kamarnya dengan cepat dan mengambil kotak P3K. Sedangkan Imlie hanya diam dengan tatapan kosongnya dengan air mata yang terus keluar. Tangannya yang sakit tidak di hiraukan.
"Tidak, dia pantas mendapatkan itu. Dia juga pembunuh, jadi ini balasan yang setimpal untuknya." batin Alvian yang sejak tadi melihat kejadian Papanya menyiram tangan Adiknya itu. Dia menatap Imlie yang diam dengan tatapan kosong. Perasaan Alvian berkecamuk dan tatapannya itu tak lepas dari Imlie.
"Makasih Bik." ujar Imlie lirih, Bik Ajeng merasa kasihan karena sejak tadi Imlie tidak merasakan sakit saat di obatin. Tatapannya tetap kosong.
"Inilah yang di sebut, sakit yang luar biasa. Tetapi bukan karena sakit fisik. Tapi, karena sakit hati. Luka yang mereka tanamkan pada gadis baik ini sungguh terlalu dalam." batin Bik Ajeng.
"Aku ke kamar dulu Bik. Permisi." ujar Imlie pelan nan sopan. Kemudian menaiki tangganya dengan tatapan kosong dan menunduk. dia bahkan melewati Alvian tanpa melihatnya.
"Kosong sekalih tatapannya." batin Alvian dan mengikuti Imlie
dari belakang menatap punggung rapuh itu yang bergetar. Dia tau gadis itu sedang menangis dalam diam, Saat Imlie berniat menutup pintunya. Tapi......
"Tunggu, tatapan Lo sangat kosong. Jangan jangan Lo coba untuk bunuh diri." sarkas Alvian tajam.
"Tidak akan, Aku akan tetap hidup untuk menerima kebencian itu." ujar Imlie pelan. Membuat perasaan Alcian campur aduk. Dia menatap mata Adiknya yang menatapnya dengan tagapan kosong namun ada sorot senduh dan sakit yang begitu dalam.
"Bagus, kalau Lo sadar diri. Ingat! Jangan coba coba melukai
diri Lo." peringat Alvian lagi.
"IYA GUE PAHAM GUE NGGAK BAKAL BUNUH DIRI.. tetapi setelah Gue benar benar capek, izinnkan Gue pergi." kata terakhir dari Imlie sangat pelan. Tapi dapat di dengar oleh Alvian.
Degh
Entah kenapa hatinya langsung terpukul mendengar kata itu.
"Jangan coba coba Lo. Karena Lo nggak bakal pergi dari rumah ini. Karena Lo harus pertanggung jawabkan kesalahan Lo." sarkas Alvian menguatkan hatinya.
"Iya, Iya Kak. Aku paham.. Jadi, Aku izin istirahat dulu, Aku capek.. Maaf, maaf sudah
membentak Kakak." jawab Imlie dan menutup pintunya. Kemudian menangis di balik pintu itu. Alvian dapat mendengar tangisan menyedihkan itu. Tak, terasa air matanya ikut menetes.
Dia sadar selama ini mereka memang menyakiti Imlie, tapi sedikit pun gadis itu tidak pernah membalas mereka dan dia akan neminta maaf jika balik membentak.
"Hiks.. Hiks." tangisan Imlie makin menjadi dan lama lama menjadi pelan.
"Sialan, kenapa air mata ini turun." batin Alvian dan pergi dari depan pintu kamar Adiknya.
"Tetapi setelah Gue benar benar capek, izinnkan Gue pergi." kalimat itu terus berputar di kepalanya Alvian. Sehingga membuatnya marah.
"Sialan, kenapa Gue peduli.. Biarin dia mau mati atau kenapa pun itu. Gue nggak pedeli... Imlie sialan." marahnya di dalam kamarnya.
"Sialan, kenapa air mata ini turun." batin Alvian dan pergi dari depan pintu kamar Adiknya.
"Tetapi setelah Gue benar benar capek, izinnkan Gue pergi." kalimat itu terus berputar di kepalanya Alvian. Sehingga membuatnya marah.
"Sialan, kenapa Gue peduli.. Biarin dia mau mati atau kenapa pun itu. Gue nggak pedeli... Imlie sialan." marahnya di dalam kamarnya.
Dreet
"Kak, hiks.. Sakit Kak." tak sadar Imlie menelfon Aryan. Karena cuman Pria itu dia anggap tempat untuk pulang, walaupun sudah di sakiti berkali kali.
"Ck, Sialan.. Lo udah pergi dari apartemen Gue, dan dengan seenak jidatnya Lo telfon Gue, hah?" marah Aryan di seberang sana, apalagi sejak tadi telfonnya tidak di jawab oleh Imlie.
"Kak, sakiit Kak. Boleh temani
Aku Kak Aku sakit Kak." lirih Imlie.
"Nggak bisa Gue lagi temani Viona di rumah sakit. Lo nggak usah manja." ujar Aryan kemudian memuguskan sambungan telfon itu.
Bugh
Imlie melempar handphonenya asal.
"Hiks, tapi Aku juga sakit Kak... Hiks." ujar Imlie pelan. Kemudian berdiri dengan pelan menuju lemari nya dan mengeluarkan cuter yang tajam yang di taruh bersmaan dengan gunting dan barang tajam lainnya.
Imlie dengan cepat menuju kamar mandi dan......