NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Sinergi di Balik Api Unggun

Matahari sudah tinggi di langit, menerangi padang rumput dan rumah kayu yang kini benar-benar berdiri kokoh. Melihat Ratri dan Eveline yang siap kembali bekerja dengan energi tak terbatas mereka, sebuah tekad mengeras di dalam hatiku. Gue gak boleh cuma nonton. Gue laki-laki, bukan boneka yang cuma bisa disuapin.

Memang, kekuatan mereka luar biasa. Tapi bukan berarti aku bisa hanya duduk manis dan mengandalkan mereka. Bagiku, menjadi laki-laki itu sederhana: KERJA. Tangan harus kotor, keringat harus mengucur, kontribusi harus nyata. Bodo amat disebut kolot atau jadul. Itu prinsip hidup gue.

"Oke, gue yang urus bingkai tempat tidur," seruku, mengambil pahat dan palu. Aku memilih kayu-kayu yang sudah dipotong Eveline dengan ukuran sempurna. Tanganku mungkin tidak secepat Eveline, tapi aku paham cara menyambung kayu dengan pasak dan lem alami dari getah pohon yang kuketahui. Setiap pukulan palu, setiap rautan pahat, adalah pernyataan bahwa aku masih berguna.

Ratri yang sedang mengumpulkan daun kering dan bulu-bulu halus hewan pemberian burung-burung di hutan, sesekali melirikku. Dia tersenyum melihatku berkeringat. Eveline, yang sedang membentuk sebuah meja kayu besar dengan tangannya yang kuat, sesekali mengoperasikan kayu yang terlalu berat untukku angkat.

Siang beranjak sore. Suasana berubah menjadi sebuah simfoni produktivitas yang unik. Bunyi pahat dan pukulan palu dariku, desis halus kayu yang dibentuk Eveline, dan gemerisik daun yang dikumpulkan Ratri. Kami seperti tiga bagian mesin yang saling melengkapi.

Aku tidak mau hanya jadi "pemimpin" yang hanya memberi perintah. Aku turun langsung. Saat tempat tidur buatanku selesai—sebuah bingkai kokoh dengan anyaman rotan sebagai alas—aku bantu Ratri mengisinya dengan daun kering dan bulu-bulu hingga empuk. Saat Eveline menyelesaikan meja besar dengan kaki-kaki yang solid, aku yang mengampelas permukaannya hingga halus.

KERJA. KERJA. KERJA. Itu mantra-ku. Setiap otot yang pegal, setiap keringat yang menetes, adalah pengingat bahwa aku masih punya kendali atas hidupku, bahwa aku bukan hanya beban pasif yang dilindungi.

Dan akhirnya, saat matahari mulai menguning, semuanya selesai.

Kami berdiri di depan rumah kami. Bukan lagi sekadar struktur, tapi sebuah rumah. Dengan atap yang kokoh, dinding yang rapat, jendela dengan penutup dari kulit kayu, sebuah perapian dengan cerobong asap fungsional, dan di dalamnya: sebuah meja besar, tiga tempat tidur sederhana dengan "kasur" alami, dan beberapa rak kayu untuk penyimpanan.

Rasa lelah yang begitu dalam membanjiri diriku, tapi itu adalah kelelahan yang puas. Aku menatap hasil karya kami—karya kami bertiga.

Aku memandang Ratri pertama. "Ratri," ucapku, suara serak karena lelah dan emosi. "Terima kasih. Tidak cuma untuk rumahnya, tapi untuk... segalanya. Untuk percaya padaku, untuk membantuku, untuk menjadi teman yang mengertiku." Kata-kata itu keluar tulus dari lubuk hati. Dia mungkin dewi, tapi di mataku saat ini, dia adalah partner kerja yang luar biasa.

