NovelToon NovelToon
Iman Yang Tak Terbeli

Iman Yang Tak Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3: Surat di Atas Meja Jati

Mentari pagi Jakarta menyapa dengan sisa-sisa basah hujan semalam. Di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, Shafira Azzahra berdiri di depan cermin retak yang menempel di dinding kamarnya.

Tangannya bergerak dengan ketenangan yang lahir dari badai batin semalam. Ia melilitkan jilbab pashmina hitamnya dengan rapi, menyematkan jarum pentul dengan presisi, seolah setiap tusukannya adalah penguat bagi fondasi imannya yang sempat goyah.

"Kak, sarapan dulu," panggil Arfan dari balik pintu.

Shafira menarik napas dalam, memaksakan senyum di wajahnya yang pucat. "Iya, Fan. Kakak keluar sekarang."

Di meja makan, hanya ada nasi goreng putih dan kerupuk. Pak Rahman sudah berangkat sejak subuh tadi, karena Tuan Muda Dave begitu ayahnya menyebut pria itu meminta seluruh area taman depan disiram dan dipangkas sebelum pukul tujuh pagi.

Shafira merasa dadanya sesak membayangkan ayahnya sudah berkeringat di saat ia sendiri sedang bersiap menghadapi putra dari majikan ayahnya itu.

"Ibu doakan, semoga urusanmu di kantor lancar hari ini, Nduk," ucap Bu Aminah lembut, matanya yang teduh menatap Shafira dengan penuh kasih. Beliau tidak tahu detail ancaman Dave, tapi naluri seorang ibu menangkap kegelisahan yang coba disembunyikan putrinya.

"Amin, Bu. Shafira berangkat ya."

Perjalanan menuju Mahesa Group terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap putaran roda busway seolah menghitung detik-detik terakhir karier yang ia bangun dengan susah payah. Sesampainya di lobi gedung pencakar langit itu, Shafira merasakan tatapan-tatapan aneh dari rekan kerjanya.

Gosip di kantor besar selalu merambat lebih cepat daripada lift tercepat sekalipun. Semua orang tahu tentang ultimatum sang CEO baru.

"Shafira, kamu masih pakai... itu?" bisik Sarah, rekan semeja Shafira, saat ia baru saja duduk.

Shafira hanya tersenyum tipis. "Ini bukan sekadar 'itu', Sar. Ini identitas saya."

"Tapi Dave Mahesa tidak main-main. Dia memecat manajer operasional kemarin hanya karena terlambat lima menit. Apalagi masalah prinsip begini. Kamu mau makan apa kalau dipecat?"

Shafira tidak menjawab. Ia membuka komputernya, menyelesaikan beberapa laporan audit terakhir yang menjadi tanggung jawabnya.

Ia ingin pergi dengan kepala tegak, meninggalkan pekerjaan dalam keadaan sempurna. Integritas tidak hanya soal pakaian, tapi juga tentang bagaimana ia menuntaskan amanah.

Tepat pukul 09.00, interkom di mejanya berbunyi. Suara sekretaris Dave, seorang wanita bernama Maya yang selalu tampil modis dengan rok mini, terdengar ketus.

"Shafira Azzahra, Pak Dave menunggu di ruangannya. Sekarang."

Shafira berdiri. Ia mengambil sebuah amplop cokelat yang sudah ia siapkan dari rumah. Langkah kakinya mantap menyusuri lorong berlantai marmer. Pintu kayu jati besar di ujung lorong itu tampak seperti gerbang menuju medan laga.

Tok, tok, tok.

"Masuk," suara bariton itu terdengar dingin.

Shafira melangkah masuk. Dave Mahesa sedang berdiri membelakangi pintu, menatap panorama Jakarta dari jendela kaca raksasanya.

Ia masih mengenakan setelan jas buatan Italia yang sangat pas di tubuh atletisnya.

Tanpa menoleh, ia berkata, "Saya harap kamu datang membawa perubahan yang saya minta, Shafira."

Dave memutar tubuhnya. Namun, ekspresinya seketika berubah saat melihat Shafira masih berdiri dengan jilbab hitamnya. Matanya yang tajam menyipit, memancarkan kekecewaan yang bercampur dengan amarah yang tertahan.

"Jadi, kamu lebih memilih kain ini daripada kariermu?" Dave berjalan mendekat, langkahnya pelan namun mengintimidasi.

Ia berhenti tepat di depan meja kerjanya, meletakkan kedua tangan di atas permukaan jati yang mengilap.

"Saya pikir kamu wanita cerdas yang tahu bagaimana cara bertahan hidup di kota ini. Ternyata saya salah. Kamu hanya seorang fanatik yang keras kepala."

Shafira meletakkan amplop cokelat itu di atas meja, tepat di hadapan Dave.

"Saya memilih keduanya, Pak Dave. Saya cerdas untuk tahu bahwa harga diri saya tidak bisa dibeli dengan gaji bulanan, dan saya cukup keras kepala untuk mempertahankan apa yang saya yakini benar."

Dave mengambil amplop itu, membukanya dengan kasar. Sebuah surat pengunduran diri. Di bawahnya, terselip kartu identitas karyawan Mahesa Group milik Shafira.

"Kamu mengundurkan diri?" Dave tertawa hambar, suara tawanya terdengar meremehkan.

"Di luar sana ada ribuan orang mengemis untuk posisi ini. Kamu pikir dengan keluar begini kamu akan menjadi pahlawan? Kamu hanya akan menjadi pengangguran yang menyusahkan orang tuamu."

"Rezeki saya bukan di tangan Bapak," balas Shafira dengan nada yang sangat tenang, meski hatinya bergetar.

