NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Lampu pusat perbelanjaan yang terang benderang terasa menyilaukan mata yang lelah ini. Setelah drama di lobi kantor, aku memutuskan untuk tidak langsung mengurung diri. Aku butuh aktivitas normal. Aku butuh mengisi kulkas apartemenku yang mulai kosong sebagai pengalih perhatian dari pesan misterius Siska.

Aku mendorong troli dengan gerakan mekanis. Susu, buah, beberapa potong daging, dan sayuran hijau. Aku mencoba fokus pada daftar belanjaan, namun bayangan Arlan yang mematung di lobi tadi terus membayangi.

Saat tiba di antrean kasir yang cukup panjang, aku menunduk, sibuk memeriksa ponselku. Sampai sebuah suara lembut yang sangat kukenal memanggil namaku.

"Rania? Nak Rania, ya?"

Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku mendongak perlahan. Di depanku, berdiri seorang wanita paruh baya dengan raut wajah teduh namun kini tampak terkejut. Di sampingnya, seorang pria tua yang rambutnya sudah memutih memegang keranjang belanja.

Ibu dan Bapak Arlan.

"Tante... Om..." suaraku tercekat di tenggorokan. Aku tidak menyangka akan bertemu mereka di Jakarta, ribuan kilometer dari rumah mereka di Jogja.

Ibu Arlan langsung mendekat, matanya berkaca-kaca. Beliau meraih tanganku, menggenggamnya erat seolah takut aku akan lari menghilang lagi. "Ya Allah, Rania... benar ini kamu, Nak? Kamu apa kabar? Tante kangen sekali."

Aku memaksakan senyum tipis, meski dadaku terasa sangat sesak. "Kabar Rania baik, Tante. Om dan Tante sedang apa di Jakarta?"

"Arlan tidak cerita?" tanya Bapak Arlan dengan nada heran. "Kami baru sampai kemarin. Arlan bilang dia sudah kerja di sini dan ingin kami menemani masa transisinya. Dia bilang... dia juga ingin mencari kamu untuk minta maaf."

Rasa mual itu kembali menyerang. Jadi, Arlan benar-benar merencanakan ini semua? Membawa orang tuanya ke Jakarta sebagai bagian dari rencananya mengejarku?

"Rania," Ibu Arlan mengusap punggung tanganku, suaranya bergetar. "Tante tahu apa yang dilakukan Arlan di Jogja itu jahat sekali. Tante dan Om kecewa luar biasa sama dia. Selama tiga tahun ini, kami selalu menanyakan keberadaanmu tapi Arlan juga kehilangan jejakmu."

"Maafin anak Tante ya, Nak. Sampai sekarang Tante masih berharap kamu bisa jadi menantu Tante, tapi Tante tahu Arlan sudah merusak segalanya," lanjut beliau dengan air mata yang mulai menetes.

Aku terdiam. Melihat ketulusan di mata wanita yang dulu sangat menyayangiku seperti anak sendiri ini membuat tembok esku sedikit retak. Namun, aku segera teringat pada pengkhianatan Arlan dan rahasia yang ia sembunyikan.

"Tante, Rania sudah memaafkan secara pribadi, tapi untuk kembali... Rania rasa itu tidak mungkin," ucapku setegas mungkin meskipun suaraku bergetar. "Arlan sudah memilih jalannya sendiri di Jogja dulu."

Bapak Arlan menghela napas panjang, menepuk bahu istrinya. "Sudahlah, Bu. Jangan paksa Rania. Dia sudah sukses sekarang, lihatlah dia begitu mandiri."

Tepat saat itu, antrean kasir bergerak. Aku harus membayar. Pertemuan singkat ini terasa lebih melelahkan daripada rapat bersama Harva.

"Rania, ini nomor Tante yang baru," Ibu Arlan memberikan secarik kertas kecil dari tasnya. "Mainlah ke apartemen kami kalau ada waktu. Tante rindu masakanmu. Arlan tidak perlu tahu kalau kamu keberatan bertemu dia."

Aku menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Aku membayar belanjaanku dengan terburu-buru, berpamitan dengan sopan, dan hampir berlari menuju parkiran.

Begitu sampai di dalam mobil, aku mencengkeram kemudi dengan erat. Aku menangis. Bukan karena Arlan, tapi karena aku merasa bersalah harus bersikap dingin pada orang tua yang tidak berdosa itu.

Arlan benar-benar licik. Dia tahu kelemahanku adalah orang tuanya. Apakah ini alasan dia diam tadi? Karena dia ingin menggunakan orang tuanya sebagai "senjata" untuk meluluhkan hatiku?

1
Ayudya
rania kalau kamu terus sendiri dan harus terpuruk dengan masa lalu ga bagus juga si menurut aku yga ada Mala kamu di anggap belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu kamu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
aku suka dengan karakter Rania tegas dan ga menye menye🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!