Lalu, aku menoleh ke Eveline. Dia berdiri dengan tatapan kosongnya yang biasa, tangan masih bersih seolah tidak habis membangun seluruh rumah. "Dan Eveline... terima kasih." Aku tahu dia mungkin tidak mengerti sepenuhnya arti rasa terima kasih atau tidak bisa merasakan kebanggaan. Tapi itu tidak penting. "Kau sudah melindungiku, membantuku, dan... menyelesaikan pekerjaan yang mustahil kulakukan sendiri. Aku... sangat berhutang padamu." Ucapan itu adalah niatan tulusku, diterima atau tidak oleh kesadarannya.

Eveline hanya mengangguk pelan. "Aku hanya menjalankan perintah, Tuanku."

Tapi Ratri tersenyum lembut, matanya yang emas berbinar. Dia memahami makna di balik ucapan ku pada Eveline.

Tanpa banyak bicara lagi, aku berjalan masuk ke dalam rumah. Aroma kayu segar dan daun kering menyambut. Aku menuju tempat tidur buatanku yang sederhana, dan dengan erangan lega, aku merebahkan tubuhku.

Saat punggungku menyentuh "kasur" daun dan bulu yang empuk, seluruh kelelahan seakan menyergap sekaligus. Otot-otot yang tegang selama berhari-hari, pikiran yang selalu waspada, jiwa yang lelah karena terus dikejar—semuanya menemukan pelampiasannya di atas tempat tidur sederhana ini.

Tidak butuh waktu lama. Kegelapan yang nyaman menyelimuti kesadaranku sebelum aku sempat memikirkan apapun lagi. Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, aku tertidur bukan karena pingsan, kelelahan ekstrem, atau sihir. Aku tertidur lelap, di dalam rumahku sendiri, dengan perasaan aman yang diberikan oleh dua makhluk luar biasa di sekelilingku.

Dan dalam tidur itu, untuk pertama kalinya, tidak ada mimpi buruk tentang dikejar atau ingin pulang. Hanya ada keheningan dan kedamaian seorang pekerja yang akhirnya bisa beristirahat setelah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Hari itu, aku bukan lagi korban atau buronan. Aku adalah seorang tukang, seorang partner, dan seorang teman. Dan itu lebih dari cukup.

Keesokan harinya, aku terbangun bukan karena mimpi buruk atau teriakan, tapi karena sinar matahari pagi yang hangat menyentuh wajahku melalui jendela. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa benar-benar istirahat. Tubuh masih pegal, tapi itu adalah pegal yang memuaskan, bekas dari kerja keras yang membuahkan hasil.

Setelah sarapan sederhana dengan sisa persediaan, aku memandang lahan kosong di samping rumah. Sebuah ide muncul. Rumah sudah berdiri, tapi untuk benar-benar mandiri, kami butuh sumber makanan yang stabil. "Kita butuh kebun," ucapku pada Ratri dan Eveline yang sedang duduk di depan rumah.

Aku mengambil sekop dan mulai menggali tanah yang subur di dekat sungai kecil. "Ratri, kau bisa tolong carikan bibit atau biji yang bisa ditanam di sini? Sesuatu yang bergizi dan bisa tumbuh dengan baik di iklim seperti ini."

Ratri, yang sedang duduk bersila di atas rumput dengan mata tertutup, mengangguk. Tangannya terulur di atas tanah yang baru saja kugali. Aku bisa merasakan getaran energi halus yang memancar darinya. Tiba-tiba, tunas-tunas hijau kecil menyembul dari tanah, tumbuh dengan cepat di depan mataku. Dalam hitungan menit, tunas itu berubah menjadi pohon kecil setinggi lutut dengan daun lebar berwarna hijau tua.

"Sun-Kissed Pear," ujar Ratri, membuka matanya. "Buahnya lembut, bergizi, dan bisa disimpan lama. Cocok untuk iklim cerah seperti ini."

Aku memperhatikan pohon itu. Daunnya... mirip sekali dengan pohon alpukat. "Di tempat asalku, kita menyebutnya alpukat," gumamku takjub.