"Bapak mungkin memiliki gedung ini, tapi Bapak tidak memiliki masa depan saya. Saya datang ke sini untuk bekerja, bukan untuk menjual keyakinan saya."

Dave melemparkan surat itu kembali ke meja. "Keyakinan? Keyakinan tidak bisa membayar tagihan rumah sakit atau biaya sekolah adiknya, bukan? Saya tahu siapa ayahmu, Shafira. Pak Rahman adalah tukang kebun di rumah saya. Apa kamu tidak malu? Ayahmu bekerja keras membersihkan sampah saya, sementara kamu di sini bersikap sok suci dan melepaskan pekerjaan mapan?"

Kata-kata Dave kali ini benar-benar menghantam ulu hati Shafira. Rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat, fakta bahwa ayahnya adalah bawahan di rumah Dave, kini dilemparkan ke wajahnya sebagai senjata penghinaan. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Shafira, namun ia menahannya sekuat tenaga.

"Bapak benar, ayah saya seorang tukang kebun. Dan saya sangat bangga padanya," suara Shafira kini serak namun penuh penekanan.

"Dia mungkin membersihkan sampah Bapak, tapi jiwanya jauh lebih bersih daripada orang yang merendahkan keyakinan orang lain hanya karena merasa punya kuasa. Ayah saya mengajarkan saya untuk sujud hanya pada Tuhan, bukan pada manusia yang merasa dirinya Tuhan."

Dave tertegun sejenak. Belum pernah ada yang berani bicara seperti itu padanya.

Di London, orang-orang memujanya. Di kantor ini, semua orang gemetar di bawah telunjuknya. Tapi gadis di depannya ini yang tampak rapuh dengan pakaian longgarnya memiliki kekuatan kata-kata yang membuat Dave merasa telanjang.

"Keluar," desis Dave.

"Ambil barang-barangmu dan keluar dari sini sebelum saya memanggil keamanan."

Shafira mengangguk kecil. "Terima kasih atas kesempatannya selama ini, Pak Dave. Saya berdoa semoga suatu hari Bapak menemukan kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan uang."

Saat Shafira berbalik menuju pintu, tiba-tiba telepon di meja Dave berdering nyaring. Dave mengangkatnya dengan emosi yang masih meluap.

"Ya, ada apa?!" bentak Dave pada teleponnya.

Wajah Dave tiba-tiba berubah pucat saat mendengar suara di seberang telepon. Itu adalah Pak Devan, ayahnya.

"Dave! Apa yang kamu lakukan? Ayah baru saja mendapat laporan dari sistem pusat bahwa Shafira Azzahra mengundurkan diri? Kamu gila? Dia adalah satu-satunya orang yang memegang kunci audit untuk proyek kerja sama dengan investor Dubai yang akan datang besok! Investor itu meminta laporan keuangan yang diaudit oleh orang yang mereka percayai integritasnya, dan mereka menyebut nama Shafira secara spesifik!"

Dave terdiam mematung. Matanya menatap punggung Shafira yang hampir mencapai pintu.

"Jangan biarkan dia pergi, Dave! Kalau proyek Dubai ini gagal karena keteledoranmu mengintimidasi karyawan terbaik, Ayah akan mencabut semua fasilitasmu dan mengirimmu kembali ke London sebagai staf biasa!" suara Pak Devan menggelegar dari loudspeaker telepon yang tanpa sengaja tertekan oleh Dave.

Shafira berhenti melangkah. Ia mendengar percakapan itu. Ruangan itu seketika menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara napas Dave yang memburu.

Dave menatap surat pengunduran diri di mejanya, lalu menatap Shafira. Harga dirinya yang setinggi langit kini berbenturan dengan kenyataan pahit bahwa ia membutuhkan wanita yang baru saja ia usir.

"Shafira," panggil Dave, suaranya kini tidak lagi meninggi, tapi terdengar penuh paksaan yang canggung. "Tunggu dulu."

Shafira menoleh perlahan, tangannya masih memegang gagang pintu. "Ada lagi yang ingin Bapak hina dari keluarga saya?"

Dave mengepalkan tangannya. Ia harus menelan ludahnya sendiri, sesuatu yang sangat ia benci. "Duduk. Kita... kita perlu bicara soal proyek Dubai."

1
Siti Naimah
gila si Dave..masak memanggil orang tua cuman sebut nama .moga aja segera bertobat tidak songong lagi
Novita Sari
saudara kembar bersatu....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
semangat thor, tambah seru..
.
Meghawati: menegangkan
total 1 replies
Novita Sari
Alhamdulillah thor update banyak terimakasih thor n semangat 💪💪💪
Meghawati: selalu semangat
total 1 replies
Novita Sari
dave ada saudara, lanjut thor....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
lanjut thor...
Meghawati: lanjuuut
total 1 replies
Novita Sari
astaghfirullah bu sarah udah mau mati gak sadar sadar..
Meghawati: hahaha belum dapat hidayah
total 1 replies
Novita Sari
jangan liat dari masa lalu safira 😭😭😭😭 Alhamdulillah update banyak terimakasih thor, semangat 💪💪💪💪
Meghawati: terimakasih supportnya
total 2 replies
Novita Sari
semangat dave safira
Meghawati: terimakasih
total 1 replies
Siti Naimah
keren Shafira 👍
Meghawati: matap
total 1 replies
Novita Sari
jangan jangan dave bukan anak kandung bu sarah
Meghawati: jahat banget
total 1 replies
Novita Sari
terus berjuang di jalan Allah Safira..
Meghawati: aamiin
total 1 replies
Novita Sari
tambah seru, ditunggu kebucinan dave sama safira thor
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
terus berkarya thor, cerita nya bagus..
Novita Sari
cerita bagus,..
Meghawati: makasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!