Ratri mengangguk antusias. "Oh! Namanya bagus! Tapi Sun-Kissed Pear lebih puitis, bukan?"

Aku hanya geleng-gelang sambil tersenyum. Sementara itu, Eveline, tanpa perlu diperintah, sudah mengambil sekop lain dan mulai menggali petak tanah di sebelah garapanku. Gerakannya efisien dan terukur, setiap sekop tanah yang diangkat membentuk lubang yang sempurna untuk bibit.

Aku tidak tinggal diam. Aku terus menggali di sampingnya. KERJA. Itu prinsipku. Meski Eveline bisa menyelesaikan semuanya sendiri dalam sekejap, aku harus tetap berkontribusi. Keringatku kembali membasahi baju, tapi kali ini ada rasa senang yang berbeda. Kami bekerja bersama, menyiapkan lahan untuk kehidupan baru—baik bagi kami maupun bagi tanaman-tanaman itu.

Setelah beberapa jam, sepetak lahan yang cukup luas telah terolah rapi. Beberapa pohon Sun-Kissed Pear muda lainnya sudah ditanam oleh Ratri dengan cara yang sama, membentuk barisan yang rapi. Kebun pertama kami mulai berbentuk.

"Bagus," gumamku puas, menyandarkan sekop. Tapi perutku mulai keroncongan. Persediaan makanan semakin menipis.

"Kita butuh protein," ucapku, menatap danau kecil di ujung padang rumput yang airnya jernih kebiruan. "Aku akan coba mancing di danau."

Aku mengambil seutas tali kuat dari perlengkapan kami dan sebuah pancing darurat yang kubuat dari kayu dan paku. Dengan umpan dari cacing yang kudapat di balik batu, aku berjalan menuju danau. Ratri memilih untuk tetap di kebun, merapikan tanaman-tanamannya dengan kekuatannya, sementara Eveline berdiri di depan rumah, tetap berjaga.

Duduk di tepi danau yang tenang, kulemparkan pancingku. Suasana di sini sangat berbeda dengan lautan yang ganas atau kota yang ramai. Hanya ada desir angin, kicauan burung, dan riak air yang lembut. Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, aku merasakan kedamaian yang nyata. Kami memiliki rumah, kami mulai memiliki kebun, dan kini aku sedang mencari makan dengan caraku sendiri.

Tidak butuh waktu lama. Umpan disambar, dan tali pancingku menegang. Setelah tarik-menarik singkat, seekor ikan berwarna perak dengan garis biru berhasil kau tarik ke darat. Ikan yang cukup besar untuk makan malam kami.

Sambil memandangi ikan yang masih menggelepar, sebuah pikiran muncul. Mungkin, "jalan pulang" yang selama ini kucari tidak selalu harus berarti kembali ke Jakarta. Mungkin, dalam proses bertahan hidup dan membangun kehidupan baru di dunia ini, aku justru sedang menemukan sebuah versi lain dari "rumah"—sebuah tempat di mana aku bisa berarti, berkontribusi, dan hidup dengan damai, bersama orang-orang yang memahami dan menerimaku.

 Aku kembali ke rumah dengan hati ringan, enam ekor ikan perak bergaris biru tergantung pada tali pancing daruratku. Hasil yang cukup untuk makan malam kami dan mungkin besok pagi. Senyum kecimpongku, membayangkan rasa ikan segar yang dipanggang di atas perapian. Tapi senyum itu segera pudar begitu aku mendekati kebun.

Aku berdiri terpaku, mulut mungkin menganga.

Bibit-bibit Sun-Kissed Pear—yang baru beberapa jam lalu kutinggalkan setinggi lutut—kini telah berubah menjadi pohon muda yang menjulang setinggi tubuhku, sekitar 170 centimeter. Dan yang lebih membuatku tercengang, di antara dedaunan hijau tuanya yang lebat, bergelantungan buah-buah berukuran sedang, berbentuk seperti alpukat, dengan kulit berwarna hijau kekuningan yang seolah memantulkan cahaya matahari. Buah itu terlihat matang sempurna, seolah sudah tumbuh selama berbulan-bulan.

"Ratri!" panggilku, suara terdengar lebih tinggi dari yang kuinginkan.

Ratri muncul dari balik pohon, wajahnya berseri-seri penuh harap, seperti anak kecil yang menunjukkan gambar yang baru saja dia lukis. "Lihat, Rian! Aku percepat pertumbuhannya! Sekarang kita sudah bisa panen! Kau tidak perlu menunggu lama!"

Aku menatapnya, lalu kembali menatap pohon-pohon yang seharusnya masih berupa bibit itu. Perasaan di dalam dadaku campur aduk. Di satu sisi, ada kegembiraan yang meluap. Lihatlah ini! Buah segar, siap dimakan, hanya dalam hitungan jam! Ini adalah kemewahan yang tak terbayangkan. Tapi di sisi lain, sebuah kekhawatiran yang dalam mulai menyusup.

"Aku... aku lihat," ucapku, mencoba menenangkan suara. Aku meletakkan ikan-ikan hasil pancinganku di atas sebuah batu datar. "Ratri, ini... luar biasa. Benar-benar luar biasa. Tapi..." Aku mencari kata-kata yang tepat, tidak ingin menyakiti hatinya.

"Tapi apa?" tanyanya, ekspresi cerahnya sedikit redup oleh nada bicaraku.

Aku menarik napas. "Tapi... apa ini bijaksana?"

Dia mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"Aku... berterima kasih, Ratri. Sungguh. Kau melakukannya untuk membuatku senang, dan aku menghargai itu." Aku menatapnya langsung. "Tapi, aku khawatir. Jika kita terbiasa mendapatkan segala sesuatu dengan instan seperti ini... apa konsekuensinya?"

Aku berjalan mendekati salah satu pohon, menyentuh kulit kayunya yang halus. "Alam punya ritmenya sendiri, Ratri. Sebuah pohon butuh waktu untuk bertunas, tumbuh, berbuah, dan matang. Dalam proses itu, akarnya menjalar kuat ke tanah, batangnya mengeras menghadapi angin dan hujan. Itu yang membuatnya kokoh."

Aku menoleh padanya. "Jika kita mempersingkat semua proses itu... apakah buah ini memiliki nutrisi yang sama? Apakah pohon ini akan cukup kuat untuk bertahan dari badai? Atau... yang lebih penting," suaraku pelan, "apakah aku akan menjadi terlalu bergantung padamu? Aku sudah bersyukur memiliki kekuatan 'Pembangkit'-ku, tapi jika untuk hal-hal dasar seperti makanan pun aku mengandalkan kekuatan dewi-mu... apakah aku masih bisa disebut mandiri?"

Aku melihat ke arah rumah yang kami bangun bersama. "Kita membangun rumah ini dengan susah payah, dengan keringat. Kerja keras itulah yang membuatnya terasa berharga. Jika kau bisa membangunnya dalam sekejap dengan kekuatanmu, mungkin rumah itu akan sama indahnya, tapi... apakah rasanya akan sama? Apakah akan terasa seperti rumah kita, atau hanya seperti... hadiah darimu?"

Wajah Ratri berubah. Ekspresi bersemangatnya memudar, digantikan oleh perenungan yang dalam. Dia diam untuk beberapa saat, matanya yang emas memandang pohon-pohon yang dia tumbuhkan dengan cepat itu.

"Aku... mengerti," ucapnya akhirnya, suara lembut. "Aku hanya ingin membantumu. Melihatmu senang. Tapi aku lupa... bahwa bagi manusia, proses seringkali sama pentingnya dengan hasilnya. Bahwa ada nilai dalam kesabaran dan usaha."

Dia tersenyum, senyum yang lebih bijaksana dan sedikit sedih. "Kau tidak ingin menjadi parasit yang hanya mengambil. Kau ingin menjadi mitra yang setara, yang berkontribusi."

Dadaku merasa lega sekaligus haru. Dia mengerti. Benar-benar mengerti.

"Jadi... apa yang harus kita lakukan dengan buah-buah ini?" tanyanya, menunjuk ke pohon yang berbuah lebat.

Aku memandangi buah-buah itu. Membuangnya akan sia-sia dan tidak menghargai usahanya. "Kita panen saja yang sudah matang," usulku. "Tapi untuk selanjutnya... biarkan mereka tumbuh dengan wajar. Kita rawat bersama. Kita sirami, kita beri pupuk, kita lindungi dari hama. Biarkan alam mengambil waktunya. Dan... tolong, jangan percepat lagi pertumbuhannya."

Ratri mengangguk pelan. "Baik, Rian. Aku janji. Aku akan belajar... menjadi manusia, dalam hal ini. Belajar untuk sabar."

Aku tersenyum, rasa haru mengetuk hatiku. "Dan kau tahu? Justru karena kau mau memahami dan menghormati pilihanku seperti ini, itu yang membuatku lebih senang daripada punya kebun instan." Ucapku tulus. "Ini... ini lebih berharga."

Kami memandangi kebun kami—sebuah campuran antara keajaiban dan komitmen pada proses alami. Pohon-pohon yang sudah berbuah akan menjadi berkat untuk hari ini, sementara biji-biji lainnya akan kami tanam dan rawat dengan sabar.

Keputusanku mungkin terlihat rumit bagi sebagian orang. Menolak kemudahan yang ditawarkan dengan tulus. Tapi bagiku, ini adalah tentang menjaga jati diri. Tentang memastikan bahwa di dunia yang penuh dengan kekuatan ajaib ini, aku, Rian Saputra, tetap menjadi manusia yang berdiri di atas kakinya sendiri, dengan keringat dan usahanya sendiri—ditemani oleh teman-teman yang tidak memanjakannya, tetapi menguatkannya. Dan itu, bagiku, adalah fondasi yang paling kokoh untuk kehidupan baru kami di pulau ini.

 Ikan-ikan hasil pancinganku terbaring di atas batu, sementara buah Sun-Kissed Pear—atau alpukat versi dunia ini—telah dipanen dan diletakkan di dalam keranjang anyaman sederhana. Sekarang, waktunya menyiapkan makan malam.

"Ratri, bisa kau tolong bersihkan ikannya? Aku akan mengolah buahnya," ujarku, menunjuk ke ikan-ikan itu. Ratri mengangguk cekatan, dan dengan sebilah pisau tajam, dia mulai membersihkan sisik dan isi perut ikan dengan gerakan terampil yang mengejutkanku. Rupanya, selama 250 tahun terisolasi, dia mengamati banyak hal, termasuk cara manusia mengolah makanan.

Sementara itu, aku membelah beberapa buah alpukat. Dagingnya hijau kekuningan, lembut, dan beraroma segar. Aku kerok dagingnya dan letakkan dalam mangkuk kayu. "Eveline," panggilku. "Bisa tolong hancurkan ini sampai lembut?" Aku menunjuk mangkuk berisi daging alpukat itu. Eveline mendekat, dan dengan ujung jarinya yang runcing, dia mulai "mengaduk" daging alpukat itu dengan kecepatan dan tekanan yang sempurna. Dalam sekejap, daging buah itu berubah menjadi pasta yang halus dan creamy tanpa perlu diulek manual. Efisien sekali.

"Sekarang, yang ini butuh sedikit sentuhan magis," candaku pada Ratri yang sedang membalik ikan di atas bara api. "Aku ingin membuat minuman dari buah ini. Tapi... resep aslinya butuh susu dan gula. Kita punya madu, tapi tidak ada susu."

Ratri menghentikan aktivitasnya, menatapku penuh perhatian. "Susu? Seperti apa susu yang kau maksud?"

"Susu sapi, atau susu bubuk. Cairan putih, gurih, lembut. Biasanya untuk campuran minuman atau masakan," jelasku sambil berusaha menggambarkannya.

Wajah Ratri berbinar. "Oh! Aku punya!"

Dia mengulurkan tangannya, telapaknya menghadap ke atas. Kemudian, di atas telapak tangannya, muncul cahaya keperakan berputar-putar, membentuk sebuah lingkaran cahaya yang rata, seperti portal mini. Dari dalam lingkaran cahaya itu, dia mengeluarkan... sebuah gentong tanah liat kecil yang tertutup rapat.

Aku melotok. "A-Apa itu? Kantong ajaib ala Doraemon?!" seruku spontan, tidak bisa menahan diri.

Ratri tampak bingung. "Do-rae-mon? Apa itu?"

"Bukan, maksudku... bagaimana kau bisa menyimpan gentong itu di... di udara? Lalu mengeluarkannya begitu saja?"

Dia tersenyum, memahami kekagumanku. "Ini bukan 'kantong ajaib'," jelannya sambil membuka gentong itu, mengeluarkan aroma susu segar yang gurih. "Ini Pocket Dimension Storage. Sebuah ruang penyimpanan kecil yang kubuat dengan menekuk dimensi. Isinya terhubung langsung dengan ruang di luar realitas normal, jadi tidak menambah berat atau volume di dunia ini."

Aku masih takjub. "Jadi... semacam cloud storage, tapi versi fisik? Teknologi penyimpanan dimensi?" batinku, mencoba memahaminya dengan logika dunia modern.

"Cloud... storage?" Ratri kini yang tampak bingung.

"Lupakan," ucapku cepat, masih terpana. "Jadi, kau bisa menyimpan apa saja di dalam... 'saku dimensi'-mu itu?"

"Ya, selama muat. Aku biasa menyimpan persediaan darurat, ramuan, atau barang berharga di sana. Susu ini kubeli dari seorang pedagang susu kambing di Frostwind dulu, kusimpan untuk jaga-jaga." Dia menuangkan susu putih kental ke dalam mangkuk berisi pasta alpukat yang sudah dihancurkan Eveline.

Dengan bahan yang lengkap, aku segera mencampur pasta alpukat, susu, dan madu murni dalam sebuah kendi. Aku kocok kuat-kuat hingga tercampur sempurna, lalu menuangkannya ke dalam tiga cangkir kayu.

"Selamat mencoba," ujarku, membagikan cangkir pada mereka.

Aku mencicipinya. Lembut, gurih, manis, dan menyegarkan. Rasanya persis seperti alpukat kocok yang biasa kuminum di Jakarta, bahkan lebih enak karena bahannya alami.

Ratri mencicipinya perlahan, matanya membesar. "Ini... lezat!" serunya, lalu meneguknya dengan lahap.

Bahkan Eveline, setelah kuperintahkan untuk "meminumnya", menyeruput cairan itu. Meski ekspresinya tetap datar, dia menghabiskannya dengan cepat. Mungkin tubuhnya yang tanpa jiwa pun masih bisa merasakan kenikmatan fisik dasar.

Sambil menikmati alpukat kocok kami di depan api unggun, memandang bintang-bintang yang mulai bermunculan, aku tersenyum. Hari ini, kami bukan hanya membangun rumah dan kebun. Kami berbagi makanan, berbagi cerita, dan berbagi keajaiban kecil masing-masing. Aku dengan resep dari duniaku, Ratri dengan sihir penyimpanan dimensinya, dan Eveline dengan kekuatan fisiknya yang tak tertandingi.

Mungkin, inilah arti sebenarnya dari "bertahan hidup"—bukan sekadar tidak mati, tapi menemukan cara untuk hidup dengan baik, bersama orang-orang yang membuatmu merasa... di rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!